Mini Market Adalah Bisnis yang Tahan Krisis

Mini Market Adalah Bisnis yang Tahan Krisis


Masyarakat Indonesia sejak lama sudah mengenal toko tradisional yang menjual kebutuhan hidup sehari-hari, yang lazim disebut toko kelontong. Pada perkembangannya, toko kelontong memasuki tahap baru, dengan desain modern dan manajemen toko terkomputerisasi, yang dikenal dengan nama mini market.

Pada umumnya mini market mempunyai ciri luas toko tidak terlalu besar (antara 80 m2-120 m2), menyediakan barang-barang kebutuhan hidup sehari-hari (termasuk the, gula, kopi, mi instan, dan lain-lain) dan barang-barang sekunder seperti Koran dan majalah.

Saat ini masyarakat mempunyai pilihan untuk membuka mini market dengan merek sendiri atau membeli franchise dari jaringan mini market yang sudah lama beroperasi, misalnya Indomaret dan Alfamart. Masing-masing pilihan mempunyai nilai plus dan minus. Jika ingin membangun mini market sendiri, risikonya adalah perlu waktu lama agar merek toko itu dikenal oleh masyarakat, selain itu negoisasi harga dengan supplier juga relatif lebih sulit, misalnya dalam meminta kelonggaran termin (lamanya waktu) pembayaran piutang. Nilai plusnya, bila membuka mini market sendiri, tidak dikenakan royalty fee yang jumlahnya cukup besar.

Sebaliknya jika membeli franchise (waralaba) dari jaraingan mini market yang sudah ada, nilai plusnya adalah merek toko sudah terkenal, mendapat kepastian suplai barang secara teratur dari pewaralaba, sistem komputerisasi toko yang sudah teruji keandalannya, lamanya BEP (Break Even Point) bisa diukur, dan lain-lain. Omzet penjualan di gerai Indomaret dan Alfamart juga cukup tinggi, bisa mencapai Rp.8.000.000 sehari (Kontan, Edisi Khusus Februari 2008). Nilai minusnya adalah pembeli franchise harus membayar franchise fee dan royalty fee dan tidak bebas mengatur desain toko atau menentukan jenis barang yang akan dijual.

Terlepas dari plus dan minusnya kedua alternatif di atas, bisnis mini market sebenarnya cukup prospektif meskipun dibuka pada masa krisis ekonomi terburuk sekali pun, masyarakat tidak akan menghentikan kebutuhan konsumsi atau kebutuhan belanja sehari-hari, bahkan adanya anggapan (image) masyarakat bahwa harga di mini market relatif lebih murah dari super market atau toko tradisional, bisa menjadi pendorong pertumbuhan bisnis ini.

Untuk mengembangkan mini market di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, diperlukan strategi marketing yang kreatif, tidak cukup dengan mencetak brosur saja. Ada banyak cara yang bisa ditempuh, misalnya membagikan makanan/minuman gratis (seperti snack atau es krim) untuk pembelian dengan jumlah tertentu, program cash back (semacam diskon dengan bentuk uang tunai), dan lain-lain. Di Bali, sebuah jaringan mini market bekerja sama dengan beberapa penerbit free magazine, membagikan majalah secara gratis kepada para pengunjung. Sebuah taktik simbiosis mutualisme marketing yang kreatif, dan layak diterapkan.

Analisis BEP (Break Even Point)
Investasi Awal

Biaya renovasi gedung
Rp.15.000.000
Biaya pengadaan barang jadi
Rp.60.000.000
Total Investasi Awal
Rp.75.000.000

Biaya Operasional per bulan

Biaya gaji karyawan 3 org x Rp.1.500.000
Rp.4.500.000
Biaya listrik, air dan lain-lain
Rp.2.000.000
Biaya pembelian stok barang jadi
Rp.10.000.000
Total Biaya Operasional per bulan
Rp.16.500.000

Pendapatan per bulan

Omzet 25 transaksi x Rp.30.000 x 30 hari
Rp.22.500.000
Total Biaya Operasional per bulan
Rp.16.500.000
Laba per bulan
Rp.16.500.000

Pay Back Period (BEP)
= (Investas Awal : Laba per bulan) x 1 bulan
= (Rp.75.000.000 : Rp.6.000.000) x 1 bulan
= 12,5 bulan

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel