Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Hots dalam Perspektif Minangkabau


Mengapa siswa kelas 6 (Enam)  Sekolah Dasar di Batam pindah sekolah ke Singapura hanya bisa diterima duduk di bangku kelas 4 (empat) Sekolah Dasar di Singapura? ada apa dengan kualitas pendidikan kita hari ini?

Potret pendidikan diatas menjadi bahan diskusi penulis dan  peserta lainnya guru dan kepala sekolah  se Kabupaten Kepulauan Mentawai yang di pandu (Narasumber) widyaiswara LPMP Sumbar pada kegiatan Diklat Penguatan Implementasi Kurikulum 2013 tanggal 20 sampai 24 Februari 2019. di Hotel Jakarta Padang, Sumatera Barat.

Maju atau mundurnya kualitas pendidikan pada suatu negara di pengaruhi oleh banyak factor. Selain factor fasilitas, pembiayan, kualitas guru. System pembelajaran menjadi factor kunci memengaruhi kualitas pendidikan.

Meminjam pepatah minangkabau, (“ambiak contoh ka yang sudah, ambiak tuah ka nan manang “)  mengambil contoh kepada yang sudah- sudah, belajar kepada yang menang. Dimana letaknya akar masalah dari tertinggalnya kualitas pendidikan kita dibandingkan Singapura ? Apa keunggulan Sistem Pendidikan Singapura? Belajar dan mencari tahu apa keunggulan orang dan mengintropeksi dimana kekurangan kita adalah upaya sadar mengejar ketertinggalan.

Satu keunggulan yang menonjol, diantara pelbagai keunggulan lainnya  dari system pendidikan di Singapura adalah pembelajaran dengan membiasakan  siswanya belajar dengan berpikir Tingkat Tinggi (Hots) membudayakan pembelajaran dengan berpikir tingkat tinggi yang diakhir pembelajaran melakukan ujian dengan Soal Hots berpikir tingkat tingi . keunggulan ini mampu menunjukan kulaitas pendidikan  Singapura menjadi terbaik di Asean saat ini.

Memahami kompetensi inti kurikulum 2013 dengan mudah ala minangkabau dapat diumpamakan dengan (“seorang anak yang rajin ka surau, perangai elok, utak santiang, pandai bakarajo”)   inilah gambaran generasi, produk dari pendidikan yang diharapkan. Titik tekan  revisi kurikulum 2013 yang terbaru adalah pembelajaran 4 C  ( comunikasi,  colaborasi, creativity,  chritikal thingking) artinya siswa pandai berkomunikasi dengan baik, mampu kerja kelompok atau bekerjasama, sama-sama bekerja dengan tim, melakukan tugas tanpa disuruh,tahu dengan tugas pokok dan fungsi, mencari dan menciptakan hal baru, tidak itu ke itu saja dan berpikir tingkat tinggi.

Apa itu Hots ? Higher Order Thinking Skill adalah kemampuan berpikir yang tidak sekedar mengingat (recall), menyatakan kembali (restate), atau merujuk tanpa melakukan pengolahan (recite). Dalam Taksonomi Bloom tingkatan berpikir yang di mulai dari (C1) mengingat, (C2) memahami, (C3) menerapkan, (C4) menganalisis, (C5) mengevaluasi dan (C6) mencipta. Tingkat berpikir dikelompokkam menjadi 3 level.  Pada level satu  (C1 mengingat, C2 memahami), level dua ( C3 menerapkan), level tiga (C4 menganalisis C5 Mengevaluasi, C6 mencipta). Berpikir tingkat tinggi dimulai dari level tiga, berpikir kritis, berpikir kreatif, pembuatan keputusan. Artinya dalam berpikir tingkat tinggi dengan cara belajar mengingat, memahami, menerapkan sudah mulai ditinggalkan dengan membiasakan berpikir tingkat tinggi dengan mengingat, memahami, menerapkan secara otomatis sudah dilalui. Ibarat nya ketika kita sudah terbiasa bermain di lantai tiga, lantai satu dan lantai dua otomatis sudah dilalui. Ketika negara lain sudah mahir bermain di lantai tiga, sedangkan kita masih asyik dilantai satu dan dua. Maka kita akan semakin jalan ditempat bahkan berjalan mundur.

Karakteristik Hots pertama, mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi, meminimalkan aspek ingatan atau pengetahuan, ciri-ciri berpikir tingkat tinggi, kemampuan menemukan, menganalisis, menciptakan metode baru, merefleksi, memprediksi, mengambil keputusan yang tepat. Kedua, berbasis permasalahan kontekstual (berbasis kasus).  Ketiga,menarik (Trend topic), empat, tidak rutin.

Gagasan yang di Tawarkan
Generasi emas Minangkabau gelombang pertama adalah mereka para pemikir dan pejuang. Disamping memiliki integritas yang tinggi yang didapat ketika di tempa di surau kampung halaman alam minangkabau. Setelah cukup umur dilanjutkan dengan merantau untuk memperkaya pengalaman, dan ilmu pengetahuan, agar tidak seperti katak dalam tempurung.  Eksistensi mereka yang selalu diakui sampai kini adalah pemikirannya yang besar  melampaui zamannya. Pemikiran besar dari generasi minang itu kini dapat ditelusuri dalam berbagai karya.  karya hebat Tan malaka dalam bukunya berjudul Madilog, merupakan upaya membangun jalan pikiran bangsa ini.  dialektika madilog menjelaskan panjang lebar  bagaimana cara berpikir tingkat tinggi (Hots). Hatta yang terkenal sebagai pemikir dan pejuang mengusung konsep ekonomi kerakyatan. Dalam membangun ekonomi rakyat, dari kita untuk kita melaui konsep koperasi sampai kini koperasi diakui kebermanfaatannya.

Dua contoh generasi emas gelombang pertama minang ini menunjukan kepada kita bahwa budaya berpikir tingkat tinggi sudah dimulai sejak dulu. Kita yang hari ini sebagai anak kemanakan dari generasi emas gelombang pertama minangkabau, tentunya harus mewarisi cara berpikir besar yang mengagumkan ini.

Tugas intelekual adalah mengurai konsep rumit menjadi mudah dan menarik untuk dipahami oleh rakyat banyak. jangan sampai dibalik !  Memahami cara berpikir tingkat tinggi dengan cara sederhana dan mudah adalah jalan  keluar dari kelirunya memahami cara berfikir tingkat tinggi (Hots).

Anggapan semula mengenai Hots yang sulit, sukar. Akibat kekeliruan dalam memahami Hots, sehingga membiasakan belajar dengan berpikir tingkat tinggi menjadi hantu yang menakutkan.  Memahami berpikir tingkat tinggi dengan beranggapan berpikir sulit, rumit menjadikan hots terasa jauh dari keseharian rakyat, semakin tidak menarik.

Hots berpikir tingkat tinggi ala minang kabau adalah tawaran solusi dari anggapan rumit, sulit, sukar nya membudayakan berpikir tingkat tinggi. Filosofi minangkabau (“Alam takambang mnjadi guru. Cewang di langik tando ka paneh, gabak di lawik tando ka hujan. Alun takilek alah takalam, Takilek ikan dalam lawik alah jaleh jantan jo batino nyo”) . pepatah petitih minangkabau ini adalah bentuk dari berpikir tingkat tinggi yang diekspresikan melaui kiasan-kiasan.

Harus dimaknai, betapa tajamnya analisa yang yang diuraikan dari pepatah petitih diatas. mengaitkan konsep  konsep ilmiah seperti konsep daur hidrologi, konsep ekologi. perkiraan cuaca, Ekosistem laut, sehingga mampu memperkirakan (prediksi)  cuaca berdasarkan pengamatan tanda-tanda alam, sehingga dapat melakukan persiapan saat datang hujan  atau panas. lalu kemudian mengampil keputusan yang tepat apakah nelayan turun melaut atau tidak.

Generasi minangkabau tidak hanya terbiasa bernalar dengan pepatah petitihnya, secara bathiniah (intuisi) juga terlatih, (“kato malereang, kato mandaki, kato mandata, kata manurun “) merupakan pola komunikasi yang sangat arif dan bijaksana. (“Lahia manunjuakan nan bathin, tau rantiang ka manyangkuik, batang kamaimpok, maminteh sabalun anyuik, ingek sabalun kanai ) merupakan bacaan bermakna tingggi. (“Angguak alum tantu iyo, geleang alun tantu indak”) Berfilsafat,  dan berdilektika sesuatu yang sangat dekat dengan diri anak minang.

Seandainya sekarang kita abai, tidak segera membenahi persoalan cara berpikir ini, maka mimpi Indonesia emas yang acap didengungkan, sepertinya akan semakin jauh panggang dari api.  Konsekuensi logis akibat Kelalaian hari ini adalah Kenyataan pahit yang akan di tanggung generasi penerus. Gaung Indonesia emas 2045 yang sering di dengar akan menjadi hoaks  dimasa datang jika mimpi itu tidak terwujud.

Berhentilah mengutuk kegelapan, mulailah menyalakan lilin agar tak terpuruk dalam gelap. Menyalakan api optimisme adalah tugas generasi hari ini. Menjadi Indonesia emas 2045 seperti yang dicita-citakan memang bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan dukungan dari seluruh elemen negeri. Sangat tergantung apa upaya yang dilakukan sekarang untuk masa depan lebih baik, terutama dalam pembenahan cara berpikir, membangun jalan pikiran dengan pembiasaan (Hots) berpikir tingkat tinggi merupakan satu cara memperbaiki jalan pikiran menuju akal sehat.

Dalam perspektif minangkabau, berpikir tingkat tinggi (Hots) bukanlah barang baru, tapi sudah dimulai sejak lama, hal ini dapat ditelusuri dalam karya, buku-buku generasi emas gelombang pertama. Pepatah petitih minangkabau yang terekspresikan dalam kiasan yang menggambarkan berpikir tingkat tinggi hendaklah menjadi pakaian yang harus lekat di badan generasi sekarang. Agar lebih dihidup-hidupkan lagi ! Sederhananya  berpikir tingkat tinggi bagi generasi minangkabau sama dengan mengulang-ulang kaji. Selamat mengaji, semoga naik kelas.

Oleh : RAHMAT HIDAYAT, S.Pd., M.Pd (Guru SMPN 2 SIPORA Mentawai)

Strategi Mengajar untuk Menjaga Kelas Tetap Menarik!

Strategi Mengajar untuk Menjaga Kelas Tetap Menarik! Sesekali, Anda mungkin mendapatkan kelas yang sepertinya tidak bisa membuat Anda tertarik. Apa pun yang Anda lakukan, sepertinya semua siswa sudah bosan. Jika siswa tidak memperhatikan, dan pikiran mereka mengembara.


Maka mereka tidak menyerap informasi apa pun yang Anda berikan kepada mereka untuk lulus dari kelas Anda. Berikut adalah beberapa strategi pengajaran yang dapat Anda lakukan untuk membuat kelas Anda tetap tertarik dan terlibat:

Game Kelas sebagai Strategi Pengajaran
Tidak masalah jika Anda berusia 8 tahun atau 18 tahun, semua orang suka bermain game. Permainan adalah cara yang bagus untuk membuat orang tetap terlibat, dan tidak ada salahnya mereka menyenangkan. Sering kali para siswa bahkan tidak merasa seperti mereka belajar sesuatu karena mereka begitu menyukai permainan.

Jika siswa perlu mempelajari kata-kata kosa kata penting untuk sains, mainkan Jeopardy!. Jika mereka perlu mengingat tanggal tertentu dalam pelajaran sosial, mainkan memori. Segala jenis permainan akan membantu membuat kelas Anda lebih menarik serta membuat mereka tetap terlibat.

Bagaimana Cara Strategi Pengajaran yang Baik?

Hubungkan Konten Kelas dengan Kehidupan Mereka
Ketika Anda membuat koneksi dunia nyata dengan apa yang dipelajari siswa, itu akan memberi mereka pemahaman yang lebih besar tentang mengapa mereka perlu mempelajarinya. Jika siswa Anda terus-menerus bertanya kepada Anda mengapa mereka perlu belajar sesuatu, dan Anda selalu menjawab dengan "karena Anda harus", Anda akan kehilangan kredibilitas dengan siswa Anda, dan mereka akan terus tidak tertarik dengan apa yang Anda ajarkan kepada mereka.

Sebaliknya, berikan mereka jawaban nyata. Jika mereka belajar matematika dan ingin tahu kapan mereka perlu menggunakannya, beri tahu mereka bahwa mereka akan membutuhkan matematika untuk menulis cek, membayar tagihan, membeli bahan makanan, mencari tahu berapa banyak hal yang membutuhkan biaya. Ini akan membantu mereka terhubung mengapa mereka harus belajar apa yang mereka pelajari untuk masa depan mereka.

Jadikan Interaktif
Pengaturan ruang kelas tradisional, di mana guru berdiri di depan kelas memberi kuliah kepada siswa ketika mereka membuat catatan, membosankan. Jika Anda ingin siswa Anda tertarik dengan apa yang Anda ajarkan kepada mereka, Anda harus membuatnya interaktif. Inilah beberapa strategi pengajaran untuk menjaga kelas Anda tetap menarik, yang dapat Anda coba sekarang juga.

Beberapa Cara Guru Agar Dapat Menciptakan Lingkungan Belajar yang Positif!

Beberapa Cara Guru Agar Dapat Menciptakan Lingkungan Belajar yang Positif! Ada hubungan langsung antara jenis lingkungan belajar yang guru ciptakan di ruang kelas dan prestasi siswa. Berikut adalah beberapa strategi khusus untuk mengembangkan iklim dan budaya kelas yang optimal.


Mengatasi Kebutuhan Siswa
Ingat bahwa siswa, seperti orang dewasa, tidak hanya memiliki kebutuhan fisik tetapi juga kebutuhan psikologis yang penting untuk keamanan dan ketertiban, cinta dan kepemilikan, kekuatan dan kompetensi pribadi, kebebasan dan kebaruan, dan kesenangan. Siswa didorong untuk memenuhi semua kebutuhan ini setiap saat, bukan hanya dua atau tiga. Ini dapat Anda lakukan untuk dapat menciptakan lingkungan belajar yang positif.

Menciptakan Rasa Ketertiban
Semua siswa membutuhkan struktur dan ingin tahu bahwa guru mereka tidak hanya mengetahui area isinya, tetapi juga tahu bagaimana mengelola ruang kelasnya. Adalah tanggung jawab guru untuk memberikan ekspektasi perilaku dan akademik yang jelas sejak awal, siswa harus tahu apa yang diharapkan dari mereka sepanjang waktu.

Cara penting lainnya untuk menciptakan rasa keteraturan adalah dengan mengajarkan siswa prosedur yang efektif untuk banyak tugas praktis yang dilakukan di kelas.

Bagaimana Cara Menciptaka Lingkungan Belajar yang Positif?

Sambut Siswa di Pintu Setiap Hari
Saat siswa memasuki ruang kelas Anda, sambut setiap siswa di pintu. Jelaskan bahwa Anda ingin siswa melakukan kontak mata dengan Anda, memberikan salam verbal, dan tergantung pada usia siswa lima besar, tonjolan kepalan tangan, atau jabat tangan. Dengan cara ini, setiap siswa telah memiliki kontak manusia yang positif setidaknya sekali sehari.

Ini juga menunjukkan kepada siswa bahwa Anda peduli tentang mereka sebagai individu. Jika seorang siswa mengganggu atau tidak bekerja sama sehari sebelumnya, itu memberi Anda kesempatan untuk check-in, menjelaskan filosofi "setiap hari adalah batu tulis yang bersih", dan nyatakan optimisme untuk kelas itu ("Mari kita bersenang-senang hari ini").

Biarkan Siswa Mengenal Anda
Siswa masuk ke kelas dengan persepsi guru yang sudah terbentuk sebelumnya. Terkadang itu bagus, terkadang bisa menjadi penghalang. Saya ingin murid-murid saya menganggap saya sebagai manusia tiga dimensi yang dapat dipercaya dan bukan sebagai persepsi dua dimensi tentang “guru bahasa Inggris” yang mungkin sudah mereka miliki.

Ini merupakan salah satu cara untuk menciptakan lingkungan belajar yang positif, yang dapat Anda coba sekarang juga.

Guru Wajib Tahu "Strategi Pelaksanaan Kurikulum"

Strategi Pelaksanaan Kurikulum adalah cara bagaimana melaksanakan kurikulum sebagai program belajar agar dapat memengaruhi siswa sehingga dapat mencapai tujuan kurikuler, dan lebih jauh lagi dapat mencapai tujuan pendidikan. Ini mengartikan bahwa strategi pelaksanaan kurikulum menyangkut opersionalisasi kurikulum di sekolah.


Ada empat komponen yang menunjang operasionalisasi kurikulum, yakni: kegiatan pembelajaran, kegiatan administrasi supervisi, kegiatan bimbingan, dan kegiatan penialaian. Berikut paparan lebih jelasnya.

a. Kegiatan pengajaran adalah pelaksanaan proses belajar mengajar, yaitu suatu proses menerjemahkan dan mentransformasikan nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum (program belajar) kepada para siswa melalui interaksi belajar mengajar di sekoah.

b. Kegiatan administrasi berkenaan dengan upaya mendayagunakan semua sumber, baik personal maupun material, secara efektif dan efesien guna menunjang tercapainya tujuan pendidikan. Tugas guru sehubungan dengan administrasi yang dilaksanakan di sekolah antara lain meliputi administrasi pengajaran, kesiswaan, keuangan, dan hubungan sekolah dengan masyarakat.

Supervisi berkenan dengan bantuan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih efektif. Supervisi lebih banyak menjadi tugas seorang supervisor (Kepala Sekolah, Pemilik/Pengawas dan pejabat pendidikan lainnya).

c. Bimbingan penyuluhan adalah upaya memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar agar para siswa dapat mengatasi kesulitan yang dihadapinya. Upaya ini dilakukan agar hasil belajar para siswa lebih optimal. Sebenarnya proses bantuan bukan hanya diberikan kepada siswa yang hanya mengalami kesulitan belajar saja, tetapi juga kepada siswa lainnya.

Misalnya upaya memberi bantuan dalam pemilihan jurusan, pemilihan pekerjaan, dan lain-lain. Upaya melaksanakan bimbingan di sekolah menjadi tugas guru, di samping sebagai pengajar dan sebagai administrator kelas. Di beberapa sekolah, khususnya di kota-kota besar, tenaga guru pembimbing (counsellor) adalah tersendiri, yakni guru-guru lulusan IKIP jurusan Bimbingan Penyuluhan.

d. Penilaian adalah upaya yang dilakukan untuk menentukan apakah tujuan pendidikan dan tujuan pengajaran telah tercapai atau tidak. Upaya ini ditempuh melalui proses membandingkan tingkah laku nyata dengan suatu standar tingkah laku yang diinginkan (diniatkan).

Jadi, tekanan penilaian pada dasarnya mengukur tercapai tidaknya tujuan pengajaran. Penilaian merupakan tugas dan tanggung jawab guru di sekolah, baik penilaian yang dilaksanakan pada waktu mengajar (formatif) maupun penilaian yang dilaksanakan pada akhir semester (sumatif).

Ketiga aspek kurikulum tersebut, yakni tujuan, isi/materi program, dan strategi pelaksanaan program tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Tujuan adalah arah yang harus dicapai. Isi adalah bahan yang digunakan untuk mencapai tujuan, dan strategi adalah cara bagaimana mencapai tujuan tersebut.

Baca juga: Guru dan Kurikulum “Satu Kesatuan yang Tidak Terpisahkan”

Guru dan Kurikulum “Satu Kesatuan yang Tidak Terpisahkan”

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa kurikulum adalah program belajar, atau hasil belajar yang diniatkan. Program tersebut disusun dan dibukukan dalam sebuah karya tulis yang disebut “buku kurikulum”. Ada buku kurikulum SD, SMP, SMA dan lain-lain. Dalam buku kurikulum tersebut terdapat tujuan yang ingin dicapai, isi program, pedoman dan pelaksanaannya.

Tujuan dan isi program disusun dalam suatu rancangan yang disebut Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP). Setiap bidang studi terdapat GBPP-nya. GBPP berisikan tujuan kurikuler, tujuan instruksional, pokok bahasan, sub pokok bahasan dan distribusi kelas dan semester.


GBPP dapat diartikan kurikul suatu bidang studi, sehingga GBPP IPS adalah kurikulum IPS, GBPP IPA tidak lain adalah kurikulum IPA, dan seterusnya. Adapun pedoman pengajaran, penilaian, bimbingan, semuanya disusun tersendiri. Isinya berupa petunjuk dan contoh-contoh bagaimana hal itu harus dikerjakan oleh guru di sekolah.

Buku kurikulum itu sudah tentu mempunyai kekuatan atau potensi dalam memengaruhi pribadi anak didik bila diterjemahkan dan ditransformasikan oleh guru kepada siswa. Namun, jika tidak ditransformsikan oleh guru, kurikulum tidak mempunyai kekuatan apa-apa, bahkan merupakan suatu benda mati yang tidak ada gunanya.

Oleh sebab itu, kurikulum dan guru harus merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan. Artinya, kurikulum harus ada dalam otak guru. Sehubungan dengan itu, maka guru harus memiliki kompetensi berikut.

1. Menguasai kurikulum, artinya guru harus mempelajari kurikulum. Guru harus menguasai tujuan kurikulum, isi program (pokok bahasan) dan sub pokok bahasan yang harus diberikan kepada siswa, pada kelas dan semester mana pokok bahasan itu diberikan, GBPP, dna bagaimana ia harus memberikannya.

2. Menguasai isi dari setiap pokok bahasan/sub pokok bahasan dengan cara mempelajari buku pelajaran (text book) yang berkenan dengan pokok bahasan tersebut.

3. Mampu menerjemahkan dan menjabarkan GBPP tersebut menjadi suatu program yang lebih operasional sehingga ia siap mentransformasikan kepada siswa. Penjabaran ini dilakukan melalui suatu penyusunan program pengajaran atau rencana pengajaran.

Di sinilah pentingnya guru mempunyai keterampilan menyusun perencanaan/persiapan pengajaran yang bersumber dari GBPP. Berdasarkan penelitian di beberapa sekolah, yang dilakukan oleh para siswa jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Bandung (sekarang UPI) pada waktu menulis skripsi, ternyata masih banyak guru yang tidak pernah mempelajari GBPP, dan tidak menggunakannya pada waktu menyusun satuan pelajaran (perencanaan mengajar).

Jika hal tersebut benar, maka apa yang diberikan guru kepada siswa tidak bersumber pada GBPP. Ini berarti bahwa pengajaran yang dilakukan guru di sekolah sudah menyimpang dari kurikulum yang sudah ditentukan.

Baca juga:
Memahami Secara Jelas Pengertian Kurikulum
Memahami Tujuan Program dalam Pembelajaran
Strategi Pelaksanaan Kurikulum
Materi atau Isi Porgram dalam Pembelajaran

Guru tidak berwenang membuat kurikulum sendiri sebab kurikulum sudah ada. Tugas guru hanya pelaksanaan kurikulum dan Pembina kurikulum. Memperkaya dibolehkan, sepanjang syarat minimal yang telah ditetapkan dipenuhi terlebih dahulu. Kesenjangan antara kurikulum yang telah ditetapkan dengan apa yang dilaksanakan guru bukan saja dinilai menyimpang, tetapi juga berarti mengurangi hasil pendidikan di sekolah. Ini bisa dicegah apabila guru selalu mengunakan GBPP sebagai pedoman mengajar di sekolah.

Materi atau Isi Porgram dalam Pembelajaran

Isi atau materi program tidak lain ialah bidang studi atau mata pelajaran yang telah terpilih berdasarkan kriteria keilmuan dan kegunaannya, yang dapat menunjang tercapainya tujuan konstitusional. Mata pelajaran pada dasarnya adalah pengetahuan dan pengalaman manusia pada masa lampau yang di susun secara logis, sistematik, melalui prosedur dan metode keilmuan. Sementara itu bidang studi ialah kumpulan atau penggabungan dari sejumlah mata pelajaran serumpun.


Bidang studi adalah terjemahan dari broadfield. Misalnya bidang studi IPA terdiri dari gabungan mata pelajaran Fisika, biologi, astronomi, kimia, dan lainnya. Bidang studi IPS, gabungan dari mata pelajaran Sejarah, Ilmu Bumi, Sosiologi, Antropolgi, Ekonomi, dan lainnya.

Untuk setiap tingkat pendidikan, mata pelajaran yang tergabung dalam suatu bidang studi tidaklah sama. Misalnya di SMP yang termasuk bidang studi IPS adalah mata pelajaran Sejarah, Geografi, Kependudukan, Ekonomi Koperasi, dan tata buku/hitung dagang. Setiap bidang studi atau mata pelajaran kemudian ditetapkan ruang lingkup (scope) dan urutan penyajiannya berdasarkan kelas/semester (sequences).

Ada dua aspek penting dalam menentukan ruang lingkup bahan, yakni tingkat kedalaman bahan dan keluasan bahan. Jadi, sekalipun mata pelajarannya sama, misalnay sejarah, tetapi tingkat kedalaman dan keluasan bahan Sejarah di SMP berbeda dengan Sejarah di SMA.

Itulah sebabnya penyusunan kurikulum untuk beberapa bidang studi/mata pelajaran menganut teori spiral kurikulum.

Dalam kurikulum, penentuan ruang lingkup bahan hanya terbatas kepada penetapan pokok bahasan/sub pokok bahasan. Sementara itu isi dari setiap pokok bahasan/sub pokok bahasan disusun dan diurutkan lagi dalam buku pelajaran. Oleh sebab itu, penulisan buku pelajaran harus mengacu kepada kurikulum.

Mengenai urutan penyampaian bahan, yakni pendistrubusian pokok bahasan berdasarkan kelas/semester, menggunakan alur keilmuan yang ada dalam bidang studi/mata pelajaran tersebut. Biasanya berlaku aturan dari yang mudah menuju kepada yang sulit, dari yang sederhana menuju kepada yang kompleks, dari yang sifatnya mendasar menuju kepada yang lebih khusus, dan dari yang factual menuju kepada konseptual.

Oleh sebab itu, harus tercermin adanya bahan yang tingkat kedalaman dan keluasannya berbeda antara kelas I dengan kelas II di SMP atau di SMA. Bahan di kelas II relative lebih luas, lebih dalam dari bahan yang diberikan di kelas I, bukan sebaliknya.

Baca juga: Memahami Tujuan Program dalam Pembelajaran

Memahami Tujuan Program dalam Pembelajaran

Tujuan program dinyatakan dalam suatu rumusan mengenai tingkah laku yang diharapkan dimiliki siswa setelah menerima program tersebut. Secara hierarkis, tujuan program dibedakan menjadi beberapa kategori, mulai dari tujuan yang bersifat umum sampai tujuan yang bersifat khusus.

Kategori pertama adalah tujuan lembaga pendidikan atau tujuan institusional. Misalnya, ada tujuan Sekolah Dasar, SMP, SMA, SPG, dan lain-lain. Tujuan lembaga (tujuan institusional) tidak lain adalah rumusan tingkah laku yang diharapkan dimiliki siswa setelah Ia menyelesaikan program pendidikan di lembaga pendidikan tersebut.



Tujuan ini sudah tentu umum sebab merupakan tujuan jangka panjang (6 tahun untuk SD atau tiga tahun untuk SMP), yakni lamanya pendidikan di lembaga pendidikan tertentu.

Sebagai contoh tujuan institusional diantaranya adalah tujuan SMP, yakni agar para lulusan:


a. menjadi warga Negara yang baik sebagai manusia yang utuh, sehat, dan kuat lahir batin.
b. menguasai hasil pendidikan umum yang merupakan kelanjutan dari pendidikan di SD dan
c. memiliki bekal untuk melanjutkan pelajarannya ke sekolah lanjutan tingkat atas, dan untuk terjun ke masyarakat.


Tujuan umum di atas kemudian dijabarkan menjadi tujuan yang lebih khusus. Tujuan khusus tersebut dibagi ke dalam tiga bidang tujuan, yakni bidang pengetahuan, bidang keterampilan serta bidang nilai dan sikap.


Kategori kedua adalah tujuan kurikuler atau tujuan kurikulum, yakni tujuan dari setiap bidang studi atau mata pelajaran yang diberikan atau diprogramkan di setiap lembaga pendidikan tersebut. Seperti halnya tujuan institusional, tujuan kurikulum berisikan rumusan tingkah laku yang diharapkan dikuasai siswa.


Rumusan tingkah laku tersebut diharapkan dapat dikuasai oleh siswa setelah ia menyelesaikan bidang studi yang dipelajarinya. Dengan kata lain, tujuan kurikuler lebih khusus daripada tujuan institusional, atau merupakan penjabaran dari tujuan institusional.


Contoh tujuan kurikuler adalah tujuan IPA, IPS, PMP, dan bidang studi lainnya. Oleh sebab itu, untuk satu tujuan institusional dapat dijabarkan menjadi beberapa tujuan kurikuler. Dapat pula diartikan bahwa tujuan konstitusional tercapai apabila seluruh tujuan kurikuler dikuasai oleh semua siswa.


Kategori ketiga adalah tujuan intruksional (tujuan pengajaran). Bila tujuan kurikuler adalah bidang studi, maka tujuan instruksional adalah tujuan dari setiap bahan yang dijabarkan dari setiap bidang studi. Kita ketahui bahwa setiap bidang studi mempunyai ruang lingkup bahan yang terdiri dari beberapa pecahan/bagian, yang kita kenal dengan istilah pokok bahasan dan sub pokok bahasan.


Baca juga: Materi atau Isi Porgram dalam Pembelajaran

Bila guru mengajar satu pokok bahasan dari suatu bidang studi, berarti guru tersebut mengajarkan sebagian bahan dari bidang studi tersebut. Jika guru selesai mengajarkan semua pokok bahasan yang terdapat dalam bidang studi tertentu, misalnya IPS, dapat dikatakan selesailah bidang studi IPS. Oleh sebab itu, dapat dirumuskan bahwa tujuan instruksional adalah rumusan kemampuan atau tingkah laku yang diharapkan dikuasai oleh siswa setelah ia menyelesaikan suatu program pengajaran.


Tujuan pengajaran dapat dibedakan menjadi tujuan pengajaran umum dan tujuan pengajaran khusus.


Dalam setiap rumusan tujuan yang telah dikemukakan di atas, terdapat istilah tingkah laku atau kemampuan. Maksud kata tingkah laku dalam rumusan tujuan mengandung tiga aspek, yakni aspek pengetahuan, nilai dan sikap, serta keterampilan. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tida dapat terpisahkan.


Tingkah laku ini (pengetahuan, nilai dan sikap, serta keterampilan) pada hakikatnya adalah hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa.


Baca juga: Memahami Secara Jelas Pengertian Kurikulum

Memahami Secara Jelas Pengertian Kurikulum

Ada tiga variabel utama yang saling berkaitan dalam strategi pelaksanaan pendidikan di sekolah. Ketiga variabel tersebut adalah kurikulum, guru, dan pengajaran atau proses belajar dan mengajar.

Guru menduduki kedudukan sentral sebab peranananya sangat menentukan. Ia harus mampu menerjemahkan dan menjabarkan nilai-nilai tersebut kepada siswa melalui proses pengajaran di sekolah. Guru tidak membuat/menyusun kurikulum, tetapi ia menggunakan kurikulum, menjabarkannya, serta melaknsanakannya melalui suatu proses pengajaran.

Kurikulum diperuntukkan bagi siswa, melalui guru yang secara nyata memberikan pengaruh kepada siswa pada saat terjadinya proses pengajaran.


Proses sampainya kurikulum ke siswa.

Diagram diatas menjelaskan bahwa sebelum kurikulum sampai kepada siswa, kurikulum itu, menempuh suatu proses, yakni penjabaran kurikulum dalam bentuk proses pengajaran. Ini berarti proses pengajaran pada hakikatnya adalah pelaksanaan kurikulum oleh guru dalam ruang lingkup yang lebih khusus dan terbatas.

Pengertian Kurikulum
Kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata curir yang berarti pelari. Kata curere artinya tempat berpacu. Curriculum diartikan jarak yang ditempuh oleh seorang pelari.

Pada saat itu, kurikulum diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa/murid untuk mencapai ijazah.

Rumusan kurikulum tersebut mengandung makna bahwa isi kurikulum tidak lain adalah sejumlah mata pelajaran (subject matter) yang harus dikuasai oleh siswa untuk dapat memperoleh ijazah. Itulah mengapa kurikulum sering dipandang sebagai rencana pelajaran untuk siswa.

Ilmu pengetahuan selalu berubah dan berkembang, demikian juga dengan bidang pendidikan. Perubahan dalam bidang pendidikan membawa pengaruh terhadap perubahan pandangan mengenai kurikulum. Kurikulum yang semula dipandang sebagai sejumlah mata pelajaran, kemudian beralih makna menjadi semua kegiatan atau semua pengalaman belajar, yang diberikan kepada siswa di bawah tanggung jawab sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan.

Konsep ini mengandung makna, bahwa isi kurikulum bukan hanya sejumlah mata pelajaran, tetapi juga semua kegiatan dan pengalaman belajar siswa di sekolah yang mempengaruhi pribadi siswa sepanjang menjadi tanggung jawab sekolah.

Itulah sebabnya tidak ada pemisahan antara kegiatan intrakurikuler dengan kegiatan ekstrakurikuler, keduanya tarmasuk kurikulum.

Baca juga: Memahami Tujuan Program dalam Pembelajaran

Pengertian kurikulum di atas menunjukkan pengertian/makna yang lebih luas sebab kurikulum tidak terbatas pada mata pelajaran saja, tetapi semua aspek yang mempengaruhi pribadi siswa. Dalam pengertian ini, menunjukkan adanya fungsi kurikulum sebagai alat mengubah pribadi siswa. Dengan kata lain, kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Walaupun demikian, kurikulum dalam pengerian ini pun masih belum memberikan arah secara operasional, serta belum ada batasan yang jelas mengenai apa yang dimaksud “semua kegiatan”, apa isinya dan bagaimana bentuknya.

Oleh sebab itu akhirnya disepakati bahwa kurikulum dipandang atau diartikan sebagai program belajar bagi siswa (plan for learning) yang disusun secara sistematik, dan diberikan oleh lembaga pendidikan tertentu untuk mencapai tujuan pendidikan.

Baca juga: Strategi Pelaksanaan Kurikulum

Sebagai program, kurikulum adalah niat atau harapan. Atas dasar itu, ada pandangan yang menyatakan bahwa kurikulum tidak lain adalah hasil belajar yang diniati/diharapkan atau intended learning out come.

Dikatakan hasil belajar yang diniati sebab program belajar itu baru merupakan rencana, patokan, gagasan, itikad, rambu-rambu, yang nantinya harus dicapai atau dimiliki oleh para siswa melalui proses pengajaran. Program belajar belum tentu dapat mempengaruhi siswa jika tidak dilaksanakan. Itulah sebabnya, kurikulum sebagai program belajar tidak dapat dipisahkan dengan pengajaran.

Kurikulum adalah niat, pedoman, rencana, sedangkan pengajaran adalah pelaksanaan untuk mecapai niat atau rencana tersebut. Menurut Beauchamp, kurikulum adalah dokumen yang disusun untuk digunakan sebagai dasar dalam merencanakan pengajaran.

Dari rumusan diatas juga dapat kita simpulkan bahwa kurikulum adalah program belajar atau document yang berisikan hasil belajar yang diniati (diharapkan dimiliki siswa) di bawah tanggung jawab sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan. Program belajar masih bersifat umum yang memerlukan penjabaran lebih lanjut oleh guru sebelum diberikan kepada siswa melalui proses pengajaran.

Kurikulum sebagai program belajar bagi siswa harus memiliki tujuan program yang ingin dicapai, isi program yang harus diberikan. Dan stretegi/cara bagaimana melaksanakan program tersebut.

Baca juga:
Wajib Tahu! Ini 8 Kiat Memotivasi Anak Supaya Rajin Belajar
Perbedaan Kecerdasan dan Ragam Gaya Belajar