Dampak Pembugaran Wajah Baru Masjid Raya Banda Aceh

Dampak Pembugaran Wajah Baru Masjid Raya Banda Aceh


Sejak 28 juli 2015 pada awal peresmian pembugaran wajah baru Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, telah banyak mendapatkan kontropersi dari masyarakat. Munculnya kritikan kritikan tidak senonoh yang dilontarkan kepada pemerintah Banda Aceh  membuat banyak masyarakat yang terperdaya dan ikut-ikutan memberikan komentar yang belum pasti kebenarannya.

“Pembangunan proyek yang menghabiskan dana hampir setengah triliun itu, tentunya harus dibarengi oleh riset yang mendalam, mengenai dampak jangka pendek dan jangka panjangnya. Jangan sampai setengah jalan pembangunan, atau sudah selesai dibangun tidak sesuai dengan fungsi. Seperti proyek terbengkalai di Aceh Singkil dalam pembangunan Gedung Sekolah Rintisan Bertaraf Internasional, proyek pengembangan benih ikan yang tak fungsional di Padang Tiji Sigli dan persengketaan pembangunan Islamic Center Aceh dengan pembangunan Meuligoe Wali Nanggroe di Aceh Besar” merupakan salah satu contoh keritikan dari masarakat yang mencoba menjengkali pemerintah (Laporan Eklusif Serambi, 23/02/2015).

Namun kini telah terjawab kekhawatiran masyarakat atas pembugaran wajah baru Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh tersebut. Hal ini dibuktikan dengan fungsi yang sesuai dengan diharapkan sebelumnya, yakni menjadikan Masjid Raya Baiturrahman sebagai salah satu destinasi wisata heritage Aceh, tempat ibadah yang nyaman, bisa menampung banyak jamaah, dan sebagai tempat pusat kajian islami serta dengan mengikuti arsitektur masjid Nabawi di Madinah.

Pembugaran wajah baru masjid baiturrahman banda aceh dilakukan dengan menambah 12 unit payung elektrik ukuran 24x24 meter bergaya ala Masjid Nabawi, basement areal parkir bawah tanah dengan luas 8.600 m2.dan juga dibangun tempat wudhu dan toilet ramah difabel. Serta pada sekeliling masjid ditanam 32 pohon kurma yang menyerupai Masjid Rasul di Madinah.

Pembugaran masjid raya Baiturrahman ini sangat bardampak baik bagi lingkungan, sosial maupun budaya bagi masarakan banda aceh dan sekitarnya.

Jika kita lihat dari segi lingkungan, jelas bahwa pembugaran masjid Baiturrahman membarikan dampak positif dan berfungsi sebagaimana mestinya. Dengan adanya penambahan payung tersebut, dapat menambah daya tampung jama'ah yang semula 9 ribu orang di dalam masjid, menjadi 24.400 jamaah di dalam di luar masjid. Bukan hanya itu, Area parkir yang di buat seluas 8.600 m2 ini dapat menampung 254 unit mobil dan 347 sepeda motor. Hal tersebut mendukung dan memungkinkan masjid Baiturrahman menjadi tempat beribadah yang aman dan nyaman. Banyaknya pemberian nilai positif terhadap pembugaran majid tersebut, telah menjawab kritikan kertikan atau komentar sebelumnya.

“saya sangat senang dengan masjid baiturrahman yang sekarang. Kelihatan semakin indah, pengunjung semakin banyak, dan area parkir yang memberikan kenyamanan hingga tidak perlu khawatir lagi dengan kehilangan sepeda motor saat beribadah atau sekedar berkunjung menghilangkan suntuk di sini” (ujar heri anto seorang warga Aceh Besar).

Bukan hanya sekedar memberikan lingkungan yang positif di pekarang masjid saja, tapi juga memberikan kesan dan dampak positif bagi para warga yang berjualan di sekitar pasar Aceh yang berada didekat masjid tersebut. Banyaknya para pengunjung yang datang lebih 1000 orang perharinya baik untuk beribadah maupun sekedar melihat keindahan masjid membuat dagangan mereka semakin lancar.

Ibu Nur Hayati seorang pedagang minuman cendol yang sudah 9 tahun berjualan dekat pekarangan masjid Raya sebelum dan sesudah pembugaran  masjid Raya tersebut mengatakan daganganya semakin laris dan lancar setelah pembugaran masjid raya tersebut. Sebelumnya ia hanya menjual satu toples saja perharinya, namun setelah berjualan kembali di tahun 2013 lalu, ia selalu menjual habis empat toples masing-masing bahan cendolnya.

“Alhamdulillah semakin tahun penghasilan kami semakin meningkat dan melipat sejak pembaharuan masjid ini. Banyak pengunjung yang singgah utuk membeli cendera mata baik dari pengunjung lokal maupun wisatawan mancanegara” pengakuan Makhwan pedangang baju di pasar Aceh.

Bukan haya dari segi linngkungan yang terbukti semakin membaik  dari dampak pembangunan masjid Raya Baiturrahman. Dampak sosial dan budaya juga terlihat jelas semakin membaik dari beralihnya minat para masyarakat dan wisatawan yang sebelumnya mencari pantai dan tempat maksiat sebagai tempat berlibur atau sekedar menghilangkan penat kini beralih ke masjid. “Rasanya sah ke Banda Aceh jika belum mengabadikan poto di masjid Raya’’ itulah kata yang sering diucapkan para pengunjung masjid yang mulia tersebut.

Oleh: Agusri

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel