Showing posts with label Teaching. Show all posts
Showing posts with label Teaching. Show all posts

Strategi Mengajar untuk Menjaga Kelas Tetap Menarik!

Strategi Mengajar untuk Menjaga Kelas Tetap Menarik! Sesekali, Anda mungkin mendapatkan kelas yang sepertinya tidak bisa membuat Anda tertarik. Apa pun yang Anda lakukan, sepertinya semua siswa sudah bosan. Jika siswa tidak memperhatikan, dan pikiran mereka mengembara.


Maka mereka tidak menyerap informasi apa pun yang Anda berikan kepada mereka untuk lulus dari kelas Anda. Berikut adalah beberapa strategi pengajaran yang dapat Anda lakukan untuk membuat kelas Anda tetap tertarik dan terlibat:

Game Kelas sebagai Strategi Pengajaran
Tidak masalah jika Anda berusia 8 tahun atau 18 tahun, semua orang suka bermain game. Permainan adalah cara yang bagus untuk membuat orang tetap terlibat, dan tidak ada salahnya mereka menyenangkan. Sering kali para siswa bahkan tidak merasa seperti mereka belajar sesuatu karena mereka begitu menyukai permainan.

Jika siswa perlu mempelajari kata-kata kosa kata penting untuk sains, mainkan Jeopardy!. Jika mereka perlu mengingat tanggal tertentu dalam pelajaran sosial, mainkan memori. Segala jenis permainan akan membantu membuat kelas Anda lebih menarik serta membuat mereka tetap terlibat.

Bagaimana Cara Strategi Pengajaran yang Baik?

Hubungkan Konten Kelas dengan Kehidupan Mereka
Ketika Anda membuat koneksi dunia nyata dengan apa yang dipelajari siswa, itu akan memberi mereka pemahaman yang lebih besar tentang mengapa mereka perlu mempelajarinya. Jika siswa Anda terus-menerus bertanya kepada Anda mengapa mereka perlu belajar sesuatu, dan Anda selalu menjawab dengan "karena Anda harus", Anda akan kehilangan kredibilitas dengan siswa Anda, dan mereka akan terus tidak tertarik dengan apa yang Anda ajarkan kepada mereka.

Sebaliknya, berikan mereka jawaban nyata. Jika mereka belajar matematika dan ingin tahu kapan mereka perlu menggunakannya, beri tahu mereka bahwa mereka akan membutuhkan matematika untuk menulis cek, membayar tagihan, membeli bahan makanan, mencari tahu berapa banyak hal yang membutuhkan biaya. Ini akan membantu mereka terhubung mengapa mereka harus belajar apa yang mereka pelajari untuk masa depan mereka.

Jadikan Interaktif
Pengaturan ruang kelas tradisional, di mana guru berdiri di depan kelas memberi kuliah kepada siswa ketika mereka membuat catatan, membosankan. Jika Anda ingin siswa Anda tertarik dengan apa yang Anda ajarkan kepada mereka, Anda harus membuatnya interaktif. Inilah beberapa strategi pengajaran untuk menjaga kelas Anda tetap menarik, yang dapat Anda coba sekarang juga.

Beberapa Cara Guru Agar Dapat Menciptakan Lingkungan Belajar yang Positif!

Beberapa Cara Guru Agar Dapat Menciptakan Lingkungan Belajar yang Positif! Ada hubungan langsung antara jenis lingkungan belajar yang guru ciptakan di ruang kelas dan prestasi siswa. Berikut adalah beberapa strategi khusus untuk mengembangkan iklim dan budaya kelas yang optimal.


Mengatasi Kebutuhan Siswa
Ingat bahwa siswa, seperti orang dewasa, tidak hanya memiliki kebutuhan fisik tetapi juga kebutuhan psikologis yang penting untuk keamanan dan ketertiban, cinta dan kepemilikan, kekuatan dan kompetensi pribadi, kebebasan dan kebaruan, dan kesenangan. Siswa didorong untuk memenuhi semua kebutuhan ini setiap saat, bukan hanya dua atau tiga. Ini dapat Anda lakukan untuk dapat menciptakan lingkungan belajar yang positif.

Menciptakan Rasa Ketertiban
Semua siswa membutuhkan struktur dan ingin tahu bahwa guru mereka tidak hanya mengetahui area isinya, tetapi juga tahu bagaimana mengelola ruang kelasnya. Adalah tanggung jawab guru untuk memberikan ekspektasi perilaku dan akademik yang jelas sejak awal, siswa harus tahu apa yang diharapkan dari mereka sepanjang waktu.

Cara penting lainnya untuk menciptakan rasa keteraturan adalah dengan mengajarkan siswa prosedur yang efektif untuk banyak tugas praktis yang dilakukan di kelas.

Bagaimana Cara Menciptaka Lingkungan Belajar yang Positif?

Sambut Siswa di Pintu Setiap Hari
Saat siswa memasuki ruang kelas Anda, sambut setiap siswa di pintu. Jelaskan bahwa Anda ingin siswa melakukan kontak mata dengan Anda, memberikan salam verbal, dan tergantung pada usia siswa lima besar, tonjolan kepalan tangan, atau jabat tangan. Dengan cara ini, setiap siswa telah memiliki kontak manusia yang positif setidaknya sekali sehari.

Ini juga menunjukkan kepada siswa bahwa Anda peduli tentang mereka sebagai individu. Jika seorang siswa mengganggu atau tidak bekerja sama sehari sebelumnya, itu memberi Anda kesempatan untuk check-in, menjelaskan filosofi "setiap hari adalah batu tulis yang bersih", dan nyatakan optimisme untuk kelas itu ("Mari kita bersenang-senang hari ini").

Biarkan Siswa Mengenal Anda
Siswa masuk ke kelas dengan persepsi guru yang sudah terbentuk sebelumnya. Terkadang itu bagus, terkadang bisa menjadi penghalang. Saya ingin murid-murid saya menganggap saya sebagai manusia tiga dimensi yang dapat dipercaya dan bukan sebagai persepsi dua dimensi tentang “guru bahasa Inggris” yang mungkin sudah mereka miliki.

Ini merupakan salah satu cara untuk menciptakan lingkungan belajar yang positif, yang dapat Anda coba sekarang juga.

Guru Wajib Tahu "Strategi Pelaksanaan Kurikulum"

Strategi Pelaksanaan Kurikulum adalah cara bagaimana melaksanakan kurikulum sebagai program belajar agar dapat memengaruhi siswa sehingga dapat mencapai tujuan kurikuler, dan lebih jauh lagi dapat mencapai tujuan pendidikan. Ini mengartikan bahwa strategi pelaksanaan kurikulum menyangkut opersionalisasi kurikulum di sekolah.


Ada empat komponen yang menunjang operasionalisasi kurikulum, yakni: kegiatan pembelajaran, kegiatan administrasi supervisi, kegiatan bimbingan, dan kegiatan penialaian. Berikut paparan lebih jelasnya.

a. Kegiatan pengajaran adalah pelaksanaan proses belajar mengajar, yaitu suatu proses menerjemahkan dan mentransformasikan nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum (program belajar) kepada para siswa melalui interaksi belajar mengajar di sekoah.

b. Kegiatan administrasi berkenaan dengan upaya mendayagunakan semua sumber, baik personal maupun material, secara efektif dan efesien guna menunjang tercapainya tujuan pendidikan. Tugas guru sehubungan dengan administrasi yang dilaksanakan di sekolah antara lain meliputi administrasi pengajaran, kesiswaan, keuangan, dan hubungan sekolah dengan masyarakat.

Supervisi berkenan dengan bantuan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih efektif. Supervisi lebih banyak menjadi tugas seorang supervisor (Kepala Sekolah, Pemilik/Pengawas dan pejabat pendidikan lainnya).

c. Bimbingan penyuluhan adalah upaya memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar agar para siswa dapat mengatasi kesulitan yang dihadapinya. Upaya ini dilakukan agar hasil belajar para siswa lebih optimal. Sebenarnya proses bantuan bukan hanya diberikan kepada siswa yang hanya mengalami kesulitan belajar saja, tetapi juga kepada siswa lainnya.

Misalnya upaya memberi bantuan dalam pemilihan jurusan, pemilihan pekerjaan, dan lain-lain. Upaya melaksanakan bimbingan di sekolah menjadi tugas guru, di samping sebagai pengajar dan sebagai administrator kelas. Di beberapa sekolah, khususnya di kota-kota besar, tenaga guru pembimbing (counsellor) adalah tersendiri, yakni guru-guru lulusan IKIP jurusan Bimbingan Penyuluhan.

d. Penilaian adalah upaya yang dilakukan untuk menentukan apakah tujuan pendidikan dan tujuan pengajaran telah tercapai atau tidak. Upaya ini ditempuh melalui proses membandingkan tingkah laku nyata dengan suatu standar tingkah laku yang diinginkan (diniatkan).

Jadi, tekanan penilaian pada dasarnya mengukur tercapai tidaknya tujuan pengajaran. Penilaian merupakan tugas dan tanggung jawab guru di sekolah, baik penilaian yang dilaksanakan pada waktu mengajar (formatif) maupun penilaian yang dilaksanakan pada akhir semester (sumatif).

Ketiga aspek kurikulum tersebut, yakni tujuan, isi/materi program, dan strategi pelaksanaan program tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Tujuan adalah arah yang harus dicapai. Isi adalah bahan yang digunakan untuk mencapai tujuan, dan strategi adalah cara bagaimana mencapai tujuan tersebut.

Baca juga: Guru dan Kurikulum “Satu Kesatuan yang Tidak Terpisahkan”

Materi atau Isi Porgram dalam Pembelajaran

Isi atau materi program tidak lain ialah bidang studi atau mata pelajaran yang telah terpilih berdasarkan kriteria keilmuan dan kegunaannya, yang dapat menunjang tercapainya tujuan konstitusional. Mata pelajaran pada dasarnya adalah pengetahuan dan pengalaman manusia pada masa lampau yang di susun secara logis, sistematik, melalui prosedur dan metode keilmuan. Sementara itu bidang studi ialah kumpulan atau penggabungan dari sejumlah mata pelajaran serumpun.


Bidang studi adalah terjemahan dari broadfield. Misalnya bidang studi IPA terdiri dari gabungan mata pelajaran Fisika, biologi, astronomi, kimia, dan lainnya. Bidang studi IPS, gabungan dari mata pelajaran Sejarah, Ilmu Bumi, Sosiologi, Antropolgi, Ekonomi, dan lainnya.

Untuk setiap tingkat pendidikan, mata pelajaran yang tergabung dalam suatu bidang studi tidaklah sama. Misalnya di SMP yang termasuk bidang studi IPS adalah mata pelajaran Sejarah, Geografi, Kependudukan, Ekonomi Koperasi, dan tata buku/hitung dagang. Setiap bidang studi atau mata pelajaran kemudian ditetapkan ruang lingkup (scope) dan urutan penyajiannya berdasarkan kelas/semester (sequences).

Ada dua aspek penting dalam menentukan ruang lingkup bahan, yakni tingkat kedalaman bahan dan keluasan bahan. Jadi, sekalipun mata pelajarannya sama, misalnay sejarah, tetapi tingkat kedalaman dan keluasan bahan Sejarah di SMP berbeda dengan Sejarah di SMA.

Itulah sebabnya penyusunan kurikulum untuk beberapa bidang studi/mata pelajaran menganut teori spiral kurikulum.

Dalam kurikulum, penentuan ruang lingkup bahan hanya terbatas kepada penetapan pokok bahasan/sub pokok bahasan. Sementara itu isi dari setiap pokok bahasan/sub pokok bahasan disusun dan diurutkan lagi dalam buku pelajaran. Oleh sebab itu, penulisan buku pelajaran harus mengacu kepada kurikulum.

Mengenai urutan penyampaian bahan, yakni pendistrubusian pokok bahasan berdasarkan kelas/semester, menggunakan alur keilmuan yang ada dalam bidang studi/mata pelajaran tersebut. Biasanya berlaku aturan dari yang mudah menuju kepada yang sulit, dari yang sederhana menuju kepada yang kompleks, dari yang sifatnya mendasar menuju kepada yang lebih khusus, dan dari yang factual menuju kepada konseptual.

Oleh sebab itu, harus tercermin adanya bahan yang tingkat kedalaman dan keluasannya berbeda antara kelas I dengan kelas II di SMP atau di SMA. Bahan di kelas II relative lebih luas, lebih dalam dari bahan yang diberikan di kelas I, bukan sebaliknya.

Baca juga: Memahami Tujuan Program dalam Pembelajaran

Memahami Tujuan Program dalam Pembelajaran

Tujuan program dinyatakan dalam suatu rumusan mengenai tingkah laku yang diharapkan dimiliki siswa setelah menerima program tersebut. Secara hierarkis, tujuan program dibedakan menjadi beberapa kategori, mulai dari tujuan yang bersifat umum sampai tujuan yang bersifat khusus.

Kategori pertama adalah tujuan lembaga pendidikan atau tujuan institusional. Misalnya, ada tujuan Sekolah Dasar, SMP, SMA, SPG, dan lain-lain. Tujuan lembaga (tujuan institusional) tidak lain adalah rumusan tingkah laku yang diharapkan dimiliki siswa setelah Ia menyelesaikan program pendidikan di lembaga pendidikan tersebut.



Tujuan ini sudah tentu umum sebab merupakan tujuan jangka panjang (6 tahun untuk SD atau tiga tahun untuk SMP), yakni lamanya pendidikan di lembaga pendidikan tertentu.

Sebagai contoh tujuan institusional diantaranya adalah tujuan SMP, yakni agar para lulusan:


a. menjadi warga Negara yang baik sebagai manusia yang utuh, sehat, dan kuat lahir batin.
b. menguasai hasil pendidikan umum yang merupakan kelanjutan dari pendidikan di SD dan
c. memiliki bekal untuk melanjutkan pelajarannya ke sekolah lanjutan tingkat atas, dan untuk terjun ke masyarakat.


Tujuan umum di atas kemudian dijabarkan menjadi tujuan yang lebih khusus. Tujuan khusus tersebut dibagi ke dalam tiga bidang tujuan, yakni bidang pengetahuan, bidang keterampilan serta bidang nilai dan sikap.


Kategori kedua adalah tujuan kurikuler atau tujuan kurikulum, yakni tujuan dari setiap bidang studi atau mata pelajaran yang diberikan atau diprogramkan di setiap lembaga pendidikan tersebut. Seperti halnya tujuan institusional, tujuan kurikulum berisikan rumusan tingkah laku yang diharapkan dikuasai siswa.


Rumusan tingkah laku tersebut diharapkan dapat dikuasai oleh siswa setelah ia menyelesaikan bidang studi yang dipelajarinya. Dengan kata lain, tujuan kurikuler lebih khusus daripada tujuan institusional, atau merupakan penjabaran dari tujuan institusional.


Contoh tujuan kurikuler adalah tujuan IPA, IPS, PMP, dan bidang studi lainnya. Oleh sebab itu, untuk satu tujuan institusional dapat dijabarkan menjadi beberapa tujuan kurikuler. Dapat pula diartikan bahwa tujuan konstitusional tercapai apabila seluruh tujuan kurikuler dikuasai oleh semua siswa.


Kategori ketiga adalah tujuan intruksional (tujuan pengajaran). Bila tujuan kurikuler adalah bidang studi, maka tujuan instruksional adalah tujuan dari setiap bahan yang dijabarkan dari setiap bidang studi. Kita ketahui bahwa setiap bidang studi mempunyai ruang lingkup bahan yang terdiri dari beberapa pecahan/bagian, yang kita kenal dengan istilah pokok bahasan dan sub pokok bahasan.


Baca juga: Materi atau Isi Porgram dalam Pembelajaran

Bila guru mengajar satu pokok bahasan dari suatu bidang studi, berarti guru tersebut mengajarkan sebagian bahan dari bidang studi tersebut. Jika guru selesai mengajarkan semua pokok bahasan yang terdapat dalam bidang studi tertentu, misalnya IPS, dapat dikatakan selesailah bidang studi IPS. Oleh sebab itu, dapat dirumuskan bahwa tujuan instruksional adalah rumusan kemampuan atau tingkah laku yang diharapkan dikuasai oleh siswa setelah ia menyelesaikan suatu program pengajaran.


Tujuan pengajaran dapat dibedakan menjadi tujuan pengajaran umum dan tujuan pengajaran khusus.


Dalam setiap rumusan tujuan yang telah dikemukakan di atas, terdapat istilah tingkah laku atau kemampuan. Maksud kata tingkah laku dalam rumusan tujuan mengandung tiga aspek, yakni aspek pengetahuan, nilai dan sikap, serta keterampilan. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tida dapat terpisahkan.


Tingkah laku ini (pengetahuan, nilai dan sikap, serta keterampilan) pada hakikatnya adalah hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa.


Baca juga: Memahami Secara Jelas Pengertian Kurikulum