Showing posts with label Kurikulum. Show all posts
Showing posts with label Kurikulum. Show all posts

Guru Wajib Tahu "Strategi Pelaksanaan Kurikulum"

Strategi Pelaksanaan Kurikulum adalah cara bagaimana melaksanakan kurikulum sebagai program belajar agar dapat memengaruhi siswa sehingga dapat mencapai tujuan kurikuler, dan lebih jauh lagi dapat mencapai tujuan pendidikan. Ini mengartikan bahwa strategi pelaksanaan kurikulum menyangkut opersionalisasi kurikulum di sekolah.


Ada empat komponen yang menunjang operasionalisasi kurikulum, yakni: kegiatan pembelajaran, kegiatan administrasi supervisi, kegiatan bimbingan, dan kegiatan penialaian. Berikut paparan lebih jelasnya.

a. Kegiatan pengajaran adalah pelaksanaan proses belajar mengajar, yaitu suatu proses menerjemahkan dan mentransformasikan nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum (program belajar) kepada para siswa melalui interaksi belajar mengajar di sekoah.

b. Kegiatan administrasi berkenaan dengan upaya mendayagunakan semua sumber, baik personal maupun material, secara efektif dan efesien guna menunjang tercapainya tujuan pendidikan. Tugas guru sehubungan dengan administrasi yang dilaksanakan di sekolah antara lain meliputi administrasi pengajaran, kesiswaan, keuangan, dan hubungan sekolah dengan masyarakat.

Supervisi berkenan dengan bantuan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih efektif. Supervisi lebih banyak menjadi tugas seorang supervisor (Kepala Sekolah, Pemilik/Pengawas dan pejabat pendidikan lainnya).

c. Bimbingan penyuluhan adalah upaya memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar agar para siswa dapat mengatasi kesulitan yang dihadapinya. Upaya ini dilakukan agar hasil belajar para siswa lebih optimal. Sebenarnya proses bantuan bukan hanya diberikan kepada siswa yang hanya mengalami kesulitan belajar saja, tetapi juga kepada siswa lainnya.

Misalnya upaya memberi bantuan dalam pemilihan jurusan, pemilihan pekerjaan, dan lain-lain. Upaya melaksanakan bimbingan di sekolah menjadi tugas guru, di samping sebagai pengajar dan sebagai administrator kelas. Di beberapa sekolah, khususnya di kota-kota besar, tenaga guru pembimbing (counsellor) adalah tersendiri, yakni guru-guru lulusan IKIP jurusan Bimbingan Penyuluhan.

d. Penilaian adalah upaya yang dilakukan untuk menentukan apakah tujuan pendidikan dan tujuan pengajaran telah tercapai atau tidak. Upaya ini ditempuh melalui proses membandingkan tingkah laku nyata dengan suatu standar tingkah laku yang diinginkan (diniatkan).

Jadi, tekanan penilaian pada dasarnya mengukur tercapai tidaknya tujuan pengajaran. Penilaian merupakan tugas dan tanggung jawab guru di sekolah, baik penilaian yang dilaksanakan pada waktu mengajar (formatif) maupun penilaian yang dilaksanakan pada akhir semester (sumatif).

Ketiga aspek kurikulum tersebut, yakni tujuan, isi/materi program, dan strategi pelaksanaan program tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Tujuan adalah arah yang harus dicapai. Isi adalah bahan yang digunakan untuk mencapai tujuan, dan strategi adalah cara bagaimana mencapai tujuan tersebut.

Baca juga: Guru dan Kurikulum “Satu Kesatuan yang Tidak Terpisahkan”

Guru dan Kurikulum “Satu Kesatuan yang Tidak Terpisahkan”

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa kurikulum adalah program belajar, atau hasil belajar yang diniatkan. Program tersebut disusun dan dibukukan dalam sebuah karya tulis yang disebut “buku kurikulum”. Ada buku kurikulum SD, SMP, SMA dan lain-lain. Dalam buku kurikulum tersebut terdapat tujuan yang ingin dicapai, isi program, pedoman dan pelaksanaannya.

Tujuan dan isi program disusun dalam suatu rancangan yang disebut Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP). Setiap bidang studi terdapat GBPP-nya. GBPP berisikan tujuan kurikuler, tujuan instruksional, pokok bahasan, sub pokok bahasan dan distribusi kelas dan semester.


GBPP dapat diartikan kurikul suatu bidang studi, sehingga GBPP IPS adalah kurikulum IPS, GBPP IPA tidak lain adalah kurikulum IPA, dan seterusnya. Adapun pedoman pengajaran, penilaian, bimbingan, semuanya disusun tersendiri. Isinya berupa petunjuk dan contoh-contoh bagaimana hal itu harus dikerjakan oleh guru di sekolah.

Buku kurikulum itu sudah tentu mempunyai kekuatan atau potensi dalam memengaruhi pribadi anak didik bila diterjemahkan dan ditransformasikan oleh guru kepada siswa. Namun, jika tidak ditransformsikan oleh guru, kurikulum tidak mempunyai kekuatan apa-apa, bahkan merupakan suatu benda mati yang tidak ada gunanya.

Oleh sebab itu, kurikulum dan guru harus merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan. Artinya, kurikulum harus ada dalam otak guru. Sehubungan dengan itu, maka guru harus memiliki kompetensi berikut.

1. Menguasai kurikulum, artinya guru harus mempelajari kurikulum. Guru harus menguasai tujuan kurikulum, isi program (pokok bahasan) dan sub pokok bahasan yang harus diberikan kepada siswa, pada kelas dan semester mana pokok bahasan itu diberikan, GBPP, dna bagaimana ia harus memberikannya.

2. Menguasai isi dari setiap pokok bahasan/sub pokok bahasan dengan cara mempelajari buku pelajaran (text book) yang berkenan dengan pokok bahasan tersebut.

3. Mampu menerjemahkan dan menjabarkan GBPP tersebut menjadi suatu program yang lebih operasional sehingga ia siap mentransformasikan kepada siswa. Penjabaran ini dilakukan melalui suatu penyusunan program pengajaran atau rencana pengajaran.

Di sinilah pentingnya guru mempunyai keterampilan menyusun perencanaan/persiapan pengajaran yang bersumber dari GBPP. Berdasarkan penelitian di beberapa sekolah, yang dilakukan oleh para siswa jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Bandung (sekarang UPI) pada waktu menulis skripsi, ternyata masih banyak guru yang tidak pernah mempelajari GBPP, dan tidak menggunakannya pada waktu menyusun satuan pelajaran (perencanaan mengajar).

Jika hal tersebut benar, maka apa yang diberikan guru kepada siswa tidak bersumber pada GBPP. Ini berarti bahwa pengajaran yang dilakukan guru di sekolah sudah menyimpang dari kurikulum yang sudah ditentukan.

Baca juga:
Memahami Secara Jelas Pengertian Kurikulum
Memahami Tujuan Program dalam Pembelajaran
Strategi Pelaksanaan Kurikulum
Materi atau Isi Porgram dalam Pembelajaran

Guru tidak berwenang membuat kurikulum sendiri sebab kurikulum sudah ada. Tugas guru hanya pelaksanaan kurikulum dan Pembina kurikulum. Memperkaya dibolehkan, sepanjang syarat minimal yang telah ditetapkan dipenuhi terlebih dahulu. Kesenjangan antara kurikulum yang telah ditetapkan dengan apa yang dilaksanakan guru bukan saja dinilai menyimpang, tetapi juga berarti mengurangi hasil pendidikan di sekolah. Ini bisa dicegah apabila guru selalu mengunakan GBPP sebagai pedoman mengajar di sekolah.

Materi atau Isi Porgram dalam Pembelajaran

Isi atau materi program tidak lain ialah bidang studi atau mata pelajaran yang telah terpilih berdasarkan kriteria keilmuan dan kegunaannya, yang dapat menunjang tercapainya tujuan konstitusional. Mata pelajaran pada dasarnya adalah pengetahuan dan pengalaman manusia pada masa lampau yang di susun secara logis, sistematik, melalui prosedur dan metode keilmuan. Sementara itu bidang studi ialah kumpulan atau penggabungan dari sejumlah mata pelajaran serumpun.


Bidang studi adalah terjemahan dari broadfield. Misalnya bidang studi IPA terdiri dari gabungan mata pelajaran Fisika, biologi, astronomi, kimia, dan lainnya. Bidang studi IPS, gabungan dari mata pelajaran Sejarah, Ilmu Bumi, Sosiologi, Antropolgi, Ekonomi, dan lainnya.

Untuk setiap tingkat pendidikan, mata pelajaran yang tergabung dalam suatu bidang studi tidaklah sama. Misalnya di SMP yang termasuk bidang studi IPS adalah mata pelajaran Sejarah, Geografi, Kependudukan, Ekonomi Koperasi, dan tata buku/hitung dagang. Setiap bidang studi atau mata pelajaran kemudian ditetapkan ruang lingkup (scope) dan urutan penyajiannya berdasarkan kelas/semester (sequences).

Ada dua aspek penting dalam menentukan ruang lingkup bahan, yakni tingkat kedalaman bahan dan keluasan bahan. Jadi, sekalipun mata pelajarannya sama, misalnay sejarah, tetapi tingkat kedalaman dan keluasan bahan Sejarah di SMP berbeda dengan Sejarah di SMA.

Itulah sebabnya penyusunan kurikulum untuk beberapa bidang studi/mata pelajaran menganut teori spiral kurikulum.

Dalam kurikulum, penentuan ruang lingkup bahan hanya terbatas kepada penetapan pokok bahasan/sub pokok bahasan. Sementara itu isi dari setiap pokok bahasan/sub pokok bahasan disusun dan diurutkan lagi dalam buku pelajaran. Oleh sebab itu, penulisan buku pelajaran harus mengacu kepada kurikulum.

Mengenai urutan penyampaian bahan, yakni pendistrubusian pokok bahasan berdasarkan kelas/semester, menggunakan alur keilmuan yang ada dalam bidang studi/mata pelajaran tersebut. Biasanya berlaku aturan dari yang mudah menuju kepada yang sulit, dari yang sederhana menuju kepada yang kompleks, dari yang sifatnya mendasar menuju kepada yang lebih khusus, dan dari yang factual menuju kepada konseptual.

Oleh sebab itu, harus tercermin adanya bahan yang tingkat kedalaman dan keluasannya berbeda antara kelas I dengan kelas II di SMP atau di SMA. Bahan di kelas II relative lebih luas, lebih dalam dari bahan yang diberikan di kelas I, bukan sebaliknya.

Baca juga: Memahami Tujuan Program dalam Pembelajaran

Memahami Tujuan Program dalam Pembelajaran

Tujuan program dinyatakan dalam suatu rumusan mengenai tingkah laku yang diharapkan dimiliki siswa setelah menerima program tersebut. Secara hierarkis, tujuan program dibedakan menjadi beberapa kategori, mulai dari tujuan yang bersifat umum sampai tujuan yang bersifat khusus.

Kategori pertama adalah tujuan lembaga pendidikan atau tujuan institusional. Misalnya, ada tujuan Sekolah Dasar, SMP, SMA, SPG, dan lain-lain. Tujuan lembaga (tujuan institusional) tidak lain adalah rumusan tingkah laku yang diharapkan dimiliki siswa setelah Ia menyelesaikan program pendidikan di lembaga pendidikan tersebut.



Tujuan ini sudah tentu umum sebab merupakan tujuan jangka panjang (6 tahun untuk SD atau tiga tahun untuk SMP), yakni lamanya pendidikan di lembaga pendidikan tertentu.

Sebagai contoh tujuan institusional diantaranya adalah tujuan SMP, yakni agar para lulusan:


a. menjadi warga Negara yang baik sebagai manusia yang utuh, sehat, dan kuat lahir batin.
b. menguasai hasil pendidikan umum yang merupakan kelanjutan dari pendidikan di SD dan
c. memiliki bekal untuk melanjutkan pelajarannya ke sekolah lanjutan tingkat atas, dan untuk terjun ke masyarakat.


Tujuan umum di atas kemudian dijabarkan menjadi tujuan yang lebih khusus. Tujuan khusus tersebut dibagi ke dalam tiga bidang tujuan, yakni bidang pengetahuan, bidang keterampilan serta bidang nilai dan sikap.


Kategori kedua adalah tujuan kurikuler atau tujuan kurikulum, yakni tujuan dari setiap bidang studi atau mata pelajaran yang diberikan atau diprogramkan di setiap lembaga pendidikan tersebut. Seperti halnya tujuan institusional, tujuan kurikulum berisikan rumusan tingkah laku yang diharapkan dikuasai siswa.


Rumusan tingkah laku tersebut diharapkan dapat dikuasai oleh siswa setelah ia menyelesaikan bidang studi yang dipelajarinya. Dengan kata lain, tujuan kurikuler lebih khusus daripada tujuan institusional, atau merupakan penjabaran dari tujuan institusional.


Contoh tujuan kurikuler adalah tujuan IPA, IPS, PMP, dan bidang studi lainnya. Oleh sebab itu, untuk satu tujuan institusional dapat dijabarkan menjadi beberapa tujuan kurikuler. Dapat pula diartikan bahwa tujuan konstitusional tercapai apabila seluruh tujuan kurikuler dikuasai oleh semua siswa.


Kategori ketiga adalah tujuan intruksional (tujuan pengajaran). Bila tujuan kurikuler adalah bidang studi, maka tujuan instruksional adalah tujuan dari setiap bahan yang dijabarkan dari setiap bidang studi. Kita ketahui bahwa setiap bidang studi mempunyai ruang lingkup bahan yang terdiri dari beberapa pecahan/bagian, yang kita kenal dengan istilah pokok bahasan dan sub pokok bahasan.


Baca juga: Materi atau Isi Porgram dalam Pembelajaran

Bila guru mengajar satu pokok bahasan dari suatu bidang studi, berarti guru tersebut mengajarkan sebagian bahan dari bidang studi tersebut. Jika guru selesai mengajarkan semua pokok bahasan yang terdapat dalam bidang studi tertentu, misalnya IPS, dapat dikatakan selesailah bidang studi IPS. Oleh sebab itu, dapat dirumuskan bahwa tujuan instruksional adalah rumusan kemampuan atau tingkah laku yang diharapkan dikuasai oleh siswa setelah ia menyelesaikan suatu program pengajaran.


Tujuan pengajaran dapat dibedakan menjadi tujuan pengajaran umum dan tujuan pengajaran khusus.


Dalam setiap rumusan tujuan yang telah dikemukakan di atas, terdapat istilah tingkah laku atau kemampuan. Maksud kata tingkah laku dalam rumusan tujuan mengandung tiga aspek, yakni aspek pengetahuan, nilai dan sikap, serta keterampilan. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tida dapat terpisahkan.


Tingkah laku ini (pengetahuan, nilai dan sikap, serta keterampilan) pada hakikatnya adalah hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa.


Baca juga: Memahami Secara Jelas Pengertian Kurikulum

Memahami Secara Jelas Pengertian Kurikulum

Ada tiga variabel utama yang saling berkaitan dalam strategi pelaksanaan pendidikan di sekolah. Ketiga variabel tersebut adalah kurikulum, guru, dan pengajaran atau proses belajar dan mengajar.

Guru menduduki kedudukan sentral sebab peranananya sangat menentukan. Ia harus mampu menerjemahkan dan menjabarkan nilai-nilai tersebut kepada siswa melalui proses pengajaran di sekolah. Guru tidak membuat/menyusun kurikulum, tetapi ia menggunakan kurikulum, menjabarkannya, serta melaknsanakannya melalui suatu proses pengajaran.

Kurikulum diperuntukkan bagi siswa, melalui guru yang secara nyata memberikan pengaruh kepada siswa pada saat terjadinya proses pengajaran.


Proses sampainya kurikulum ke siswa.

Diagram diatas menjelaskan bahwa sebelum kurikulum sampai kepada siswa, kurikulum itu, menempuh suatu proses, yakni penjabaran kurikulum dalam bentuk proses pengajaran. Ini berarti proses pengajaran pada hakikatnya adalah pelaksanaan kurikulum oleh guru dalam ruang lingkup yang lebih khusus dan terbatas.

Pengertian Kurikulum
Kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata curir yang berarti pelari. Kata curere artinya tempat berpacu. Curriculum diartikan jarak yang ditempuh oleh seorang pelari.

Pada saat itu, kurikulum diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa/murid untuk mencapai ijazah.

Rumusan kurikulum tersebut mengandung makna bahwa isi kurikulum tidak lain adalah sejumlah mata pelajaran (subject matter) yang harus dikuasai oleh siswa untuk dapat memperoleh ijazah. Itulah mengapa kurikulum sering dipandang sebagai rencana pelajaran untuk siswa.

Ilmu pengetahuan selalu berubah dan berkembang, demikian juga dengan bidang pendidikan. Perubahan dalam bidang pendidikan membawa pengaruh terhadap perubahan pandangan mengenai kurikulum. Kurikulum yang semula dipandang sebagai sejumlah mata pelajaran, kemudian beralih makna menjadi semua kegiatan atau semua pengalaman belajar, yang diberikan kepada siswa di bawah tanggung jawab sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan.

Konsep ini mengandung makna, bahwa isi kurikulum bukan hanya sejumlah mata pelajaran, tetapi juga semua kegiatan dan pengalaman belajar siswa di sekolah yang mempengaruhi pribadi siswa sepanjang menjadi tanggung jawab sekolah.

Itulah sebabnya tidak ada pemisahan antara kegiatan intrakurikuler dengan kegiatan ekstrakurikuler, keduanya tarmasuk kurikulum.

Baca juga: Memahami Tujuan Program dalam Pembelajaran

Pengertian kurikulum di atas menunjukkan pengertian/makna yang lebih luas sebab kurikulum tidak terbatas pada mata pelajaran saja, tetapi semua aspek yang mempengaruhi pribadi siswa. Dalam pengertian ini, menunjukkan adanya fungsi kurikulum sebagai alat mengubah pribadi siswa. Dengan kata lain, kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Walaupun demikian, kurikulum dalam pengerian ini pun masih belum memberikan arah secara operasional, serta belum ada batasan yang jelas mengenai apa yang dimaksud “semua kegiatan”, apa isinya dan bagaimana bentuknya.

Oleh sebab itu akhirnya disepakati bahwa kurikulum dipandang atau diartikan sebagai program belajar bagi siswa (plan for learning) yang disusun secara sistematik, dan diberikan oleh lembaga pendidikan tertentu untuk mencapai tujuan pendidikan.

Baca juga: Strategi Pelaksanaan Kurikulum

Sebagai program, kurikulum adalah niat atau harapan. Atas dasar itu, ada pandangan yang menyatakan bahwa kurikulum tidak lain adalah hasil belajar yang diniati/diharapkan atau intended learning out come.

Dikatakan hasil belajar yang diniati sebab program belajar itu baru merupakan rencana, patokan, gagasan, itikad, rambu-rambu, yang nantinya harus dicapai atau dimiliki oleh para siswa melalui proses pengajaran. Program belajar belum tentu dapat mempengaruhi siswa jika tidak dilaksanakan. Itulah sebabnya, kurikulum sebagai program belajar tidak dapat dipisahkan dengan pengajaran.

Kurikulum adalah niat, pedoman, rencana, sedangkan pengajaran adalah pelaksanaan untuk mecapai niat atau rencana tersebut. Menurut Beauchamp, kurikulum adalah dokumen yang disusun untuk digunakan sebagai dasar dalam merencanakan pengajaran.

Dari rumusan diatas juga dapat kita simpulkan bahwa kurikulum adalah program belajar atau document yang berisikan hasil belajar yang diniati (diharapkan dimiliki siswa) di bawah tanggung jawab sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan. Program belajar masih bersifat umum yang memerlukan penjabaran lebih lanjut oleh guru sebelum diberikan kepada siswa melalui proses pengajaran.

Kurikulum sebagai program belajar bagi siswa harus memiliki tujuan program yang ingin dicapai, isi program yang harus diberikan. Dan stretegi/cara bagaimana melaksanakan program tersebut.

Baca juga:
Wajib Tahu! Ini 8 Kiat Memotivasi Anak Supaya Rajin Belajar
Perbedaan Kecerdasan dan Ragam Gaya Belajar