Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

Bersihkan Sastra Indonesia dari Politik Caci Maki


PERBEDAAN pendapat adalah rahmat. Tapi ungkapan itu tidak sepenuhnya benar, sebab tidak terjadi di ranah kesusastraan Indonesia modern hari ini di mana internet menjadi salah satu medium penyampai pesan.

Perbedaan pendapat di era media sosial khususnya Facebook dan Whatsapp yang dilakoni akun-akun segelintir sastrawan Indonesia, telah dikotori ketidakdewasaan berpikir, bersikap dan berkata-kata. Bertolak belakang dengan keahlian yang ditekuni; menulis karya sastra.

Sejatinya, sastrawan sebagai ahli sastra, yang terlatih mengolah kata yang bukan bahasa sehari-sehari—bukan bahasa pasaran tanpa saringan—adalah anutan yang patut diteladani. Teladan, bukan saja merujuk pada keindahan tutur gaya bahasa yang ditulisnya, mutu karya itu, tetapi juga pada kesantunan dalam menimbang setiap persoalan yang tengah terjadi.

Kasus teranyar dapat merujuk polemik puisi esai Denny Januar Ali (DJA) yang dianggap oleh sebagian sastrawan telah menodai kemurnian sastra Indonesia, khususnya puisi. Di luar pengadilan, DJA divonis telah mengotori kesusastraan Indonesia, melakukan pembodohan publik serta telah bertindak menggelapkan sejarah.

Petisi-petisi penolakan pun muncul meski DJA tidak selangkah mundur. Setidaknya petisi datang dari sekelompok penyair muda di berbagai kota, juga dari Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Se-Indonesia (IMABSII), dari Penyair-Penyair Jawa Barat, ditambah Majelis Sastra Riau dan lainnya. Petisi-petisi itu satu suara menolak puisi esai dan segala hal yang berhubungan dengan penerbitan buku-buku puisi esai yang digagas DJA.

Panggung caci maki pun merobek-robek media sosial. DJA menjadi pusat tumpahan amarah. Tidak saja DJA, tapi juga penyair-penyair yang memilih jalan kreatif menulis puisi bercatatan kaki itu atas kesadaran mereka, dianggap lawan yang wajib dimusuhi dan diperangi. Status-status dan komentar-komentar sarkas bernada ujaran kebencian membanjiri beranda media sosial setiap hari. Saling serang, yang sesungguhnya menguatkan eksistensi keakuan, agar sama-sama diakui sebagai sastrawan, profesi yang konon paling agung itu.

Kelompok yang kontra puisi esai begitu mudah melontarkan kata-kata makian yang kasar di status dan komentar-komentar mereka. Kata-kata bodoh, monyet, jancuk, babi, idiot, cecunguk, taik dan segala sumpah serapah yang tak senonoh lainnya meluncur deras di mulut beranda media sosial yang dapat dibaca oleh siapa saja, bahkan jika tidak berteman sekalipun.

Lihatlah bagaimana mudahnya seorang Sunlie Thomas Alexander memaki-maki di Facebook terhadap personal penyair-penyair yang berseberangan dengan dia dan kelompoknya. Ketika Muhammad De Putra, penyair muda Riau yang memutuskan mundur dari proyek penulisan puisi esai akibat tekanan di sana-sini lalu De Putra membuat surat permintaan maaf secara terbuka di media sosial, Sunlie menyalin tempel surat permintaan maaf De Putra itu kemudian membubuhkan status sarkas di dinding Facebook-nya: “Inilah contoh penulis muda miskin yang rela menjual harga diri pada Denny JA! Cengeng lagi!”

Bukannya memberi apresiasi dan simpatik terhadap keputusan De Putra yang mundur dari proyek penulisan puisi esai itu, Sunlie malah menghina De Putra sebagai penulis miskin, menjual harga diri dan cengeng.

Bagaimana jika status kebencian Sunlie itu dibaca oleh orang tua De Putra, guru-gurunya di sekolah dan kawan-kawannya yang lain, sementara mereka tidak mengerti asal muasal persoalan? Adakah seorang Sunlie Thomas Alexander yang mengaku sastrawan itu menimbang perasaan De Putra dan keluarganya?

Bukankah Sunlie dan kawan-kawannya menginginkan penyair-penyair yang menulis puisi esai mundur dan meminta maaf (kata maaf di sini ambigu, aneh, lucu, kepada siapa pula harus meminta maaf dan salah apa harus meminta maaf? Setiap orang punya hak dan pilihan masing-masing tanpa boleh diintervensi pihak mana pun—pen.), lalu setelah permintaan maaf mereka lakukan meski di bawah tekanan kenapa mereka masih juga diintimidasi dan dihina? Siapa sebenarnya yang tidak punya nurani dan tidak menghargai nilai-nilai kemanusiaan?

Mampirlah ke beranda Facebook Sunlie Thomas Alexander. Segala yang berbau puisi esai dan DJA serta penyair-penyair yang berseberangan dengan dia dicaci maki habis. Bahkan di statusnya yang lain, dia juga mencaci maki seorang penyair perempuan Riau yang membela De Putra dengan kalimat lebih sadis: “…lonte idiot yang bikin najis Sastra Indonesia!”

Beginikah cara sastrawan yang hebat karyanya itu bersikap dalam perbedaan pendapat? Publik sastra dapat menilainya sendiri.

Kebenaran patut dicari dan diperjuangkan. Tapi jika membawa ajaran kebenaran dengan cara-cara yang tidak benar, hasilnya akan bertolak belakang. Kayu akan menjadi api.

Membaca gaya Sunlie dan beberapa kawannya yang suka mencaci maki di media sosial, ada upaya sistematis yang terus bergerak membangun opini publik bahwa sumpah serapah dan makian itu wajar, sebab kata-kata tersebut tertulis di dalam kamus. Lumrah menurut mereka.

Namun, pembelaan mereka tidak sepenuhnya dapat diterima, kecuali bagi orang yang terbiasa mengucapkan kata-kata tidak senonoh itu di lingkungan keluarga dan pertemanan yang memang rusak secara etika dan moral. Dalam ilmu Patologi Sosial, ada sekelompok orang yang disebut memiliki penyakit jiwa yang memang kesukaannya berkata-kata kotor dan melakukan perbuatan-perbuatan kotor.

Nalar mereka yang mengagungkan kata-kata kotor di muka umum yang dianggap biasa, enteng, dan tidak merasa bersalah dapat diuji oleh sebuah perumpamaan: Jika ada sepasang suami istri, sah status perkawinannya, kemudian keduanya pergi ke tengah pasar melakukan adegan mesum layaknya di atas ranjang, apa reaksi orang-orang? Pasar buncah. Semua orang marah terhadap kelakukan suami istri itu karena perbuatan mereka memalukan.

Kenapa orang murka kepada suami istri itu? Bukankah mereka pasangan yang sah? Mereka saling mencintai. Di saat berbuat mesum itu mereka juga membawa surat nikah di saku masing-masing. Kok dianggap salah?

Salah karena tidak beretika, tidak tahu adab, tidak mafhum mana ruang publik mana ruang privat. Tidak tahu mana bilik kecil mana bilik besar.

Apa tidak wajar yang dilakukan suami istri itu? Sangat wajar jika dikerjakan pada tempatnya; ruang privat. Lakukanlah itu. Tidak seorang pun boleh melarang, sebab itu hak mereka sebagai pasangan yang sah.

Begitulah kata-kata, tidak asal lompat dari mulut, apalagi mulut itu mulut sastrawan yang dianggap sebagai orang yang pandai mengolah kata-kata—kini ujung jari yang menjadi mulut itu, dan tak berlidah, lebih tajam dari mulut yang berbibir, bergigi dan berlidah. Walau kata-kata makian itu tersurat di KBBI—Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sastrawan harus memberikan edukasi dan preseden baik kepada publik pembacanya. Apalagi media sosial, yang membaca status, komentar, tulisan itu bukan saja dari kalangan mereka sesama sastrawan, tapi ada pembaca lain di luar lingkungan mereka. Jika terjadi perbedaan pendapat, selayaknya disampaikan secara beretika pula.

Saut Situmorang, tokoh di balik gerakan penolak puisi esai DJA, pada 2015 silam berurusan dengan aparat hukum karena melakukan tindak pidana pencemaran nama baik di media sosial kepada Penyair Fatin Hamama. Saut dijemput polisi ke kediamannya di Jogja. Selain Saut, sastrawan Sutan Iwan Soekri Munaf juga terseret kasus yang sama. Peristiwa yang seharusnya tidak perlu terjadi di ranah intelektual jika etika debat dapat saling dijaga dan dihormati, tanpa menyerang dan menyinggung pribadi seseorang.

Kasus Saut dan Iwan mengingatkan publik sastra pada kasus serupa yang menimpa HB Jassin. Jassin dimejahijaukan karena menerbitkan cerpen “Langit Makin Mendung” karya penulis dengan nama pena Kipandjikusmin pada Agustus 1968 di Majalah Sastra. Cerpen itu dianggap menghina keyakinan umat Muslim sehingga terjadi unjuk rasa dan penyerangan di kantor majalah Sastra di Medan dan Jakarta. Bedanya, pengadilan mengadili cerita pendek yang dibela Jassin sebagai produk imajinasi, sedangkan Saut dan Iwan dijerat hukum karena menyinggung personal pribadi (Fatin Hamama) dengan perkataan (tulisan/komentar) yang tidak patut dan menyinggung nama baik.

Di ranah kewartawan dikenal Kode Etik Jurnalistik (KEJ) yang di salah satu bagiannya menyebut bahwa wartawan Indonesia tidak membuat fitnah dan sadis. Fitnah berarti tuduhan tanpa dasar yang dilakukan secara sengaja dengan niat buruk, sedangkan sadis berarti kejam dan tidak mengenal belas kasihan.

Prinsip KEJ ini selayaknya juga dimiliki kaum sastrawan yang terhormat itu agar berimbang menyampaikan informasi kepada publik, tidak berkata-kata kotor dan tidak menyebarkan fitnah secara sadis tanpa menimbang perasaan orang lain. Jika menghargai intelektual, ilmu pengetahuan hendaknya disampaikan dengan cara-cara intelek dan santun.

Jangan jadi sungai yang di kedalaman airnya kotor, sebab di muara ia akan menampung sampah.
Atau kata Raja Ali Haji: Barang siapa suka mencela orang/ itu tanda dirinya kurang// barang siapa suka berkata kotor/ mulutnya itu seperti ketor(tempat membuang ludah makan sirih)// Bila hendak melihat orang berbangsa/ lihatlah kepada budi dan bahasa//. (Gurindam Dua Belas).

Jika kelompok-kelompok yang kontra puisi esai membikin petisi yang konon telah mencapai angka 2000 penandatangan itu, publik sastra (sastrawan, kritikus, pembaca—pelajar, mahasiswa, guru, dosen dan masyarakat umum lainnya) yang netral memandang persoalan dan masih peduli terhadap kesucian bahasa dan sastra Indonesia, selayaknya membuat petisi tandingan. Petisi bisa memakai judul esai ini: “Bersihkan Sastra Indonesia dari Politik Caci Maki”. Petisi bukan untuk membela puisi esai atau DJA, tapi untuk menjaga muruah bahasa dan sastra Indonesia.

Masyarakat jenuh melihat perilaku oknum politisi di pentas politik Tanah Air yang beragam tingkah polahnya. Masyarakat memilih jalan sastra untuk mencari kedamaian di sela-sela kesibukan. Tapi nyatanya jalan damai yang diharap itu tidak didapat, sebab sastra pun ikut tercemar, dikumuhi luapan bahasa senonoh yang lebih tak beretika dibanding para politisi yang berdebat di media massa.

Di bangku-bangku sekolah, sastra diajarkan sebagai pelajaran yang menumbuhkan nilai-nilai karakter dan budi pekerti luhur, tetapi di alam nyata bertolak belakang dengan perilaku pelaku-pelaku sastra (sastrawan) yang menghasilkan karya sastra itu.

Penulis perempuan asal Aceh, Ida Fitri, di sebuah status di Facebookmenulis: “Apa yang terjadi, jika di masa depan, anak-anak kita menjadikan puisi esai ala Togog sebagai rujukan puisi Indonesia?”

Pertanyaan Ida ini menarik dan dapat dikutip dengan kalimat serupa: “Apa yang terjadi, jika di masa depan, anak-anak kita menjadikan bahasa-bahasa kotor ala sastrawan-sastrawan yang berpikir kotor itu sebagai rujukan perilaku sehari-hari mereka?”

Menafsir Buku Lawan Buku
Nuruddin Asyhadie dan Umar Fauzi Ballah, mempertanyakan pendapat saya di kolom komentar Facebook Esha Tegar Putra tentang logika buku lawan buku, karya lawan karya yang saya tawarkan pada catatan saya sebelumnya menyikapi polemik puisi-esai (lihat: Jika Saya Berbeda Jalan Apa Kita Masih Berkawan?). Sementara di beranda Facebook-nya, Malkan Junaidi menganalogikan jika ada produk makanan diduga mengandung zat berbahaya beredar di pasaran, tindakan apa yang dilakukan pertama kali? Malkan menyebut bahwa langkah pertama adalah menyelidiki benar-tidak dugaan itu, lalu mengambil sampel dan membawa produk makanan itu ke Dinas Kesehatan untuk diperiksa. Jika terbukti berbahaya, lalu diumumkan, agar masyarakat tahu, kemudian ditarik dari pasaran.

Analogi Malkan yang mengambil sampel makanan dapat saya terima. Sesuai nalar. Masuk akal jika kasusnya murni membahas produk makanan.

Tapi analogi itu belum cukup matang. Tidak bisa menyamakan makanan dengan produk karya tulis, taruhlah di sini puisi esai—atau apa pun jenis karya lain. Produk makanan yang mengandung zat berbahaya, jika tidak segera dilaporkan ke pihak berwenang, Dinas Kesehatan—lebih tepatnya Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI—maka pemakan (konsumen) akan keracunan dan terancam jiwanya. Perlu segera dilaporkan jika ada masyarakat yang mengetahui, tidak boleh dibiarkan. Ada lembaga berwenang yang mengurus soal makanan dan minuman jika kadaluarsa atau mengandung zat berbahaya.

Tapi harus diingat, karya tulis bukan makanan. Orang yang membaca karya tulis tidak keracunan, apalagi sampai terenggut nyawanya walau seberbahaya apa pun buku di tangannya. Tidak ada lembaga berwenang yang melarang sebuah buku selama konten buku tidak terlarang oleh aturan hukum negara. Malah sangat aneh dan lucu jika ada penyair yang melarang penyair lain berkarya.

Sebagai analogi perbandingan, saya muslim, mengimani Alquran sebagai kitab suci agama saya, Islam. Di rumah saya ada Kitab Injil, saya baca Injil. Apakah sertamerta saya murtad lalu meninggalkan agama saya karena membaca Injil? Tidak, saya tetap beriman kepada Alquran dan berusaha mengamalkan isinya. Dengan membaca Injil, juga kitab-kitab agama lain, misalnya, saya mendapat tambahan ilmu pengetahuan, terutama perbandingan agama—bagaimana agama-agama lain mengajarkan nilai-nilai kebaikan kepada umatnya.

Apalah itu puisi esai. Bukan produk agama, bukan kitab suci. Tidak berpahala dan tidak berdosa orang menulis dan membacanya. Berlebihan jika ‘ditakuti dan dicemaskan’ jika ada orang menulis lalu mengumpulkannya menjadi sebuah buku.

Oh, DJA membikin puisi esai agar dia menjadi tokoh sastra paling berpengaruh, dia memainkan kuasa uang untuk mengajak penyair-penyair lain menulis puisi esai.

Saya tidak terlalu percaya DJA akan menjadi tokoh penting di jagat sastra Tanah Air jika dia tidak terus berkarya. Karyanya nanti yang akan bicara sekuat apa ketokohan dan mutu tulisan yang dibuatnya.

Pembaca hari ini cerdas, tidak mudah terpengaruh dan dipengaruhi. Karya-karya DJA yang akan membela dirinya sebagai tokoh—jika ketokohan itu memang tujuannya. Saya tetap meyakini bahwa pembacalah hakim. Jika karya itu bagus, maka akan melekat di ingatan banyak orang sebagai karya bagus; diulang baca, dikaji dan dibahas di ruang-ruang kelas, dicetak berkali-kali. Tapi, jika karya itu buruk, tidak bermutu, sifatnya akan seperti angin, datang dan pergi tidak perlu diundang, apalagi dipaksakan datang. Musiman. Dan musim selalu berganti.

Buku lawan buku, karya lawan karya, bermakna sederhana. Jika kelompok kontra puisi esai tidak menyukai kerja kreativitas DJA dan gerakannya, sebaiknya bermainlah dengan cara-cara fair. Cara-cara cerdas tanpa perlu memfitnah dan mencaci maki. Agungkanlah puisi-puisi yang bukan puisi esai yang diyakini itu sebagai kebenaran yang mutlak—atau disakralkan. Tulis sebanyak-banyaknya puisi itu, kemudian gagas penerbitan-penerbitan yang lebih besar jangkauannya dari apa yang dilakukan DJA. Terus lakukan kampanye dengan cara-cara positif tanpa membunuh karakter orang lain—tanpa status dan komentar-komentar sarkas di media sosial. Jika ingin jadi kritikus, tulis kritik-kritik yang cerdas dan berimbang, tidak menghakimi sepihak atau atas dasar kepentingan diri dan kelompoknya saja. Nanti vonis kembali di tangan pembaca, siapa yang terus berkarya akan abadi di ingatan orang, dan yang tidak berkarya hilang dikubur zaman.

Tidak perlu membangun kecemasan seperti Esha Tegar Putra bahwa dugaannya ada agensi-agensi yang melanggengkan ketokohan DJA lewat puisi esai (lihat: Sastra, Arena, Kuasa, Surat Terbuka untuk Publik Sastra, Padang Ekspres, Minggu, 21 Januari 2018). Jika dugaan itu pun ada, kelompok yang kontra DJA bangun pula agensi-agensi yang lebih baik dan kuat untuk karya-karya yang lebih baik dari puisi esai—sekali lagi dengan cara-cara fair tanpa caci maki. Hargai kreativitas.

Penyair Soni Farid Maulana membikin puisi jenis Sonian (merujuk nama Soni Farid Maulana), kemudian diklaim pengikutnya sebagai genre puisi baru. Kita hargai ‘ijtihad’ Soni itu. Jika berkembang, puisi Indonesia semakin berwarna. Gubernur Sumatra Barat, Irwan Prayitno, bikin pantun-pantun spontan dengan tema kekinian dan ia bacakan setiap kali berpidato, kita hargai itu. Pantun spontan Irwan mencapai 18 ribuan lalu dicatat MURI sebagai pantun terbanyak di dunia, layak kita beri apresiasi. Irwan membangkitkan tradisi berpantun yang nyaris punah.

Jauh sebelum itu, mengutip Maman S Mahayana, Muhammad Yamin menawarkan Soneta untuk menolak syair dan pantun. Sutan Takdir Alisjahbana dan para penyair Pujangga Baru membawa konsep Puisi Baru—meski mereka berhasil meneguhkan isi dan bentuk baru dalam puisinya, jejak pantun dan syair masih sangat kentara.

Saya kira begitu juga puisi esai, hanya salah satu bentuk kreativitas terhadap kegelisahan seorang penyair yang menginginkan sesuatu yang berbeda dari keumuman yang ada. Sebagai pribadi saya menghormati jalan ‘ijtihad’ DJA.

Kebebasan mencipta, kata HB Jassin, adalah soal yang penting dipikirkan dan disadari oleh para seniman, terutama seniman muda. Dan ini perlu dibicarakan dalam tingkat yang lebih tinggi dan iklim yang jernih, lepas dari emosi yang berkobar-kobar dan meluap-luap. Socrates telah dipaksa minum racun karena ia dianggap berbahaya mengajarkan cara berpikir yang logis dealektis kepada para pemuda dalam mencari kebenaran. Ia dihukum oleh orang-orang yang takut akan kebenaran. Tapi kebenaran tidak turut binasa bersamanya. (*)

*)Muhammad Subhan, pegiat literasi dan pembaca buku-buku sastra, berdomisili di Padangpanjang. Email: rinaikabutsinggalang@gmail.com

Puisi-Puisi Zahraton Nawra


Zahraton Nawra, anak pertama dari tiga bersaudara ini lahir di Banda Aceh, 27 Mei 1994. Ia juga salah satu pegiat FLP Banda Aceh 2013 lalu. Perempuan bernama pena Bunga Cahaya merupakan lulusan S1 Pendidikan Bahasa Inggris UIN Ar-Raniry tahun 2016, pernah menjadi amirah di UKM Qur’an Aplikasi Forum (QAF) tahun 2015-2016, penyair muda Laskar Syu’ara 227, penikmat hujan, penyayang kucing dan pemburu buku diskon.

Belasan karyanya sudah dibukukan dan termuat dalam berbagai antologi: Surat “Teruntuk Calon Imamku” (Asrifa,2013), puisi “Bundaku Sayang” (Asrifa, 2013), puisi “Mei Berpuisi” (Goresan Pena Publishing, 2014), Antologi Puisi Anak Islami (Asrifa, 2014), cerpen “Cinta Tak Pernah Salah Memilih” (Penerbit Indie, 2014), puisi “Duka di Negeri Pejuang” (Pena Indie, 2015), puisi “Belajar Pada Semut” (KaKaYa Publishing, 2015) dan beberapa antologi lainnya.

Saat ini perempuan penyuka warna biru ini mengajar dan menetap di Madrasah Ulumul Quran, Tapaktuan, Aceh Selatan Oktober 2017 sebagai guru tahfiz dan ibu asrama.

Motto hidupnya adalah “Man yazra’ yahshud” siapa yang menanam, dialah yang menuai.
Jika ingin lebih kenal dengan penulis, bisa dihubungi melalui email : zahratonnawra27@gmail.com atau atau akun facebooknya Zahraton Nawra Binti Syam.

Beberapa puisi Zahraton Nawra

Sajak Sebatang Pena

Ini adalah sajak sebatang pena 
Lajumu terawangi peluh kertas 
Gelitik ujung kuku dengan lihai 

Pasti... 
Semua kira kau pujangga... 
Sajakmu lebih lena dari tegukan tuak 
Pipi rona bercahaya 

Sungguh... 
Sajakmu memikat. 
Memabukkan.
Melayang terbang. 

Ini adalah sajak sebatang pena

Tetesmu adalah sejarah 
Balada yang tak cukup dieja pada lipatan dasawarsa 

Karnamu...
Patah ruah mantra penakluk 
Lentikmu pun memukau sang dewa 

Karna itu... 
Aku tak takut menggadai cinta di punggungmu 
Berharap kenang enggan kikis haluan lalu.

Aceh, Oktober 16


Sajak Terbuang

Aku hanyalah sajak terbuang
Dikutip dari darah buncah
Hati konyak 
Dan raga pasi 

Tak ada yang mau 
Pada sajak lusuh sepertiku 

Aku hanyalah sajak terbuang 
Tidurku adalah kelam gigil dan asing 
Jauh di dasar lubuk dendam 
Bergantung pada petipeti buram hawa nafsu 

Mereka menganggap aku sampah 
Sajak tanpa hikmah 
Berceloteh ria tentang gundah 
Tak peduli mereka... 
Sebabku si sajak terbuang

Tapaktuan, 26 Juni 2018


Pamit

Kemana harus kulangkah 
Sebagian tapak sudah berdebu 
Tersapu oleh renjana yang menyusut. 

Kemana harus kulangkah 
Sebagian tubuh sudah retak, berserak tersapu laju kenangan
Lalu hancur, lebur tertimbun di bilik malam 

Kemana harus kulangkah
Sedang masa lalu yang pecah, takkan sama lagi bentuk semula. 

Kemana harus kulangkah... 
Waktu berpindah kilat 
Menumpuk ingin buncah 
Tapi hilang pada kasat. 

Kemanakah harus kulangkah... 
Panggilan kafan menepuk gendang, 
Menanti tanah merah rekah. 

Duh aduh... 
Siapakah yang sudi 
Tutup nyeri, jemput jasad pendosa ini. 

Banda Aceh, 10 Okt 2016

Berikut ini adalah daftar antologi puisi yang pernah dikirim dan dibukukan sebagai kontributor oleh Zahraton Nawra, dihitung sejak bergabung dengan FLP Aceh Februari lalu (2013-2016).

1. Sepotong Episode_Genre Fiksi _ Naskah lolos dan dibukukan oleh Penerbit Asrifa_2013.

2. Antologi Puisi Renungan Ziarah Bathin_Sesalku_Genre Fiksi_Naskah lolos dan dibukukan oleh Penerbit Java Media Publicer_2013.

3. Antologi Puisi Menuju Jalan Cahaya_Di Persimpangan_Genre Fiksi_Naskah lolos dan dibukukan oleh Penerbit Java Media Publicer-2013.

4. Antologi Puisi Anak Islami__Genre Fiksi_Perjalanan Nanti_Naskah lolos dan dibukukan oleh Penerbit Asrifa- 21 February 2014.

5. Antologi Puisi Aksara warna_ Sebuah Penantian _Genre Fiksi_Naskah lolos dan dibukukan oleh Penerbit Asrifa_2014.

6. Re: SDA_PUISI _Bukan Puisi Cinta_Genre Fiksi_Naskah lolos dan dibukukan_ Asrifa Publicer_12 Mei_2014.

7. SDA_SURAT _Masihkah Aku Sahabatmu???_Genre Fiksi_Naskah lolos dan dibukukan_ Asrifa Publicer_12 Mei_2014.

8. Sajak-sajak-Mei_Antologi-Puisi_Genre_Fiksi_lolos_ event.goresan.pena@gmail.com_10 Mei 2014.

9. Cinta! Bawa Aku Pada Nya_Cerpen_Genre Fiksi_Lolos_ perjalanancinta110@gmail.com _10 Mei 2014.

10. BPS_ Kecil Tubuhku Tak Sekecil Otakmu_Zahraton Nawra_Lolos_Keke Publishing_2015.

11. Puisi_Bunga Cahaya_Duka di Negri Pejuang!_Lolos_Pena Indies_2015.

12. Event Kece_Zahraton Nawra_Hanya Rindu_GPSP_Lolos_2015.

13. Dream Media Publisher_Zahraton Nawra_Naskah Lolos_Cerpen_Ssstttt, Aku Cinta Kamu!_2015.

14. Titik Balik Hidup_Kamo Publishing House_Cerpen_Naskah Lolos_belum naik cetak.

15. Pertemuan Kita_Mafaza Media Publisher_Nobita Vs Noraemon_Cerpen_2014_Lolos.

16. Undeclared Love_ Event Leutika_Cinta Dalam Diam_Puisi_28 November 2013.

17. Undeclared Love_ Event Leutika_Yang Terdalam_Puisi_28 November 2013.

18. Surat Puisi _Sepucuk Surat Semesta_poetryquiz@yahoo.com_28 mei 2013.

19. Antologi Puisi_Seuntai Aksara Untuk Ayahanda_Genre Fiksi_ gema.cipta@gmail.com_12 Desember 2013.

20. PCL_Sajak Untuk Calon Imam_Genre Fiksi_(azzahra.house834@gmail.com)_, masuk nominasi_Surat Puisi_28 November 2013.

21. Event Menulis Senandung cinta Ibunda_Aksara Cinta di perantauan- Puisi_maftuhah as-sa’diyah_Genre Fiksi_ Cerpen_22 desember 2013.

22. Gadis misterius_cerpen_ Kisah Inspiratif_Genre Fiksi_Inspiratif.co.id_Naskah gagal_15 november-2013.

23. Sajadah Biru _Cerpen_Genre_ Cerpen_proses_pi_muslimah@yahoo.com _ 9 Mei 2014.

24. Horor_Memori malam Jum'at_Genre Fiksi_16 juni 2013.

25. Juara satu lomba baca puisi tingkat kabupaten Aceh Selatan .

26. Masuk 10 besar lomba baca puisi se-kota Banda Aceh.

27. Ebook cerpen Jejak, ebook Rindu Halaqah, ebook Ai Ren (Q-Writing Consulting, 2016).

Puisi "Sepucuk Surat pada Kenangan"


"Sepucuk Surat pada Kenangan"

Maaf, untuk rasa yang tak pernah habis kuungkap
kasih sayang yang tak kunjung genap kudekap
Seharusnya tak kusesali ini,
aku menjemput rindu, tanpa kau minta
tanpa kau ingin kembali lagi

Kau tak pernah usang dalam lembaran
Kau tak pernah usai dalam cerita yang semestinya tamat
menyimpan beragam lakon dalam sajak pertemuan
hingga perpisahan kita
Dalam do’a aku memelukmu
Dalam do’a kau tak pernah lari
Meski pada akhirnya, hatimu bukan lagi untukku

Skenario Tuhan tengah menguji
mempersanding waktu yang merambat denganku
Entahlah, esok apa kabar?
atau di suatu hari yang tak sempat terbayangkan
Kau menjadi asing, dan aku tak peduli apa-apa
Kita akan saling lupa, atau Tuhan punya rencana lain
Hari ini, aku masih mencintaimu
Maafkan aku, sebab kau lah yang aku jaga

Bukittinggi, April 2017

Petuah Nenek dari Dunia Dongeng


"Petuah Nenek dari Dunia Dongeng"
Oleh: Muhyi Atsarissalaf Bin Syamsuir

Mungkin sebuah kebanggaan bagi seorang nenek ketika ia bisa mencuri perhatian cucunya yang masih kecil dengan diceritakan dongeng. Cucu yang nakal dan liar, lompat kesana kemari bagaikan anak kambing yang masih kecil atau sperti apa yang diibaratkan oleh orang suku kluwat yaitu bagaikan ulat nangka yang tidak bisa diam, terus bergerak seperti tidak ada letihnya. Sampai-sampai orang yang melihat pula yang merasa keletihan, untungnya saja nenekku tidak sampai pingsan karena keletihan melihat segala tinggkah dan lakuku dahulu yang dalam pandangan orangtua sekarang sebagai anak yang aktif.

Pada tempoe doeloe mungkin belum begitu familiar tentang kata-kata “anak yang aktif atau cucu yang aktif” di kalangan para nenek-nenek. Yang ada anak yang dinilai aktif pada masa ini bisa jadi pada masa tempoe doeloe dianggap sebagai anak nakal, mungkin nakal dan aktif itu adalah persamaan yang berbeda.

“anak aktif dan anak nakal” sebuah bahasa yang cocok untuk diterjemahkan kembali. Baiklah aku akan mencoba untuk menerjemahkannya. Anak aktif adalah anak yang nakal tapi tidak dalam kategori nakal dan anak yang nakal adalah anak yang aktif tapi termasuk dalam kategori nakal. Terjemahan demikian tidak akan suadara dapati dimanapun kecuali dalam cerita ini, karena aku memang tidak khusus untuk membuat definisi tentang anak aktif dan anak nakal dalam cerita ini, jadi jika tidak ada referensi, barangkali saudara dapat menambahkannya sendiri.

Aku teringat dengan masa kecil ku dahulu yaitu pada dekade akhir tahun 90-an. Pada masa itu belum dikenal banyak teknologi, bahkan dikampungku handphone genggam saja masih sangat langka dan bisa dikatakan tidak ada. Hanya ada ekpektasi atau tiruannya saja yaitu sesuatu yang dikatakan hendphone tapi hanya bentuknya saja. tapi pada dasarnya itu bukanlah handpohe melainkan hanya sebuah mainan yang jika diketekan tombolnya maka akan mengeluarkan suara seperti lagu.

Masih dalam lingkaran hendphone mainan itu, aku teringat ketika kita menekan tombol salah satu tombol yang ada pada handphone mainan itu maka akan mengeluarkan lagu yang dalam pendengaran kami ketika itu liriknya begini “Aaa ii ya ya, bang joni makan tupai” lirik itu diualng berkali-kali.

Mendengarkan suara atau lagu yang aneh dari handphone mainan itu saja rasanya sudah sangat hebat dan banngganya. Serasa disitulah letak kebahagian itu. Karena keberadaan handphone mainan semcam itu bisa dikatakan dalam radius lima kilometer baru ada satu. Jika ukuran kampung ku tidak lebih dari dua puluh kilometer berarti jumlah handphone mainan itu tidak lebih dari lima unit saja. hal itu tidak sebanding dengan angka kelahiran anak pada masa itu, yang dalam satu pasangan suami isteri bisa dianugerahi dua sampai empat anak dengar umur bertingkat selang setahun.

Aku tidak tahu persis lirik lagu itu bagaimana, tapi karena sudah biasa diucapkan demikian, entah kenapa suatu keharusan bagi anak-anak termasuk aku pada masa itu untuk menirukannya tanpa ada perubahan atau pemabaharuan lirik. Sampai sekarang aku juga belum tahu bagaimana lirik sebenarnya lagu dalam handphone mainan itu. Dalam rasa penasaran yang sangat mendalam aku mengubur dalam-dalam rasa itu, karena masih sangat sulit untuk mencari data yang falid terkait lirik lagu dalam handphone mainan dekade akhir tahun 90-an itu.

Hampir saja aku lupa, baiklah kita kembali fokus pada judul cerita ini yaitu tentang pembaca dongen atau penulis dongeng. Judul ini sengaja saya pilih untuk mengingat jasa pahlawanku pada masa dahulu seperti yang ada dalam lagu pada masa ini. “Nenekku pahlwanku”, aku teringat kebiasan nenekku ketika aku kecil dahulu yaitu selalu mendongeng sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.

Sejak kecil aku sudah sering ditinggalkan oleh bapak dan ibuku, ibuku adalah seorang guru honorer ketika itu yang harus berangkat pagi-pagi sekali begitu juga dengan bapakku hanya saja beapakku ketika itu bukan lagi guru honorer melainkan sudah dianggkat menjadi pegawai kelas rendah tapi sudah bisa menjadi kepala sekolah. Namun setidaknya lebih tinggi dari pegawai yang lebih rendah dan lebih rendah dari pegawai yang lebih tinggi.

Sejak ibuku berangkat kesekolah, aku selalu ditinggal bersama nenek dan kakekku dirumah. Seketika ditinggal pergi seketika itu pula nenekku mulai mencuri perhatianku dengan cara mendongeng yang dalam bahasa kluwatnya adalah “sukutan” untuk mengalihkan perhatianku terhadap ibuku agar aku tidak ikut kesekolah. Aku teringat ketika itu nenek ku sering bercerita tentang tokoh dongen yang sudah sedikit lupa aku siapa-siapa saja, yang setahu ku adalah Pak Pandir dan Pak Belimbing. Tapi kalau untuk cerita kancil, sepertinya cerita itu memang sudah termasuk kurikulum bagi para nenek di masa itu bahkan mungkin sampai sekarang. Tapi aku belum berani untuk menebak apakah cerita kancil dan kawan-kawan akan masih menjadi kurikulum untuk nenek di masa depan.

Mungkin untuk menceritakan sebagaimana yang nenekku dahulu ceritakan aku memang kurang cakap melainkan hanya sedikit saja. tapi pesan dari cerita itu ternya baru dapat ku sadari ketika umurku sudah menginjak 20-an. Aku teringat dengan setiap cerita yang bertema “merantau” pasti pada akhir cerita siperantau diminta pulang kekampung halamannya untuk melihat ibunya. Cerita itu mirip dengan cerita malinkundang tapi dalam tokoh yang berbeda, namun pada intinya setiap perantau yang tidak mau pulang kampung pasti kena bala, entah itu dimiskinkan, tertimpa batu dan yang paling sering adalah terkena kutukan.

Mengingat pesan dongeng nenekku dahulu kadang aku tertegun dalam lamuan, aku melihat diriku yang seorang perantau juga, aku terus membayang-bayangkan bagamana akhirku nanti. Apakah aku akan kembali kekampung atau menetap dirantau orang. Apalagi melihat jaman sekarang pada umumnya perantau sudah enggan kembali kedaerahnya dengan alasan yang paling masuk akal sampai alasan yang tak masuk akan sekalipun. Tapi aku masih teringat dengan pesan-pesan dongeng dari pahlawanku dahulu. Bagaimanapun aku harus tetap kembali, setidaknya hari ini dalam cerita ini aku sudah menyebutkan aku akan kembali. Dengan seizin-Nya aku akan kembali.

Walaupun dikampungku aku belum bisa melakukan seperti yang orang lakukan terhadap kampungnya tapi setidaknya aku sudah berani kembali, walau hanya sebagai pembaca atau penulis dongeng lawas saja. Tanah kelahiran harus diceritakan kepada setiap orang, walaupun orang kadang merasa malu mencertikan tempat masa kanak-kanaknya yang dipelosok tapi aku mencoba menjadikan itu sebagai seseuatu yang sangat dirindukan. Karena aku pergi ialah sebuah kesadaran untuk kembali.

Kitapun sudah dangat dewasa untuk menafsirkan “kembali” itu bagaimana mestinya. Jika pergi satu genggam beras harapan kembali membawa satu bambu, seperti kata bapakku “jangan halaman orang saja yang kau bersihkan sampai halaman sendiri menjadi semak belukar”. Jikapun raga ditakdirkan untuk mati dan terkubur ditanah rantau tapi jiwa kita berada ditanah suku, untuk membangunkan saudara kita yang masih terlalu lelap tidur dalam tumpukan jerami itu.

*Mungkin engkau masih terkoyak-koyak judul

Lawe Sawah, 24 Juli 2016

Wanita yang Menjadi Perempuan


"Wanita yang Menjadi Perempuan"
Oleh: Muhyi Atsarissalaf Bin Syamsuir

Dahulu pada zaman yang masih terekam dalam fikiran, masalah spesifik waktu tidak akan merevisi semua ini. Karena ini bukan tetang hapalan-hapalan tanggal, bulan dan tahun. Tidak perlu juga menyebutkan nama kerena semua tokoh itu tidak punya nama, bukan karena mereka tidak punya nama melainkan karena ada kecemasan beberapa simbol akan bisa dipecahkan maka selesailah sebuah teka-teki.

Hanya menggunakan kata ganti orang ketiga tunggal, cerita ini akan dimulai. Tanpa ada latar tempat yang jelas, cerita ini tentang dia seorang wanita yang menjadi perempuan. Bukanlah sebuah permasalahan jika cerita ini dimulai dari akhir atau dari tengah atau bahkan tidak pernah dimulai sama sekali.

Tentang wanita yang menjadi perempuan, sebuah judul yang sedikit dipaksakan. Namun tidak sesadis sebuah pemaksaan seorang perempuan yang dipaksa oleh lelaki agar menjadi wanita. Sebuah pertanyaan yang sangat filosofis dari seorang filsuf yang pernah mengambil konsentrasi perbandingan. “Apakah wanita dan perempuan itu berbeda?”. Tentu kita ingin menjawab dengan apa yang pernah kita pelajari. Bagi kita yang pernah belajar bahasa Indonesia pada kulit sampulnya hal itu bisa kita sebut sebagai sebuah sinonim atau persamaan kata saja yang tidak akan pernah merubah pada tatanan makna.

Namun bagi mereka pencari maksud tidak akan pernah puas dengan hal demikian, “setiap sesuatu yang sama pasti memiliki perbedaan, pun setiap sesuatu yang berbeda memiliki persamaan”. Itulah sebagai landasan mereka untuk mengatakan perbedaan dalam ranah yang pada umumnya sama atau sebaliknya mereka menjadikan sebuah persamaan untuk memukul lebih dari satu perbedaan.

Pada tatanan makna kata saja kadang mereka kerap bertengkar dengan perdebatan yang sangat sulit dilihat pangkal dan ujungnya. Karena biasanya mereka berdebat tanpa rencana untuk berdebat, tanpa ada tema yang diperdebatkan. Melainkan hanya mempermasalahkan apa yang baru saja terbesit dalam fikiran mereka lalu mereka coba untuk mengumumkan fikiran itu kepada khalayak yang melingkar ditempat mereka biasa melingkar.

Perdebatanpun dimulai, salah satu atau beberapa dari mereka biasanya kerap berupaya menjadi wanita dengan wajah, hati dan kepala laki-laki, mereka membahas banyak hal, yang konsen dan hanya melingkar pada argument-argument gender. Sebuah istilah yang mereka masih perdebatkan sampai sekarang. Untuk mengatakan lucu itu raut dan nada mereka tidak ada tekanan intonasi untuk membuat sebuah candaan, namun untuk mengatkan hal itu serius tidak juga, masih dalam ranah sulit untuk diterima kemungkinan.

Lucunya mereka mengkaji wanita dengan cara pandang laki-laki dan seolah ingin memaksakan wanita agar menjadi laki-laki, bukan karena tidak ada wanita didalam lingkaran itu. tapi dalih-dalih memberikan ruang gerak wanita malahan jadinya membuat wanita itu majadi lebih banyak diam. Barangkali karena merasa otoritas mereka telah dikuasai (Jika ditijau dari pemikiran laki-laki) atau memang karena masih mempertahankan “kewanitaanya” hingga membuat ia harus banyak diam, dan medengarkan kecuali hanya sesekali menenangkan keadaan yang mulai memanas.

Tetang wanita yang menjadi perempuan, masih sangat sulit untuk ditemukan pembahasan yang berimbang. Wanita dilihat dari karena ia wanita dan wanita dilihat dari karena ia perempuan. Jika ruang gerak ini masih dibatasi untuk wanita maka perempuan itu tidak akan pernah ada, jika ruang gerak ini bebas sehingga lebihnya banyak laki-laki yang membahas tentang wanita bisa jadi wanita yang menjadi perempuan itu tidak akan pernah terwujud. Kita tentu sangat menginginkan perempuan yang membahas tentang wanita yang menjadi perempuan.

Pernahkah kita mendenagar suara gadis desa dalam pembahasan seperti ini?. Pernahkah kita mendengar suara ibu-ibu hamil yang juga harus pergi ke ladang?. Pernahkah kita mendengar suara dari ibu yang mengendong bayinya sambil menarik tali-tali orang-orangan sawah?. Lalu siapakah kiranya yang kita inginkah untuk sekolah? Lalu siapakah yang kiranya kita inginkan untuk setara?.

Yogyakarta, 16 November 2016

Suara-suara Dari Persimpangan Jalan Kiri


"Suara-suara Dari Persimpangan Jalan Kiri"
Oleh: Muhyi Atsarissalaf Bin Syamsuir

Benarkah suara-suara itu ditakuti?, seberapa besar gema suara itu?, ataukah kita yang besar ini merasa selalu kecil dan akan tertindas?. Kejadian yang berdarah-darah itu menjadi amarah dan kebencian atau menjadikan semangat yang besar ini menjadi ciut dalam ketakutan.? Mengutuk pelaku kebiadaban itu saya rasa sudah cukup dan sudah selesai, sekarang sudah tiba saatnya kita lebih giat membangun pemikiran dengan corak pemikiran yang kita punya.

Pernah seorang tua yang banyak jasanya di negeri ini berujar “orang kalah akan menjadi kalap”, dari dahulu perperangan ini sudah dimulai yang kerap berakhir dengan perang yang akan menimbulkan banyak kecaman yang minim pengadilan. Namun yang palung dasar yang perlu kita sadari adalah dampak akan bahayanya perang pemikiran dalam jangka panjang, di mana pemikiran impor dari kedua kaum yang saling bertentangan itu telah berhasil melumpuhkan cara fikir budaya bangsa kita. ketika itupulalah kita kehilangan daya untuk melakukan perlawanan karena kita harus melawan anak bangsa yang kepalanya sudah tidak lagi pada bangsa ini.

Sepatutnya kita sudah bisa membaca dengan lebih dalam dan tajam, kita bisa lihat dan rasakan dampak lain dari kebebasan yang pecah ketika pada awal reformasi, tidak hanya menjadi angin segar tapi juga menjadi badai kesebarba bebas hingga menjadi aneh rasanya ketika tidak bebas--dalam kaca mata monopoli kaum yang sanggup bebas saja. Berbagai pemikiran sudah mulai masuk dan bahkan merasuk. Kita yang mengaku berada di garda depan pejuangan nyatanya dengan lahap mengosumsi pemikiran yang sudah mulai usang itu.
Jika orang-orang yang wajahnya di garda depan dalam hal menentang kebijakan itu kita turuti saja tampa sedikitpun kita bertanya tentang apa yang dipertentangkannnya, lantas apa bedanya kita dengan orang-orang yang belum mendapat kesempatan memikirkan orang-orang yang berfikir?

Di era yang serba bebas ini mestinya harus kita pahami dalam bentuk kebebesan mengembangkan budaya fikir bangsa kita. budaya berfikir degan corak orang-orang tengah. Karena jika kita amati sekarang bukanlah barang langka jika orang yang melemparkan kutukan kepada “kaum bungkus” ternyata juga menggunakan bungkus saja. seperti pemikiran kiri yang tampaknya menjadi ajang trendi, seolah ingin mengatkan “akulah orang kiri” padahal hanya membaca satu cover dari beberapa buku kiri.

Sebagai orang yang dikaruniai duduk di bangku kebebasan, kenapa kita hanya mengonsumsi, kenapa kita tidak coba untuk kritisi. Kita bukan kekurangan orang-orang yang berfikir dengan corak bangsa kita sendiri, namun sayangnya pemikiran mereka kalah tenar dibading pemikiran impor, seolah-olah pemikiran bangsa kita ini jauh tertingal, dan pemikir itu kolot karena tidak pernah membaca pemikiran impor.

Padahal pada kenyataannya kita yang menamai orang-orang yang paling lantang dengan produk-produk impor malah lebih lahap dalam mengonsumsi pemikiran impor, sedangkan mereka yang terdahulu yang kita katakan kolot itu jauh lebih krtitis dari pada mucung-muncung kita ini. Mereka membaca pemikiran impor dengan kajian penilaian pemikiran khas corak pemikiran bangsa kita sendiri, sehingga pemikiran impor itu tidak hanya bahan konsumsi tapi menjadi dasar membangkitkan diri. Kita bisa melihat pada zama itu ada tokoh kiri yang memutuskan membuat kirinya sendiri. Dan orang yang dipenjarakan karena “kanannya” paling kanan bisa membuat kanannya sendiri.

Tapi pada masa ini agaknya terbalik, kita menilai sebuah pertanyaan bukan dengan seberapa bobot jawaban atas pertanyaan itu, melainkan dengan seberapa bobot pertanyaan yang meminta jawaban itu. Sekarang kita bisa merasakan, negara kita sedang dirundung banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang berbobot tapi masih jarang kita mampu menjawabnya.

Pada dasarnya pertanyaan itu memang sudah ada jawabannya, kita sedang dalam ujian kelas dunia, dimana negara-negara tempat kita berguru sedang membuat pertanyaan dan akan dinilai tepat tidaknya jawaban itu sesuai dengan jawaban yang telah mereka sediakan. Padahal dalam sekian lama pembejaran kita diminta membuat sebuah pertanyaan, tapi kita masih jarang sekali berfikir membuat pertanyaan untuk guru kita yang jawabannya sudah ada pada kita.

Kemabali kita kepada suara-suara dari persimpangan jalan kiri yang juga telah membuat pertanyaan sekaligus kunci jawabannya. Apakah kita akan mengulangi hal yang sama, ketika jawaban kita salah dalam ukuran kunci jawaban mereka harus menerima hukuman mati dan orang-orang tua kita merespon dengan hal yang sama yaitu juga mematikan mereka yang menghukum. Sudah sepatutnya kita mulai berfikir bagaimana kita membuat membuat jawaban yang membuat dagangan pemikiran mereka tidak laku di tanah kita. karena kita sudah memiliki pemikiran yang diatas pemikiran mereka.

Corak pemikiran yang paling khas dari kita adalah “bukan menjawab boleh atau tidak boleh, hitam dan putih, tapi dengan jawaban seharusnya begini agar tidak begini sehinga jawaban itu sudah ada sejak pertanyaan itu belum ada”. Tapi pada kenyataannya sebelum jiwa kita didik untuk seharusnya begini dan begini namun kita sudah disuguhi dengan bagaiamana jika begini dan begini padahal yang begini-begini itu hanya satu dari seribu.

Seperti tuntutan wanita yang menjadi perempuan yang sempat menjadi bahan celotehan saya beberapa waktu yang lalu, sebuah pemahan yang masih sulit saya terima. Bagi saya yang sangat kolot ini, hal itu hanya memenuhi keinginan dari beberapa orang saja yang tidak sanggup, yang hanya akan menimbulkan bekas-bekas luka yang baru yang lebih menganga. Karenanya kita mesti lebih curiga (bukan dalam arti menolak) dengan pemikiran impor.

Masalah ini sebenarnya sudah selesai dibahas dan sudah dipraktikkan di tanah kita ini, hanya saja karena itu dirasa tidak memiliki merk maka hal itupun tidak diminati. Padahal kalau kita kaji lebih mendalam bukanlah sesuatu yang tidak mungkin kita menjual hal ini kepada toko-toko pemikiran dunia. 

*Tentang apa sajakah pemikiran-pemikiran itu belumlah menjadi tugas saya untuk mengatakaannya karena saya bukan pemikir. Namun harapan itu tetap ada. kalaulah dikaruniai pun saya sedang mencoba menyiapkan bekal untuk bergabung dalam barisan orang-orang yang langka itu.

*Tulisan ini hanya celotehan orang yang sedang belajar mengetik sepuluh jari. Cukup dijawab dengan diperbaiki saja.

Yogyakarta, 9 Desember 2016

Sudah Kukatakan pada Pegawai Pos itu


"Sudah Kukatakan pada Pegawai Pos itu"
Oleh: Muhyi Atsarissalaf Bin Syamsuir

Kenapa kau masih saja diam. Padahal ia sudah menunggu untuk segera kau pahami. Apa memang kau benar-benar tidak mendengar pertanyaanmu, yang berputar seperti angin ribut itu. Kenapa?: kau bertanya padaku, dalam mulutmu masih ada tanganmu yang baru saja mengantarkan nasi yang belum sempat kau kunyah itu. Kau nampak lucu, pipi kananmu gembung dan tenggorokanmu seperti tercekik. 

Begini, kau sudah menanyakan apa padanya?. Kau mengada-ngada … aku tidak pernah mendengar jawaban. Jawabmu, bibirmu masih menyambung dengan bibir gelas berisi air putih itu. Lalu kau kumurkan dan kau telan sisa biji nasi yang menyelip di ruang kosong antara bibir dan gusi itu. Memang apa katanya?: tanyamu sehabis bersendawa. Tanganmu memain-mainkan korek, sebatang rokok terdesak jatuh dari ujung bibirmu.

Ketika aku mengambil nafas, mepersiapkan kekuatan untuk menjelaskan kejadian yang tidak singkat itu, tepat ketika api itu membakar ujung rokokmu. Lalu kau menghisapnya dalam. Matamu terpejam. Lalu kau hembuskan; menabarkan plapon rumah yang berkapur putih itu. Kepalamu menggeleng pelan. Berhenti dan melihat ke arahku sambil menaikkan sebalah kakimu ke atas pantat kursi. Apa?. Seolah begitu yang aku dengar dari urutan gerakanmu yang sedikit kurang sopan, jika merujuk konsep kelas. Pegawai pos lebih terhormat dari pengangguran sepertimu.

Apa kau tidak pernah meperhatikan. Sejak dua bulan yang lalu ia lebih banyak diam, bakan tidak pernah menyapamu. Dan ketika engkau menyapanya ia hanya diam, dingin. Lalu?. Tanyamu dengan bahasa yang kau kirimkan dari alis matamu yang bergerak keatas dalam tempo lebih lambat dari sebuah kedipan reflek. 

Sepertinya ia sedang mengisyaratkan sesuatu agar segera kau pahami. Apa peduliku lagi. Jawabmu atas pembukaan cerita yang aku tuturkan itu. seolah tidak mengagetkan sedikitpun, seolah tidak ada hubungannya sebulu hidungpun dengan masa lalumu yang mengendus-hendus, melawan pengap menunggu kabar yang seperti cahaya darinya.

Seolah bukan kau yang selalu menafsirkan setiap teks tubuh dan gerak-geriknya itu. Seolah bukan kau yang mengatakan: Sampai akhir sanggpupku, ketika kau gila olehnya kala itu. Sekarang ia menjawab pertanyaanmu yang berisik, membelah malam. Pertanyaanmu yang membakar sikap dinginnya yang kau benci tapi kau paksa sukai itu. Haruskah aku tertarik dengan jawaban yang sudah tidak inginku mendengarnya?. Kau mejawab dengan diammu. Kau meludah, seolah ada yang berat melintang di tenggorokanmu.

Kawan, kau harus tetap mendengarkan jawabannya itu. Walaupun kau sudah tidak membutuhkannya, setidaknya kau perlu tau bahwa ia pernah menjawab. Cukup kalau begitu. Kau katakan. Kau tidak ingin mendengar seperti apa jawabannya. Kau mematikan rokokmu yang belum habis separuh itu, menekan bara di atas asbak besi berkarat. Kau tidak peduli, kelanjutan jawaban itu. Kau mengangkat tubuhmu yang sedang kekurangan bobot, karena terlalu banyak malam yang tidak kau habiskan itu.

Kau meraih kaos oblongmu yang penuh cap gigi tikus di bagian bahu itu. Seperti biasa, kau memasukkan tiga buku; dua buku puisi dan satu buku catatan tahunan. Langsung berjalan tanpa menegurku dengan kalimat perpisahan. Katakan pada pegawai pos, jangan pernah mengantarkan manusia untuk menceritakan masa lalu padaku!. Teriakmu padaku yang membuntut lima meter di belakangmu. 

Dari kejauhan aku meperhatikanmu, masih seperti kebiasanmu yang dulu. Engkau berjalan kaki menuju halte Trans Jogja. Mukamu tidak akan pernah berubah walau hanya sekadar untuk maksakan senyum sebagai formalitas sebuah sapaan pada pegawai halte itu. Ketika kau tidak ingin tersenyum, mukamu yang teracak-acak masa lalu itu kau paksakan pegawai halte itu juga harus menelannya. Terserah sebagai apa.

Kau tidak lagi mendengarkan bus nomor berapa yang harus kau naiki, dan harus berhenti di halte daerah mana. Engkau tidak peduli dengan penjelasan perempuan yang berkerja untuk masyarakat, yang bukan untuk lampiasan wajah kusammu yang masam itu. ... sejarah … bisa meruntukan jiwa sosialmu, kawan … begitu katamu padaku, ketika kita duduk di warung kopi langganan bebrapa minggu yang lalu. Dan sekarang aku sudah meliaht perkataanmu itu. memang benar sejarah telah meretas dan pahitnya; itu terjadi pada bibirmu. Terjahit mati dalam cemarut cemberut.

***

Satu tahun, bukan waktu yang singkat untuk seorang teman untuk tidak saling menghubungi. Kau benar-benar hilang dari peredaran. Judul buku dan nada bicaramu yang khas tidak lagi memekik di warung kopi langganan; ketika kau meneriakkan: Bang, kopi hitam stel-kan satu lagi, pada kasir yang sudah akrab denganmu itu. Adalah wajar bila seorang teman rindu pada temannya sendiri, adalah juga wajar bila aku mencari-cari kabarmu.

Beberapa hari yang lalu, setelah satu tahun tidak kudengar kabarmu. Aku membaca koran minggu yang biasanya memuat puisi. Aku belajar dari kebiasaanmu beberapa tahun yang lalu ketika kita bersama. Biasanya malam minggu kau tidak tidur di rumah, kau menghabiskan satu buku tipis di warung kopi itu. Pagi-pagi sekali kau baru pulang, di motormu biasanya terjepit koran yang kau katakan kau beli dari ibu-ibu yang berjualan di simpang lampu merah Timoho.

Sebelum membangunkanku, biasanya kau memasak air lalu membuat kopi. Koran itu tidak pernah kau baca utuh, hanya pada bagian puisi dan cerpennya saja. Kau tidak pernah tertarik membaca isu politik, atau jika pada hari-hari biasa—yang bukan hari minggu—kau malah tidak membaca koran yang sudah kau beli itu.

Bangun katamu. Tak segan kau menampar punggungku dengan keras. Hahaha … Ngopi pagi, kawan ... . Lanjutmu. Aku yang masih setengah sadar sudah harus mendengar suara bibirmu yang menyeruput kopi pagi minggu itu. Ahhhhh desahmu dari meja makan. Suara lembaran koran mulai mengidik-gidik kupingku. Setengah sadar aku menuju kamar mandi, mencuci muka dan mengejar kopi. Seperti biasa.

Mulailah. Ketika pagi minggu datang seolah kau adalah seorang penyair yang menanti penonton memenuhi bangku kosong. Dan bangku itu hanya dua; satu telah kau duduki dan tersisa satu lagi. dan ketika aku bangun dan menyeruput kopi, berarti kau siap membacakan puisi koran Minggu pagi itu.

Setidaknya sudah lima puluh hari minggu aku tidak pernah mendenar puisi dan seruputan kopi lagi. Baru sekarang aku mencoba mengenang kebiasaamu itu, aku membeli koran di tempat yang pernah kau ceritakan padaku itu. Ya, aku mendapati ibu-ibu. Seperti ceritamu; ibu itu mesti senyum lebar dan berkata: monggo moggo. Tapi yang ini sedikit berbeda dengan yang pernah ada dalam ceritamu, yang mungkin kau lupa menceritakannya. 

Kulihat wajah ibu itu seperti sedang menunggu seseorang datang, lalu menyalaminya dengan mecium tangannya. Mungkin sama seperti aku yang menunggu kau membacakan puisi di pagi ini. … kau mesti tau baca puisi, nanti kalau aku mati siapa yang baca lagi … Biasanya begitu kau mengejekku. Seolah aku memang suka sekali dengan caramu membaca puisi itu. Sehingga aku harus menimpal telapak tangganku dan berkata: Izin berguru Sifhu.

Sekarang aku harus membacanya sendiri. Entah apa yang dikatakan puisi ini. Aku kurang mengerti dan mungkin memang tidak mengerti. Tapi seolah penulis puisi ini adalah irang yang pernah dekat denganku. Apa kau yang menulisnya?.

**

Pegawai Pos [tidak sempat] Mengantarkan Masalalu


Katakan: dari bahasa diam
 untuk pertanyaanmu yang ribut itu;
 ... Lautan huruf dan aku di antara itu
 kemari dan kita akan tenggelam.

Dan kau ke sana, awal sesak yang kau rasa.
Jangan berhenti, semakin dalam.
Tuhan punya cara;
kau akan bernafas lapang dalam lautan huruf
Kekira itu yang ingin dikatakannya padamu ...


(Nun) dan Engkau Menyebutnya Lagi

Tulang pena tidak pernah benar-benar rapuh
untuk mencatat; cinta dan sejarah.

(Nun) hentikan anggapannya
yang mengganggap catatan tahunan itu lebih jujur.
Catatan langit lebih luas.
Tulang pena langit tidak akan kehabisan tinta,
buku-bukunya tidak akan kehabisan lembar.

(Nun) kala engkau meminta denyut nadimu dicatatkan,
dan pantulan cahaya dilihat matamu digambarkan.
Usah risau, pena langit lebih cepat
dari (sebelum) permintaamu ada.

(Mim) tenggelam dalam lautan kata;
sekadar kau baca ia sudah tumbuh di sela-sela biji pasir merah api.
Dan engkau tenggelam dalam lautan makna;
menjadi pohon yang menjarakkanmu dengan matahari.

(Mim) tulang rusuk yang kau gusuk-gusuk.
Darimu akan kembali padamu;
itulah alasan petamamu mencari-cari
dan mencocok-cocokkan tulang yang sepi bertualang itu.
Jauh sebelum itu darimu
tulang itu mendapat senyum dari-Nya
 pada hakekat sebelum tulang kembali
engkau mesti pergi kembali pada-Nya. 

Yi Lawe- 2017
**
Kawan. Pagi ini untuk pertama kalinya aku membaca puisi. Dan puisi itu ditulis seorang kawanku yang menyamar dalam nama pena: Yi Lawe. Seperti teriakanmu sebelum pergi menghilang dari peredaran itu: Katakan pada pegawai pos, jangan pernah mengantarkan manusia untuk menceritakan masa lalu padaku!. Sekarang aku baru bisa menjawabnya. Iya, akan aku katakan. Tapi, ibu-ibu penjual koran itu mengantarkan masa lalumu yang adalah masalalu kita.

Ah, jika mungkin tulisanku yang singkat ini di muat pada surat kabar yang sama; pada pagi minggu pagi. Apa kabar masalalu—bersama perempuan misterius itu—yang tidak ingin kau dengar jawabannya dari seorang pegawi pos. Mungkin terlalu singkat, mungkin baiknya jika aku memasangnya di kolom iklan, yang terhimpit bersama deretan nomor hp sedot wc dan pemanjang daging khusus itu. Dan pada kolom ini, adalah kolom yang tidak akan pernah kau baca. Katamu.

Yogyakarta, 4 Agustus 2017