Showing posts with label Informasi. Show all posts
Showing posts with label Informasi. Show all posts

Benarkah Simbol Dajjal di Sulawesi Penyebab Tsunami?

Sumber foto by Google
Beberapa waktu lalu, setelah gempa hebat melanda Palu, Sulawesi Tengah yang juga disusul oleh terjangan tsunami yang teramat dahsyat, perbincangan mengenai Sulawesi semakin hangat dibicarakan.

Termasuk salah satu yang menarik perhatian adalah tentang isu adanya Simbol Mata Dajjal di Sulawesi, tepatnya di Sulawesi Barat, yaitu Mamuju, pantai Manakkara.

Hal ini benar-benar mengejutkan, entah lambang/simbol tersebut hanya kebetulan saja atau memang sebuah ritual illuminati.

Silakan Anda cek sendiri di google map, icon pantai Manakkara jelas-jelas terlihat seperti mata satu, yang mana mata satu sangat dipercaya sebagai simbol mata Dajjal.

Kabarnya, gempa dan tsunami yang melanda palu juga dikait-kaitkan dengan Dajjal dan adanya simbol tersebut.

Pendapat lain juga mengatakan bahwa, foto itu tak ada hubungannya dengan Palu. Anjungan tersebut berada di Pantai Manakarra, Mamuju, Sulawesi Barat. Sedangkan Palu, Donggala, Sigi, dan sekitarnya yang terkena bencana berada di Sulawesi Tengah. Anjungan Pantai Manakarra itu baik-baik saja saat terjadi gempa dan tsunami di Sulteng.

Baca juga: Penyebab Bencana Menurut Al-Qur'an dan Hadist

Wajib Tahu! Ini 5 Jenis Rencong Aceh

Indonesia memang kaya akan budaya dan adat istiadatnya menurut daerah masing-masing. Berbagai daerah pastinya memiliki senjata khas masing-masing misalnya Maluku yang memiliki parang salawaku sebagai senjata tajamnya, Jawa memiliki Keris dan Begitu juga dengan Aceh yang memilik Rencong (senjata mematikan yang membuat Belanda terheran-heran).

Berikut 5 jenis Rencong yang paling dikenal di kalangan masyarakat Aceh yang dibedakan atas bentuk dan kalangan yang menggunakannya.

1. Rencong Meucugek (Meucungkek)


Disebut meucugek karena pada gagang rencong terdapat suatu bentuk panahan dan perekat yang dalam istilah Aceh disebut cugek atau meucugek. Cugek ini diperlukan untuk mudah dipegang dan tidak mudah lepas waktu menikam ke badan lawan atau musuh.

2. Rencong Meupucok


senjata  ini memiliki pucuk di atas gagangnya yang terbuat dari ukiran logam yang pada umumnya dari emas. Gagangnya meupucok ini kelihatan agak kecil, yakni pada pegangan bagian bawah. Namun, semakin ke ujung gagang ini semakin membesar. Jenis semacam ini digunakan untuk hiasan atau sebagai alat perhiasan. Biasanya, ini dipakai pada upacara-upacara resmi yang berhubungan dengan masaalah adat dan kesenian.

3. Rencong Pudoi


Jenis ini gagangnya lebih pendek dan berbentuk lurus, tidak seperti pada umumnya. Terkesan, belum sempurna sehingga dikatakan pudoi. Istilah pudoi dalam masyarakat Aceh adalah sesuatu yang diangap masih kekurangan atau masih ada yang belum sempurna.

4. Rencong Meukuree


Perbedaan meukuree dengan jenis rencong lain adalah pada matanya. Mata jenis ini diberi hiasan tertentu seperti gambar ular, lipan, bunga, dan sebagainya. Gambar-gambar tersebut oleh pandai besi ditafsirkan dengan beragam macam kelebihan dan keistimewaan. Senjata ini disimpan lama, pada mulanya akan terbentuk sejenis aritan atau bentuk yang disebut kuree. Semakin lama atau semakin tua usia senjata ini, semakin banyak pula kuree yang terdapat pada mata senjata tersebut. Kuree ini dianggap mempunyai kekuatan magis.

5. Rencong Dandan



Merupakan jenis rencong dari suku Gayo yang saat ini termasuk sulit ditemukan namun masih banyak disebut diberbagai artikel tentang Rencong. Senjata tradisional ini termasuk Rencong dengan ukuran besar dan berwibawa tinggi di antara  yang lainnya. Konon gagangnya dibuat dari gading singa laut. Ujung gagang mirip dengan Rencong Meucugek tetapi tidak 90º dan mengecil keujungnya.

Material pembuatannya berbeda tingkatan tergantung siapa pemilik senjata itu. Sarungnya milik raja atau sultan terbuat dari gading, dan mata pisaunya terbuat dari emas. Pada badan rencong terukir ayat suci Alquran. Sedangkan untuk sarung rencong kebanyakan terbuat dari tanduk kerbau atau kayu, sedangkan badan terbuat dari kuningan atau besi putih yang kini kita kenal sebagai Stainless Steel.

Baca juga: Menakjubkan! Desain Rencong Aceh Terinspirasi dari Bismillah.

Referensi: asyraafahmadi.com

Mengenal Rencong “Senjata Mematikan Khas Aceh”


Beberapa sumber ada yang mengatakan senjata ini dikenal sejak Sultan Ali Muqhayat Syah pada kurun 1514-1528 untuk mengusir Portugis disaat itu dan masih dipergunakan hingga saat ini. Sedang hikayat-nya masih banyak menyimpan misteri.

Bagian-bagian pada rencong

1. Hulu
Hulu disebut juga gagang, yaitu tempat untuk menggenggam senjata tersebut. Dalam bahasa Aceh, hulu disebut goo. Bagian ini sangat diperhatikan oleh pengguna, terutama pada keindahan dan kekuatannya, sehingga bahan yang kuat pun diperlukan untuk membuat hulunya, misalnya tanduk atau gading. Hulu biasanya terbuat dari gading dan tanduk kerbau atau sapi yang sudah cukup tua.

Meskipun kuat, kayu tidak pernah dipakai untuk membuat hulu senjata ini karena justru akan menurunkan kredibilitas pemiliknya. Kalau menggunakan hulu dari kayu, maka senjata ini tidak berbeda dengan senjata tajam biasa.

Tingkatan masyarakat atas (kaum bangsawan) umumnya memakai rencong meupucok, yakni yang dibungkus dengan perhiasan emas pada gagangnya. Pada zaman dahulu, kaum bangsawan Aceh sering menggunakan rencong meucugeek. Senjata ini gagangnya terbuat dari gading gajah dan kadang-kadang dihiasi dengan perhiasan pada sumbunya. Sedangkan masyarakat umum menggunakan gagangnya dibuat dari tanduk yang sudah diulas licin, sehingga mutunya tidak kalah dengan rencong yang sumbunya terbuat dari gading atau bergagang pucok.

2. Ukiran
Hulu dan batang umumnya diukir dengan bentuk-bentuk hiasan tertentu, namun tidak ada syarat tertentu pada macam jenis ukiran. Pemilik bebas memilih bentuk ukiran yang mereka sukai karena ukiran-ukiran ini tidak mempunyai makna tertentu. Beberapa bentuk ukiran di antaranya adalah kalimat syahadat, bentuk daun, bunga, bintang, bulan, atau matahari. Bentuk-bentuk ini hanya menonjolkan estetika semata dan tidak mengandung unsur magis.


3. Perut
Perut adalah bagian rencong yang terdapat di bagian tengah mata. Perut merupakan bagian mata rencong yang lebih lebar dibanding ujung dan pangkalnya. Fungsi perut senjata ini adalah untuk membelah. Lengkungnya ini memberi batas tertentu yang berfungsi sebagai pengendali gagang atau sebagai alat untuk menekan.

Bagian perut  yang digunakan dalam perang akan digosok dengan racun. Selain bagian perut, bagian lain yang digosok dengan racun adalah bagian mata atau ujung senjata ini.

4. Ujung
Ujung merupakan bagian rencong yang tajam. Bagian ini menentukan keampuhan sebuah rencong: senjata ini akan semakin ampuh kalau ujungnya semakin tajam. Bagian ujungnya bukan hanya bagian ujung senjata ini saja, namun termasuk juga bagian pangkal perutnya.

5. Batang
Batang (bak rincong) adalah mata rencong yang pertama setelah tenggorokan atau leher senjata ini. Batangnya merupakan tumpuan kekuatan. Bagian ini lebih tebal dan kuat dibandingkan dengan perut dan ujungnya karena ini adalah senjata tikam. Jika dibandingkan dengan jenis senjata tikam lain, misalnya keris Jawa, maka akan terdapat beberapa perbedaan. Misalnya, bentuk keris Jawa berkelok-kelok dan membentuk lekukan-lekukan dengan jumlah tertentu, sedangkan rencong mempunyai bentuk tertentu yang kombinasi bentuk tersebut dapat dibayangkan membentuk kalimat basmalah.Hal tersebut tampaknya sesuai dengan budaya masyarakat Aceh yang kental dengan nuansa Islam.

Baca juga: Menakjubkan! Desain Rencong Aceh Terinspirasi dari Bismillah.

Referensi: asyraafahmadi.com

Menakjubkan! Desain Rencong Aceh Terinspirasi dari Bismillah.


Berbicara tentang Aceh atau Nanggroe Aceh Darussalam, selain dikenal dengan gelar Serambi Mekkah-nya, Rencong juga merupakan sesuatu yang sangat lekat jika kita membahas mengenai Aceh, itulah sebabnya Aceh juga disebut sebagai Tanoh Rencong, di samping hasil alamnya yang juga melimpah ruah.

Rencong adalah senjata khas Aceh yang juga dianut menjadi simbol dan lambang Aceh. Pada masa silam, para pejuang Aceh menggunakan Rencong sebagai senjata untuk melawan dan mengusir penjajah yang ingin menguasai Negeri Seribu Sultan tersebut. Rencong tidak saja digunakan oleh para pejuang melainkan juga dipakai oleh Raja-raja Aceh dan para bangsawan. Rencong diselipkan di sisi pinggan bagian depan yang memaknai kesiapan untuk bertempur sampai titik darah penghabisan.


Dalam catatan sejarah Aceh, mengenai asal usul rencong senjata mematikan khas Aceh ini tidak tertulis secara pasti, tetapi jika ditelusuri lebih jauh, terdapat suatu legenda yang mengisahkan bahwa dahulu di Aceh ada burung sejenis elang, pada masa itu orang-orang menyebutnya "geureuda" jika diartikan ke bahasa Indonesia adalah "rakus". Burung ini dikatakan rakus karena selalu meneror kehidupan masyarakat serta melahap tanaman, buah-buahan, serta ternak yang menjadi sumber kehidupan saat itu. Kendati sudah dicoba untuk menangkap burung tersebut dengan berbagai upaya, tetap saja tidak berhasil dan burung itu semakin leluasa dan gencar melakukan aksi terornya.

Histori Aceh, Asal Usul Rencong Senjata Mematikan Khas Aceh
Raja juga mengambil aksi dengan memerintahkan seorang pandai besi yang memiliki pengetahuan maqfirat besi untuk membuat senjata ampuh dan mematikan yang dapat membunuh burung geureuda tersebut. Sesudah melakukan puasa, shalat sunat, dan berdo'a kehadhirat Allah SWT. agar diberi petunjuk tentang jenis besi serta logam mana yang diambil dan senjata apa yang akan Ia buat nantinya.

Pada akhirnya sang pandai besi itu membuat sebilah rencong yang mirip tulisan bismillah dalam aksara Arab. Jika dilihat, memang rencong tersebut sangat mirip dengan bentuk lafadz bismillah yang mana gagangnya menyerupai “ba” awal pada kalimat bismillah, bentuk lancip yang menurun kebawah pada pangkal besi dekat dengan gagangnya merupakan aksara “Mim“, lajur besi dari pangkal gagang hingga dekat ujungnya merupakan aksara “Lam“, ujung yang meruncing dengan dataran sebelah atas mendatar dan bagian bawah yang sedikit keatas merupakan aksara “Ha“.

Atas dasar itulah rencong hanya digunakan untuk jihat fisabilillah dalam memerangi penjajah serta kezaliman di negeri ini.

Tingkatan-tingkatan Rencong
1. Rencong yang dipakai oleh raja atau sultan.
Rencong ini pada umumnya terbuat dari gading (sarung rencong) serta emas murni (sisi belatinya).

2.Rencong yang sarungnya umum terbuat dari tanduk kerbau atau kayu, sedang belatinya dari kuningan atau besi putih. 
Dalam catatan histori Aceh, seorang pejuang Aceh pernah menewaskan segerombolan serdadu Belanda yang bersenjata lengkap hanya dengan sebilah rencong. Peristiwa inilah yang membuat penjajah Belanda sangatlah terpukul bahkan juga stress memikirkan peristiwa yang aneh tersebut. Hal itu juga yang menyebabkan Belanda menyebut orang Aceh dengan sebutan “Aceh Pungo” yang jika diartikan ke bahasa Indonesia adalah “Aceh Gila. Itu pula yang menjadikan rencong sebagai senjata mematikan khas Aceh yang menyisakan ribuan kuburan Belanda di Aceh.

Baca juga: Mengenal Rencong “Senjata Mematikan Khas Aceh”

Referensi:
duniapusakagallerykeris.blogspot.com
asyraafahmadi.com

PKA VII Akan Mengangkat Tema “Aceh Hebat dengan Adat Budaya Bersyariat”


KEBUDAYAAN manusia di dunia berjalan dinamis. Diperlukan sebuah ruang untuk mempresentasikan kebudayaan tersebut secara berkala, sehingga mempunyai kesempatan untuk menegaskan atau menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Provinsi Aceh telah meresponnya semenjak tahun 1958 dengan menggelar Pekan Kebudayaan Aceh (PKA).

Tahun ini, akan menjadi helatan ketujuh yang dilaksanakan pada tanggal 5 – 15 Agustus 2018 di Kota Banda Aceh.


Pelaksanaan PKA kali ini akan mengangkat kembali seluruh khazanah kebudayaan masyarakat Aceh dari berbagai etnis yang ada di Aceh, baik dalam bentuk adat-istiadat, seni budaya, khazanah peninggalan sejarah Aceh, hingga berbagai produk kerajinan dari berbagai daerah di Aceh.

Tujuannya agar masyarakat dan generasi muda Aceh dapat mengetahui kekayaan dan keaslian budayanya sendiri, di samping memperkuat status Aceh sebagai destinasi wisata budaya kepada mancanegara.

Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi turut mempengaruhi unsur-unsur kebudayaan suatu daerah hingga mengalami perubahan, bahkan bisa menggeser nilai dari keaslian budaya itu sendiri. Sebagai upaya pelestarian dan penguatan kembali unsur-unsur kebudayaan Aceh, maka PKA VII mengangkat tema “Aceh Hebat dengan Adat Budaya Bersyariat”.

Tema ini menjadi penting karena kebudayaan Aceh sangat identik dengan nilai-nilai syariat. Religi telah menjadi fokus kebudayaan Aceh sejak islam pertama kali masuk ke Nusantara melalui daerah Aceh.

Syiar islam kemudian memberi banyak pengaruh dalam perjalanan dan perkembangan kebudayaan Aceh itu sendiri. Sehingga religi menjadi unsur dominan dalam kebudayaan Aceh dibandingkan dengan enam unsur kebudayaan universal lainnya. Maka sudah sepantasnya budaya Aceh yang islami digaungkan ke dunia internasional sebagai daya tarik pariwisata Aceh yang tidak ada di daerah lain.

Sejalan dengan hal itu, Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, mempersembahkan PKA 2018 dalam tujuh rangkaian kegiatan utama. Dimulai dari kegiatan Pembukaan Resmi yang rencananya dilakukan oleh Presiden RI disertai dengan pawai budaya; Pameran & Eksebisi menampilkan pameran kebudayaan, sejarah, kuliner, produk kreatif, dan bisnis kepariwisataan; Festival Seni & Budaya serta Lomba Atraksi Budaya yang keduanya bertujuan untuk memperkenalkan ragam adat-istiadat, seni, dan budaya Aceh; Seminar Kebudayaan & Kemaritiman untuk mengemukakan potensi kebudayaan dan kemaritiman Aceh; Anugerah Budaya untuk memberikan apresiasi kepada masyarakat Aceh yang telah berkontribusi dalam melestarikan kebudayaan daerahnya; dan diakhiri dengan Penutupan PKA VII secara resmi.

Baca juga: Yuk!!! Siapkan Diri dan Beramai-ramai ke Pasar Rakyat PKA VII

Yuk!!! Siapkan Diri dan Beramai-ramai ke Pasar Rakyat PKA VII

BANDA ACEH – Meski bertajuk sebagai event kebudayaan, kehadiran Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII diharapkan bisa memberikan dampak ekonomi yang signifikan kepada masyarakat, khususnya para pedagang.

Menggandeng Asosiasi Pedagang Kaki Lima, Panitia PKA VII turut menggelar Pasar Rakyat untuk menarik animo pengunjung. Pasar Rakyat ini akan melibatkan para pedagang kecil dan menengah baik dari Aceh maupun dari luar Aceh. Namun pedagang-pedagang lokal tetap menjadi prioritas.


Setiap harinya sejak 7 – 15 Agustus 2018 dari pukul empat sore hingga menjelang tengah malam, Pasar Rakyat digelar di area samping Taman Sulthanah Safiatuddin (Tasulsa) Bandar Baru, Banda Aceh. Di sini para pengunjung bisa melihat dan membeli aneka produk kerajinan, cinderamata, dan aneka produk industri rumah tangga di Aceh.

Kasatpol PP WH Aceh selaku Ketua Panitia Pasar Rakyat PKA VII, Dedy Yuswadi, melalui Kasie Pembinaan Pengawasan Penyuluhan Satpol PP dan WH Aceh, Syauqas Rahmatillah, mengatakan, pada waktu yang bersamaan di Blang Padang juga ada Aceh Expo sebagai ajang promosi produk-produk unggulan berbasis industri kreatif, budaya, dan pariwisata Aceh yang dinilai potensial mendatangkan investor. Aceh Expo digelar pada 4 – 13 Agustus 2018 dengan durasi waktu yang sama.

Sejauh ini kata Syauqas, sudah banyak para pedagang yang mendaftar agar bisa ikut berpartisiasi dalam event ini.

“Untuk sementara sudah overload. Antusias para pedagang baik yang lokal maupun luar Aceh sangat tinggi. Makanya nanti coba kita prepare di lapangan, ter-cover atau enggak, kalau tidak bisa segera kita carikan solusinya,” kata Syauqas, Rabu (18/7/2018).

Walaupun lokasi Pasar Rakyat ini dibuat tak jauh dari lokasi utama ajang kebudayaan terbesar di Provinsi Aceh itu, pihaknya memastikan jalur transportasi dua arah di kawasan itu nantinya tetap berjalan tertib dan lancar.

Dengan dibuat di lokasi ini kata Syauqas, akan memudahkan pengunjung Pasar Rakyat yang tetap ingin menikmati berbagai pertunjukan di area utama PKA di Tasulsa.

PKA VII digelar sejak 5 – 15 Agustus 2018 di 16 lokasi terpisah. Hal ini membuat PKA VII 2018 ini berbeda dengan pagelaran sebelumnya. Event ini akan dimeriahkan dengan 56 rangkaian acara dan ribuan peserta dari kabupaten/kota di Aceh, nasional, dan luar negeri.

Fitri, Duta Wisata Asel yang Ternyata Alumni DA


Apa kabar sobat wahana? Kali ini kita bertemu lagi pada pembahasan menarik mengenai Darul Aitami Aceh Selatan. Ada saja yang bisa dibahas mengenai DA, mulai dari sistem belajarnya yang menakjubkan, hingga siswa-siswanya yang dikenal sangat berprestasi. Kali ini, kita akan membahas tentang seorang Duta Wisata Aceh Selatan yang ternyata juga alumni DA.

Bagi sobat wahana yang mungkin adalah alumni DA pasti tidak sabar lagi ingin tahu siapa beliau, sebelum kita membahas lebih lanjut, alangkah bagusnya kita bahas dulu sedikit tidaknya mengenai Duta Wisata. Barangkali masih ada diantara kita yang belum tahu apa sih DW itu?

Ada banyak kata ''Duta'' yang seringkali kita dengar. Duta Bahasa, Duta Mahasiswa, Duta Pendidikan dan lain sebagainya hingga Duta Wisata.

Lalu apa sih Duta Wisata itu?

Dikutip dari laman Wikipedia, berikut defenisi mengenai Duta Wisata.

“Duta Wisata Indonesia adalah remaja berusia 16 hingga 26 tahun pemenang Pemilihan Duta Wisata yang diikuti oleh para peserta dari 33 provinsi di Indonesia. Mereka diharapkan menjadi citra teladan generasi muda Indonesia yang dinamis, kreatif dan cerdas, juga menjadi ujung tombak Dinas Pariwisata dalam mempromosikan kepariwisataan Indonesia secara nasional maupun internasional.

Nah, itu dia sobat defenisi dari Duta Wisata. Setiap Provinsi dan Kabupaten juga memiliki DW masing-masing untuk mempromosikan daerah itu sendiri. Menjadi DW itu bukan sembarang orang, harus cerdas, kreatif dan dinamis.

Well, kita akan obati rasa penasaran sobat tentang siapa sih Duta Wisata Aceh Selatan yang katanya adalah Alumni Darul Aitami?

Is it true??
Fitri Anizar, itulah namanya. Gadis kelahiran Kampong Baro, 24 Februari 1993 yang hoby Volunteering, Traveling and Singing.

Beberapa waktu lalu, tim Wahana Belajar sempat mewawancari beliau via Whatsapp. Ada begitu banyak hal menarik yang didapat dari perbincangan dengan Gadis Manis yang akrab di panggil Fitri ini.

Kabarnya, Kak Fitri merupakan salah satu lulusan Darul Aitami dengan kemampuan bahasa Inggrisnya yang mumpuni.

Ada banyak hal yang ditanya oleh tim wahanabelajar dari Kak Fitri dan Alhamdulillah direspon dengan ramah. Mulai dari alasannya tertarik dengan bahasa Inggris, pengalaman menjadi Duta Wisata, hingga pertanyaan mengenai “DA itu bagaimana” di padangan Kak Fitri.

Berikut perbincangan tim Wahana Belajar dengan Fitri Anizar via Whatsapp beberapa waktu lalu.

Kenapa Tertarik dengan Bahasa Inggris?

“Sejak kecil merasa keren aja melihat orang kalau bisa berbicara bahasa Inggris, jadi termotivasi untuk belajar sendiri.  Ketika memasuki usia sekolah menjadi lebih termotivasi lagi karena mendapatkan guru yang sangat paham betul seluk beluk bahasa ini dan menjadi inspirator sejati yaitu (Mr. Diman Asnawi)”.

Bagaimana Pengalaman Kakak Menjadi Duta Wisata?

“Menjadi sadar akan potensi wisata di daerah sendiri yang luar biasa. Dimana Aceh Selatan punya destinasi wisata yang "Complete Package", ada Laut, Gunung, Sungai, Air terjun, Danau, Pulau, Agro wisata, Wisata kuliner, sejarah dan seni budaya, terlebih lagi jarak antara satu destinasi dengan yang lainnya sangat berdekatan yang tidak dimiliki daerah lain. Ini yang menjadikan Aceh Selatan unik daripada yang lain”.

“Bijak dalam menggunakan sosial media. Dengan menjadi DW kita lebih mengerti dan paham akan tanggung jawab seorang duta dengan hanya memposting berita atau kabar yang bermanfaat apakah untuk promosi wisata atau pesan2 bernada positif lainnya”.

-“Cinta terhadap tanah kelahiran. Ketika sesuatu semakin kita pelajari dan pahami maka perasaan memiliki itu akan muncul. Mempelajari potensi wisata asel selama ini menambah kecintaan saya terhadap daerah saya sendiri. Benar memang kalau ada ungkapan "Tak kenal makanya tak sayang"

Wow! Luar biasa bukan?

Apa sih Motivasi Kak Fitri Untuk Menjadi Duta Wisata?

“Motivasi menjadi DW pada awalnya sebagai tantangan kepada diri sendiri. Banyak orang mengatakan kalau menjadi seorang duta harus anggun, feminin, kalem dan lain sebagainya, nah semua alumni DA juga tau siapa Fitri Anizar dimana sifatnya sangat jauh dari kriteria seorang duta di atas. Akan tetapi saya mencoba keluar dari zona nyaman "Comfort Zone" saya untuk mendobrak kriteria2 di atas, karena bagi saya tak ada kesuksesan jika bertahan di zona nyaman " There's no success on your comfort zone". Saya punya cara saya sendiri untuk menjadi seorang duta wisata tanpa menjadi orang lain. Yang terpenting adalah "Brain, Beauty and Behaviour" dan masing2 Duta punya definisi masing2 akan 3 hal ini, but for me "Sometime you don't have to be yourself but be someone better".

“Inilah yang selalu saya pegang ketika mengikuti event yang lainnya seperti duta bahasa, Ekspedisi Nusantara Jaya dan menjadi delegasi dalam forum nasional lainnya”.

Nah, itu dia sobat wahana,, Fitri Anizar, Duta Wisata Aceh Selatan yang ternyata alumni DA. Banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari pengalamannya. Salah satunya adalah “Keluar dari Zona Nyaman”.

Semoga artikel ini bermanfaat ya sobat, dan menambah kecintaan kita terhadap daerah sendiri. Dukung Wahana Belajar untuk terus berkarya dengan menshare konten-konten menarik yang ada di Wahan Belajar.

Baca juga: Teknik Jitu Menguasai Bahasa Inggris Ala Fitri Anizar

Berikut juga kami sertakan beberapa dokumentasi kegiatan Fitri Anizar sebagai Duta Wisata.

Ketika menjadi interpreter bagi tamu dari 19 Negara yang berkunjung ke Aceh
Menjadi Interpreter bagi Mahasiswa pertukaran "New Colombo Plan Participants" dari Australia
Undangan jamuan makan malam di kediaman Walikota Sabang pada acara Sail Sabang 2017
Bersama menteri pariwisata Indonesia, Bpk. Arief Yahya
Duta Bahasa 2015
Menjadi pembicara tentang pemuda peduli lingkungan di SMA favorit Sukma Bangsa Bireun
Malam Pembukaan Duta Wisata Aceh
Malam Penobatan Duta Wisata Aceh 2017
Juara Wakil III Duta Wisata Aceh 2017
Menghadiri undangan BNPT dalam acara Sarasehan pencegahan paham Radikalisme di Jogja
Berbincang dengan wali Nanggroe Malik Mahmud Alhaythar dalam perjalan pulang dari Jakarta-Aceh

Daftar Lengkap Nama Kecamatan dan Desa di Aceh Selatan



Aceh selatan merupakan salah satu Kabupaten yang berada di pesisir selatan Aceh. Pembentukannya disahkan menurut Undang Undang No. 7 Tahun 1956 bertepatan pada Tanggal 4 November 1956.

Iklim di daerah Aceh Selatan tergolong panas dikarenakan letaknya yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Kabupaten lain yang berdekatan dengan Aceh Selatan yaitu Abdya (Aceh Barat Daya) yang berada di sebelah barat. Sedangkan dari sebelah Timur, Aceh Selatan berbatasan langsung dengan Kota Subulussalam dan Aceh Singkil dan di bagian Utaranya berbatasan dengan Aceh Tenggara.

Mengenai jumlah Kecamatan dan Desa di Aceh Selatan berikut rinciannya.

1. Kecamatan Trumon
Desa:
Keude Trumon
Ujong Tanoh
Singleng
Ie Meumada
Tepin Tinggi
Seunabok Jaya
Upt II Pd Harapan
Kuta Baru
Panton Bili
Gampong Teungoh
Kuta Padang
Raket

2. Kecamatan Trumon Tengah
Desa:
Ladang Rimba
Jambo Papeun
Naca
Ie Jeureuneh
Upt III Cot Bayu
Krueng Batee
Kampong Teungoh
Gunong Kapho
Pulo Paya
Lhok Raya

3. Kecamatan Trumon Timur
Desa:
Krung Luas
Jambo Dalem
Kapai Seusak
Seuneubok Puntho
Upt I Seuneubok Pusaka
Alur Bujok
Titi Poben
Pinto Rimba

4. Kecamatan Keude Bakongan
Desa:
Keude Bakongan
Ujung Mangki
Kampung Baru
Ujung Padang
Kampung Drien

5. Kecamatan Bakongan
Desa:
Bukit Gading
Seunebok Keranji
Rambong
Ujung Gunong Rayek
Beutong
Jambo Keupok
Ujung Tanoh
Ujung Gunung Cut
Seneubok Alur Bulah
Alur Dua Mas

6. Kecamatan BakonganTimur
Desa:
Pasi Seubadeh
Ladang Rimba
Ujung Pulo Rayeuk
Sawah Tingkeum
Simpang
Ujung Pulo Cut
Seuleukat

7. Kecamatan Kluet Selatan
Desa:
Pasi Lembang
Ujung Padang
Indra Damai
Suaq Bakong
Barat Daya
Sialang
Kapeh
Pulo Ie
Jua
Pasi Merapat
Ujung
Luar
Kedai Kandang
Rantau Binuang
Ujung Pasir
Gelumbuk
Kedai Runding

8. Kecamatan Kluet Timur
Desa:
Sapik
Durian Kawan
Alai
Paya Dapur
Pucuk Lembang
Lawe Buluh Didi
Lawe Sawah

9. Kecamatan Kluet Utara
Desa:
Kedai Padang
Pasi Kuala Bau
Suaq Geringgeng
Simpang Lhee
Simpang Empat
Jambo Manyang
Limau Purut
Pulo Kambing
Kampung Paya
Krueng Batu
Gunong Pulo
Pulo Ie I
Krueng Batee
Pasi Kuala Asahan
Fajar Harapan
Krueng Kluet
Kampung Tinggi
Kampung Ruak
Alur Mas

10. Kecamatan Kluet Tengah
Desa:
Jambo Papan
Malaka
Lawe Melang
Koto
Kampung Sawah
Kampung Padang
Pulo Air
Mersak
Simpang Dua
Simpang Tiga

11. Kecamatan Pasie Raja
Desa:
Ujung Padang Asahan
Pulo Ie II
Ie Mirah
Ujung Padang Rasian
Pasi Rasian
Teupin Gajah
Baro
Krueng Kelee
Lhok Sialang Rayeuk
Lhok Sialang Cut
Payateuk
Silolo
Kampung Baru
Si Neubok
Ladang Tuha
Panton Bili
Ladang Teungoh
Pucuk Krueng
Mata Ie
Ujung Batu

12. Kecamatan Tapaktuan
Desa:
Gunung Kerambil
Air Berudang
Lhok Ketapang
Hilir
Pasar
Padang
Tepi Air
Hulu
Jambo Apha
Lhok Bengkuang
Batu Itam
Panjupian
Lhok Rukam
Air Pinang
Panton Luas

13. Kecamatan Samadua
Desa:
Ujung Tanah
Payonan Gadang
Lubuk Layu
Suaq Hulu
Luar
Ujung Kampung
Tampang
Jilatang
Air Sialang Hulu
Air Sialang Tengah
Air Sialang Hilir
Subarang
Gunung Ketek
Kota Baru
Madat
Dalam
Tengah
Balai
Baru
Gadang
Ladang Kasik Putih
Ladang Panton Luas
Alur Simerah
Alur Pinang
Gunung Cut
Kuta Blang
Batee Tunggai

14. Kecamatan Sawang
Desa:
Sawang Bau
Ujung Padang
Kuta Baro
Simpang III
Blang Gelinggang
Meuligo
Sawang I
Sawang II
Ujung Karang
Lhok Pawoh
Panton Luas
Trieng Meuduro Tunong
Trieng Meuduro Baroh
Sikulat
Mutiara

15. Kecamatan Meukek
Desa:
Alue Meutuah
Lhok Aman
Ladang Baro
Labuhan Tarok
Tanjung Harapan
Kuta Baro
Keude Meukek
Aron Tunggai
Blang Bladeh
Blang Teungoh
Ie Buboh
Kuta Buloh II
Kuta Buloh I
Ie Dingen
Drien Jalo
Jambo Papeun
Buket Meuh
Alue Baro
Rot Teungoh
Blang Kuala
Ladang Tuha
Lhok Mamplam

16. Kecamatan Labuhan Haji
Desa:
Padang Baru
Lembah Baru
Tengah Baru
Pawoh
Apha
Pasar Lama
Padang Bakau
Bakau Hulu
Manggis Harapan
Ujung Batu
Dalam
Kota Palak
Cacang
Tengah Pisang
Pisang
Hulu Pisang

17. Kecamatan Labuhan Haji Timur
Desa:
Keumumu Hilir
Paya Peulumat
Tengah Peulumat
Padang Peulumat
Limau Saring
Aur Peulumat
Keumumu Hulu
Beutong
Peunalop
Gunung Rotan
Keumumu Seberang

18. Kecamatan Labuhan Haji Barat
Desa:
Pulo Ie
Suak Lokan
Iku Lhung
Pante Geulima
Blang Baru
Blang Poroh
Kuta Iboh
Tutong
Ujung Padang
Tengah Iboh
Peulokan
Kuta Trieng
Panton Pawoh