Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Lafran Pane Bukan kader HMI

Dengan yakin saya katakan bahwa Lafran Pane itu bukan kader HMI.
HMI saat itu belum ada, lalu Ia bentuk itu organisasi yang dinamakan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Sehingga adalah HMI pada tahun ketiga kemerdekaan dan sampai saat ini HMI itu masih ada. Dari itu barulah Lafran Pane merupakan Tokoh HMI sekaligus pendiri organisasi besar ini.


Lalu kita-kita ini yang sudah ber-HMI, sudah melalui proses perkaderan minimalnya LK-1, dimana dalam proses perkaderan tersebut kita diajarkan untuk paham terlebih dahulu hakikat perjuangan HMI, dan kita juga dilatih tentang ilmu kepemimpinan, organisasi dan lainnya. Maka merupakan hal yang patut untuk dipertanyakan bahwa yang telah kita berikan untuk bangsa ini adalah apa? yang sudah kita lakukan sebagai bukti bahwa HMI itu berjuang untuk keummatan dan kebangsaan itu mana?

Lebih dari belasan sumber sejarah yang saya baca mengenai HMI, semua sepakat bahwa HMI itu merupakan sebuah organisasi yang powernya tak diragukan lagi, bahkan 42 partai sekalipun tak mampu membubarkan HMI. Dan itu terjadi pada Tahun 1964-1965 yang mana HMI menyebut itu fase perjuangan.


Saya mulai berpikir bahwa harapan oknum-oknum yang tidak menyukai HMI, keinginan untuk membubarkan HMI itu memang sudah sirna. Dan setelah kegagalan mereka membubarkan HMI, visi mereka adalah memburamkan HMI atau membuat HMI itu mundur. Sehingga walaupun HMI itu tetap ada tidak akan berpengaruh bagi  mereka untuk mencapai target dan misi yang sudah lama disetting.

Saya terus mencari referensi lebih lanjut mengenai hal itu, ternyata benar bahwa HMI mengalami kemunduruan. Hal tersebut dibuktikan dengan munculnya sebuah buku “44 Indikator Kemunduran HMI”. Nah dalam indikator tersebut ada dua point yang menarik perhatian saya untuk mendalaminya lebih lanjut.

1.  Menurunnya jumlah mahasiswa baru yang masuk HMI
2.  Lemahnya manajemen organisasi HMI dan sudah ketinggalan zaman, tidak sesuai lagi dengan tuntutan kebutuhan kontemporer.

Tidak terlepas dari masalah internal dan external, hal itu merupakan problema bagi laju organisasi yang sudah berusia hampir 72 tahun ini.

Jadi, sekarang ini power yang dimiliki oleh HMI dipertanyakan, kader yang dimiliki HMI juga dipertanyakan. Apakah benar HMI kehilangan power? Apakah iya HMI mengalami kemunduran yang begitu drastis?


Benarkah Simbol Dajjal di Sulawesi Penyebab Tsunami?

Sumber foto by Google
Beberapa waktu lalu, setelah gempa hebat melanda Palu, Sulawesi Tengah yang juga disusul oleh terjangan tsunami yang teramat dahsyat, perbincangan mengenai Sulawesi semakin hangat dibicarakan.

Termasuk salah satu yang menarik perhatian adalah tentang isu adanya Simbol Mata Dajjal di Sulawesi, tepatnya di Sulawesi Barat, yaitu Mamuju, pantai Manakkara.

Hal ini benar-benar mengejutkan, entah lambang/simbol tersebut hanya kebetulan saja atau memang sebuah ritual illuminati.

Silakan Anda cek sendiri di google map, icon pantai Manakkara jelas-jelas terlihat seperti mata satu, yang mana mata satu sangat dipercaya sebagai simbol mata Dajjal.

Kabarnya, gempa dan tsunami yang melanda palu juga dikait-kaitkan dengan Dajjal dan adanya simbol tersebut.

Pendapat lain juga mengatakan bahwa, foto itu tak ada hubungannya dengan Palu. Anjungan tersebut berada di Pantai Manakarra, Mamuju, Sulawesi Barat. Sedangkan Palu, Donggala, Sigi, dan sekitarnya yang terkena bencana berada di Sulawesi Tengah. Anjungan Pantai Manakarra itu baik-baik saja saat terjadi gempa dan tsunami di Sulteng.

Baca juga: Penyebab Bencana Menurut Al-Qur'an dan Hadist

Perang NKRI dan GAM Menyisakan Luka Mendalam


Perang antara NKRI dan GAM yang pernah terjadi, menyisakan banyak luka dan kesedihan mendalam yang abadi terpendam. Orang-orang tercinta hilang tanpa alamat, nyawa-nyawa tak berdosa ikut disiksa, dihujani timah panas, dan dibunuh dengan ganas. Mereka yang sama sekali tak bersalah juga ikut tenggelam dalam darah, padahal usianya masih prasekolah. Traumatis atas perlakuan yang sadis sering sekali dialami para gadis. Saat itu, perang menyala bukan saja karena ingin merdeka, tapi juga karena dendam di dalam dada melihat rakyat tak berdosa yang disiksa.

Lalu, ketika damai menjelma asa, setelah tsunami membunuh mimpi. Kita bersama seolah senadi untuk menggapai kemakmuran dan kesejahteraan yang abadi. Tapi faktanya itu ilusi.

Saya pernah berusaha mencari dokumen-dokumen atau rekaman konflik dengan harapan ada potret ketiga paman saya di dalamnya. Sejak saya kenal youtube di kelas 3 SMP, saya obrak abrik video yang berkaitan dengan GAM, namun tak kunjung mendapat hasil. Searching di google ratusan kali berharap menemukan beberapa data yang mungkin mencantumkan nama ketiga paman saya namun yang saya dapat juga kecewa. Saya yakin di luar sana juga ada yang melakukan hal serupa, mencari data, mencari fakta.

Bukankah mereka yang berjuang dengan kibaran bulan bintang disebut pejuang? Bahkan sampai sekarang masih terdengar bersahut-sahut di media tentang sejarah lampau dari keinginan untuk merdeka. Namun, faktanya keinginan untuk merdeka hanya terlihat seperti memperkaya beberapa kelompok saja. Dokumen untuk menghargai mereka yang benar-benar berjuang sepertinya tidak terdata dengan merata.

Anak-anak yang dulu Ayahnya seorang GAM juga masih ada yang tak tersentuh perhatian selain dari masyarakat dan orang-orang dekat.

Pentingnya Website Bagi Sekolah

Sekolah, seperti yang kita ketahui bersama merupakan wadah pembentukan karakter untuk mendidik generasi bangsa. Di sekolah siswa dididik untuk beretika, menghargai orang lain, selain diajarkan pelajara-pelajaran sekolah. Sama sekali kita tidak boleh melupakan peran penting sekolah tersebut.

Di era globalisasi ini dengan kian pesatnya kemajuan teknologi di dunia, tak terkecuali Indonesia. Keefektifan sebuah sekolah sebagai wadah pendidikan telah dipengaruhi oleh berbagai aspek-aspek teknologi. Misalnya internet yang berkaitan erat dengan media sosial.

Dalam dunia pendidikan, tidak bisa dipungkiri bahwa setiap sekolah bersaing menjadi sekolah yang unggul untuk menjadi sekolah favorit pilihan siswa. Namun, dalam prakteknya, sekolah yang menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologilah yang akan unggul.

Sekolah dulu mungkin sama sekali tidak mempelajari tentang media, pemanfaatan media, kuntungan yang bisa dihasilkan dari media (internet). Namun, sekolah-sekolah unggul sekarang ini tentu sudah sangat akrab dengan hal-hal sedemikian. Mereka menggunakan media berupa website untuk membuat sekolahnya semakin terkenal selain terus melejitkan prestasi siswa dan sekolanya.

Kenapa website dapat meningkatkan citra sekolah?

Sebenarnya bukan untuk peningkatan citra sekolah saja, memang ketika sebuah sekolah tidak memiliki sebuah website yang berguna untuk mengetahui informasi sebuah sekolah, maka sekolah tersebut akan dianggap tidak maju. Website sangat bermanfaat untuk tempat siswa berkreatifitas, selain Majalah Dinding/mading.

Website untuk mengenalkan sekolah dan sebagai wadah silaturrahmi.

Dulu silaturrahmi yang kita kenal adalah dengan berkunjung antara satu sama alin. Dalam duni online juga ada istilah silaturrahmi yaitu pemilik sebuah website mengunjungi website lain lalu memberi komentar positif untuk mendukung website tersebut. Selain itu juga sebagai sarana untuk berbagi informasi lebih mudah.

Website untuk mengenalkan sekolah. Misalnya, ketika sebuah sekolah membuka pendaftaran untuk siswa baru, atau membuka lowongan bagi guru yang ingin mengajar di sekolah tersebut, maka bisa melihat informasi tersebut melalui website.

Ketika sekolah tidak memiliki website, orang lain akan sangat sulit untuk mengetahui atau mencari informasi mengenai sekolah tersebut.

Dampak Pembugaran Wajah Baru Masjid Raya Banda Aceh


Sejak 28 juli 2015 pada awal peresmian pembugaran wajah baru Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, telah banyak mendapatkan kontropersi dari masyarakat. Munculnya kritikan kritikan tidak senonoh yang dilontarkan kepada pemerintah Banda Aceh  membuat banyak masyarakat yang terperdaya dan ikut-ikutan memberikan komentar yang belum pasti kebenarannya.

“Pembangunan proyek yang menghabiskan dana hampir setengah triliun itu, tentunya harus dibarengi oleh riset yang mendalam, mengenai dampak jangka pendek dan jangka panjangnya. Jangan sampai setengah jalan pembangunan, atau sudah selesai dibangun tidak sesuai dengan fungsi. Seperti proyek terbengkalai di Aceh Singkil dalam pembangunan Gedung Sekolah Rintisan Bertaraf Internasional, proyek pengembangan benih ikan yang tak fungsional di Padang Tiji Sigli dan persengketaan pembangunan Islamic Center Aceh dengan pembangunan Meuligoe Wali Nanggroe di Aceh Besar” merupakan salah satu contoh keritikan dari masarakat yang mencoba menjengkali pemerintah (Laporan Eklusif Serambi, 23/02/2015).

Namun kini telah terjawab kekhawatiran masyarakat atas pembugaran wajah baru Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh tersebut. Hal ini dibuktikan dengan fungsi yang sesuai dengan diharapkan sebelumnya, yakni menjadikan Masjid Raya Baiturrahman sebagai salah satu destinasi wisata heritage Aceh, tempat ibadah yang nyaman, bisa menampung banyak jamaah, dan sebagai tempat pusat kajian islami serta dengan mengikuti arsitektur masjid Nabawi di Madinah.

Pembugaran wajah baru masjid baiturrahman banda aceh dilakukan dengan menambah 12 unit payung elektrik ukuran 24x24 meter bergaya ala Masjid Nabawi, basement areal parkir bawah tanah dengan luas 8.600 m2.dan juga dibangun tempat wudhu dan toilet ramah difabel. Serta pada sekeliling masjid ditanam 32 pohon kurma yang menyerupai Masjid Rasul di Madinah.

Pembugaran masjid raya Baiturrahman ini sangat bardampak baik bagi lingkungan, sosial maupun budaya bagi masarakan banda aceh dan sekitarnya.

Jika kita lihat dari segi lingkungan, jelas bahwa pembugaran masjid Baiturrahman membarikan dampak positif dan berfungsi sebagaimana mestinya. Dengan adanya penambahan payung tersebut, dapat menambah daya tampung jama'ah yang semula 9 ribu orang di dalam masjid, menjadi 24.400 jamaah di dalam di luar masjid. Bukan hanya itu, Area parkir yang di buat seluas 8.600 m2 ini dapat menampung 254 unit mobil dan 347 sepeda motor. Hal tersebut mendukung dan memungkinkan masjid Baiturrahman menjadi tempat beribadah yang aman dan nyaman. Banyaknya pemberian nilai positif terhadap pembugaran majid tersebut, telah menjawab kritikan kertikan atau komentar sebelumnya.

“saya sangat senang dengan masjid baiturrahman yang sekarang. Kelihatan semakin indah, pengunjung semakin banyak, dan area parkir yang memberikan kenyamanan hingga tidak perlu khawatir lagi dengan kehilangan sepeda motor saat beribadah atau sekedar berkunjung menghilangkan suntuk di sini” (ujar heri anto seorang warga Aceh Besar).

Bukan hanya sekedar memberikan lingkungan yang positif di pekarang masjid saja, tapi juga memberikan kesan dan dampak positif bagi para warga yang berjualan di sekitar pasar Aceh yang berada didekat masjid tersebut. Banyaknya para pengunjung yang datang lebih 1000 orang perharinya baik untuk beribadah maupun sekedar melihat keindahan masjid membuat dagangan mereka semakin lancar.

Ibu Nur Hayati seorang pedagang minuman cendol yang sudah 9 tahun berjualan dekat pekarangan masjid Raya sebelum dan sesudah pembugaran  masjid Raya tersebut mengatakan daganganya semakin laris dan lancar setelah pembugaran masjid raya tersebut. Sebelumnya ia hanya menjual satu toples saja perharinya, namun setelah berjualan kembali di tahun 2013 lalu, ia selalu menjual habis empat toples masing-masing bahan cendolnya.

“Alhamdulillah semakin tahun penghasilan kami semakin meningkat dan melipat sejak pembaharuan masjid ini. Banyak pengunjung yang singgah utuk membeli cendera mata baik dari pengunjung lokal maupun wisatawan mancanegara” pengakuan Makhwan pedangang baju di pasar Aceh.

Bukan haya dari segi linngkungan yang terbukti semakin membaik  dari dampak pembangunan masjid Raya Baiturrahman. Dampak sosial dan budaya juga terlihat jelas semakin membaik dari beralihnya minat para masyarakat dan wisatawan yang sebelumnya mencari pantai dan tempat maksiat sebagai tempat berlibur atau sekedar menghilangkan penat kini beralih ke masjid. “Rasanya sah ke Banda Aceh jika belum mengabadikan poto di masjid Raya’’ itulah kata yang sering diucapkan para pengunjung masjid yang mulia tersebut.

Oleh: Agusri

Darul Aitami Aceh Selatan Adakan Buka Puasa Bersama Alumni


Bulan puasa bukan saja momen untuk menjalankan ibadah puasa demi menggandeng pahala. Akan tetapi ada hal lain yang juga dapat dilakukan di bulan puasa, bulan puasa juga bisa dijadikan moment untuk berkumpul bersama keluarga, teman atau sahabat, maupun sebuah organisasi.
Seperti yang dilakukan oleh IKASDA (Ikatan Alumni Santri Darul Aitami). IKASDA memang mengadakan acara buka puasa bersama seluruh alumni tiap tahunnya. Kali ini acara kebersamaan tersebut diadakan pada Senin 11 Juni 2018, tentunya di Ma’had Darul Aitami.


“Silaturrahmi Religius Wujudkan Keakraban yang Agamis”

Itulah tema yang diusung pada moment buka puasa kali ini. Semoga dengan adanya acara kebersamaan ini seluruh alumni semakin kompak dan serius mewujudkan IKASDA yang lebih terorganisasi untuk membangun relasi terutama dengan sesama alumni santri Darul Aitami dan juga dengan alumni santri pesantrenlainnya di masa mendatang.

Kenapa Kita Harus Jadi Orang Kreatif?


 “Imajinasi jauh lebih penting daripada pengetahuan”

Itulah pernyataan yang pernah dilontarkan Albert Einstein!

Tidak peduli apakah kreativitas itu diimplementasikan pada pertanian, perkebunan, teknik memasak, atau sastra. Kreativitas bahkan tidak perlu membatasi defenitifnya sendiri.

Semangat luar biasa ini rupanya mampu “menyinari” beberapa bagian tertentu di dalam otak yang cenderung untuk terus “terlelap”.

Target : memasukkan sesuatu yang baik dan berguna ke dalam kawasan yang disesaki oleh berbagai hal buruk.

Jika ada suatu wilayah yang tidak dapat dijangkau oleh penuaan maka zona itu adalah “kreativitas”.

Apakah Anda tidak percaya?

Kalau begitu, coba sekarang simak baik-baik uraian berikut ini!

Michael Angelo merancang kubah gereja St. Peter di Roma ketika usianya telah menginjak 68 tahun; Ferdi baru menulis “Falstaff” ketika usianya sedikit lebih muda, yaitu 80 tahu!

Contoh-contoh yang menunjukkan bahwa usia sama sekali tidak memengaruhi kreativitas berkesenian sangat banyak dan tidak terhitung. Meskipun demikian, seseorang tentu tidak perlu harus menjadi seniman terlebih dahulu untuk bisa menemukan sesuatu yang luar biasa.

Sangat mungkin bagi kita untuk berkreasi dalam begitu banyak bidang; mulai dari seni merangkai bunga ala jepang hingga seni border kain.

Contonhya, di Prancis Ikatan Pengembang Kebudayaan yang berkedudukan di Kota Paris telah merekomendasikan 400 workshop di 58 pusat kebudayaan. Kegiatan tersebut dijadikan sarana berbagai kegiatan dan keterampilan : melukis, membuat miniatur benda-benda dengan kayu, membuat sampul aristik untuk buku, seni peran, modeling, dan lainnya.

Banyak orang lanjut usia yang ikut mendaftar dalam kegiatan ini dengan tujuan “mengetahui apakah aktivitas tersebut bermanfaat atau menyenangkan”. Setelah merasakan faedahnya, ternyata mereka enggan mengganti kesibukan mingguan baru ini dengan acara lain.

Kreativitas Membuat Seseorang Semakin Peka

Apakah Anda tidak dapat menemukan manfaat dari kreativitas?

Jika kreativitas tidak berarti apa-apa bagi Anda, Anda pasti merasa kesulitan untuk memahami kesenangan sebagian orang terhadap kegiatan ini.

Walau bagaimanapun, otak Anda pasti menyukai aktivitas seperti itu, apalagi kreativitas jelas dapat membangun banyak hubungan, kehidupan sosial, bahkan kecerdasan berpikir.

Kita dapat menambahkan beberapa kegiatan yang dapat mempertajam kepekaan perasaan kita ke dalam daftar hal-hal positif. Berkesenian, misalnya, dapat memberi nutrisi kepada ketelitian dalam bekerja, kewaspadaan, pikiran kritis, dan mengembangkan imajinasi serta intuisi. Bahkan, penurunan kemampuan fisik sama sekali tidak berpengaruh terhadap aktivitas seperti ini. Bukankah gangguan penglihatan yang diderita oleh pelukis masyhur Claude Monet justru membuat kita dapat mengukur efek dari lukisan Nympheas yang luar biasa itu?

Apakah karena ilham telah turun kepada pelukis Goya di akhir hayatnya? Sehingga dia mampu mempersembahkan gambar pertarungan antara dua ekor benteng yang dia lukis di atas lempengan batu padahal saat itu ia sudah tidak mampu lagi meraut sendiri pena milikinya?

Jika Anda sama sekali tidak memiliki kemampuan apa pun, Anda sama sekali tidak memiliki keinginan untuk mendayagunakan kemampuan Anda maka pada kondisi seperi itu, segeralah memerhatikan apa yang telah dibuat oleh orang lain. Cobalah melewati batas enam detik untuk belajar “membaca” sebuah karya seni. Beridirlah di depan selembar lukisan, misalnya, kemudian telitilah lukisan itu dengan secermat-cermatnya. Misalnya dengan memerhatikan gambar orang, pernak-pernik, warna, dan sebagainya. Lalu renungkan perasaan dan sensasi yang Anda rasakan akibat pengaruh lukisan yang Anda lihat.

Sesudah itu, berusahalah untuk berimajinasi tentang kelanjutan isi lukisan yang sedang Anda lihat itu, bahkan walaupun imajinasi Anda itu sangat jauh dari kenyataan sejarah. Jadikanlah lukisan yang sedang Anda lihat itu sebagai elemen, yang membantu Anda berimajinasi.

Cara seperti ini juga dapat diterapkan pada ukiran, lagu-lagu opera, dan karya seni lainnya. Anda pasti merasakan bahwa hal seperti ini sangat menyenangkan, bahkan terasa luar biasa!

Dampak Pembangunan Jembatan Lamnyong Terhadap Sosial Budaya


Kegiatan pembangunan adalah upaya manusia mengaplikasikan ilmu dan teknologi untuk meningkatkan taraf kehidupannya baik itu bermanfaat untuk diri sendri ataupun khalayak banyak.

Di aceh, kegiatan pembangunan sedang masif digalakkan. Pada tahun 2015, pemerintah kota Banda Aceh memulai proyek strategisnya, yaitu membangun 3 jembatan yang menjadi vital bagi lalu lintas di Aceh. Salah satunya adalah pembangunan jembatan lamnyong.

Berdasarkan dari liputan kanalaceh.com, pembangunan jembatan lamnyong Banda Aceh berawal dari obrolan Gubernur Aceh, Zaini Abdullah dengan Rektor Unsyiah beserta Rektor UIN Ar-Raniry terkait adanya keluhan serta aspirasi mahasiswa dan masyarakat di lingkungan Darussalam. Sehingga pada tahun 2015 bersumber dari dana APBA 2015-2016 pembangunan jembatan lamnyong pun dimulai.

Jembatan lamnyong merupakan jalan penghubung antara gampong lamnyong dengan kopelma Darussalam. Yang merupakan jalur transportasi para pelajar, mahasiswa, dan pengajar, karena kopelma Darussalam merupakan zona wilayah pendidikan yang dikususkan oleh pemerintah Aceh. Di dalam kawasan ini terdapat 3 perguruan tinggi yang menjadi kiblat para siswa untuk melanjutkan studinya, dilengkapi juga dengan beberapa sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah ke atas.

Pemerintah Aceh berencana membangun jembatan lamnyong menjadi dua jalur, dilanjutkan dengan pembangunan flyover (jembatan layang) ke arah Kopelma Darussalam, dan pembangunan under pass dari arah Gampong Rukoh menuju arah Gampong Limpo.

Diharapkan dengan pembangunan jembatan lamnyong ini  kemacetan lalu lintas yang kerap terjadi di kawasan ini, akan terminimalisir. Dan pada tahun 2017, harapan itu dikabulkan, dengan adanya dua jalur yang lebih luas, lalu lintas transportasi di jembatan lamnyong berjalan efektif. Kemacetan yang menjadi momok besar bagi mahasiswa dan dosen, kini dapat teratasi.

Dikutip di pikiranmerdeka.com, Seorang intelektual muda dan juga seorang pengajar di UIN Ar-Raniry, Affan Ramli mengemukakan bahwa konsep madani erat kaitannya dengan perwujudan nilai-nilai adat dalam pembangunan tata ruang kota, pembangunan sekarang sering kali melupakan adat dan budaya di dalam pembangunannya. Dengan kata lain, Affan Ramli mengatakan pembangunan tata ruang kota di Aceh sedikit memperhatikan lingkungan sosial dan budaya yang kita milik. Sehingga masyarakat akan terbawa ke dalam arus globalisasi yang akan menyebabkan terkikisnya adat budaya asli mereka, dan terbentuknya budaya luar di dalam pemikiran yang akan disalurkan ke perbuatan.

Di dalam masyarakat Aceh sekarang, terjadi kesalahpahaman makna tentang konsep budaya dan adat Aceh, yang selama ini terlanjur membentuk persepsi masyarakat Aceh.

Salah satunya, adat dan budaya adalah kebiasaan yang hanya layak dijadikan pedoman hidup bagi masyarakat tradisional dan pendalaman, tak relevan lagi bagi masyarakat kota modern. Ini terbukti dengan berkembangnya pola pikir individualis di masyarakat Banda Aceh, bisa kita lihat, orang kaya  bersifat terlalu konsumtif sedangkan orang miskin tercekik dan terabaikan.

Akan lebih bagus jika di trotoar pejalan kaki dan di dinding under pass itu digambar atau dibuat ciri khas keacehan di situ, sehingga mengingatkan masyarakat Aceh yang lalu lalang di jembatan Lamnyong tentang adat-budaya Aceh, supaya dapat membentengi pengaruh budaya luar yang masuk ke pemikiran masyarakat Aceh.

Pembangunan jembatan lamnyong akan memperburuk keadan lingkungan karna emisi gas buangan akan semakin meningkat sebanding dengan meningkatnya arus lalu lintas dikawasan itu, ditambah lagi tidak ada penananaman tumbuhan  yang dapat menyerap emisi gas buangan di dekat jembatan. Tentunya ini akan memperburuk kualitas udara.

Pemerintah harus mempertimbangkan betul-betul aspek lingkungan, karena itu adalah masa depan umur manusia. Solusi tahap awal adalah harus dihilangkannya sikap pandang sebelah mata terhadap pengendara sepeda, baru kemudian dibuat jalur khusus sepeda, sehingga budaya bersepeda tumbuh.

Di dalam pembangunan ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan seperti lingkungan, sosial, dan budaya. Ketiga aspek ini sangat penting karna merupakan inti atau ciri khas dari suatu wilayah.

Akan sangat disayangkan bila ciri khas atau inti ini hilang sedikit demi sedikit diakibatkan pembangunan yang hanya mempertimbangkan sepihak dan pembangunan sebagai pencucian uang saja. Sepatutnya pembangunan yang dilaksanakan harus dipikirkan dan dirancang matang-matang agar kemaslahatan yang tercipta itu bukan tipuan.

Oleh : Saiful Siddiq