Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Benarkah Simbol Dajjal di Sulawesi Penyebab Tsunami?

Sumber foto by Google
Beberapa waktu lalu, setelah gempa hebat melanda Palu, Sulawesi Tengah yang juga disusul oleh terjangan tsunami yang teramat dahsyat, perbincangan mengenai Sulawesi semakin hangat dibicarakan.

Termasuk salah satu yang menarik perhatian adalah tentang isu adanya Simbol Mata Dajjal di Sulawesi, tepatnya di Sulawesi Barat, yaitu Mamuju, pantai Manakkara.

Hal ini benar-benar mengejutkan, entah lambang/simbol tersebut hanya kebetulan saja atau memang sebuah ritual illuminati.

Silakan Anda cek sendiri di google map, icon pantai Manakkara jelas-jelas terlihat seperti mata satu, yang mana mata satu sangat dipercaya sebagai simbol mata Dajjal.

Kabarnya, gempa dan tsunami yang melanda palu juga dikait-kaitkan dengan Dajjal dan adanya simbol tersebut.

Pendapat lain juga mengatakan bahwa, foto itu tak ada hubungannya dengan Palu. Anjungan tersebut berada di Pantai Manakarra, Mamuju, Sulawesi Barat. Sedangkan Palu, Donggala, Sigi, dan sekitarnya yang terkena bencana berada di Sulawesi Tengah. Anjungan Pantai Manakarra itu baik-baik saja saat terjadi gempa dan tsunami di Sulteng.

Baca juga: Penyebab Bencana Menurut Al-Qur'an dan Hadist

Perang NKRI dan GAM Menyisakan Luka Mendalam


Perang antara NKRI dan GAM yang pernah terjadi, menyisakan banyak luka dan kesedihan mendalam yang abadi terpendam. Orang-orang tercinta hilang tanpa alamat, nyawa-nyawa tak berdosa ikut disiksa, dihujani timah panas, dan dibunuh dengan ganas. Mereka yang sama sekali tak bersalah juga ikut tenggelam dalam darah, padahal usianya masih prasekolah. Traumatis atas perlakuan yang sadis sering sekali dialami para gadis. Saat itu, perang menyala bukan saja karena ingin merdeka, tapi juga karena dendam di dalam dada melihat rakyat tak berdosa yang disiksa.

Lalu, ketika damai menjelma asa, setelah tsunami membunuh mimpi. Kita bersama seolah senadi untuk menggapai kemakmuran dan kesejahteraan yang abadi. Tapi faktanya itu ilusi.

Saya pernah berusaha mencari dokumen-dokumen atau rekaman konflik dengan harapan ada potret ketiga paman saya di dalamnya. Sejak saya kenal youtube di kelas 3 SMP, saya obrak abrik video yang berkaitan dengan GAM, namun tak kunjung mendapat hasil. Searching di google ratusan kali berharap menemukan beberapa data yang mungkin mencantumkan nama ketiga paman saya namun yang saya dapat juga kecewa. Saya yakin di luar sana juga ada yang melakukan hal serupa, mencari data, mencari fakta.

Bukankah mereka yang berjuang dengan kibaran bulan bintang disebut pejuang? Bahkan sampai sekarang masih terdengar bersahut-sahut di media tentang sejarah lampau dari keinginan untuk merdeka. Namun, faktanya keinginan untuk merdeka hanya terlihat seperti memperkaya beberapa kelompok saja. Dokumen untuk menghargai mereka yang benar-benar berjuang sepertinya tidak terdata dengan merata.

Anak-anak yang dulu Ayahnya seorang GAM juga masih ada yang tak tersentuh perhatian selain dari masyarakat dan orang-orang dekat.

Pentingnya Website Bagi Sekolah

Sekolah, seperti yang kita ketahui bersama merupakan wadah pembentukan karakter untuk mendidik generasi bangsa. Di sekolah siswa dididik untuk beretika, menghargai orang lain, selain diajarkan pelajara-pelajaran sekolah. Sama sekali kita tidak boleh melupakan peran penting sekolah tersebut.

Di era globalisasi ini dengan kian pesatnya kemajuan teknologi di dunia, tak terkecuali Indonesia. Keefektifan sebuah sekolah sebagai wadah pendidikan telah dipengaruhi oleh berbagai aspek-aspek teknologi. Misalnya internet yang berkaitan erat dengan media sosial.

Dalam dunia pendidikan, tidak bisa dipungkiri bahwa setiap sekolah bersaing menjadi sekolah yang unggul untuk menjadi sekolah favorit pilihan siswa. Namun, dalam prakteknya, sekolah yang menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologilah yang akan unggul.

Sekolah dulu mungkin sama sekali tidak mempelajari tentang media, pemanfaatan media, kuntungan yang bisa dihasilkan dari media (internet). Namun, sekolah-sekolah unggul sekarang ini tentu sudah sangat akrab dengan hal-hal sedemikian. Mereka menggunakan media berupa website untuk membuat sekolahnya semakin terkenal selain terus melejitkan prestasi siswa dan sekolanya.

Kenapa website dapat meningkatkan citra sekolah?

Sebenarnya bukan untuk peningkatan citra sekolah saja, memang ketika sebuah sekolah tidak memiliki sebuah website yang berguna untuk mengetahui informasi sebuah sekolah, maka sekolah tersebut akan dianggap tidak maju. Website sangat bermanfaat untuk tempat siswa berkreatifitas, selain Majalah Dinding/mading.

Website untuk mengenalkan sekolah dan sebagai wadah silaturrahmi.

Dulu silaturrahmi yang kita kenal adalah dengan berkunjung antara satu sama alin. Dalam duni online juga ada istilah silaturrahmi yaitu pemilik sebuah website mengunjungi website lain lalu memberi komentar positif untuk mendukung website tersebut. Selain itu juga sebagai sarana untuk berbagi informasi lebih mudah.

Website untuk mengenalkan sekolah. Misalnya, ketika sebuah sekolah membuka pendaftaran untuk siswa baru, atau membuka lowongan bagi guru yang ingin mengajar di sekolah tersebut, maka bisa melihat informasi tersebut melalui website.

Ketika sekolah tidak memiliki website, orang lain akan sangat sulit untuk mengetahui atau mencari informasi mengenai sekolah tersebut.

Dampak Pembugaran Wajah Baru Masjid Raya Banda Aceh


Sejak 28 juli 2015 pada awal peresmian pembugaran wajah baru Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, telah banyak mendapatkan kontropersi dari masyarakat. Munculnya kritikan kritikan tidak senonoh yang dilontarkan kepada pemerintah Banda Aceh  membuat banyak masyarakat yang terperdaya dan ikut-ikutan memberikan komentar yang belum pasti kebenarannya.

“Pembangunan proyek yang menghabiskan dana hampir setengah triliun itu, tentunya harus dibarengi oleh riset yang mendalam, mengenai dampak jangka pendek dan jangka panjangnya. Jangan sampai setengah jalan pembangunan, atau sudah selesai dibangun tidak sesuai dengan fungsi. Seperti proyek terbengkalai di Aceh Singkil dalam pembangunan Gedung Sekolah Rintisan Bertaraf Internasional, proyek pengembangan benih ikan yang tak fungsional di Padang Tiji Sigli dan persengketaan pembangunan Islamic Center Aceh dengan pembangunan Meuligoe Wali Nanggroe di Aceh Besar” merupakan salah satu contoh keritikan dari masarakat yang mencoba menjengkali pemerintah (Laporan Eklusif Serambi, 23/02/2015).

Namun kini telah terjawab kekhawatiran masyarakat atas pembugaran wajah baru Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh tersebut. Hal ini dibuktikan dengan fungsi yang sesuai dengan diharapkan sebelumnya, yakni menjadikan Masjid Raya Baiturrahman sebagai salah satu destinasi wisata heritage Aceh, tempat ibadah yang nyaman, bisa menampung banyak jamaah, dan sebagai tempat pusat kajian islami serta dengan mengikuti arsitektur masjid Nabawi di Madinah.

Pembugaran wajah baru masjid baiturrahman banda aceh dilakukan dengan menambah 12 unit payung elektrik ukuran 24x24 meter bergaya ala Masjid Nabawi, basement areal parkir bawah tanah dengan luas 8.600 m2.dan juga dibangun tempat wudhu dan toilet ramah difabel. Serta pada sekeliling masjid ditanam 32 pohon kurma yang menyerupai Masjid Rasul di Madinah.

Pembugaran masjid raya Baiturrahman ini sangat bardampak baik bagi lingkungan, sosial maupun budaya bagi masarakan banda aceh dan sekitarnya.

Jika kita lihat dari segi lingkungan, jelas bahwa pembugaran masjid Baiturrahman membarikan dampak positif dan berfungsi sebagaimana mestinya. Dengan adanya penambahan payung tersebut, dapat menambah daya tampung jama'ah yang semula 9 ribu orang di dalam masjid, menjadi 24.400 jamaah di dalam di luar masjid. Bukan hanya itu, Area parkir yang di buat seluas 8.600 m2 ini dapat menampung 254 unit mobil dan 347 sepeda motor. Hal tersebut mendukung dan memungkinkan masjid Baiturrahman menjadi tempat beribadah yang aman dan nyaman. Banyaknya pemberian nilai positif terhadap pembugaran majid tersebut, telah menjawab kritikan kertikan atau komentar sebelumnya.

“saya sangat senang dengan masjid baiturrahman yang sekarang. Kelihatan semakin indah, pengunjung semakin banyak, dan area parkir yang memberikan kenyamanan hingga tidak perlu khawatir lagi dengan kehilangan sepeda motor saat beribadah atau sekedar berkunjung menghilangkan suntuk di sini” (ujar heri anto seorang warga Aceh Besar).

Bukan hanya sekedar memberikan lingkungan yang positif di pekarang masjid saja, tapi juga memberikan kesan dan dampak positif bagi para warga yang berjualan di sekitar pasar Aceh yang berada didekat masjid tersebut. Banyaknya para pengunjung yang datang lebih 1000 orang perharinya baik untuk beribadah maupun sekedar melihat keindahan masjid membuat dagangan mereka semakin lancar.

Ibu Nur Hayati seorang pedagang minuman cendol yang sudah 9 tahun berjualan dekat pekarangan masjid Raya sebelum dan sesudah pembugaran  masjid Raya tersebut mengatakan daganganya semakin laris dan lancar setelah pembugaran masjid raya tersebut. Sebelumnya ia hanya menjual satu toples saja perharinya, namun setelah berjualan kembali di tahun 2013 lalu, ia selalu menjual habis empat toples masing-masing bahan cendolnya.

“Alhamdulillah semakin tahun penghasilan kami semakin meningkat dan melipat sejak pembaharuan masjid ini. Banyak pengunjung yang singgah utuk membeli cendera mata baik dari pengunjung lokal maupun wisatawan mancanegara” pengakuan Makhwan pedangang baju di pasar Aceh.

Bukan haya dari segi linngkungan yang terbukti semakin membaik  dari dampak pembangunan masjid Raya Baiturrahman. Dampak sosial dan budaya juga terlihat jelas semakin membaik dari beralihnya minat para masyarakat dan wisatawan yang sebelumnya mencari pantai dan tempat maksiat sebagai tempat berlibur atau sekedar menghilangkan penat kini beralih ke masjid. “Rasanya sah ke Banda Aceh jika belum mengabadikan poto di masjid Raya’’ itulah kata yang sering diucapkan para pengunjung masjid yang mulia tersebut.

Oleh: Agusri

Darul Aitami Aceh Selatan Adakan Buka Puasa Bersama Alumni


Bulan puasa bukan saja momen untuk menjalankan ibadah puasa demi menggandeng pahala. Akan tetapi ada hal lain yang juga dapat dilakukan di bulan puasa, bulan puasa juga bisa dijadikan moment untuk berkumpul bersama keluarga, teman atau sahabat, maupun sebuah organisasi.
Seperti yang dilakukan oleh IKASDA (Ikatan Alumni Santri Darul Aitami). IKASDA memang mengadakan acara buka puasa bersama seluruh alumni tiap tahunnya. Kali ini acara kebersamaan tersebut diadakan pada Senin 11 Juni 2018, tentunya di Ma’had Darul Aitami.


“Silaturrahmi Religius Wujudkan Keakraban yang Agamis”

Itulah tema yang diusung pada moment buka puasa kali ini. Semoga dengan adanya acara kebersamaan ini seluruh alumni semakin kompak dan serius mewujudkan IKASDA yang lebih terorganisasi untuk membangun relasi terutama dengan sesama alumni santri Darul Aitami dan juga dengan alumni santri pesantrenlainnya di masa mendatang.

Kenapa Kita Harus Jadi Orang Kreatif?


 “Imajinasi jauh lebih penting daripada pengetahuan”

Itulah pernyataan yang pernah dilontarkan Albert Einstein!

Tidak peduli apakah kreativitas itu diimplementasikan pada pertanian, perkebunan, teknik memasak, atau sastra. Kreativitas bahkan tidak perlu membatasi defenitifnya sendiri.

Semangat luar biasa ini rupanya mampu “menyinari” beberapa bagian tertentu di dalam otak yang cenderung untuk terus “terlelap”.

Target : memasukkan sesuatu yang baik dan berguna ke dalam kawasan yang disesaki oleh berbagai hal buruk.

Jika ada suatu wilayah yang tidak dapat dijangkau oleh penuaan maka zona itu adalah “kreativitas”.

Apakah Anda tidak percaya?

Kalau begitu, coba sekarang simak baik-baik uraian berikut ini!

Michael Angelo merancang kubah gereja St. Peter di Roma ketika usianya telah menginjak 68 tahun; Ferdi baru menulis “Falstaff” ketika usianya sedikit lebih muda, yaitu 80 tahu!

Contoh-contoh yang menunjukkan bahwa usia sama sekali tidak memengaruhi kreativitas berkesenian sangat banyak dan tidak terhitung. Meskipun demikian, seseorang tentu tidak perlu harus menjadi seniman terlebih dahulu untuk bisa menemukan sesuatu yang luar biasa.

Sangat mungkin bagi kita untuk berkreasi dalam begitu banyak bidang; mulai dari seni merangkai bunga ala jepang hingga seni border kain.

Contonhya, di Prancis Ikatan Pengembang Kebudayaan yang berkedudukan di Kota Paris telah merekomendasikan 400 workshop di 58 pusat kebudayaan. Kegiatan tersebut dijadikan sarana berbagai kegiatan dan keterampilan : melukis, membuat miniatur benda-benda dengan kayu, membuat sampul aristik untuk buku, seni peran, modeling, dan lainnya.

Banyak orang lanjut usia yang ikut mendaftar dalam kegiatan ini dengan tujuan “mengetahui apakah aktivitas tersebut bermanfaat atau menyenangkan”. Setelah merasakan faedahnya, ternyata mereka enggan mengganti kesibukan mingguan baru ini dengan acara lain.

Kreativitas Membuat Seseorang Semakin Peka

Apakah Anda tidak dapat menemukan manfaat dari kreativitas?

Jika kreativitas tidak berarti apa-apa bagi Anda, Anda pasti merasa kesulitan untuk memahami kesenangan sebagian orang terhadap kegiatan ini.

Walau bagaimanapun, otak Anda pasti menyukai aktivitas seperti itu, apalagi kreativitas jelas dapat membangun banyak hubungan, kehidupan sosial, bahkan kecerdasan berpikir.

Kita dapat menambahkan beberapa kegiatan yang dapat mempertajam kepekaan perasaan kita ke dalam daftar hal-hal positif. Berkesenian, misalnya, dapat memberi nutrisi kepada ketelitian dalam bekerja, kewaspadaan, pikiran kritis, dan mengembangkan imajinasi serta intuisi. Bahkan, penurunan kemampuan fisik sama sekali tidak berpengaruh terhadap aktivitas seperti ini. Bukankah gangguan penglihatan yang diderita oleh pelukis masyhur Claude Monet justru membuat kita dapat mengukur efek dari lukisan Nympheas yang luar biasa itu?

Apakah karena ilham telah turun kepada pelukis Goya di akhir hayatnya? Sehingga dia mampu mempersembahkan gambar pertarungan antara dua ekor benteng yang dia lukis di atas lempengan batu padahal saat itu ia sudah tidak mampu lagi meraut sendiri pena milikinya?

Jika Anda sama sekali tidak memiliki kemampuan apa pun, Anda sama sekali tidak memiliki keinginan untuk mendayagunakan kemampuan Anda maka pada kondisi seperi itu, segeralah memerhatikan apa yang telah dibuat oleh orang lain. Cobalah melewati batas enam detik untuk belajar “membaca” sebuah karya seni. Beridirlah di depan selembar lukisan, misalnya, kemudian telitilah lukisan itu dengan secermat-cermatnya. Misalnya dengan memerhatikan gambar orang, pernak-pernik, warna, dan sebagainya. Lalu renungkan perasaan dan sensasi yang Anda rasakan akibat pengaruh lukisan yang Anda lihat.

Sesudah itu, berusahalah untuk berimajinasi tentang kelanjutan isi lukisan yang sedang Anda lihat itu, bahkan walaupun imajinasi Anda itu sangat jauh dari kenyataan sejarah. Jadikanlah lukisan yang sedang Anda lihat itu sebagai elemen, yang membantu Anda berimajinasi.

Cara seperti ini juga dapat diterapkan pada ukiran, lagu-lagu opera, dan karya seni lainnya. Anda pasti merasakan bahwa hal seperti ini sangat menyenangkan, bahkan terasa luar biasa!

Dampak Pembangunan Jembatan Lamnyong Terhadap Sosial Budaya


Kegiatan pembangunan adalah upaya manusia mengaplikasikan ilmu dan teknologi untuk meningkatkan taraf kehidupannya baik itu bermanfaat untuk diri sendri ataupun khalayak banyak.

Di aceh, kegiatan pembangunan sedang masif digalakkan. Pada tahun 2015, pemerintah kota Banda Aceh memulai proyek strategisnya, yaitu membangun 3 jembatan yang menjadi vital bagi lalu lintas di Aceh. Salah satunya adalah pembangunan jembatan lamnyong.

Berdasarkan dari liputan kanalaceh.com, pembangunan jembatan lamnyong Banda Aceh berawal dari obrolan Gubernur Aceh, Zaini Abdullah dengan Rektor Unsyiah beserta Rektor UIN Ar-Raniry terkait adanya keluhan serta aspirasi mahasiswa dan masyarakat di lingkungan Darussalam. Sehingga pada tahun 2015 bersumber dari dana APBA 2015-2016 pembangunan jembatan lamnyong pun dimulai.

Jembatan lamnyong merupakan jalan penghubung antara gampong lamnyong dengan kopelma Darussalam. Yang merupakan jalur transportasi para pelajar, mahasiswa, dan pengajar, karena kopelma Darussalam merupakan zona wilayah pendidikan yang dikususkan oleh pemerintah Aceh. Di dalam kawasan ini terdapat 3 perguruan tinggi yang menjadi kiblat para siswa untuk melanjutkan studinya, dilengkapi juga dengan beberapa sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah ke atas.

Pemerintah Aceh berencana membangun jembatan lamnyong menjadi dua jalur, dilanjutkan dengan pembangunan flyover (jembatan layang) ke arah Kopelma Darussalam, dan pembangunan under pass dari arah Gampong Rukoh menuju arah Gampong Limpo.

Diharapkan dengan pembangunan jembatan lamnyong ini  kemacetan lalu lintas yang kerap terjadi di kawasan ini, akan terminimalisir. Dan pada tahun 2017, harapan itu dikabulkan, dengan adanya dua jalur yang lebih luas, lalu lintas transportasi di jembatan lamnyong berjalan efektif. Kemacetan yang menjadi momok besar bagi mahasiswa dan dosen, kini dapat teratasi.

Dikutip di pikiranmerdeka.com, Seorang intelektual muda dan juga seorang pengajar di UIN Ar-Raniry, Affan Ramli mengemukakan bahwa konsep madani erat kaitannya dengan perwujudan nilai-nilai adat dalam pembangunan tata ruang kota, pembangunan sekarang sering kali melupakan adat dan budaya di dalam pembangunannya. Dengan kata lain, Affan Ramli mengatakan pembangunan tata ruang kota di Aceh sedikit memperhatikan lingkungan sosial dan budaya yang kita milik. Sehingga masyarakat akan terbawa ke dalam arus globalisasi yang akan menyebabkan terkikisnya adat budaya asli mereka, dan terbentuknya budaya luar di dalam pemikiran yang akan disalurkan ke perbuatan.

Di dalam masyarakat Aceh sekarang, terjadi kesalahpahaman makna tentang konsep budaya dan adat Aceh, yang selama ini terlanjur membentuk persepsi masyarakat Aceh.

Salah satunya, adat dan budaya adalah kebiasaan yang hanya layak dijadikan pedoman hidup bagi masyarakat tradisional dan pendalaman, tak relevan lagi bagi masyarakat kota modern. Ini terbukti dengan berkembangnya pola pikir individualis di masyarakat Banda Aceh, bisa kita lihat, orang kaya  bersifat terlalu konsumtif sedangkan orang miskin tercekik dan terabaikan.

Akan lebih bagus jika di trotoar pejalan kaki dan di dinding under pass itu digambar atau dibuat ciri khas keacehan di situ, sehingga mengingatkan masyarakat Aceh yang lalu lalang di jembatan Lamnyong tentang adat-budaya Aceh, supaya dapat membentengi pengaruh budaya luar yang masuk ke pemikiran masyarakat Aceh.

Pembangunan jembatan lamnyong akan memperburuk keadan lingkungan karna emisi gas buangan akan semakin meningkat sebanding dengan meningkatnya arus lalu lintas dikawasan itu, ditambah lagi tidak ada penananaman tumbuhan  yang dapat menyerap emisi gas buangan di dekat jembatan. Tentunya ini akan memperburuk kualitas udara.

Pemerintah harus mempertimbangkan betul-betul aspek lingkungan, karena itu adalah masa depan umur manusia. Solusi tahap awal adalah harus dihilangkannya sikap pandang sebelah mata terhadap pengendara sepeda, baru kemudian dibuat jalur khusus sepeda, sehingga budaya bersepeda tumbuh.

Di dalam pembangunan ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan seperti lingkungan, sosial, dan budaya. Ketiga aspek ini sangat penting karna merupakan inti atau ciri khas dari suatu wilayah.

Akan sangat disayangkan bila ciri khas atau inti ini hilang sedikit demi sedikit diakibatkan pembangunan yang hanya mempertimbangkan sepihak dan pembangunan sebagai pencucian uang saja. Sepatutnya pembangunan yang dilaksanakan harus dipikirkan dan dirancang matang-matang agar kemaslahatan yang tercipta itu bukan tipuan.

Oleh : Saiful Siddiq

Tidak Ada Kata Terlambat Untuk Maju


Semua orang tentu sudah tahu bahwa masing-masing pribadi kita adalah unik. Kita menjadi pribadi yang unik karena latar belakang dan pengalaman hidup yang kita lalui berbeda-beda. Salah satu yang unik dari diri kita adalah bakat.


Setiap orang memiliki bakat sendiri-sendiri. Umumnya, bakat-bakat itu masih terpendam, karena kita jarang menyadari kalau kita sebenarnya berbakat di bidang tertentu. Bakat terpendam ini, jika kita mampu menggalinya, akan membuat kita sendiri terheran-heran. Lebih-lebih setelah memanfaatkan kemampuan yang tersimpan dalam diri kita itu.

Syarat untuk bisa mengembangkan bakat-bakat yang terpendam tersebut adalah adanya hasrat dan tekad untuk terus belajar. Misalnya, ada seorang perempuan yang ketika masih SD dan SMP hampir selalu diabaikan oleh teman-temannya. Sebab, kepribadian perempuan itu dingin dan tidak menarik.

Namun, setelah duduk di bangku SMA, lebih-lebih ketika beranjak ke kelas dua dan kelas tiga, ia tampak begitu dinamis dan menjadi kesayangan teman-temannya. Malah, setelah lulus SMA, beberapa bulan kemudian ada kabar bahwa ia memperoleh beasiswa ke Eropa dengan spesifikasi ilmu mekanika.

Salah seorang familinya mengatakan bahwa ia dapat meraih kemajuan pada hari-hari akhir remajanya adalah karena ia mampu berpikir untuk mengembangkan bakat-bakat yang tersimpan dalam dirinya. Banyak lagi kisah orang yang pada masa kecil dan masa remajanya biasa-biasa saja atau malah diacuhkan oleh teman-teman, ketika dewasa dapat berhasil.

Kesuksesan itu tentunya diraih dengan tekad yang kuat untuk mengembangkan kualitas diri, dan memunculkan bakat-bakat yang terpendam.

Sekali lagi, syarat untuk meraih kejayaan adalah kita harus terus menerus tekun membelajarkan diri tanpa pernah mengenal jenuh. Ada orang sebagai contoh, pada mulanya kurang memiliki rasa percaya diri karena kurang terampil dalam berkomunikasi. Padahal, jika melihat latar belakang orang tua dan familinya, ia bukanlah orang yang bertipe pendiam dan kaku. Maka, ia kemudian mengasah dan menggembleng diri dengan tabah. Pada akhirnya, kekakuan-kekakuannya itu mencair ibarat es disengat terik matahari.

Banyak pula orang yang bertekad utnuk menjadi penceramah dan penyanyi. Tetapi, kekakuan dalam berbahasa adalah kendala utama. Kecuali, orang yang bersangkutan berani melatih diri. Orang yang sering dilanda kegugupan ketika mengekspresikan bahasa lisan disarankan menarik napas dalam-dalam beberapa kali sebelum memulai bicara. Menurut Dale Carnegie, tindakan-tindakan yang tidak boleh dilakukan ketika gugup di hadapan banyak orang adalah memperlihatkan kegelisahan seperti dengan membuka dan menutup kancing baju atau memutar-mutar pergelangan tangan.

Jika memang tak bisa, ada baiknya jika kita meletakkan tangan di belakang badan. Dengan cara demikian, walaupun kita, menggerak-gerakkan jari atau memutar-mutar pergelangan tangan tidak ada orang yang melihat dan tahu bahwa kita sedang diterjang kegugupan.

Modal untuk mengembangkan kemampuan sebagai orator bukanlah keberanian moral, melainkan kecakapan untuk menguasai saraf-saraf. Dengan rajin berlatih, kita akan mampu menguasai saraf dan diri kita sendiri. Kita pun harus tetap tekun dan jangan berhenti di tengah jalan. Jangan sampai istilah “hangat-hangat tahi ayam” menodai kapabelitas kita.

Salah satu kepuasan orang yang memiliki bakat memimpin adalah kemampuannya dalam mengendalikan orang lain, tentu saja dalam hal positif. Salah satu usaha untuk meraih wibawa seorang pemimpin adalah dengan mencoba menjumpai orang-orang yang mau belajar bersama dengan kita.

Saran lain untuk melatih diri dalam hal kepemimpinan adalah dengan cara berlatih di depan kawan-kawan, adik-adik, dan Keluarga sendiri. Namun rasa cemas dan takut dapat menganggu tercapainya hasil yang diharapkan. Perasaan ini timbul karena kebodohan dan keragu-raguan. Juga, disebabkan oleh kurangnya kepercayaan diri.

Keresahan dan ketakutan selalu timbul jika seseorang tidak tahu tindakan yang sesungguhnya harus dilakukan. Jika kita senantiasa berlatih, kegalauan itu perlahan-lahan akan lenyap.

Kita memang akan menjumpai kesulitan pada masa-masa awal berlatih mengembangkan bakat. Sebab, seperti dikatakan oleh orang bijak, bahwa setiap permulaan itu susah dan setiap akhir itu adalah mudah. Maka, seorang calon guru sering-seringlah berlatih berbicara dan seorang calon penulis kerap-keraplah menulis. Seorang orator pemula perlu menyediakan catatan-catatan singkat. Tak perlu malu. Waktu kecil, bukankah untuk berlatih berjalan kita juga perlu memegang meja atau kursi.

Sangatlah bijaksana jika setiap orang senantiasa mau dan mampu menggali dan mengembangkan bakat terpendam demi kemajuan diri dan kemajuan bangsa. Tidak ada kata terlambat untuk memulainya.

Metode Konvensional dalam Mengajar Harus Ditinggalkan


Martabat suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas bangsa itu sendiri. Adapun kualitas suatu bangsa diukur dari tingginya sumber daya manusianya. Para pakar telah sama-sama setuju bahwa jalan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah dengan pendidikan. Dengan demikian, dunia pendidikan memegang peranan yang betul-betul penting.

Memang, pendidikan sungguh vital bagi kemajuan bangsa. Maka sangatlah beralasan jika kemudian Presiden Soeharto mencanangkan program wajib belajar enam tahun ini bertepatan dengan Hardiknas pada 2 Mei 1984. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada Mei 1994, kembali beliau mendengungkan program wajib belajar sembilan tahun.

Hal itu dilakukan demi mempercepat terwujudnya sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas. Untuk menyukseskan wajib belajar Sembilan tahun itu, maka sangat dibutuhkan para pendidik yang betul-betul ahli (profesional) agar dapat mengelola pendidikan secara baik.

Mengingat betapa pentingnya sektor pendidikan demi suksesnya pembangunan sumber daya manusia, berbagai usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan telah sama-sama kita rasakan dan kita lihat. Banyak pula pembaruan demi lebih meningkatnya mutu pendidikan. Di antaranya, mengganti kurikulum yang secara otomatis diikuti dengan berubahnya struktur buku-buku pelajaran. Selain itu, mengupayakan peningkatan kualitas guru-guru dengan cara penataran, seminar-seminar dan latihan kerja. Begitu juga penyediaan sarana dan prasarana bidang pendidikan.

Diterapkannya usaha-usaha tersebut tentu saja menuntut pengorbanan moral dan material. Misalnya, memberikan keringanan kepada guru-guru dengan mengurangi jumlah jam mengajar di sekolah agar dapat mengikuti penataran, baik dalam bentuk sanggar-sanggar meupun MGMP. Namun, segala upaya itu belum lagi menampakkan pencapaian target seperti yang diharapkan.

Bukti tersebut dapat kita ketahui lewat hasil UAN/UN yang tetap rendah tiap tahun. Lebih dari itu, rendahnya nilai-nilai para murid juga dipengaruhi oleh keseharaian mereka sendiri. Kita dapat menyaksikan, baik melalui media massa maupun mengamati langsung, betapa jumlah murid-murid yang malas kian melonjak. Meningkat pula angka kenakalan pelajar.

Barangkali kita patut bertanya : apa yang menyebabkan lambatnya peningkatan kualitas pendidikan? Untuk menemukan jawabannya, kita dapat menilik proses belajar mengajar di sekolah-sekolah. Sistem pengajaran yang diterapkan oleh guru kepada murid baru sampai pada taraf memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan sekadarnya, belum sampai pada meletakkan nilai-nilai wawasan sosial dan kemanusiaan, serta memberikan pengatahuan-pengetahuan praktis untuk bekal hidup dalam bermasyarakat.

Yang lebih menggelikan, hubungan antara guru dan murid ibarat cerek dengan cangkir : yang satu sebatas memberi dan yang lain sekadar menerima.

Yang tak kalah lucu, sistem pengajaran yang diterapkan oleh guru hanya mengulang-ngulang serta sangat minim kreativitas dalam mengembangkan pelajaran dan seni mengajar. Sama-sama kita perhatikan bahwa masih ada saja guru-guru yang menggunakan buku dan catatan yang sama sepanjang tahun. Ada pula guru yang karena kurang menguasai bahan, mengambil langkah mudah, yaitu meringkas isi buku untuk dicatat para siswa. Atau, menghafalkan kata-kata dalam buku agar keesokan harinya dapat didiktekan kepada murid di dalam kelas.

Ilmu guru yang sedemikian bisa dikatakan cuma lebih tua satu malam daripada murid. Inilah kenyataan yang membuat integrasi guru-murid berjalan macet. Guru sibuk berbicara di depan kelas, sedangkan murid asyik melucu atau mengobrol di belakang.

Pengajaran kita pun masih sekadar menyodorkan teori-teori untuk dihafal kemudian akan diuji. Padahal, belajar dengan cara menghafal sungguh mematikan kreativitas otak untuk berpikir. Metode itu juga menunjukkan bahwa guru-guru masih bersetia dengan pengajaran sistem kuno. Sistem komunikasi dalam kelas pun cenderung satu arah dan murid lebih dominan bersikap “yes man” kepada guru.

Mengkritik ataupun beradu argumen dengan guru seolah dipandang tabu. Dalam sebuah dialog ringan dengan murid, ia mengatakan bahwa ia dibelenggu ketakutan. Jika “melawan”, murid tersebut khawatir akan berdampak pada merahnya isi rapor.

Ciri-ciri sistem pengajaran kuno atau konvensional sangat terlihat jelas dalam interaksi guru-murid di sekolah dewasa ini. Di antaranya adalah pendekatan yang masih bersifat otoriter. Guru menganggap bahwa dirinyalah yang paling benar, sehingga mengharuskan setiap murid menerima apa saja yang dikatakannya. Pernah terjadi pada sebuah sekolah, seorang murid yang kritis dan cerdas mencoba memberikan usul atau kirik konstruktif kepada seorang guru.


Namun, apa yang terjadi? Sang guru menjadi merah muka, sebagai bukti bahwa ia tak suka atas usul muridnya. Guru itu tampak kesal dan pada akhir semester dia telah menodai rapor murid dengan angka merah. Sang guru melakukan tindakan memalukan tersebut entah karena merasa dendam karena merasa ilmunya dilampaui oleh sang murid atau semata-mata memang memperturutkan emosi.

Berbicara mengenai metode pendekatan dalam pendidikan, ada tiga bentuk metode, yaitu konvensional, progresif, dan liberal. Sekolah-sekolah kita sudah amat mengenal dan terbiasa dengan metode konvensional. Karena itulah, metode inilah yang kemudian melekat terus bak perangko.

Ciri-ciri kelas yang masih menerapkan metode konvensional adalah jumlah murid yang berjibun, karena lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas. Dalam proses belajar mengajar, siswa bersikap pasif. Mereka menelan mentah-mentah ilmu yang disodorkan tanpa berniat mencernanya terlebih dahulu. Dalam menyerap pelajaran pun seolah-olah guru serba tahu secara mutlak.

Ceramah merupakan cara mengajar yang lazim diterapkan. Murid-murid kurang terlibat secara aktif dalam proses belajar mengajar. Inilah penyebab suasana kelas dan belajar menjadi serba membosankan. Tak heran jika hampir setiap hari ada saja murid yang sengaja membolos. Maka, tidak berlaku lagi kata-kata mutiara yang berbunyi “kelasku adalah istanaku”. Tetapi, yang terjadi adalah “kelasku terasa bagaikan penjara”.

Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, peran guru tidak hanya membantu proses pembelajaran atau sebagai seseorang pengambil keputusan instruksional. Tetapi lebih dari itu, guru harus dapat berperan sebagai konselor, motivator, dan fasilitator bagi murid-murid. Musykil pula seorang guru mampu berpartisipasi secara optimal dalam pendidikan jika ia sendiri belum menampakkan kualitas diri. Untuk itu, kita mengharapkan agar guru-guru bersikap tulus dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Andaikata mereka mengikuti penataran, misalnya, janganlah hanya menerapkan sertifikat untuk menaikkan kredit point.

Apalagi malah bersikap pasif atau sekadar hura-hura.


Agar dapat memainkan peran dengan baik dalam dunia pendidikan, maka guru harus senantiasa membelajarkan diri, autodidaktif. Tidak ada tempat lagi bagi guru untuk selalu berlindung di balik alasan untuk tidak belajar. Sediakanlah waktu setiap hari untuk menyentuh buku-buku yang bermanfaat dan dapat menambah wawasan. Harapannya, kita semua dapat menjadi guru yang berkualitas dan dapat mendidik murid-murid menjadi sumber daya manusia yang bernas pula.

Berikan Hadiah Untuk Mendongkrak Motivasi Belajar Anak


Dalam buku L’etat du Monde Annuaire, Annuaire Economique Mondial, dilaporkan bahwa menjelang tahun 2000 sumber daya manusia Indonesia menduduki posisi 102 di dunia. Sedangkan Negara Vietnam, yang merdeka lebih akhir dibanding Indonesia, bahkan satu digit lebih baik daripada Indonesia, yaitu posisi 101. Kemudian, dalam buku The State of The World Atlas yang ditulis oleh Dan Smith (1999) dipaparkan bahwa sumber daya manusia Indonesia menempati peringkat 88 di dunia. Padahal, sumber daya manusia Turkimenistan yang baru merdeka pada tahun 1991 berada pada posisi 87. Melihat kenyataan tersebut, seharusnya kita malu. Meskipun demikian, kita harus optimis mampu meningkatkannya.


Beberapa upaya yang diterbitkan pemerintah untuk melejitkan SDM Indonesia adalah merevisi kurikulum, mengeluarkan kebijakan baru dalam pendidikan, membentuk undang-undag pendidikan yang lebih merespons perkembangan, dan pro-aktif dengan kemajuan zaman.

Semua elemen pendidikan di negera kita, mulai tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi, harus bertanggung jawab untuk menuntaskan dan memperbaiki kualitas SDM bangsa. Sebagai implementasi dan kebijakan untuk meningkatkan mutu, dibentuklah berbagai program peningkatan kualitas guru, sekolah, bahan ajar, dan lain-lain.

Kualitas SDM pun tak luput dari mutu para pelajar. Kualitas peserta didik tidak hanya ditentukan oleh eksistensi sekolah atau kampus. Sebab, lebih dari separo waktu mereka dihabiskan di rumah bersama orang tua. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas SDM mereka juga ditentukan oleh peran Keluarga, terutama orang tua, dalam memberikan perhatian dan membangkitkan motivasi belajar mereka.

Pada umumnya, sekolah favorit, seperti sekolah yang berlabel unggul, akselerasi, plus, dan percontohan, menjadi sekolah berkualitas karena di sekolah itu berkumpul anak-anak yang bernas. Mereka para peserta didik, memiliki motivasi belajar yang tinggi. Lebih dari itu, kualitas mereka tidak hanya dipengaruhi oleh faktor sekolah, tetapi juga rumah.

Mereka berasal dari Keluarga dengan orang tua, kondisi, dan lingkungan yang selalu mendukung terciptanya suasana belajar yang kondusif, sehingga mereka memiliki motivasi belajar yang tinggi. Sementara itu, di sekolah-sekolah yang tidak berlabel favorit, dengan kualitas amburadul, berkumpul siswa-siswa yang sama miskin spirit belajar. Rendahnya motivasi belajar mereka disebabkan oleh faktor keluarga, dengan orang tua, kondisi, dan lingkungan yang tidak pernah memedulikan belajar.

Bila SDM Indonesia di dunia berada pada posisi bontot, dapat dikatakan bahwa jutaan orang tua yang belum berbuat banyak dalam meningkatkan motivasi belajar anak. Tidak perlu saling tuding dan menyalahkan. Lebih baik mencari solusinya. Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk merangsang minat anak dalam belajar.

Misalnya memberikan penghargaan, pujian, dan hadiah. Jangan pernah melontarkan kata-kata yang dapat menurunkan semangat mereka. Respons positif dan memberikan penghargaan tentu akan menambah motivasi belajar anak. Orang tuan yang sudah terbiasa dengan mengahargai anak atas prestasi belajar dan bekerja mereka akan mampu melahirkan generasi yang memiliki harga diri dan motivasi belajar yang tinggi.

Karakter orang tua dan lingkungan yang berpotensi menghancurkan motivasi belajar anak adalah seperti kurang peduli dalam memenuhi fasilitas belajar mereka, terlalu kaku, keras, dan kasar dalam berkata-kata. Karakter yang lain adalah suka memaksakan kehendak kepada anak, terlalu berharap banyak, dan serba melarang serta memerintah.

Perilaku atau karakter orang tua yang sedemikian membuat anak akan merasa tertekan. Selain itu, anak belajar dalam kondisi tidak nyaman, dengan hati yang memendam kedongkolan.

Ada strategi lain yang biasa diterapkan oleh guru dan orang tua untuk memotivasi belajar anak, namun harus ditekankan bahwa cara ini keliru, yaitu mengondisikan anak saling bersaing untuk meraih nilai yang terbaik. Dapat dikatakan bahwa metode tersebut sama saja mengadu anak atau siswa. Parahnya, persaingan tersebut dapat menimbulkan pertentangan.

Kompetisi atau persaingan antara mereka berpotensi untuk memupuk amarah, iri hati, cemburu, dan perasaan ingin mengalahkan yang lain. Pada akhirnya, mengalahkan orang lain lebih penting daripada belajar dengan tekun dan sebaik-baiknya. Sebab, mereka tidak rela jika dikalahkan, sehingga memicu ambisi untuk mengalahkan orang lain. Karena itulah, anak akan menghalalkan segala cara demi meraih nilai paling tinggi.

Memotivasi anak untuk belajar dengan cara berkompetisi hanya merangsang siswa-siswa yang pandai. Namun, strategi itu akan menimbulkan sifat egois atau lebih mementingkan diri sendiri. Siswa yang pandai tidak mau membantu teman-teman mereka yang berkemampuan sedang dan kurang. Oleh karena itu, kompetisi ini akan menghilangkan atau paling tidak menghalangi berkembangnya interaksi sosial dalam diri siswa atau anak. Selain itu, berpengaruh buruk terhadap perkembangan pribadi peserta didik : mereka jadi sombong dan dengki.

Cara lain yang lebih efektif untuk meningkatkan motivasi belajar anak adalah dengan memberikan hadiah dan hukuman. Pemberian hadiah sebagai cara untuk memotivasi siswa dapat menjadi penguat tingkah laku. Anak-anak yang telah belajar dengan baik diberi hadiah oleh guru atau orang tua. Hadiah atau penghargaan tersebut bisa bersifat verbal maupun material.

Hadiah dalam bentuk verbal lebih baik daripada berupa benda atau angka. Namun, bagi orang tua yang bisa menyajikan sedikit uang, tidak ada masalah jika sesekali memberi anak-anak hadiah berupa materi atas prestasi mereka.

Hukuman sebagai alat untuk memotivasi belajar siswa lebih banyak memberikan pengaruh psikologis yang negatif dibandingkan motivasi yang ditimbulkannya. Sebab, hukuman dapat menimbulkan kecemasan, gangguan emosi, dan perasaan bersalah di dalam diri mereka. Mereka pun dibayangi oleh ketakutan. Meskipun hukuman tetap bisa meningkatkan motivasi belajar siswa, sayangnya, jika hukuman ditiadakan lagi, mereka akan berhenti belajar.

Menghukum, mengancam, dan mencela adalah ciri-ciri guru dan orang tua yang otoriter. Akibat buruk yang ditimbulkan adalah anak/siswa menjadi apatis, kehilangan minat belajar, mengerjakan kegiatan sesuai dengan yang diperintahkan, kurang memiliki inisiatif, kemandirian dalam belajar rendah, dan rasa percaya diri mereka tidak berkembang. Selanjutnya, sikap otoriter yang diterapkan oleh guru dan orang tua berpotensi mematikan kreativitas dan daya spontanitas anak, sehingga mereka tidak mampu mengambil keputusan.

Anak yang dibesarkan dalam suasana otoriter akan tumbuh menjadi orang yang agresif, berkarakter kasar, kurang ramah, dan kurang mampu bertegur sapa. Karena itulah, kini kita harus mempunyai paradigma baru dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan anak dan siswa. Jangan kita biarkan mereka tumbuh menjadi pribadi yang berkualitas hampa.

Menumbuhkembangkan motivasi belajar mereka adalah tugas kita sebagai guru atau orang tua. Sudah sepantasnya kita membuang sikap yang banyak mencela, mengancam, dan menerapkan karakter otoriter. Memberi mereka penghargaan atas karya dan prestasi kerja/belajar mereka merupakan salah satu cara yang tepat. Dengan cara ini, motivasi belajar mereka akan tetap tumbuh dan terpelihara.

Menumbuhkan Kemandirian Belajar


Kita tidak perlu merasa terkejut jika mendengar pengakuan seorang mahasiswa yang baru saja masuk kuliah pada perguruan tinggi negeri atau swasta, namun masih merasa ragu-ragu untuk menuntut ilmu. Cukup banyak contoh seperti itu di sekitar kita.

Kemandirian belajar agaknya belum dimiliki oleh banyak pelajar. Ada guru yang mengatakan bahwa pelajar sekarang banyak yang bersifat seperti paku. Mereka baru bergerak setelah dipukul dengan palu. Sebagian besar dari mereka juga pasif. Dalam membaca buku-buku pelajaran saja misalnya, jika tidak disuruh atau diperintah oleh guru, buku-buku tersebut akan tetap tidak tersentuh dan akan selalu baru karena tidak pernah dibaca.

Cukup banyak penulis yang hanya membebankan kegagalan pendidikan atau ketidakmandirian siswa dalam belajar kepada pundak sekolah. Mereka lupa melihat kondisi lingkungan rumah para siswa. Sebab, lingkungan rumah cukup dominan dalam menentukan kemandirian belajar. Faktor tingkat pendidikan orang tua yang cukup rendah dan sikap suka menyerahkan urusan pendidikan anak kepada sekolah semata merupakan dua dari sekian banyak penyebabnya.

Kealpaan orang tua dalam mendidik anak untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya telah menjadikan anak terbiasa berkeliaran tak menentu dan hidup tidak teratur sejak bangun tidur sampai kembali memejamkan mata.

Pelajar-pelajar yang gemar membolos pada jam pelajaran merupakan produk rumah, orang tua yang tidak mau tahu terhadap masalah pendidikan anak-anak mereka. Gambaran sekolah sekarang bukan lagi arena menuntut ilmu, dengan pelajar yang asyik menekuni aneka buku ilmu pengetahuan. Tetapi, citra sekolah sekarang adalah tempat berhuru-hara bersama kawan-kawan. Dari tiga aspek, yaitu kognitif, psikomotorik, dan efektif, yang dikembangkan dari diri pelajar melalui proses belajar mengajar dan kegiatan ekstrakurikuler, terlihat kurang berimbang. Dalam kegiatan ekstrakurikuler saja, kegiatan pengembangan efektif atau pembinaan sikap masih kurang, karena wadah-wadah penyaluran tidak ada. Sementara itu, sekolah lebih memerhatikan pengembangan aspek kognitif dan psikomotorik, yaitu berupa pemberian ilmu pengetahuan dan pelaksanaan latihan keterampilan serta olahraga.

Kerap kali, siswa telah belajar di tingkat SMA sekalipun, dalam mengambil asas manfaat, masih seperti anak kecil. Mereka sering bertanya kepada bapak dan ibu guru ketika proses belajar mengajar sedang berlangsung, tentang pelajaran yang ditulis pada papan tulis apakah untuk disalin di buku atau tidak. Padahal jika mereka memang merasa hal itu dibutuhkan, seharusnya mereka akan menyalinnya. Begitu pula dalam mengomentari keberadaan buku-buku pelajaran mereka yang jarang mereka sentuh. Mereka menjawab bahwa bila guru tidak menyuruh untuk mengerjakan tugas-tugas rumah atau untuk membacanya, buat apa buku-buku itu dibaca? Jika begitu, konsep belajar mereka adalah baru berbuat setelah mendapat perintah.

Cara belajar yang belum menunjukkan kemandirian dari kebanyakan para pelajar tersebut akan membawa pengaruh pada jenjang berikutnya. Andaikata mereka melanjutkan studi ke perguruan tinggi, mereka sering salah memilih jurusan, sehingga memendam rasa sesal kemudian. Sering mereka hanya mengambil jurusan hanya sekadar mode dan tidak mengukur kemampuan diri. Atau, mereka memilih jurusan karena adanya pengaruh atau setengah paksaan yang datang dari berbagai pihak. Bertambah membengkaklah angka drop out mahasiswa di perguruan tinggi.

Lebih dari itu, seandainya mereka tidak begitu mujur untuk malanjutkan studi ke perguruan tinggi, tentu akan menambah angka pengangguran yang telah gemuk juga. Pada akhirnya, mereka sering menjadi parasit dalam tubuh sosial masyarakat. Pergi merantau untuk mengayakan pengalaman hidup dan mengadu untung pun tak akan berani. Sebab, mereka akan menjadi beban bagi mertua mereka masing-masing. Kecuali jika mereka berani mengambil keputusan dan melakukan perubahan sikap untuk hidup secara total.

Sampai saat ini, banyak kritik tentang proses belajar mengajar di sekolah yang lebih cenderung bersifat instruction (mengajar) daripada sekolah yang bersifat education (mendidik). Bisa jadi, penyebabnya adalah guru hanya menguasai ilmu sebatas bidang studi mereka semata, itu pun tidak begitu mendalam. Di samping itu, pengabdian guru belum sepenuhnya tulus. Maksudnya, adakalanya pengabdian guru bersifat pamrih atau berdasarkan nilai ekonomis. Dengan kata lain, mereka baru sudi untuk berbuat jika ada imbalannya.

Ketidakmandirian pelajar, guru-guru, dan siapa saja dalam proses pematangan diri merupakan batu sandungan untuk mencapai kemantapan sumber daya manusia. Akan percuma kata-kata sumber daya manusia yang berkualitas tetap diserukan oleh pemerintah melalui berbagai media masa jika setiap individu tidak melakukan usaha sendiri dalam belajar demi menambah ilmu pengetahuan dan keterampilan-keterampilan lain.

Tidak ada kata tidak, kemandirian dalam belajar perlu ditingkatkan. Maka diperlukan introspeksi diri yang ditinjaklanjuti dengan perbuatan nyata, bukan hanya melakukan introspeksi kemudian berteori. Sebab, teori tanpa tindakan atau aplikasi akan tetap sia-sia hasilnya.

Kita boleh sedikit merasa lega, karena kini ads taman kanak-kanak yang telah mendorong anak didiknya untuk melakukan kemandirian dalam belajar. Dulu, TK lebih berfokus pada kegiatan menyanyi dan menari untuk kemudian dilupakan. Namun, TK masa kini telah memiliki kurikulum yang lebih dewasa dan tidak lagi hanya sekadar teori.

Kita patut merasa salut melihat dengan telah adanya sekolah yang mewajibkan peserta didiknya untuk berlangganan majalah dan berpesan kepada orang tuan di rumah untuk ikut serta membimbing anak. Usaha-usaha positif dan lebih serius sungguh kita harapkan untuk tingkat sekolah-sekolah yang lebih tinggi. Di samping menyediakan fasilitas balajar bagi anak-anak, juga ikut mengontrol pemanfaatan waktu yang baik. Kemandirian dalam belajar perlu ditingkatkan demi menyonsong masa depan.

Kalau Ingin Kaya Jadilah Pengusaha, Bukan PNS !


Menjadi Pegawai Negeri Sipil atau PNS seakan sudah menjadi dambaan dan cita-cita besar bagi setiap orang. Dalam kaca mata masyarakat, menjadi seorang PNS sangat dihormati karena memiliki jaminan untuk kehidupan yang layak. Seperti kata orang "Pegawai itu enak, kerja nggak kerja gaji tetap ada".

Sebetulnya apa hebatnya sih menjadi seorang PNS? Sehingga ada orang tua memaksa anaknya untuk kuliah tinggi-tinggi mendapat gelar sarjana dan nantinya bisa mendaftar jadi PNS. Jika kita lihat dari segi gaji menurut saya gaji PNS tidak tinggi-tinggi amat. Mungkin alasan kuat orang-oran memilih jadi PNS adalah gaji pensiun di hari tua. Ketika sudah tua PNS memang mendapatkan hak gaji pensiun. Dan menurut saya itu juga tidak begitu menggiurkan.

Setelah saya berbincang-bincang dengan beberapa teman saya yang mendaftar PNS ternyata terdapat alasan yang bervariasi di anatara meraka. Ada yang mengatakan bahwa ia dipaksa oleh orang tuanya untuk mendaftarlan diri, ada yang karena tergiur dengan fasilitas PNS yaitu seperti SK. Dengan adanya SK katanya bisa ambil kredit, selain itu PNS juga banyak tunjangan dan bonus.

Jika kita baca di koran-koran atau media berita, terkadang berita seputar PNS ini terbilang lucu. Kenapa saya katakan lucu? Karena ibara semut memperebutkan sebutir gula. Seolah tidak ada pekerjaan lain di dunia ini yang lebih menjamin selain PNS. Menjadi Seniman, Penulis, atau menjadi pengusaha padahal lebih menggiurkan.

Setelah saya berbincang-bincang dengan beberapa teman saya yang mendaftar PNS ternyata terdapat alasan yang bervariasi di anatara meraka. Ada yang mengatakan bahwa ia dipaksa oleh orang tuanya untuk mendaftarlan diri, ada yang karena tergiur dengan fasilitas PNS yaitu seperti SK. Dengan adanya SK katanya bisa ambil kredit, selain itu PNS juga banyak tunjangan dan bonus. Dan bisa cepat kaya.

Menurut pendapat saya menjadi PNS hanya mengikat diri. Kalau ingin menjadi kaya bukan PNS caranya. Jadilah pengusaha. Mengapa jadi pengusaha? Karena dengan menjadi pengusaha kita bisa mengatur sendiri keuangan, minggu ini mau berpenghasilan berapa kita yang ngatur. Kalau jadi PNS cuma nunggu-nunggu gaji doang. Hingga kebosanan nunggu gaji akhirnya ambil kredit di bank.

4 Kiat Agar Tidak Menjadi Sarjana Pengangguran


Mendengar kata sarjana kita mungkin membayangkan seorang yang telah sukses dengan meraih gelar di jenjang perguruan tinggi. Dan kita berpikir bahwa sarjana adalah orang yang memiliki kehidupan berkelayakan dan mapan. Belum tentu. Jika kita melihat jumlah lulusan sarjana tiap periodenya di Indonesia, ada ribuan sarjana yang diluluskan di tiap periodenya. Jika kita bandingkan degan lowongan kerja yang ada di Indonesia sendiri, sungguh memiliki perbedaan yang sangat jauh. Akibatnya hadirlah sebuah sebutan yaitu Pengangguran terdidik atau sarjana pengangguran karena tidak mendapat pekerjaan sesudah kuliah. Ada yang bahkan serta merta menyalahkan pemerintah karena kecil lowongan kerja yang ada di lingkungan masing-masing. Sebenarnya apa sih tujuan kuliah? Apakah untuk mendapat gelar dan mencari kerja semata? Menurut saya kuliah bukan terpaku pada mencari pekerjaan saja. Jika itu menjadi tujuan kuliah, sungguh sangat disayangkan. Seharusnya lulusan-lulusan yang sudah sarjana, menutup atau mengurangi angka pengangguran yang melonjak dengan menciptakan lapangan kerja baru menurut kreatifitas masing-masing.

Artikel ini sengaja saya tulis yang sebenarnya untuk saya sendiri dan juga agar bermanfaat bagi orang lain. Supaya nantinya setelah kuliah tahu mesti ngapain dan tidak menjadi pengangguran. Saya akan membahas bagaimana agar tidak menganggur sesudah kuliah. Berbicara tentang mencari pekerjaan, sebenarnya tidak begitu erat kaitannya dengan titel sarjana. Karena buktinya mereka yang di luar sana yang bahkan tidak memiliki titel tersebut mampu mempekerjakan orang lain. Itu semua tergantung persepsi dan cara masing-masing selama menempuh perkuliahan. Beberapa waktu lalu saya sudah pernah menuliskan artikel tentang penyebab terjadinya pengangguran di kalangan sarjana. Untuk menindak lanjuti artikel tersebut maka saya berinisiatif menulis solusinya. Lalu bagaimana caranya agar tidak menjadi sarjana pengangguran? Berikut kiat-kiatnya.


Sebenarnya ini hanya teori yang sudah dipraktekkan orang-orang sukses, terkait teknik mereka dalam lingkungannya. Saya sendiri tidak menjamin jika sobat mempraktekkan kiat-kiat ini nanti sobat akan jauh dari kata nganggur sesudah kuliah. Semua itu kembali pada diri sendiri dan tujuan kuliah. Baiklah langsung saja kita masuk ke topik inti.

1. Menjalin Relasi Pertemanan
Di dunia perkuliahan atau di kampus, kita tentunya memiliki banyak kenalan baru atau teman baru yang berasal dari berbagai daerah yang berbeda. Apa lagi jika kita mengikuti organisasi baik itu di dalam maupun di luar kampus, tentu angka pertemanan kita akan meningkat. Lalu apa hubungannya hal tersebut dengan agar tidak menjadi sarjana pengangguran? Tentu saja ada kaitannya. Jika kita menjalin hubungan atau komunikasi yang baik di antara teman-teman tersebut, mana tau salah satu dari mereka punya saudara atau link untuk menuju sebuah pekerjaan. Tentulah dia akan memilih kita karena dia percaya kita selaku teman.

2. Rutin Mencari Informasi
Hal yang pasti ada pada setiap kita adalah malas membaca. Nah untuk itu sobat tidak boleh malas membaca selama kuliah dan seterusnya. Bacalah info-info penting yang ada di media cetak berupa koran, majalah, brosur dan maupun media eletronik seperti media sosial facebook, twitter, istagram dan lain sebagainya. Semakin kita sering membaca maka semakin kita banyak mendapat informasi. Mana tau dalam bacaan-bacaan tersebut kita mendapat peluang lebih dulu. Atau kita tau persiapan apa yang harus disiapkan.

3. Berpikir dan Bertindak Kreatif
Kreatif sudah mesti ada pada setiap orang, karena tanpa adanya kekreatifan segala sesuatu pasti akan terlihat monoton dan membosankan. Jadi, sobat haruslah kreatif, jangan saja memikirkan harus kerja kemana sesudah kuliah, tetapi pikrikan apa yang dapat diciptakan sesudah kuliah, pekerjaan apa yang mampu mendorong ekonomi. Tetapi bukan hanya berpikir tanpa melakukannya. Dan untuk mendapat ide-ide tersebut pastilah dari cara yang ke dua tadi yaitu membaca.

4. Meningkatkan Potensi Diri
Setiap kita dilahirkan dengan kekurangan, kelebihan dan keunikan masing-masing. Namun kebanyakan orang gagal adalah sejatinya mereka yang tidak mengenal diri sendiri. untuk itu sobat mesti mengenal diri sendiri, mengenal potensi diri. Apa yang bisa dilakukan, kemampuan apa yang dapat diandalkan. Jika kita sudah tahu potensi diri maka teruslah meningkatkan potensi tersebut. Karena seperti yang pernah saya sebutkan sebelumnya, salah satu penyebab pengangguran adalah kurang atau tidak adanya potensi sehingga tidak mendapat pekerjaan. Jika kita memang punya potensi dan kemampuan khusus, tidak mustahil pekerjaan itu sendiri yang menghampiri.

Nah, itulah 4 kiat agar tidak menjadi sarjana pengangguran. Sebenarnya masih banyak lagi cara yang lain yang tidak mesti saya sebutkan karena saya yakin sobat sendiri pasti menemukannya. Semoga artikel ini bermanfaat.