Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Hots dalam Perspektif Minangkabau


Mengapa siswa kelas 6 (Enam)  Sekolah Dasar di Batam pindah sekolah ke Singapura hanya bisa diterima duduk di bangku kelas 4 (empat) Sekolah Dasar di Singapura? ada apa dengan kualitas pendidikan kita hari ini?

Potret pendidikan diatas menjadi bahan diskusi penulis dan  peserta lainnya guru dan kepala sekolah  se Kabupaten Kepulauan Mentawai yang di pandu (Narasumber) widyaiswara LPMP Sumbar pada kegiatan Diklat Penguatan Implementasi Kurikulum 2013 tanggal 20 sampai 24 Februari 2019. di Hotel Jakarta Padang, Sumatera Barat.

Maju atau mundurnya kualitas pendidikan pada suatu negara di pengaruhi oleh banyak factor. Selain factor fasilitas, pembiayan, kualitas guru. System pembelajaran menjadi factor kunci memengaruhi kualitas pendidikan.

Meminjam pepatah minangkabau, (“ambiak contoh ka yang sudah, ambiak tuah ka nan manang “)  mengambil contoh kepada yang sudah- sudah, belajar kepada yang menang. Dimana letaknya akar masalah dari tertinggalnya kualitas pendidikan kita dibandingkan Singapura ? Apa keunggulan Sistem Pendidikan Singapura? Belajar dan mencari tahu apa keunggulan orang dan mengintropeksi dimana kekurangan kita adalah upaya sadar mengejar ketertinggalan.

Satu keunggulan yang menonjol, diantara pelbagai keunggulan lainnya  dari system pendidikan di Singapura adalah pembelajaran dengan membiasakan  siswanya belajar dengan berpikir Tingkat Tinggi (Hots) membudayakan pembelajaran dengan berpikir tingkat tinggi yang diakhir pembelajaran melakukan ujian dengan Soal Hots berpikir tingkat tingi . keunggulan ini mampu menunjukan kulaitas pendidikan  Singapura menjadi terbaik di Asean saat ini.

Memahami kompetensi inti kurikulum 2013 dengan mudah ala minangkabau dapat diumpamakan dengan (“seorang anak yang rajin ka surau, perangai elok, utak santiang, pandai bakarajo”)   inilah gambaran generasi, produk dari pendidikan yang diharapkan. Titik tekan  revisi kurikulum 2013 yang terbaru adalah pembelajaran 4 C  ( comunikasi,  colaborasi, creativity,  chritikal thingking) artinya siswa pandai berkomunikasi dengan baik, mampu kerja kelompok atau bekerjasama, sama-sama bekerja dengan tim, melakukan tugas tanpa disuruh,tahu dengan tugas pokok dan fungsi, mencari dan menciptakan hal baru, tidak itu ke itu saja dan berpikir tingkat tinggi.

Apa itu Hots ? Higher Order Thinking Skill adalah kemampuan berpikir yang tidak sekedar mengingat (recall), menyatakan kembali (restate), atau merujuk tanpa melakukan pengolahan (recite). Dalam Taksonomi Bloom tingkatan berpikir yang di mulai dari (C1) mengingat, (C2) memahami, (C3) menerapkan, (C4) menganalisis, (C5) mengevaluasi dan (C6) mencipta. Tingkat berpikir dikelompokkam menjadi 3 level.  Pada level satu  (C1 mengingat, C2 memahami), level dua ( C3 menerapkan), level tiga (C4 menganalisis C5 Mengevaluasi, C6 mencipta). Berpikir tingkat tinggi dimulai dari level tiga, berpikir kritis, berpikir kreatif, pembuatan keputusan. Artinya dalam berpikir tingkat tinggi dengan cara belajar mengingat, memahami, menerapkan sudah mulai ditinggalkan dengan membiasakan berpikir tingkat tinggi dengan mengingat, memahami, menerapkan secara otomatis sudah dilalui. Ibarat nya ketika kita sudah terbiasa bermain di lantai tiga, lantai satu dan lantai dua otomatis sudah dilalui. Ketika negara lain sudah mahir bermain di lantai tiga, sedangkan kita masih asyik dilantai satu dan dua. Maka kita akan semakin jalan ditempat bahkan berjalan mundur.

Karakteristik Hots pertama, mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi, meminimalkan aspek ingatan atau pengetahuan, ciri-ciri berpikir tingkat tinggi, kemampuan menemukan, menganalisis, menciptakan metode baru, merefleksi, memprediksi, mengambil keputusan yang tepat. Kedua, berbasis permasalahan kontekstual (berbasis kasus).  Ketiga,menarik (Trend topic), empat, tidak rutin.

Gagasan yang di Tawarkan
Generasi emas Minangkabau gelombang pertama adalah mereka para pemikir dan pejuang. Disamping memiliki integritas yang tinggi yang didapat ketika di tempa di surau kampung halaman alam minangkabau. Setelah cukup umur dilanjutkan dengan merantau untuk memperkaya pengalaman, dan ilmu pengetahuan, agar tidak seperti katak dalam tempurung.  Eksistensi mereka yang selalu diakui sampai kini adalah pemikirannya yang besar  melampaui zamannya. Pemikiran besar dari generasi minang itu kini dapat ditelusuri dalam berbagai karya.  karya hebat Tan malaka dalam bukunya berjudul Madilog, merupakan upaya membangun jalan pikiran bangsa ini.  dialektika madilog menjelaskan panjang lebar  bagaimana cara berpikir tingkat tinggi (Hots). Hatta yang terkenal sebagai pemikir dan pejuang mengusung konsep ekonomi kerakyatan. Dalam membangun ekonomi rakyat, dari kita untuk kita melaui konsep koperasi sampai kini koperasi diakui kebermanfaatannya.

Dua contoh generasi emas gelombang pertama minang ini menunjukan kepada kita bahwa budaya berpikir tingkat tinggi sudah dimulai sejak dulu. Kita yang hari ini sebagai anak kemanakan dari generasi emas gelombang pertama minangkabau, tentunya harus mewarisi cara berpikir besar yang mengagumkan ini.

Tugas intelekual adalah mengurai konsep rumit menjadi mudah dan menarik untuk dipahami oleh rakyat banyak. jangan sampai dibalik !  Memahami cara berpikir tingkat tinggi dengan cara sederhana dan mudah adalah jalan  keluar dari kelirunya memahami cara berfikir tingkat tinggi (Hots).

Anggapan semula mengenai Hots yang sulit, sukar. Akibat kekeliruan dalam memahami Hots, sehingga membiasakan belajar dengan berpikir tingkat tinggi menjadi hantu yang menakutkan.  Memahami berpikir tingkat tinggi dengan beranggapan berpikir sulit, rumit menjadikan hots terasa jauh dari keseharian rakyat, semakin tidak menarik.

Hots berpikir tingkat tinggi ala minang kabau adalah tawaran solusi dari anggapan rumit, sulit, sukar nya membudayakan berpikir tingkat tinggi. Filosofi minangkabau (“Alam takambang mnjadi guru. Cewang di langik tando ka paneh, gabak di lawik tando ka hujan. Alun takilek alah takalam, Takilek ikan dalam lawik alah jaleh jantan jo batino nyo”) . pepatah petitih minangkabau ini adalah bentuk dari berpikir tingkat tinggi yang diekspresikan melaui kiasan-kiasan.

Harus dimaknai, betapa tajamnya analisa yang yang diuraikan dari pepatah petitih diatas. mengaitkan konsep  konsep ilmiah seperti konsep daur hidrologi, konsep ekologi. perkiraan cuaca, Ekosistem laut, sehingga mampu memperkirakan (prediksi)  cuaca berdasarkan pengamatan tanda-tanda alam, sehingga dapat melakukan persiapan saat datang hujan  atau panas. lalu kemudian mengampil keputusan yang tepat apakah nelayan turun melaut atau tidak.

Generasi minangkabau tidak hanya terbiasa bernalar dengan pepatah petitihnya, secara bathiniah (intuisi) juga terlatih, (“kato malereang, kato mandaki, kato mandata, kata manurun “) merupakan pola komunikasi yang sangat arif dan bijaksana. (“Lahia manunjuakan nan bathin, tau rantiang ka manyangkuik, batang kamaimpok, maminteh sabalun anyuik, ingek sabalun kanai ) merupakan bacaan bermakna tingggi. (“Angguak alum tantu iyo, geleang alun tantu indak”) Berfilsafat,  dan berdilektika sesuatu yang sangat dekat dengan diri anak minang.

Seandainya sekarang kita abai, tidak segera membenahi persoalan cara berpikir ini, maka mimpi Indonesia emas yang acap didengungkan, sepertinya akan semakin jauh panggang dari api.  Konsekuensi logis akibat Kelalaian hari ini adalah Kenyataan pahit yang akan di tanggung generasi penerus. Gaung Indonesia emas 2045 yang sering di dengar akan menjadi hoaks  dimasa datang jika mimpi itu tidak terwujud.

Berhentilah mengutuk kegelapan, mulailah menyalakan lilin agar tak terpuruk dalam gelap. Menyalakan api optimisme adalah tugas generasi hari ini. Menjadi Indonesia emas 2045 seperti yang dicita-citakan memang bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan dukungan dari seluruh elemen negeri. Sangat tergantung apa upaya yang dilakukan sekarang untuk masa depan lebih baik, terutama dalam pembenahan cara berpikir, membangun jalan pikiran dengan pembiasaan (Hots) berpikir tingkat tinggi merupakan satu cara memperbaiki jalan pikiran menuju akal sehat.

Dalam perspektif minangkabau, berpikir tingkat tinggi (Hots) bukanlah barang baru, tapi sudah dimulai sejak lama, hal ini dapat ditelusuri dalam karya, buku-buku generasi emas gelombang pertama. Pepatah petitih minangkabau yang terekspresikan dalam kiasan yang menggambarkan berpikir tingkat tinggi hendaklah menjadi pakaian yang harus lekat di badan generasi sekarang. Agar lebih dihidup-hidupkan lagi ! Sederhananya  berpikir tingkat tinggi bagi generasi minangkabau sama dengan mengulang-ulang kaji. Selamat mengaji, semoga naik kelas.

Oleh : RAHMAT HIDAYAT, S.Pd., M.Pd (Guru SMPN 2 SIPORA Mentawai)

Megathrust dan Hoaks


Tidak sanggup saya membayangkan, seperti apa bentuk negeri ini jika hari ini terjadi Megathrust, gempa besar yang menimbulkan Tsunami?, mau lari kemana?  kemana akan bersembunyi jika bencana itu tiba?

Indonesia dikenal dengan negeri rawan bencana,  disatu kesempatan Wagub Sumbar, Nasrul Abit menyebut Sumatera Barat merupakan Supermarket bencana.  (Padang Ekspres, Februari  2019). Menyimak perkembangan terakhir, rasanya tak berlebihan ungkapan  wagub Sumbar itu.

Sejumlah daerah di Sumatera Barat (28/2) tidak hanya dikejutkan guncangan Gempa darat Solok Selatan , namun juga gempa yang berpusat di laut  Kabupaten kepulauan Mentawai. Tepatnya di zona  megathrust.  Sekitar pukul 21.18 WIB, warga Kepulauan Mentawai dikejutkan guncangan gempa tektonik berkekuatan 5,1 SR yang kemudian dimutakhirkan oleh BMKG menjadi 4,9 SR.

Episentrum gempa berlokasi dilaut wilayah samudera Hindia pantai Barat Sumatera pada jarak 24 km arah tenggara kota Tuapejat Mentawai pada kedalaman 35 km. akibat gempa ini sejumlah tetangga mengungsi kerumah tangga yang jauh  dan berada di ketinggian. .  (Padang Ekspres, 1 Maret  2019).

Dua hari Pasca gempa melanda solok selatan, masyarakat disekitar itu masih enggan beraktifitas diluar rumah . selain trauma akan gempa susulan. Saat ini korban gempa masih ketakutan dan cepat panic bila terjadi gempa susulan   (Padang Ekspres, 3 Maret 2019).

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Manardo mengingatkan agar warga Padang, Mentawai, dan pesisir barat Sumatera Barat bersiap menghadapi gempa Megathrust di Pulau Siberut Mentawai dengan kekuatan yang mencapai 8,9 skala Richter dan dapat menimbukan tsunami. (https://beritadewata.com. 18 Februari 2019).

Harap-harap cemas membaca berita diatas, terutama kita yang tinggal didaerah rawan bencana. Mujur sepanjang hari, malang sekejap mata. Kewaspadaan terhadap bahaya yang mengancam mesti ditingkatkan. Masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana sangat perlu, segera mungkin  mendapat informasi dan  pengetahuan mengenai mitigasi bencana.

Perlunya sosisalisasi mitigasi bencana, sangat sejalan dengan pendapat  Bloom (1979, hal 62) menegaskan bahwa perilaku individu sangat dipengaruhi oleh pengetahuan seseorang.  Jadi,  pengetahuan dapat mempengaruhi sikap dan perilaku, orang yang sudah mendapat pengetahuan mengenai mitigasi bencana akan berpengaruh terhadap sikap, dan perilaku dalam menghadapi bencana tiba.

Sebagai warga masyarakat yang tinggal di daerah rawan gempa dan Tsunami, khususnya Mentawai, tidak ada seorangpun yang tahu, kapan pastinya Megathrust tiba, walau kini, tampak dari luar kita seperti biasa-biasa saja, tenang-tenang saja, namun dalam hati kecil, ketika ada orang menyebut tentang Megathrust, nafas terasa sesak, turun naik, tak beraturan,.perasaan cemas diselimuti rasa takut tak bisa disembunyikan.

Rasa aman merupakan sesuatu yang mahal bagi kita yang tinggal didaerah rawan bencana, lalu siapa yang bisa memberikan jaminan kepastian rasa aman untuk warga daerah rawan bencana? Tidak hanya sekedar rasa aman, lebih kepada memastikan tempat yang dihuni warga kondisinya benar-benar aman?  Pemerintah dan pihak terkait harus mampu menjawab kebutuhan warga yang sangat mendesak  mengenai jaminan kepastian rasa aman, dan  menjamin kondisi tempat yang dihuni warga benar-benar aman ini, ini adalah soal hidup dan mati, soal  hajat hidup orang banyak.

Hidup aman, tentram dan damai adalah dambaan setiap orang, termasuk warga yang tinggal di daerah rawan bencana, saat ini focus bekerja pada bidang pekerjaan masing-masing tentu tidak boleh  diabaikan, karena hidup juga butuh makan, dan kebutuhan lain, namun dalam situasi, kondisi alam yang tidak menentu seperti sekarang, Tidak ada cara lain yang lebih baik selain mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meningkatkan iman, kualitas ibadah.

Kisah perang nenek moyang menceritakan tentang sulit dan terancamnya setiap nyawa yang selalu diintai oleh musuh, tapi kini ketika hidup di zaman merdeka modern, tinggal didaerah rawan bencana, rasanya juga berat, karena kita tidak tahu kapan bencana datang, apakah sedang tidur atau terjaga.

Sungguh sangat tidak manusiawi, ditengah psikologis warga yang belum stabil akibat gempa akhir-akhir ini, berita Hoax bertebaran  di berbagai media mengenai prediksi  gempa besar Megathrust yang akan terjadi. Warga semakin bingung oleh berita yang tidak bertanggungjawab, Sementara itu kepala pusat gempa Bumi dan Tsunami BMKG  Rahmat Triyono menyebutkan bahwa informasi  yang memprediksi  akan terjadi gempa besar akhir februari adalah Hoaks  (Padang Ekspres, 15 Februari 20019). Kenyataannya kini berita itu memang Hoaks.

Menurut KBBI, Hoaks mengandung makna berita bohong, berita tidak bersumber. Menurut Silverman (2015), hoaks merupakan sebagai rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, namun “dijual” sebagai kebenaran.  Semua orang berpotensi sebagai pembuat hoaks. Hoaks terkait dengan apa saja yang tidak benar adanya, namun dijual sebagai sebuah kebenaran dengan tujuan tertentu.

Ekstrim, sipenyebar hoaks, entah untuk berbagai kepentingan, atau ada yang sekedar iseng, kepiluan masyarakat yang terkena bencana gempa Tsunami di kota Palu dan Kabupaten Donggala , Provinsi Sulawesi Tengah , Oktober 2018 lalu juga tak luput dari serangan Hoaks. Hal ini membuat Presiden RI Joko Widodo menjadi geram. Presiden menyatakan hoaks di seputar bencana gempa tsunami di palu dan Donggala termasuk salah satu tindakan yang biadab dan pengecut.

Keprihatianan kepala Negara terhadap Hoaks, menjadi penting untuk diperhatikan. Mengingat begitu besarnya  jumlah pengguna internet dan media social. Pada tahun 2019 lebih dari separuh jumlah penduduk Indonesia  sudah melek dan mengetahui media social , dari total 268, 2 Juta penduduk Indonesia, 150 Juta sudah menggunakan media social. Pengguna media social di Indonesia paling banyak berada pada rentang usia 18-34 tahun. ( Kompas.com).

Dari pengungkapan tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa hoaks dipesan oleh sekelompok orang dengan beragam kepentingan didalamnya, bahkan sekedar iseng. Hoaks diproduksi oleh orang-orang yang tidak bermoral dan beretikat buruk terhadap sesama.

Dalam konteks kebencanaan, Hoaxs menjadi informasi pembunuh paling berbahaya. Warga yang mengalami sakit jantung, akan mati mendadak mendapat kabar yang tidak bertanggungjawab tersebut. Stabilitas social ekonomi warga menjadi terganggu, dapat menurunkan produktifitas kinerja masyarakat, karena terpengaruh oleh hoaks, warga merasa cemas, panic akibat berita yang tidak jelas. Isu mengenai gempa besar harus disikapi secara bijak oleh masyarakat.

Dengan kecanggihan teknologi dan ilmu pengetahuan, peneliti boleh saja, memperkirakan kapan terjadinya megathrust, tapi siapapun dia tidak akan pernah bisa menentukan kapan pastinya Megahtrust itu terjadi, karena itu adalah wilayahNya pemilik alam raya ini.

Titik tekan dari tulisan ini adalah jangan sampai berita bohong Hoaxs  ikut memperparah keadaan masyarakat. Masyarakat yang tinggal didaerah rawan bencana seharusnya mendapat berita bahagia tentang harapan hidup . sungguh terlalu. hoaks yang dipesan oleh sekelompok orang dengan beragam kepentingan didalamnya yang disuguhkan kepada masyarakt yang bathinnya tengah berkecamuk dengan bahaya yang selalu mengintai nyawa mereka. Sangat tidak lucu  menjadi bahan lucu-lucuan jika Hoaks sengaja ditujukan untuk warga yang sedang panik.  Penindakan tegas dari penegak hukum terhadap penyebar Hoaks saat ini adalah keharusan. Bertobatlah !

Oleh: RAHMAT HIDAYAT
Alumni Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta/Guru SMPN 2 Sipora

Lafran Pane Bukan kader HMI

Dengan yakin saya katakan bahwa Lafran Pane itu bukan kader HMI.
HMI saat itu belum ada, lalu Ia bentuk itu organisasi yang dinamakan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Sehingga adalah HMI pada tahun ketiga kemerdekaan dan sampai saat ini HMI itu masih ada. Dari itu barulah Lafran Pane merupakan Tokoh HMI sekaligus pendiri organisasi besar ini.


Lalu kita-kita ini yang sudah ber-HMI, sudah melalui proses perkaderan minimalnya LK-1, dimana dalam proses perkaderan tersebut kita diajarkan untuk paham terlebih dahulu hakikat perjuangan HMI, dan kita juga dilatih tentang ilmu kepemimpinan, organisasi dan lainnya. Maka merupakan hal yang patut untuk dipertanyakan bahwa yang telah kita berikan untuk bangsa ini adalah apa? yang sudah kita lakukan sebagai bukti bahwa HMI itu berjuang untuk keummatan dan kebangsaan itu mana?

Lebih dari belasan sumber sejarah yang saya baca mengenai HMI, semua sepakat bahwa HMI itu merupakan sebuah organisasi yang powernya tak diragukan lagi, bahkan 42 partai sekalipun tak mampu membubarkan HMI. Dan itu terjadi pada Tahun 1964-1965 yang mana HMI menyebut itu fase perjuangan.


Saya mulai berpikir bahwa harapan oknum-oknum yang tidak menyukai HMI, keinginan untuk membubarkan HMI itu memang sudah sirna. Dan setelah kegagalan mereka membubarkan HMI, visi mereka adalah memburamkan HMI atau membuat HMI itu mundur. Sehingga walaupun HMI itu tetap ada tidak akan berpengaruh bagi  mereka untuk mencapai target dan misi yang sudah lama disetting.

Saya terus mencari referensi lebih lanjut mengenai hal itu, ternyata benar bahwa HMI mengalami kemunduruan. Hal tersebut dibuktikan dengan munculnya sebuah buku “44 Indikator Kemunduran HMI”. Nah dalam indikator tersebut ada dua point yang menarik perhatian saya untuk mendalaminya lebih lanjut.

1.  Menurunnya jumlah mahasiswa baru yang masuk HMI
2.  Lemahnya manajemen organisasi HMI dan sudah ketinggalan zaman, tidak sesuai lagi dengan tuntutan kebutuhan kontemporer.

Tidak terlepas dari masalah internal dan external, hal itu merupakan problema bagi laju organisasi yang sudah berusia hampir 72 tahun ini.

Jadi, sekarang ini power yang dimiliki oleh HMI dipertanyakan, kader yang dimiliki HMI juga dipertanyakan. Apakah benar HMI kehilangan power? Apakah iya HMI mengalami kemunduran yang begitu drastis?


Benarkah Simbol Dajjal di Sulawesi Penyebab Tsunami?

Sumber foto by Google
Beberapa waktu lalu, setelah gempa hebat melanda Palu, Sulawesi Tengah yang juga disusul oleh terjangan tsunami yang teramat dahsyat, perbincangan mengenai Sulawesi semakin hangat dibicarakan.

Termasuk salah satu yang menarik perhatian adalah tentang isu adanya Simbol Mata Dajjal di Sulawesi, tepatnya di Sulawesi Barat, yaitu Mamuju, pantai Manakkara.

Hal ini benar-benar mengejutkan, entah lambang/simbol tersebut hanya kebetulan saja atau memang sebuah ritual illuminati.

Silakan Anda cek sendiri di google map, icon pantai Manakkara jelas-jelas terlihat seperti mata satu, yang mana mata satu sangat dipercaya sebagai simbol mata Dajjal.

Kabarnya, gempa dan tsunami yang melanda palu juga dikait-kaitkan dengan Dajjal dan adanya simbol tersebut.

Pendapat lain juga mengatakan bahwa, foto itu tak ada hubungannya dengan Palu. Anjungan tersebut berada di Pantai Manakarra, Mamuju, Sulawesi Barat. Sedangkan Palu, Donggala, Sigi, dan sekitarnya yang terkena bencana berada di Sulawesi Tengah. Anjungan Pantai Manakarra itu baik-baik saja saat terjadi gempa dan tsunami di Sulteng.

Baca juga: Penyebab Bencana Menurut Al-Qur'an dan Hadist

Perang NKRI dan GAM Menyisakan Luka Mendalam


Perang antara NKRI dan GAM yang pernah terjadi, menyisakan banyak luka dan kesedihan mendalam yang abadi terpendam. Orang-orang tercinta hilang tanpa alamat, nyawa-nyawa tak berdosa ikut disiksa, dihujani timah panas, dan dibunuh dengan ganas. Mereka yang sama sekali tak bersalah juga ikut tenggelam dalam darah, padahal usianya masih prasekolah. Traumatis atas perlakuan yang sadis sering sekali dialami para gadis. Saat itu, perang menyala bukan saja karena ingin merdeka, tapi juga karena dendam di dalam dada melihat rakyat tak berdosa yang disiksa.

Lalu, ketika damai menjelma asa, setelah tsunami membunuh mimpi. Kita bersama seolah senadi untuk menggapai kemakmuran dan kesejahteraan yang abadi. Tapi faktanya itu ilusi.

Saya pernah berusaha mencari dokumen-dokumen atau rekaman konflik dengan harapan ada potret ketiga paman saya di dalamnya. Sejak saya kenal youtube di kelas 3 SMP, saya obrak abrik video yang berkaitan dengan GAM, namun tak kunjung mendapat hasil. Searching di google ratusan kali berharap menemukan beberapa data yang mungkin mencantumkan nama ketiga paman saya namun yang saya dapat juga kecewa. Saya yakin di luar sana juga ada yang melakukan hal serupa, mencari data, mencari fakta.

Bukankah mereka yang berjuang dengan kibaran bulan bintang disebut pejuang? Bahkan sampai sekarang masih terdengar bersahut-sahut di media tentang sejarah lampau dari keinginan untuk merdeka. Namun, faktanya keinginan untuk merdeka hanya terlihat seperti memperkaya beberapa kelompok saja. Dokumen untuk menghargai mereka yang benar-benar berjuang sepertinya tidak terdata dengan merata.

Anak-anak yang dulu Ayahnya seorang GAM juga masih ada yang tak tersentuh perhatian selain dari masyarakat dan orang-orang dekat.

Pentingnya Website Bagi Sekolah

Sekolah, seperti yang kita ketahui bersama merupakan wadah pembentukan karakter untuk mendidik generasi bangsa. Di sekolah siswa dididik untuk beretika, menghargai orang lain, selain diajarkan pelajara-pelajaran sekolah. Sama sekali kita tidak boleh melupakan peran penting sekolah tersebut.

Di era globalisasi ini dengan kian pesatnya kemajuan teknologi di dunia, tak terkecuali Indonesia. Keefektifan sebuah sekolah sebagai wadah pendidikan telah dipengaruhi oleh berbagai aspek-aspek teknologi. Misalnya internet yang berkaitan erat dengan media sosial.

Dalam dunia pendidikan, tidak bisa dipungkiri bahwa setiap sekolah bersaing menjadi sekolah yang unggul untuk menjadi sekolah favorit pilihan siswa. Namun, dalam prakteknya, sekolah yang menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologilah yang akan unggul.

Sekolah dulu mungkin sama sekali tidak mempelajari tentang media, pemanfaatan media, kuntungan yang bisa dihasilkan dari media (internet). Namun, sekolah-sekolah unggul sekarang ini tentu sudah sangat akrab dengan hal-hal sedemikian. Mereka menggunakan media berupa website untuk membuat sekolahnya semakin terkenal selain terus melejitkan prestasi siswa dan sekolanya.

Kenapa website dapat meningkatkan citra sekolah?

Sebenarnya bukan untuk peningkatan citra sekolah saja, memang ketika sebuah sekolah tidak memiliki sebuah website yang berguna untuk mengetahui informasi sebuah sekolah, maka sekolah tersebut akan dianggap tidak maju. Website sangat bermanfaat untuk tempat siswa berkreatifitas, selain Majalah Dinding/mading.

Website untuk mengenalkan sekolah dan sebagai wadah silaturrahmi.

Dulu silaturrahmi yang kita kenal adalah dengan berkunjung antara satu sama alin. Dalam duni online juga ada istilah silaturrahmi yaitu pemilik sebuah website mengunjungi website lain lalu memberi komentar positif untuk mendukung website tersebut. Selain itu juga sebagai sarana untuk berbagi informasi lebih mudah.

Website untuk mengenalkan sekolah. Misalnya, ketika sebuah sekolah membuka pendaftaran untuk siswa baru, atau membuka lowongan bagi guru yang ingin mengajar di sekolah tersebut, maka bisa melihat informasi tersebut melalui website.

Ketika sekolah tidak memiliki website, orang lain akan sangat sulit untuk mengetahui atau mencari informasi mengenai sekolah tersebut.

Dampak Pembugaran Wajah Baru Masjid Raya Banda Aceh


Sejak 28 juli 2015 pada awal peresmian pembugaran wajah baru Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, telah banyak mendapatkan kontropersi dari masyarakat. Munculnya kritikan kritikan tidak senonoh yang dilontarkan kepada pemerintah Banda Aceh  membuat banyak masyarakat yang terperdaya dan ikut-ikutan memberikan komentar yang belum pasti kebenarannya.

“Pembangunan proyek yang menghabiskan dana hampir setengah triliun itu, tentunya harus dibarengi oleh riset yang mendalam, mengenai dampak jangka pendek dan jangka panjangnya. Jangan sampai setengah jalan pembangunan, atau sudah selesai dibangun tidak sesuai dengan fungsi. Seperti proyek terbengkalai di Aceh Singkil dalam pembangunan Gedung Sekolah Rintisan Bertaraf Internasional, proyek pengembangan benih ikan yang tak fungsional di Padang Tiji Sigli dan persengketaan pembangunan Islamic Center Aceh dengan pembangunan Meuligoe Wali Nanggroe di Aceh Besar” merupakan salah satu contoh keritikan dari masarakat yang mencoba menjengkali pemerintah (Laporan Eklusif Serambi, 23/02/2015).

Namun kini telah terjawab kekhawatiran masyarakat atas pembugaran wajah baru Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh tersebut. Hal ini dibuktikan dengan fungsi yang sesuai dengan diharapkan sebelumnya, yakni menjadikan Masjid Raya Baiturrahman sebagai salah satu destinasi wisata heritage Aceh, tempat ibadah yang nyaman, bisa menampung banyak jamaah, dan sebagai tempat pusat kajian islami serta dengan mengikuti arsitektur masjid Nabawi di Madinah.

Pembugaran wajah baru masjid baiturrahman banda aceh dilakukan dengan menambah 12 unit payung elektrik ukuran 24x24 meter bergaya ala Masjid Nabawi, basement areal parkir bawah tanah dengan luas 8.600 m2.dan juga dibangun tempat wudhu dan toilet ramah difabel. Serta pada sekeliling masjid ditanam 32 pohon kurma yang menyerupai Masjid Rasul di Madinah.

Pembugaran masjid raya Baiturrahman ini sangat bardampak baik bagi lingkungan, sosial maupun budaya bagi masarakan banda aceh dan sekitarnya.

Jika kita lihat dari segi lingkungan, jelas bahwa pembugaran masjid Baiturrahman membarikan dampak positif dan berfungsi sebagaimana mestinya. Dengan adanya penambahan payung tersebut, dapat menambah daya tampung jama'ah yang semula 9 ribu orang di dalam masjid, menjadi 24.400 jamaah di dalam di luar masjid. Bukan hanya itu, Area parkir yang di buat seluas 8.600 m2 ini dapat menampung 254 unit mobil dan 347 sepeda motor. Hal tersebut mendukung dan memungkinkan masjid Baiturrahman menjadi tempat beribadah yang aman dan nyaman. Banyaknya pemberian nilai positif terhadap pembugaran majid tersebut, telah menjawab kritikan kertikan atau komentar sebelumnya.

“saya sangat senang dengan masjid baiturrahman yang sekarang. Kelihatan semakin indah, pengunjung semakin banyak, dan area parkir yang memberikan kenyamanan hingga tidak perlu khawatir lagi dengan kehilangan sepeda motor saat beribadah atau sekedar berkunjung menghilangkan suntuk di sini” (ujar heri anto seorang warga Aceh Besar).

Bukan hanya sekedar memberikan lingkungan yang positif di pekarang masjid saja, tapi juga memberikan kesan dan dampak positif bagi para warga yang berjualan di sekitar pasar Aceh yang berada didekat masjid tersebut. Banyaknya para pengunjung yang datang lebih 1000 orang perharinya baik untuk beribadah maupun sekedar melihat keindahan masjid membuat dagangan mereka semakin lancar.

Ibu Nur Hayati seorang pedagang minuman cendol yang sudah 9 tahun berjualan dekat pekarangan masjid Raya sebelum dan sesudah pembugaran  masjid Raya tersebut mengatakan daganganya semakin laris dan lancar setelah pembugaran masjid raya tersebut. Sebelumnya ia hanya menjual satu toples saja perharinya, namun setelah berjualan kembali di tahun 2013 lalu, ia selalu menjual habis empat toples masing-masing bahan cendolnya.

“Alhamdulillah semakin tahun penghasilan kami semakin meningkat dan melipat sejak pembaharuan masjid ini. Banyak pengunjung yang singgah utuk membeli cendera mata baik dari pengunjung lokal maupun wisatawan mancanegara” pengakuan Makhwan pedangang baju di pasar Aceh.

Bukan haya dari segi linngkungan yang terbukti semakin membaik  dari dampak pembangunan masjid Raya Baiturrahman. Dampak sosial dan budaya juga terlihat jelas semakin membaik dari beralihnya minat para masyarakat dan wisatawan yang sebelumnya mencari pantai dan tempat maksiat sebagai tempat berlibur atau sekedar menghilangkan penat kini beralih ke masjid. “Rasanya sah ke Banda Aceh jika belum mengabadikan poto di masjid Raya’’ itulah kata yang sering diucapkan para pengunjung masjid yang mulia tersebut.

Oleh: Agusri

Darul Aitami Aceh Selatan Adakan Buka Puasa Bersama Alumni


Bulan puasa bukan saja momen untuk menjalankan ibadah puasa demi menggandeng pahala. Akan tetapi ada hal lain yang juga dapat dilakukan di bulan puasa, bulan puasa juga bisa dijadikan moment untuk berkumpul bersama keluarga, teman atau sahabat, maupun sebuah organisasi.
Seperti yang dilakukan oleh IKASDA (Ikatan Alumni Santri Darul Aitami). IKASDA memang mengadakan acara buka puasa bersama seluruh alumni tiap tahunnya. Kali ini acara kebersamaan tersebut diadakan pada Senin 11 Juni 2018, tentunya di Ma’had Darul Aitami.


“Silaturrahmi Religius Wujudkan Keakraban yang Agamis”

Itulah tema yang diusung pada moment buka puasa kali ini. Semoga dengan adanya acara kebersamaan ini seluruh alumni semakin kompak dan serius mewujudkan IKASDA yang lebih terorganisasi untuk membangun relasi terutama dengan sesama alumni santri Darul Aitami dan juga dengan alumni santri pesantrenlainnya di masa mendatang.

Kenapa Kita Harus Jadi Orang Kreatif?


 “Imajinasi jauh lebih penting daripada pengetahuan”

Itulah pernyataan yang pernah dilontarkan Albert Einstein!

Tidak peduli apakah kreativitas itu diimplementasikan pada pertanian, perkebunan, teknik memasak, atau sastra. Kreativitas bahkan tidak perlu membatasi defenitifnya sendiri.

Semangat luar biasa ini rupanya mampu “menyinari” beberapa bagian tertentu di dalam otak yang cenderung untuk terus “terlelap”.

Target : memasukkan sesuatu yang baik dan berguna ke dalam kawasan yang disesaki oleh berbagai hal buruk.

Jika ada suatu wilayah yang tidak dapat dijangkau oleh penuaan maka zona itu adalah “kreativitas”.

Apakah Anda tidak percaya?

Kalau begitu, coba sekarang simak baik-baik uraian berikut ini!

Michael Angelo merancang kubah gereja St. Peter di Roma ketika usianya telah menginjak 68 tahun; Ferdi baru menulis “Falstaff” ketika usianya sedikit lebih muda, yaitu 80 tahu!

Contoh-contoh yang menunjukkan bahwa usia sama sekali tidak memengaruhi kreativitas berkesenian sangat banyak dan tidak terhitung. Meskipun demikian, seseorang tentu tidak perlu harus menjadi seniman terlebih dahulu untuk bisa menemukan sesuatu yang luar biasa.

Sangat mungkin bagi kita untuk berkreasi dalam begitu banyak bidang; mulai dari seni merangkai bunga ala jepang hingga seni border kain.

Contonhya, di Prancis Ikatan Pengembang Kebudayaan yang berkedudukan di Kota Paris telah merekomendasikan 400 workshop di 58 pusat kebudayaan. Kegiatan tersebut dijadikan sarana berbagai kegiatan dan keterampilan : melukis, membuat miniatur benda-benda dengan kayu, membuat sampul aristik untuk buku, seni peran, modeling, dan lainnya.

Banyak orang lanjut usia yang ikut mendaftar dalam kegiatan ini dengan tujuan “mengetahui apakah aktivitas tersebut bermanfaat atau menyenangkan”. Setelah merasakan faedahnya, ternyata mereka enggan mengganti kesibukan mingguan baru ini dengan acara lain.

Kreativitas Membuat Seseorang Semakin Peka

Apakah Anda tidak dapat menemukan manfaat dari kreativitas?

Jika kreativitas tidak berarti apa-apa bagi Anda, Anda pasti merasa kesulitan untuk memahami kesenangan sebagian orang terhadap kegiatan ini.

Walau bagaimanapun, otak Anda pasti menyukai aktivitas seperti itu, apalagi kreativitas jelas dapat membangun banyak hubungan, kehidupan sosial, bahkan kecerdasan berpikir.

Kita dapat menambahkan beberapa kegiatan yang dapat mempertajam kepekaan perasaan kita ke dalam daftar hal-hal positif. Berkesenian, misalnya, dapat memberi nutrisi kepada ketelitian dalam bekerja, kewaspadaan, pikiran kritis, dan mengembangkan imajinasi serta intuisi. Bahkan, penurunan kemampuan fisik sama sekali tidak berpengaruh terhadap aktivitas seperti ini. Bukankah gangguan penglihatan yang diderita oleh pelukis masyhur Claude Monet justru membuat kita dapat mengukur efek dari lukisan Nympheas yang luar biasa itu?

Apakah karena ilham telah turun kepada pelukis Goya di akhir hayatnya? Sehingga dia mampu mempersembahkan gambar pertarungan antara dua ekor benteng yang dia lukis di atas lempengan batu padahal saat itu ia sudah tidak mampu lagi meraut sendiri pena milikinya?

Jika Anda sama sekali tidak memiliki kemampuan apa pun, Anda sama sekali tidak memiliki keinginan untuk mendayagunakan kemampuan Anda maka pada kondisi seperi itu, segeralah memerhatikan apa yang telah dibuat oleh orang lain. Cobalah melewati batas enam detik untuk belajar “membaca” sebuah karya seni. Beridirlah di depan selembar lukisan, misalnya, kemudian telitilah lukisan itu dengan secermat-cermatnya. Misalnya dengan memerhatikan gambar orang, pernak-pernik, warna, dan sebagainya. Lalu renungkan perasaan dan sensasi yang Anda rasakan akibat pengaruh lukisan yang Anda lihat.

Sesudah itu, berusahalah untuk berimajinasi tentang kelanjutan isi lukisan yang sedang Anda lihat itu, bahkan walaupun imajinasi Anda itu sangat jauh dari kenyataan sejarah. Jadikanlah lukisan yang sedang Anda lihat itu sebagai elemen, yang membantu Anda berimajinasi.

Cara seperti ini juga dapat diterapkan pada ukiran, lagu-lagu opera, dan karya seni lainnya. Anda pasti merasakan bahwa hal seperti ini sangat menyenangkan, bahkan terasa luar biasa!

Dampak Pembangunan Jembatan Lamnyong Terhadap Sosial Budaya


Kegiatan pembangunan adalah upaya manusia mengaplikasikan ilmu dan teknologi untuk meningkatkan taraf kehidupannya baik itu bermanfaat untuk diri sendri ataupun khalayak banyak.

Di aceh, kegiatan pembangunan sedang masif digalakkan. Pada tahun 2015, pemerintah kota Banda Aceh memulai proyek strategisnya, yaitu membangun 3 jembatan yang menjadi vital bagi lalu lintas di Aceh. Salah satunya adalah pembangunan jembatan lamnyong.

Berdasarkan dari liputan kanalaceh.com, pembangunan jembatan lamnyong Banda Aceh berawal dari obrolan Gubernur Aceh, Zaini Abdullah dengan Rektor Unsyiah beserta Rektor UIN Ar-Raniry terkait adanya keluhan serta aspirasi mahasiswa dan masyarakat di lingkungan Darussalam. Sehingga pada tahun 2015 bersumber dari dana APBA 2015-2016 pembangunan jembatan lamnyong pun dimulai.

Jembatan lamnyong merupakan jalan penghubung antara gampong lamnyong dengan kopelma Darussalam. Yang merupakan jalur transportasi para pelajar, mahasiswa, dan pengajar, karena kopelma Darussalam merupakan zona wilayah pendidikan yang dikususkan oleh pemerintah Aceh. Di dalam kawasan ini terdapat 3 perguruan tinggi yang menjadi kiblat para siswa untuk melanjutkan studinya, dilengkapi juga dengan beberapa sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah ke atas.

Pemerintah Aceh berencana membangun jembatan lamnyong menjadi dua jalur, dilanjutkan dengan pembangunan flyover (jembatan layang) ke arah Kopelma Darussalam, dan pembangunan under pass dari arah Gampong Rukoh menuju arah Gampong Limpo.

Diharapkan dengan pembangunan jembatan lamnyong ini  kemacetan lalu lintas yang kerap terjadi di kawasan ini, akan terminimalisir. Dan pada tahun 2017, harapan itu dikabulkan, dengan adanya dua jalur yang lebih luas, lalu lintas transportasi di jembatan lamnyong berjalan efektif. Kemacetan yang menjadi momok besar bagi mahasiswa dan dosen, kini dapat teratasi.

Dikutip di pikiranmerdeka.com, Seorang intelektual muda dan juga seorang pengajar di UIN Ar-Raniry, Affan Ramli mengemukakan bahwa konsep madani erat kaitannya dengan perwujudan nilai-nilai adat dalam pembangunan tata ruang kota, pembangunan sekarang sering kali melupakan adat dan budaya di dalam pembangunannya. Dengan kata lain, Affan Ramli mengatakan pembangunan tata ruang kota di Aceh sedikit memperhatikan lingkungan sosial dan budaya yang kita milik. Sehingga masyarakat akan terbawa ke dalam arus globalisasi yang akan menyebabkan terkikisnya adat budaya asli mereka, dan terbentuknya budaya luar di dalam pemikiran yang akan disalurkan ke perbuatan.

Di dalam masyarakat Aceh sekarang, terjadi kesalahpahaman makna tentang konsep budaya dan adat Aceh, yang selama ini terlanjur membentuk persepsi masyarakat Aceh.

Salah satunya, adat dan budaya adalah kebiasaan yang hanya layak dijadikan pedoman hidup bagi masyarakat tradisional dan pendalaman, tak relevan lagi bagi masyarakat kota modern. Ini terbukti dengan berkembangnya pola pikir individualis di masyarakat Banda Aceh, bisa kita lihat, orang kaya  bersifat terlalu konsumtif sedangkan orang miskin tercekik dan terabaikan.

Akan lebih bagus jika di trotoar pejalan kaki dan di dinding under pass itu digambar atau dibuat ciri khas keacehan di situ, sehingga mengingatkan masyarakat Aceh yang lalu lalang di jembatan Lamnyong tentang adat-budaya Aceh, supaya dapat membentengi pengaruh budaya luar yang masuk ke pemikiran masyarakat Aceh.

Pembangunan jembatan lamnyong akan memperburuk keadan lingkungan karna emisi gas buangan akan semakin meningkat sebanding dengan meningkatnya arus lalu lintas dikawasan itu, ditambah lagi tidak ada penananaman tumbuhan  yang dapat menyerap emisi gas buangan di dekat jembatan. Tentunya ini akan memperburuk kualitas udara.

Pemerintah harus mempertimbangkan betul-betul aspek lingkungan, karena itu adalah masa depan umur manusia. Solusi tahap awal adalah harus dihilangkannya sikap pandang sebelah mata terhadap pengendara sepeda, baru kemudian dibuat jalur khusus sepeda, sehingga budaya bersepeda tumbuh.

Di dalam pembangunan ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan seperti lingkungan, sosial, dan budaya. Ketiga aspek ini sangat penting karna merupakan inti atau ciri khas dari suatu wilayah.

Akan sangat disayangkan bila ciri khas atau inti ini hilang sedikit demi sedikit diakibatkan pembangunan yang hanya mempertimbangkan sepihak dan pembangunan sebagai pencucian uang saja. Sepatutnya pembangunan yang dilaksanakan harus dipikirkan dan dirancang matang-matang agar kemaslahatan yang tercipta itu bukan tipuan.

Oleh : Saiful Siddiq

Tidak Ada Kata Terlambat Untuk Maju


Semua orang tentu sudah tahu bahwa masing-masing pribadi kita adalah unik. Kita menjadi pribadi yang unik karena latar belakang dan pengalaman hidup yang kita lalui berbeda-beda. Salah satu yang unik dari diri kita adalah bakat.


Setiap orang memiliki bakat sendiri-sendiri. Umumnya, bakat-bakat itu masih terpendam, karena kita jarang menyadari kalau kita sebenarnya berbakat di bidang tertentu. Bakat terpendam ini, jika kita mampu menggalinya, akan membuat kita sendiri terheran-heran. Lebih-lebih setelah memanfaatkan kemampuan yang tersimpan dalam diri kita itu.

Syarat untuk bisa mengembangkan bakat-bakat yang terpendam tersebut adalah adanya hasrat dan tekad untuk terus belajar. Misalnya, ada seorang perempuan yang ketika masih SD dan SMP hampir selalu diabaikan oleh teman-temannya. Sebab, kepribadian perempuan itu dingin dan tidak menarik.

Namun, setelah duduk di bangku SMA, lebih-lebih ketika beranjak ke kelas dua dan kelas tiga, ia tampak begitu dinamis dan menjadi kesayangan teman-temannya. Malah, setelah lulus SMA, beberapa bulan kemudian ada kabar bahwa ia memperoleh beasiswa ke Eropa dengan spesifikasi ilmu mekanika.

Salah seorang familinya mengatakan bahwa ia dapat meraih kemajuan pada hari-hari akhir remajanya adalah karena ia mampu berpikir untuk mengembangkan bakat-bakat yang tersimpan dalam dirinya. Banyak lagi kisah orang yang pada masa kecil dan masa remajanya biasa-biasa saja atau malah diacuhkan oleh teman-teman, ketika dewasa dapat berhasil.

Kesuksesan itu tentunya diraih dengan tekad yang kuat untuk mengembangkan kualitas diri, dan memunculkan bakat-bakat yang terpendam.

Sekali lagi, syarat untuk meraih kejayaan adalah kita harus terus menerus tekun membelajarkan diri tanpa pernah mengenal jenuh. Ada orang sebagai contoh, pada mulanya kurang memiliki rasa percaya diri karena kurang terampil dalam berkomunikasi. Padahal, jika melihat latar belakang orang tua dan familinya, ia bukanlah orang yang bertipe pendiam dan kaku. Maka, ia kemudian mengasah dan menggembleng diri dengan tabah. Pada akhirnya, kekakuan-kekakuannya itu mencair ibarat es disengat terik matahari.

Banyak pula orang yang bertekad utnuk menjadi penceramah dan penyanyi. Tetapi, kekakuan dalam berbahasa adalah kendala utama. Kecuali, orang yang bersangkutan berani melatih diri. Orang yang sering dilanda kegugupan ketika mengekspresikan bahasa lisan disarankan menarik napas dalam-dalam beberapa kali sebelum memulai bicara. Menurut Dale Carnegie, tindakan-tindakan yang tidak boleh dilakukan ketika gugup di hadapan banyak orang adalah memperlihatkan kegelisahan seperti dengan membuka dan menutup kancing baju atau memutar-mutar pergelangan tangan.

Jika memang tak bisa, ada baiknya jika kita meletakkan tangan di belakang badan. Dengan cara demikian, walaupun kita, menggerak-gerakkan jari atau memutar-mutar pergelangan tangan tidak ada orang yang melihat dan tahu bahwa kita sedang diterjang kegugupan.

Modal untuk mengembangkan kemampuan sebagai orator bukanlah keberanian moral, melainkan kecakapan untuk menguasai saraf-saraf. Dengan rajin berlatih, kita akan mampu menguasai saraf dan diri kita sendiri. Kita pun harus tetap tekun dan jangan berhenti di tengah jalan. Jangan sampai istilah “hangat-hangat tahi ayam” menodai kapabelitas kita.

Salah satu kepuasan orang yang memiliki bakat memimpin adalah kemampuannya dalam mengendalikan orang lain, tentu saja dalam hal positif. Salah satu usaha untuk meraih wibawa seorang pemimpin adalah dengan mencoba menjumpai orang-orang yang mau belajar bersama dengan kita.

Saran lain untuk melatih diri dalam hal kepemimpinan adalah dengan cara berlatih di depan kawan-kawan, adik-adik, dan Keluarga sendiri. Namun rasa cemas dan takut dapat menganggu tercapainya hasil yang diharapkan. Perasaan ini timbul karena kebodohan dan keragu-raguan. Juga, disebabkan oleh kurangnya kepercayaan diri.

Keresahan dan ketakutan selalu timbul jika seseorang tidak tahu tindakan yang sesungguhnya harus dilakukan. Jika kita senantiasa berlatih, kegalauan itu perlahan-lahan akan lenyap.

Kita memang akan menjumpai kesulitan pada masa-masa awal berlatih mengembangkan bakat. Sebab, seperti dikatakan oleh orang bijak, bahwa setiap permulaan itu susah dan setiap akhir itu adalah mudah. Maka, seorang calon guru sering-seringlah berlatih berbicara dan seorang calon penulis kerap-keraplah menulis. Seorang orator pemula perlu menyediakan catatan-catatan singkat. Tak perlu malu. Waktu kecil, bukankah untuk berlatih berjalan kita juga perlu memegang meja atau kursi.

Sangatlah bijaksana jika setiap orang senantiasa mau dan mampu menggali dan mengembangkan bakat terpendam demi kemajuan diri dan kemajuan bangsa. Tidak ada kata terlambat untuk memulainya.

Metode Konvensional dalam Mengajar Harus Ditinggalkan


Martabat suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas bangsa itu sendiri. Adapun kualitas suatu bangsa diukur dari tingginya sumber daya manusianya. Para pakar telah sama-sama setuju bahwa jalan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah dengan pendidikan. Dengan demikian, dunia pendidikan memegang peranan yang betul-betul penting.

Memang, pendidikan sungguh vital bagi kemajuan bangsa. Maka sangatlah beralasan jika kemudian Presiden Soeharto mencanangkan program wajib belajar enam tahun ini bertepatan dengan Hardiknas pada 2 Mei 1984. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada Mei 1994, kembali beliau mendengungkan program wajib belajar sembilan tahun.

Hal itu dilakukan demi mempercepat terwujudnya sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas. Untuk menyukseskan wajib belajar Sembilan tahun itu, maka sangat dibutuhkan para pendidik yang betul-betul ahli (profesional) agar dapat mengelola pendidikan secara baik.

Mengingat betapa pentingnya sektor pendidikan demi suksesnya pembangunan sumber daya manusia, berbagai usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan telah sama-sama kita rasakan dan kita lihat. Banyak pula pembaruan demi lebih meningkatnya mutu pendidikan. Di antaranya, mengganti kurikulum yang secara otomatis diikuti dengan berubahnya struktur buku-buku pelajaran. Selain itu, mengupayakan peningkatan kualitas guru-guru dengan cara penataran, seminar-seminar dan latihan kerja. Begitu juga penyediaan sarana dan prasarana bidang pendidikan.

Diterapkannya usaha-usaha tersebut tentu saja menuntut pengorbanan moral dan material. Misalnya, memberikan keringanan kepada guru-guru dengan mengurangi jumlah jam mengajar di sekolah agar dapat mengikuti penataran, baik dalam bentuk sanggar-sanggar meupun MGMP. Namun, segala upaya itu belum lagi menampakkan pencapaian target seperti yang diharapkan.

Bukti tersebut dapat kita ketahui lewat hasil UAN/UN yang tetap rendah tiap tahun. Lebih dari itu, rendahnya nilai-nilai para murid juga dipengaruhi oleh keseharaian mereka sendiri. Kita dapat menyaksikan, baik melalui media massa maupun mengamati langsung, betapa jumlah murid-murid yang malas kian melonjak. Meningkat pula angka kenakalan pelajar.

Barangkali kita patut bertanya : apa yang menyebabkan lambatnya peningkatan kualitas pendidikan? Untuk menemukan jawabannya, kita dapat menilik proses belajar mengajar di sekolah-sekolah. Sistem pengajaran yang diterapkan oleh guru kepada murid baru sampai pada taraf memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan sekadarnya, belum sampai pada meletakkan nilai-nilai wawasan sosial dan kemanusiaan, serta memberikan pengatahuan-pengetahuan praktis untuk bekal hidup dalam bermasyarakat.

Yang lebih menggelikan, hubungan antara guru dan murid ibarat cerek dengan cangkir : yang satu sebatas memberi dan yang lain sekadar menerima.

Yang tak kalah lucu, sistem pengajaran yang diterapkan oleh guru hanya mengulang-ngulang serta sangat minim kreativitas dalam mengembangkan pelajaran dan seni mengajar. Sama-sama kita perhatikan bahwa masih ada saja guru-guru yang menggunakan buku dan catatan yang sama sepanjang tahun. Ada pula guru yang karena kurang menguasai bahan, mengambil langkah mudah, yaitu meringkas isi buku untuk dicatat para siswa. Atau, menghafalkan kata-kata dalam buku agar keesokan harinya dapat didiktekan kepada murid di dalam kelas.

Ilmu guru yang sedemikian bisa dikatakan cuma lebih tua satu malam daripada murid. Inilah kenyataan yang membuat integrasi guru-murid berjalan macet. Guru sibuk berbicara di depan kelas, sedangkan murid asyik melucu atau mengobrol di belakang.

Pengajaran kita pun masih sekadar menyodorkan teori-teori untuk dihafal kemudian akan diuji. Padahal, belajar dengan cara menghafal sungguh mematikan kreativitas otak untuk berpikir. Metode itu juga menunjukkan bahwa guru-guru masih bersetia dengan pengajaran sistem kuno. Sistem komunikasi dalam kelas pun cenderung satu arah dan murid lebih dominan bersikap “yes man” kepada guru.

Mengkritik ataupun beradu argumen dengan guru seolah dipandang tabu. Dalam sebuah dialog ringan dengan murid, ia mengatakan bahwa ia dibelenggu ketakutan. Jika “melawan”, murid tersebut khawatir akan berdampak pada merahnya isi rapor.

Ciri-ciri sistem pengajaran kuno atau konvensional sangat terlihat jelas dalam interaksi guru-murid di sekolah dewasa ini. Di antaranya adalah pendekatan yang masih bersifat otoriter. Guru menganggap bahwa dirinyalah yang paling benar, sehingga mengharuskan setiap murid menerima apa saja yang dikatakannya. Pernah terjadi pada sebuah sekolah, seorang murid yang kritis dan cerdas mencoba memberikan usul atau kirik konstruktif kepada seorang guru.


Namun, apa yang terjadi? Sang guru menjadi merah muka, sebagai bukti bahwa ia tak suka atas usul muridnya. Guru itu tampak kesal dan pada akhir semester dia telah menodai rapor murid dengan angka merah. Sang guru melakukan tindakan memalukan tersebut entah karena merasa dendam karena merasa ilmunya dilampaui oleh sang murid atau semata-mata memang memperturutkan emosi.

Berbicara mengenai metode pendekatan dalam pendidikan, ada tiga bentuk metode, yaitu konvensional, progresif, dan liberal. Sekolah-sekolah kita sudah amat mengenal dan terbiasa dengan metode konvensional. Karena itulah, metode inilah yang kemudian melekat terus bak perangko.

Ciri-ciri kelas yang masih menerapkan metode konvensional adalah jumlah murid yang berjibun, karena lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas. Dalam proses belajar mengajar, siswa bersikap pasif. Mereka menelan mentah-mentah ilmu yang disodorkan tanpa berniat mencernanya terlebih dahulu. Dalam menyerap pelajaran pun seolah-olah guru serba tahu secara mutlak.

Ceramah merupakan cara mengajar yang lazim diterapkan. Murid-murid kurang terlibat secara aktif dalam proses belajar mengajar. Inilah penyebab suasana kelas dan belajar menjadi serba membosankan. Tak heran jika hampir setiap hari ada saja murid yang sengaja membolos. Maka, tidak berlaku lagi kata-kata mutiara yang berbunyi “kelasku adalah istanaku”. Tetapi, yang terjadi adalah “kelasku terasa bagaikan penjara”.

Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, peran guru tidak hanya membantu proses pembelajaran atau sebagai seseorang pengambil keputusan instruksional. Tetapi lebih dari itu, guru harus dapat berperan sebagai konselor, motivator, dan fasilitator bagi murid-murid. Musykil pula seorang guru mampu berpartisipasi secara optimal dalam pendidikan jika ia sendiri belum menampakkan kualitas diri. Untuk itu, kita mengharapkan agar guru-guru bersikap tulus dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Andaikata mereka mengikuti penataran, misalnya, janganlah hanya menerapkan sertifikat untuk menaikkan kredit point.

Apalagi malah bersikap pasif atau sekadar hura-hura.


Agar dapat memainkan peran dengan baik dalam dunia pendidikan, maka guru harus senantiasa membelajarkan diri, autodidaktif. Tidak ada tempat lagi bagi guru untuk selalu berlindung di balik alasan untuk tidak belajar. Sediakanlah waktu setiap hari untuk menyentuh buku-buku yang bermanfaat dan dapat menambah wawasan. Harapannya, kita semua dapat menjadi guru yang berkualitas dan dapat mendidik murid-murid menjadi sumber daya manusia yang bernas pula.