Memahami Pengertian Intelegensi

Memahami Pengertian Intelegensi


Kata Intelegensi memang sudah cukup familiar di dunia pendidikan, tetapi untuk orang awam terkadang cukup membingungkan. Dalam bahasa sehari-hari, kalau anak berprestasi, belajarnya mendapat ranking di kelas, dikatakan sebagai anak pintar atau anak cerdas. Padahal ketika diukur intelegensinya ternyata belum tentu selaras dengan kepintaran akademik tersebut. Mengapa? Intelegensi memang wujudnya adalah potensial, artinya kemampuan seseorang yang masih “mentah”, tersimpan dalam diri seseorang, yang sebagian besar bersumber dari factor keturunan.


Bila intelegensi belum dioptimalkan aktualisasinya dalam proses pembelajaran, misalnya karena faktor pola asuhan atau proses pendidikan yang tidak tepat, maka kepintaran orang yang inteligensinya digolongkan tinggi, belum tentu terwujud dalam kepintaran akademik yang sepadan. Sebaliknya, anak yang “terlihat” cerdas dalam akademik, yang terbukti dengan data nilai-nilai yang diperoleh melalui proses pembelajaran, padahal intelegensinya tergolong “rendah”, besar kemungkinan disebabkan proses pembelajarannya atau pola asuhan yang cukup efektif. Jadi, kemampuan inteligensi memang terbukti dalam banyak penelitian sangat berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam belajar, tetapi bukan berarti satu-satunya faktor yang menentukan hasil pembelajarannya, karena masih banyak faktor lain yang menentukan.

Lalu apa dan bagaimana sebenarnya intelegensi itu?  Berikut penjelasannya.
Intelegensi adalah salah satu kemampuan mental, pikiran atau intelektual manusia. Intelegensi merupakan bagian dari-proses-proses kognitif pada urutan yang lebih tinggi (higher order cognition). Secara umum intelegensi sering disebut kecerdasan, sehingga orang yang memiliki intelegensi yang tinggi disebut orang yang cerdas atau jenius.

Para ahli belum ada kesatuan pendapat tentang defenisi intelegensi. Menurut Solso (988), Intelegensi adalah kemampuan memperoleh dan menggali pengetahuan, menggunakan pengetahuan untuk memahami konsep-konsep konkrit dan abstrak, dan menghubungkan di antara objek-objek dan gagasan-gagasan, menggunakan pengetahuan dengan cara-cara yang lebih berguna (in ameaningful) atau efektif.

Berdasarkan pengertian intelegensi demkian, sangat kentara betapa eratnya hubungan kemampuan dengan potensi intelegensi yang dimiliki. Artinya, semakin cerdas seseorang, semakin mudah dia menerima pembelajaran, semakin cepat daya tangkapnya, dan semakin efektif dan efesien belajarnya.

Secara umum, pamahaman terhadap kecerdasan Intelegensi ini ada dua tingakatan yaitu : Kecerdasan sebagai suatu kemampuan dalam memahami informasi yang membentuk sebuah pengetahuan dan kesadaran. Kecerdasan sebagai kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan (problem solved) dan dengan demikian pengetahuan pun bertambah. Sehingga mudah bagi kita untuk memahami bahwa kecerdasan adalah pemandu bagi kita untuk mencapai sasaran-sasaran yang kita tuju secara efektif dan efesien.

Dengan kata lain, orang yang lebih cerdas, akan mampu memilih strategi pencapaian sasaran yang lebih baik dari orang yang kurang cerdas. Artinya orang yang memiliki kecerdasan seharusnya lebih sukses dari orang yang kurang cerdas. Yang sering membingungkan ialah kenyataan adanya orang yang kelihatan tidak cerdas (sedikitnya di sekolah) kemudian tampil sukses, bahkan lebih sukses dari rekan-rekannya yang lebih cerdas, dan sebaliknya.

Prestasi seseorang ditentukan juga oleh tingkat kecerdasannya (Intelegensi). Meskipun merek mempunyai dukungan yang tinggi agar dapat berprestasi dan orang tuanya pun memberikan kesempatan yang begitu luas untuk dapat meningkatkan prestasinya, akan tetapi kecerdasan mereka yang hanya terbatas tidak akan memungkinkannya untuk mencapai keunggulan tersebut. Tingkat kecerdasan (Intelegensi) bawaan ditentukan baik oleh bakat bawaan (berdasarkan gen yang diturunkan dari orang tuanya) mamupun oleh faktor lingkungan (termasuk semua pengalaman dan pendidikan yang pernah diperoleh seseorang, terutama tahun-tahun pertama dari kehidupan mempunyai dampak kuat terhadap kecerdasan seseorang).

Secara umum pengerteian dari Intelegensi dapat dirumuskan ke tiga rumusan yaitu sebagai berkiut :

1. Suatu kemampuan dalam berpikir secara abstrak
2. Untuk menangkap hubungan-hubungan dan untuk belajar
3. Kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi baru.

Pada  perumusan pertama memberikan definisi intelegensi sebagai kemampuan dalam berpikir. Pada poin kedua mengatakan Intelegensi sebagai suatu kemampuan untuk belajar dan perumusan ketiga mengatakan sebagai suatu kemampuan dalam menyesuaikan diri. Ketiga-tiga rumusan menunjukkan aspek yang berbeda dari intelegensi, namun ketiga aspek tersebut saling berkaitan.

Keberhasilan dalam menyesuaikan diri seseorang ditentukan dari kemampuannya dalam berpikir dan belajar. Sejauh mana seseorang tersebut mampu belajar dari pengalaman-pengalaman yang dimilikinya akan menentukan penyesuaian dirinya. Ungkapan-ungkapan pikiran, cara berbicara, dan cara mengajukan pertanyaan, kemampuan memecahkan masalah, dan sebagainya mencerminkan kecerdasan. Akan tetapi, diperlukan waktu lama untuk dapat menyimpulkan kecerdasan seseorang berdasarkan pengamatan perilakunya, dan cara demikian belum tentu tepat pula.

Sebab itu, para ahli telah menyusun berbagai macam tes intelegensi untuk memungkinkan atau mempermudah kita dalam waktu yang relative cepat dapat mengetahui tingkat kecerdasan yang dimiliki seseorang. Intelegensi seseorang biasanya dinyatakan dalam suatu angka intelegensi yaitu Intelligence Quotient (IQ).

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel