Showing posts with label Cara Mencerdaskan Otak. Show all posts
Showing posts with label Cara Mencerdaskan Otak. Show all posts

Makanlah Dengan Baik dan bernafaslah Lebih Banyak


Sebenarnya, otak sangat serupa dengan seorang biduanita terkenal yang selalu menginginkan segalanya dalam waktu singkat dan disajikan dengan baik. Otak selalu menuntut kita untuk memasok 100 mg glukosa setiap satu menit sebagai bahan bakar dan oksigen sebagai bahan pembantu pembakaran. Otak secara otomatis akan  membekali dirinya dengan kedua zat tersebut (glukosa dan oksigen) hingga mencapai 20% dari jumlah total oksigen yang kita hirup.

Jadi, jika kita melakukan perhitungan cepat maka kita dapat langsung mengetahui bahwa otak membutuhkan energi yang jumlahnya 10 kali lipat lebih besar daripada energi yang dibutuhkan oleh semua organ tubuh lainnya. Padahal berat otak sendiri tidak sampai 2% dari berat tubuh manusia.

Dengan mudah kita juga dapat memahami bahwa efektifitas kinerja otak sangat tergantung kepada apa yang kita konsumsi dan apa yang kita hirup. Jika otak kita sampai “marah” maka akan terjadi penurunan kandungan zat gula di dalam darah, serangan vertigo, menurunnya kualitas kesadaran dan keterjagaan; semuanya menjadi tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Jika jatah oksigen atau zat gula yang dibutuhkan otak ternyata tidak dapat tercukupi maka akan menjadi “penderitaan otak”. Pada saat demikian maka sel-sel saraf akan mati setelah tiga menit karena kekosongan pasokan bahan tertentu yang dibutuhkannya.

Udara dan Zat Gula: Dua Hal yang Tak Terpisahkan
Dua jenis “nutrisi” bagi otak ini harus masuk ke dalam otak secara bersama, tidak cukup satu per satu.

Zat gula dapat menjalankan fungsinya sebagai bahan bakar hanya dengan adanya oksigen. Tanpa adanya pasokan oksigen ke dalam otak maka jumlah zat gula yang dapat diubah menjadi energi akan merosot hingga 18 kali lipat dari kondisi normal. Bahkan pada saat kondisi abnormal, zat gula nyaris tidak dapat mengehasilkan energi sama sekali!

Jadi, pasti timbul masalah ketika otak hanya mendapatkan pasokan satu dari kedua zat ini, baik dalam jumlah banyak maupun sedikit. Solusi bagi masalah tersebut, agar ia terserap ke dalam darah secara perlahan-lahan!

Tindakan yang Harus Dilakukan
Hendaknya kita belajar mengontrol pola konsumsi zat gula serta oksigen yang kita hirup.

Konsumsilah Binatang Berkulit Keras


Memakan binatang berkulit keras akan  bermanfaat bagi memori Anda

Sangat disayangkan jika kita tidak pernah mendengar pernyataan seperti judul diatas. Jauh lebih penting, hendaknya Anda menyampaikan pernyataan itu kepada anak-anak.

Secara faktual, komposisi kandungan daging binatang berkulit keras sangat istimewa. Ternyata binatang-binatang yang berukuran relatif kecil ini mengandung begitu banyak kolin (choline), metionina (methionine), dan phytaine. Ketiganya adalah bahan-bahan yang memainkan perang penting dalam proses menghafal.

Di samping itu, kita dapat mengatakan bahwa lemak yang terkandung di dalam tubuh binatang-binatang jenis ini memang ada untuk menjadi sumber nutrisi bagi jaringan saraf. Lemak binatang berkulit keras secara teknis disebut lesitina (lecithine) dan phosphatidycholine ini sebenarnya tidak terlalu berarti bagi kebanyakan orang.

Namun, para peneliti mengetahui bahwa kekurangan zat jenis ini setidaknya pada hewan dapat mempercepat kerusakan sel-sel saraf, penuaan dini pada jaringan saraf, dan berbagai gangguan pada memori.

Binatang berkulir keras ini sangat kaya kandungan iodium: mineral yang sangat penting bagi perbaikan kinerja pikiran. Karena itu, jangan sekali-kali Anda menolak mengonsumsi udang, udang karang, udang kecil, kepiting, dan lobster.

Kembalilah Mengonsumsi Bahan Pangan Alami



Gen manusia tumbuh secara perlahan. Hal ini juga terjadi pada kinerja otak kita sejak jutaan tahun lalu. Gen manusia terus beradabtasi secara logis melalui persesuaian antara kebutuhan kita dengan sesuatu yang ditemukan nenek moyang kita dahulu. Jadi, pertumbuhan gen manusia memang sudah lama berhubungan secara langsung dengan bahan makanan yang ada. Kita juga selalu dibekali oleh otak dengan “daftar kebutuhan” agar ia dapat bekerja dengan baik.

Otak tampaknya telah memiliki peta sendiri dalam “daftar kebutuhan” itu sejak kita dilahirkan. Hanya saja, kita terus mengonsumsi berbagai makanan “baru” hingga sari makanan tersebut tidak tahu lagi harus melakukan tugas apa di dalam tubuh kita. Sebagaimana kita ketahui bersama, makanan yang kita konsumsi saat ini sudah jauh berbeda dengan hidangan manusia purba dahulu.

Untuk mempermudah memahami masalah ini mari kita gunakan analogi berikut.

Alat penggiling gandum yang bergerak melalu kincir angin, tentu tidak mungkin digerakkan dengan aliran air. Hali ini serupa dengan kompor listrik yang tidak mungkin dinyalakan dengan menggunakan gas
.
Jadi, mengapa otak kita terus disuguhi dengan berbagai jenis bahan bakar yang sama sekali tidak berguna baginya?

Apa yang Biasa Dimakan Manusia Prasejarah?

Jawabannya adalah, “apa saja yang meraka temukan!” Manusia prasejarah  biasa mengonsumsi buah-buahan, tumbuh-tumbuhan, dan buah jenis anggur-angguran yang tumbuh di darat, secara langsung sesaat setelah dipetik tanpa menunggu beberapa saat atau mengolahnya terlebih dahulu.

Sejak 55 juta tahun yang lampau (dalam rentang waktu 20 juta tahun), manusia prasejarah hidup di daratan yang banyak ditumbuhi oleh barbagai jenis pohon berbuah. Buah-buahan tersebut menjadi sumber berbagai macam vitamin dan zat-zat gizi yang berfungsi untuk melindungi tubuh. Karena sedemikian banyaknya pasokan vitamin C pada masa prasejarah itu, sampai-sampai tubuh kita tidak sempat belajar (atau bisa jadi telah lupa) bagaimana memproduksi vitamin C di dalam tubuh.

Fenomena ini juga ditunjukkan oleh kedua rahang nenek moyang kita yang telah berbentuk untuk siap memamah jenis makanan seperti itu. Gigi yang  mereka miliki pun mampu mengunyah dengan mudah berbagai macam kacang-kacangan dan tumbuh-tumbuhan berakar.

Yang mengejutkan adalah ternyata mereka menunjukkan kualitas kesehatan yang sangat baik meskipun mereka biasa mengonsumsi daging mentah. Walaupun yang disebut dengan daging pada masa prasejarah tentu berbeda dengan daging yang kita ketahui sekarang.

Pada saat itu, binatang-binatang bergerak bebas dan tidak pernah dikumpulkan dalam satu kandang sempit seperti terjadi di tempat-tempat peternakan. Dengan bebas bergerak seperti itu, membuat kandungan lemak yang terdapat di dalam tubuh binatang tersebut sangat sedikit karena otot-otot mereka terus berkembang. Selain itu, binatang yang hidup di alam bebas dan biasa memakan tanaman darat ternyata dagingnya hanya mengandung lemak sebesar 4%. Jumlah itu tentu sangat kecil jika dibandingkan dengan kandungan lemak pada daging binatang ternak saat ini, yang mencapai 25%!

Ada Apa dengan Kita?

Setidaknya, 55% dari makanan yang kita konsumsi saat ini merupakan hasil dari “bahan pangan jenis baru”. Contohnya : susu, produk-produk turunan susu, biji-bijian yang sudah diolah, gula, berbagai jenis bahan makanan pemanis buatan, lemak yang sudah dipisahkan dari sumbernya (mentega), dan lain-lain. Sementara itu, sekitar 28% dari makanan kita adalah daging yang mengandung lemak, daging ungags, ikan-ikanan, telur, dan binatang berkulit keras (udang, kepiting, dan lain-lain).

Hanya 17% saja dari makanan kita yang berupa kubis-kubis-kubisan, buah-buahan, sayur-sayuran, dan biji-bijian.

Untungnya, tubuh kita sangat mudah beradabtasi. Jika tidak, maka spesies manusia seperti kita sudah punah sejak lama. Sebab, makanan yang kita konsumsi sudah tidak sesuai dengan tubuh kita.

Akan tetapi, setiap proses adabtasi pasti memilki batas. Saat ini, selain konsumsi kalori kita jauh lebih sedikit dibanding yang dikonsumsi oleh nenek moyang kita, zat yang kita serap hampir seluruhnya tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh kita.

Ujung-ujungnya hanya suplemen makananlah yang dalam kondisi tertentu dapat memasok kkeurangan gizi dalam tubuh kita.

Apa yang Dapat Kita Lakukan?

Memang, kini manusia tidak lagi berburu Mamoth (gajah purba). Akan tetapi binatang yang diternak dalam lingkungan udara bersih (peternakan biologis/biofarming), jauh lebih dekat kualitasnya dengan binatang prasejarah jika ditilik dari struktur tubuhnya, daripada binatang yang diternak dalam peternakan-peternakan konvensional. Oleh sebab itu, berusahalah mengonsumsi daging dengan kuantitas yang sedikit, agar ia dapat memberi hasil yang lebih berkualitas.

Jangan Siksa Otak Anda Sejak Waktu Sarapan


Sebenarnya, menu sarapan tradisional yang kaya dengan kandungan zat gula, di banyak Negara tidak muncul secara kebetulan. Meskipun bentuk penyajian menu makan pagi itu berbeda-beda satu sama lain, tetap ada titik temu yang memadukannya. Yaitu, menu sarapan harus cukup mengandung "bahan bakar” untuk mendukung kerja otak sepanjang pagi. Meskipun zat gula dan lemak merupakan “bahan bakar” yang dapat saling bertukar posisi sesuai dengan anggota tubuh yang ada, tetapi sistem saraf kita tetap tidak dapat menerima pasokan bahan selain zat gula.

Pada pagi hari, setelah tidur malam berlalu, tubuh manusia telah mnguras zat gula candangan dalam organ hati/liver. Jadi, salah satu manfaat sarapan pagi adalah untuk mengembalikan kebutuhan otak akan pasokan zat gula dan menyediakan cadangan gula yang baru untuk digunakan pada malam selanjutnya.

1. Kamar Mandi; 2. Sarapan Pagi
Tubuh kita tidak mungkin dapat merasakan lapar hanya dalam tempo setengah jam setelah kita bangun tidur pada pagi hari. Oleh sebab itu, hendaknya Anda mandi terlebih dahulu sebelum melakukan sarapan pagi. Jika Anda melakukan itu, maka selera makan Anda pasti bangkit perlahan-lahan, tak terkecuali bagi mereka yang enggan mengonsumsi makanan apapun pada pagi hari.

Selain itu, hendaknya Anda mengisi masa jeda antara waktu tidur dan waktu keluar untuk menyonsong alam, dengan ketenangan dan ketentraman. Jangan Anda isi waktu penting itu dengan menyaksikan televisi, mendengarkan radio, atau mendengarkan perdebatan.

Zat Gula, Teman atau Lawan?
Ketika dicerna dan diserap oleh tubuh, zat gula akan memasukkan glukosa ke dalam tubuh kita, glukosa adalah satu-satunya jenis zat gula yang dapat diterima oleh otak kita.

Pada saat itu, glukosa masuk ke dalam sistem peredaran darah kemudian merangsang munculnya hormon insulin. Hormon inilah yang dikeluarkan oleh pankreas dan dianggap sangat penting bagi proses masuknya glukosa ke dalam sel-sel tubuh. Hormon insulin akan menumpuk kandungan zat gula yang berlebih  ke dalam “sel-sel lemak” dalam bentuk lemak. Dengan bentuk seperti ini, zat gula akan memakan tempat yang lebih sedikit.

Proses masuknya glukosa ke dalam darah secepat dihasilkan oleh zat gula “yang cepat terbakar”, yang terkandung di dalam makanan. Hal itu akan menyebabkan keluarnya hormon insulin dalam jumlah besar sehingga aliran glukosa tersebut berlangsung dengan sangat baik.

Insulin akan mengalirkan zat gula dengan sangat cepat ke seluruh bagian tubuh pada waktu yang tepat. Rasa lapar bisa muncul dengan cepat akibat glukosa yang digunakan secara tepat. Sebab, sel-sel saraf sudah kembali lapar. Hal itu membutuhkan lagi pasokan zat gula yang bisa cepat “terbakar”. Demikianlah seterusnya.

Ketika daur itu terus berulang, sementara hormon insulin yang dikeluarkan pankreas sangat sudah banyak, otomatis organ ini mulai merasa lelah dan mengurangi insulin yang dikeluarkannya. Jika hal itu terjadi maka zat gula (yang belum terserap oleh sel-sel tubuh) akan tersisa di dalam darah dalam jumlah yang sangat besar tanpa pernah bisa masuk ke dalam sel-sel tubuh dengan baik. Beberapa tahun kemudian, buruknya pola penggunaan gula seperti itu tentu akan menyebabkan munculnya penyakit gula (diabetes mellitus).

Di sisi lain, jika glukosa dapat mencapai darah secara perlahan (karena konsumsi makanan yang kaya zat gula “yang lambat terbakar”) maka proses keluarnya insulin akan menjadi stabil: otak tentu akan menggunakan glukosa sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Jika glukosa yang ada ternyata tidak cukup maka tubuh akan menggunakan lemak cadangan yang dilepaskan oleh-sel-sel lemak.

Makan Terlalu Banyak, Berbahaya Bagi Otak


Meskipun telah dilakukan penelitian dari segala sisi, fakta yang muncul tetaplah sama dan jelas: seseorang akan dapat hidup lebih lama jika dia makan lebih sedikit.

Rangkaian penelitian awal berkenaan dengan masalah ini telah dilakukan sejak tahun 1953 lalu. Semua hasil dari penelitian itu ternyata bersesuaian dengan hasil penelitian yang dilakukan di masa sekarang.

Satu-satunya titik kesamaan yang mempertemukan suku-suku bangsa, yang terbukti memiliki banyak orang berusia di atas 100 tahun adalah: rendahnya jumlah kalori yang biasa mereka konsumsi.

Dalam kondisi seperti apapun, segala usaha yang dilakukan untuk menurunkan kalori pasti mendatangkan manfaat. Seberat apa pun tubuh Anda (kecuali pada kasus penyakit hilangnya nafsu makan) jika kemudian Anda berhasil mengurangi beratnya hingga 10%, berarti Anda telah memperbaiki banyak tugas organ-organ tubuh Anda sendiri.

Sementara itu, serangkaian penelitian lain juga menunjukkan bukti bahwa kalori yang berlebihan apapun bentuknya pasti berbahaya bagi kesehatan.

Berat tubuh yang berlebih sangat berbahaya bagi kesehatan dan dapat merusak otak. Jika Anda memiliki tubuh yang gemuk maka hal pertama yang dapat Anda persembahkan untuk otak Anda adalah mengurangi berat badan. Berat badan yang berlebih dapat membahayakan otak sebagaimana ia juga dapat membahayakan jantung. Para ahli berasumsi bahwa obesitas yang menyerang Negara-negara industri khususnya Amerika Serikat merupakan sesuatu yang yang sangat buruk bagi masa depan otak.

Para ahli benar-benar mengkhawatirkan terjadinya penyebaran penyakit Alzheimer dan beberapa penyakit yang menyerang otak lainnya, khususnya penyakit penurunan dini pada kemampuan otak.

Akan tetapi, yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang adalah salah satu penyebab terpenting terjadinya proses penuaan sebenarnya bukan kelebihan berat badan, melainkan kebiasaan makan terlalu banyak. Meskipun  kebiasaan makan terlalu banyak pada umumnya diikuti bertambahnya berat badan, tetapi hal seperti ini tidak dapat digeneralisasi.

Kelebihan berat badan secara otomatis akan melipatgandakan risiko terjadinya bahaya. Dalam kondisi apapun, ketika kita mengonsumsi banyak kalori maka hal itu akan memaksa tubuh kita menggunakan seluruh energi untuk membakar semua kalori atau menimbunnya.

Padahal proses pembakaran kalori membutuhkan banyak oksigen.

Sisa pembakaran oksigen inilah yang akan menjadi pertikel ‘radikal bebas’, musuh yang sangat kita kenal dan menjadi penyebab utama terjadinya penuaan dini.

Kenapa Harus Menghindari Lemak Trans?


Lemak yang telah melalui proses hidrogenisasi adalah jenis lemak yang dianggap paling buruk di antara jenis lemak lainnya. Kita dapat menemukan kandungan lemak model ini dalam bebrapa jenis margarin dan di dalam “lemak tersembunyi” yang terdapat pada beberapa produk pangan buatan seperti: biskuit, pizza, makanan siap saji, pasta dan quiches.

Pembahasan tentang lemak jenis ini telah menimbulkan polemik yang sengit. Sementara itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat konsumsi lemak yang telah dihidrogenisasi terus meningkat dari hari ke hari. Salah satu hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa tingkat konsumsi asam lemak jenis ini mencapai sekitar 8 sampai 13 gram dalam setiap harinya. Angka ini jauh melebihi angka kosumsi yang dianjurkan yaitu hanya sekitar 5 gram.

Apa yang Dimaksud dengan “Hidrogenisasi”?

Hidrogenisasi lemak adalah teknik industri yang dilakukan untuk membuat lemak cair menjadi padat, memperbaiki strukturnya, atau membuatnya solid dalam waktu yang lebih lama. Hal itu dilakukan dengan cara memasukkan hodrogen ke dalam asam lemak ‘tak jenuh’ pada suhu tinggi.

Proses hidrogenisasi ini tampaknya biasa-biasa saja. Namun, sebenarnya ia sangat berbahaya karena proses semacam ini dapat mengubah struktur pembentukan lemak yang diolah. Oleh sebab itu, kita dapat mengatakan bahwa proses hidrogenisasi sebenarnya adalah praktik “penghilangan identitas”, karena minyak biji bunga matahari misalnya setelah diolah dengan metode ini dapat terlihat seperti minyak kacang.

Kesimpulan :
Jika pada mulanya unsur-unsur nabati berupa asam lemak tak jenuh, yang kemudian bermanfat bagi kesehatan, maka proses hidrogenisasi akan mengubahnya menjadi asam lemak jenuh (contoh : mentega). Lemak yang telah mengalami perubahan ini dinamakan ‘lemak trans’.

Jika secara teoritis beberapa jenis margarin hasil industri (margin olahan) Prancis tidak mengandung lemak yang telah dihidrogenisasi, maka hal ini tidak berlaku pada beberapa jenis lemak nabati hasil industri Amerika Serikat atau Inggris. Beberapaa orang ilmuan independen menyatakan bahwa ‘lemak trans’ ini bertanggung jawab atas ribuan kasus kematian orang karena efek negatif yang ditimbulkannya.

Sebenarnya, lemak trans dengan mudah akan menggantikan posisi asam lemak yang berguna. Jika asam lemak yang berguna ini dapat melindungi jantung maka lemak trans akan memberi efek sebaliknya: lemak trans akan meningkatkan kadar kolesterol yang berbahaya, mengurangi kadar kolesterol yang berguna, dan merusak kinerja sel-sel otak.

Perhatian!

Segeralah Anda mencari tahu lemak yang telah dihidrogenisasi (lemak trans) dan hindarilah. Untuk melakukan itu, Anda cukup membaca daftar kandungan makanan yang terdapat pada kemasan sebuah produk pangan. Dan ketika Anda membaca kata “lemak yang telah dihidrogenisasi” atau “telah dihidrogenisasi sebagian”, maka segeralah alihkan pikiran Anda untuk tidak menyukai makanan tersebut.

Dalam kondisi alami, kita dapat menemukan beberapa jenis lemak “yang telah diubah” pada semua produk turunan susu, hanya saja kandungan lemak tersebut sangat sedikit.

Ada sebuah prinsip yang sangat berguna dalam kondisi apa pun: “semakin sederhana dan semakin alami suatu jenis makanan maka semakin baiklah makanan itu”.

Utamakanlah butiran kentang (alami) yang direbus atau dipanggang daripada kentang tumbuk yang dibalut dengan tepung dan telur lalu digoreng. Logika makanan seperti ini juga berlaku pada semua jenis makanan.

Memakai Ponsel dengan Waktu Lama Akan Berbahaya Bagi Otak


Apakah ponsel atau telepon genggam dapat memberikan efek negatif terhadap otak? 

Sejumlah artikel dan penelitian yang memuat berbagai kasus, tanpa disertai petunjuk jelas apakah semua itu berasal dari orang yang sekadar curiga atau dari orang yang sengaja menyerang pihak produsen ponsel. Akan tetapi yang pasti, kini produsen ponsel mulai mengalami sulit tidur semenjak mereka mengetahui bahwa beberapa orang ilmuan telah menyusun daftar panjang dengan sebuah kesimpulan yang mengejutkan.

Kesimpulan tersebut berkaitan dengan dampak gelombang magnet yang keluar dari ponsel. Pada bagian berikut, kita akan membicarakan topik berbagai hal yang masih samar-samar.

Baca juga : Otak dan Pola Istirahat

Ponsel bekerja dengan menggunakan gelombang magnet. Tidak diragukan lagi, gelombang ini tentu dapat masuk ke dalam tubuh kita, khususnya bagian otak kita. Jika demikian, apa yang akan terjadi?

Dinyatakan bahwa ketika ponsel diletakkan di telinga, ia akan berada dengan jarak yang sangat dekat dengan bagian otak yang berfungsi untuk menyimpan  memori jangka pendek. Pada saat itu, ponsel akan menganggu aktivitas bagian otak tersebut untuk memproses pengetahuan yang disimpannya. Hanya saja, secara faktual hal ini belum pasti.

Penelitian terhadap masalah ini memang sangat sulit dilakukan. Sebab, satu sama lain masih berkaitan : perangkat ponsel yan digunakan, kondisi pengguna, lama bericara, dan kualitas transfer data. Selain itu, masalah ini juga berkaitan dengan beberapa jenis gelombang magnet lain yang bersliweran di tempat tersebut, dan seterusnya.

Sampai hari ini, secara umum bahaya yang ditimbulkan oleh ponsel dapat dipastikan, khususnya pada dampak yang berkaitan dengan beberapa penyakit berbahaya seperti kanker.

Di sisi lain, beberapa orang yang sering menggunakan ponsel menyatakan bahwa mereka sering terserang sakit kepala, kelelahan, gangguan memori, dan insomnia. Anehnya, semua masalah tersebut akan hilang dengan sendirinya setelah mereka berhenti menggunakan ponsel selama beberapa hari?

Namun di atas itu semua, kebenaran akan adanya berbagai macam gangguan kesehatan ini sudah dibuktikan dengan menggunakan perangkat MRI (Magnetic Resonance Imaging).

Jangan Pernah Mengenggam Ponsel dengan Tangan Anda

Para produsen ponsel membantah semua tuduhan ini dengan menyatakan bahwa dengan menjauhkan ponsel dari otak (kepala), dapat mencegah dampak negatif tersebut. Tetapi, apakah benar dengan menggunakan headset yang diletakkan di telinga dan dengan menjauhkan pesawat ponsel (handset) dari kepala adalah jalan keluar terbaik?

Jawabannya : bagi otak, mungkin saja, tetapi tidak bagi anggota tubuh lainnya. Hal itu akan menjadi cerita lain. Sebab, walau bagaimanapun pesawat ponsel yang sudah dijauhkan dari kepala tetap akan berada di suatu tempat. Jadi, jika Anda meletakkannya di dekat dada Anda, maka jantung, paru-paru dan saluran napas Anda pasti tidak akan berterima kasih kepada Anda atas yang Anda lakukan itu.

Mungkin Anda akan berkata, “bagaimana jika ponsel diletakkan di kantong celana saja?”
Jika Anda melakukan itu, berarti Anda telah  mendekatkan bahaya kepada anggota tubuh yang sangat sensitif, seperti testis atau indung telur.

Para pengguna yang ragu-ragu ini akhirnya memilih untuk selalu meletakkan ponsel di tempat yang sejauh mungkin dari tubuh (misalnya dengan meletakkannya di dalam tas tangan atau tas kerja), atau dengan meletakkannya di tempat yang berubah-ubah secara teratur jika mereka terpaksa membawa ponsel.

Para produsen yang “memiliki niat baik”(?) akhirnya memberi jalan keluar dengan mengurangi tingkat radiasi yang ditimbulkan oleh produk yang mereka buat.

Akan tetapi, bahkan di Prancis sendiri, Tingkat penyerapan Spesifik (SAR ‘Specific Absortion Rate’) dan angka yang digunakan untuk menunjukkan besaran SAR, masih menjadi hal yang tidak banyak diketahui khalayak.

Namun, tidak demikian halnya dengan para konsumen yang ada di Amerika Serikat dan Australia. Mereka rupanya telah terbiasa sebelum membeli sebuah ponsel terlebih dahulu melihat situs-situs internet yang memberi penjelasan tentang Tingkat Penyerapan Spesifik/SAR yang ada pada ponsel yang akan dibeli.

Untuk saat ini, informasi tentang besaran SAR seperti inilah yang paling baik untuk mengukur intensitas radiasi yang akan diserap jaringan tubuh manusia sesuai dengan jenis ponsel yang telah melewati proses pengujian. Semakin tinggi angka yang muncul, semakin tinggi pula tingkat penyerapan radiasi tersebut.

Itu berarti, tingkat radiasi yang memapar otak juga akan semakin tinggi. Oleh sebab itu, berusahalah untuk mengetahui SAR yang dimiliki oleh ponsel impian Anda sebelum Anda memutuskan untuk membelinya.

Agar Otak Cerdas Perbaikilah Cara Bernapas


Apakah pertanyaan di atas membuat Anda tertawa? Sebenarnya tidak ada yang perlu ditertawakan. Sebab, kita semua sebenarnya termasuk salah satu jenis makhluk biologis unik yang tidak pernah mengerti cara bernapas: manusia modern. Atau bisa jadi, kita sudah lupa bagaimana cara bernapas. Berbeda dengan orang dewasa, anak-anak kecil ternyata jauh lebih baik dalam bernapas.

Sejak dahulu, peradaban Hindu telah menyatakan bahwa udara mengandung sesuatu yang disebut ‘prana’ : sejenis energi atau daya hidup yang paling mendasar, sehingga bagi mereka, bernapas dengan baik jauh lebih penting daripada makan dengan baik; sebagaimana kita tidak mau melakukan kekeliruan dalam pemilihan bahan bakar (meski hal ini tidak berlaku pada makanan). Sebab, hanya ada dua pilihan; ada udara, atau tidak sama sekali.

Satu-satunya kesalahan fatal yang sering kita lakukan secara sengaja adalah merokok. Akan tetapi, masalah merokok ini adalah cerita lain.

Setiap hari, kedua belah paru-paru kita menerima 15 meter kubik udara. Keduanya lalu membersihkan dan mengikat kandungan oksigen yang jumlahnya sekitar 1000 liter untuk kemudian didistribusikan ke seluruh bagian tubuh kita. Tetapi, yang menjadi masalah bagi kita adalah “kekurangan” dalam bernapas. Alih-alih bernapas dengan menariknya dalam-dalam, kita justru sering bernapas secara dangkal, pendek, dan terputus-putus. Pada gilirannya, cara bernepas seperti ini tidak dapat memasukkan oksigen ke dalam sel-sel saraf dengan semestinya.
Perbedaan dua cara bernapas tersebut sebenarnya dapat kita rasakan ketika kita menghirup udara dalam-dalam, kita pasti akan merasakan ketenangan. Pada saat yang sama kita juga dapat merasakan kemampuan berpikir kita semakin tajam. Jadi, hanya dengan beberapa kali tarikan napas yang dalam, pada pagi hari, Anda bisa meningkatkan kesadaran; sebagaimana cara bernapas seperti itu pada petang hari juga dapat menenangkan Anda. Sungguh sesuatu yang ajaib, sederhana, dan gratis.

Isi Paru-paru
Setiap hari, kita menarik napas sekitar 28.000 kali. Tetapi jumlah ini dapat bertambah jika udara yang kita hirup tercemar. Sebab, yang diinginkan oleh tubuh adalah mendapat pasokan oksigen, meskipun hal itu harus dilakukan dengan susah payah.

Oleh sebab itu, tubuh tidak pernah membiarkan terjadinya pemborosan udara. Bahkan, tubuh sebenarnya tidak membutuhkan seperempat jumlah udara yang telah disaring oleh paru-paru.

Secara umum, udara terdiri dari nitrogen (mencapai 80%) dan oksigen (mencapai 20%). Tetapi hebatnya, nitrogen tidak pernah dapat mencapai organ paru-paru. Setiap kali kita menghirupnya, ia segera dikeluarkan kembali untuk dialirkan ke darah dalam bentuk wadah-wadah renik (zat ini seakan menjadi pengangkut yang selalu memerhatikan lingkungan di sekelilingnya) yang bekerja memasok kebutuhan oksigen setiap sel di dalam tubuh kita.

Perbanyaklah Vitamin Agar Pikiran Cemerlang


Untuk dapat bekerja secara optimal, otak sangat membutuhkan semua jenis vitamin. Ada beberapa jenis vitamin yang perlu kita perhatikan secara khusus karena kegunaannya bagi perbaikan kinerja otak. Selain itu, karena kita sering kali mengonsumsi vitamin ini dalam jumlah yang tidak memadai.

Baca juga : Agar Otak Cerdas Perbaikilah Cara Bernapas

Vitamin B
Faktor utama yang menyebabkan terjadinya kasus gizi buruk pada manusia adalah kekurangan vitamin B1 dan B3. Kasus kekurangan vitamin B1 telah terjadi dimana-mana khususnya di kawasan Asia. Penyebabnya adalah orang-orang Asia biasa menghilangkan kulit bulir beras yang kaya dengan vitamin B1. Sementara itu, kasus kekurangan B3 banyak terjadi pada penduduk Benua Amerika karena buruknya cara penyajian jagung yang mereka lakukan.

Sekalipun kita beruntung terhindar dari kedua hal buruk tersebut, para ahli gizi mengisyaratkan masih adanya penyebaran kasus kekurangan vitamin B kompleks, khususnya pada orang-orang berusia lanjut. Bukti adanya kekurangan vitamin B kompleks pada orang-orang lanjut usia ini dapat dilihat dari beberapa kasus “penyakit otak” yang menyerang mereka; meskipun pemberian dosis besar vitamin B kompleks dalam terapi yang dilakukan di rumah sakit membuahkan hasil positif.

Vitamin B1
Walau bagaimanapun, kita sangat membutuhkan vitamin jenis ini. sebab, kekurangan vitamin B1 dapat menimbulkan penyakit berbahaya seperti “beri-beri” yang dapat melemahkan otak dan urat saraf.

Bahkan, hanya dengan menghentikan konsumsi vitamin B1 selama 6 hari saja, seseorang dapat langsung merasakan penurunan kualitas kecerdasan. Dia juga akan merasakan kelelahan pada pikirannya hingga timbul ketegangan pada urat sarafnya.

Kekurangan vitamin B1 dalam jumlah kecil tetapi berlangsung secara rutin dapat menimbulkan berbagai gangguan emosi dan juga menyebabkan penurunan kinerja otak, khususnya pada orang-orang berusia lanjut.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Sebab, vitamin B1-lah yang membuat otak kita dapat menggunakan zat gula. Jadi tampaknya sekarang Anda sudah paham semuanya!

Vitamin B2
Vitamin B2 diperlukan agar tubuh dapat menggunakan vitamin B1 dan B2 dengan benar. Vitamin B2 juga berfungsi untuk menjaga keseimbangan antara kedua jenis vitamin ini.

Vitamin B3
Vitamin B3 sangat diperlukan untuk menjaga koordinasi kerja otak. Kekurangan vitamin B3 dapat menyebabkan timbulnya penyakit pelagra. Penyakit ini biasanya disebut dengan nama “sakit kepala” dan selalu berkaitan dengan berbagai masalah pada otak dan jiwa.

Vitamin B6
Vitamin B6 harus sepenuhnya mengatur otak. Sebab, jumlah vitamin B6 di dalam otak 100 kali lebih  besar dari jumlahnya di semua organ tubuh yang lain. Dengan adanya vitamin ini kita dapat merasakan kondisi mental yang tenang, dan semua neurotransmitter dapat menjalankan tugas mereka dengan baik. Vitamin B6 juga mampu melindungi kita dari perasaan sedih, sehingga ia dapat membuat kinerja memori mencapai tingkat yang maksimal.

Vitamin B9
Kekurangan vitamin B9 dalam jumlah  besar dapat menimbulkan berbagai gangguan fisik maupun mental, yang relatif dapat membahayakan. Bahkan, kekurangan vitamin tersebut dalam jumlah kecil saja sudah dapat memicu timbulnya gangguan. Penyebabnya adalah vitamin B9 memiliki sifat “diam”. Dengan kata lain, kita tidak akan menyadari kekurangan vitamin jenis ini kecuali setelah beberapa waktu berlalu.

Secara faktual, vitamin B9-lah yang mampu melawan salah satu jenis asam amino homocysteine, sejenis materi yang terdapat di dalam tubuh dan sangat beracun bagi otot serta urat saraf.

Kekurangan vitamin B9 juga dapat menambah risiko terjadinya penyakit Alzheimer dan Parkinson. Perlu disadari, manfaat vitamin B9 ini sangat banyak. Kita harus memastikan bahwa diri kita telah mendapat asupan vitamin jenis ini dalam jumlah yang memadai.

Sayangnya, terdapat sekitar 50% dari sebagian besar penduduk Negara di dunia ini dengan susah payah hanya mampu mendapatkan vitamin B9 dalam jumlah yang kenyataannya sangat sedikit.

Vitamin B12
Kekurangan vitamin B12 dapat menyebabkan gangguan pada sistem saraf dan mental.

Vitamin C
Sebenarnya, kegunaan vitamin C di dalam otak sangat kecil. Ia lebih banyak dibutuhkan oleh organ tubuh lainnya. Meskipun demikian, vitamin C tetap penting bagi otak. Sebab, beberapa jenis neurotransmitter membutuhkan vitamin C untuk dapat bekerja (contohnya adalah neurotransmitter jenis dopamine). Di samping itu, vitamin C juga berfungsi untuk menjaga kesadaran pikiran dalam arti yang sesungguhnya. Tidak diragukan lagi, vitamin C juga merupakan penangkal tekanan jiwa (stres). Dan, jangan sampai Anda lupa bahwa vitamin C adalah zat yang paling penting untuk melindungi tubuh dari proses penuaan.

Perlu diingat bahwa manusia sama sekali tidak boleh kekurangan vitamin C. Selain itu, vitamin ini juga tidak menimbulkan efek samping sama sekali.

Secara teoritis, pola makan yang kaya sayur-sayuran segar pasti dapat memenuhi semua kebutuhan “natural” bagi tubuh. Tetapi sebenarnya, ketika zat-zat asing yang masuk ke dalam tubuh maka “tuntutan” terhadap pasokan vitamin C juga semakin bertambah (misalnya ketika terjadi stress, polusi, peradangan ‘inflamasi’ dan sebagainya). Oleh sebab itu, dianjurkan agar setiap orang mengonsumsi suplemen vitamin C.

Vitamin E
Vitamin E telah dianggap sebagai pengawal pribadi bagi sel-sel saraf kita. Sebab, ia mampu melindungi lemak dengan sangat baik dari proses oksidasi karena adanya partikel radikal bebas. Manfaat vitamin E bukan sebatas itu saja, tetapi ia juga berfungsi untuk mengamankan kohesi dan konsistensi proses pembentukan jaringan otak (karena sebagian besar otak terdiri dari lemak). Jadi, ketika otak dapat berfungsi sebagaimana mestinya maka yang layak dipuji adalah vitamin E.

Anda harus mengonsumsi suplemen vitamin E yang alami. Sebab, tubuh kita tidak dapat menyerap vitamin E buatan. Kita tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar akan vitamin E, jika hanya mengandalkan makanan yang biasa dikonsumsi. Kita harus mengandalkan suplemen alami jika ingin melindungi otak sebaik-baiknya.

Bahan pangan yang kaya akan vitamin E memang sangat sedikit jumlahnya, sebagaimana kita juga tidak dapat mengonsumsinya dalam kuantitas yang besar. Di samping itu, bahan pangan tersebut juga menggunakan vitamin E untuk melindungi lemak yang mereka miliki sehingga yang tersisa bagi kita hanya sedikit.

Lalu Apa yang Harus Kita Lakukan?

Setiap hari, kita harus mengonsumsi lebih dari satu jenis vitamin. Selain itu, sebaiknya setiap hari kita juga mengonsumsi suplemen tambahan. Sebab, suplemen tersebut dapat memperbaiki kinerja otak pada orang lanjut usia serta mencegah terjadinya gangguan mental bagi para penderita penyakit, berapa pun usia mereka.
Contohnya, anak-anak muda yang mengalami kekurangan vitamin B12 ternyata menunjukkan gejala-gejala kelelahan berpikir. (Perlu diingat, kekurangan salah satu dari beberapa jenis vitamin B, secara umum menyebabkan terjadinya kekurangan pada semua jenis vitamin B lainnya). Oleh sebab itu, sebaiknya kita semua selalu mengonsumsi suplemen yang mengandung antioksidan, vitamin B, vitamin C, dan vitamin E.

Makanlah Untuk Berpikir


Otak kita tidak akan mampu melakukan pekerjaannya mengatur tubuh, atau memenuhi tugas-tugas penting lainnya meskipun hal itu sangat sederhana sekalipun jika otak tidak mendapat patokan gizi yang tepat. Memenuhi semua kebutuhan otak menjadi hal pokok untuk menjaga efektifitasnya.

Oleh sebab itu, memberi segala yang dicarinya adalah keharusan. Perlu diketahui, kenikmatan otak sebagai perasa bisa ia peroleh sesuai dengan gizi yang kita berikan kepadanya sehari-hari.
Perlu kita ingat kembali bahwa makanan yang dikonsumsi manusia terdiri dari beberapa zat nutrisi berukuran besar (protein, lemak, dan zat gula) serta beberapa macam zat lain yang berukuran kecil (berbagai jenis vitamin, mineral, dan beberapa zat lainnya). Berikut ini adalah perincian kegunaan zat-zat tersebut.

Protein : Si Tangan-Tangan Kecil
Tidak disangsikan lagi bahwa “pabrik” pembentukan otak adalah pusat produksi yang memilliki kegiatan tak terhingga banyaknya. Pabrik inilah produsen asam amino yang terkandung di dalam protein pada sel-sel otak kita dan ia juga selalu memperbarui asam tersebut.

Kekurangan protein dalam jumlah besar dapat menyebabkan terjadinya penyakit ‘kwasiorkor’ yang secara negatif bisa memengaruhi kinerja otak.

Zat Gula : Si Bahan Bakar
Kita telah mengetahui bahwa ketiadaan zat gula hanya dalam waktu tiga menit dapat menghancurkan otak. Akan tetapi ingat, beberapa macam zat gula ini perlu dibedakan secara spesifik.

Lemak : Si Unsur Pokok Bangunan
Lemak mendominasi hingga 60% dari total berat otak kita. Oleh sebab itu, lemak di dalam otak harus dipilih dengan baik. Lemaklah yang menjalankan seluruh sistem koneksi di dalam otak. Lemak pula yang bertindak sebagai “pelumas” pada hubungan antarsel di seluruh bagian otak.

Berbeda dengan yang terjadi pada bagian tubuh kita lainnya, lemak pada otak sama sekali tidak memiliki fungsi sebagai bahan bakar. Dengan kata lain, keberadaan lemak di dalam otak sama sekali bukan untuk menghasilkan energi. Karena ia hanya menjadi bagian pokok dari selaput otak, atau seakan-akan ia adalah “kulit” bagi sel-sel otak kita. Karena jumlah sel di dalam otak kita sangat banyak maka kuantitas lemak yang ada di sana juga banyak.

Zat-zat Berukuran Kecil : Para Penolong yang Tersembunyi Tetapi Sangat Penting
Meskipun berbagai jenis zat ini kecil ukurannya, tetapi sangat besar fungsinya. Zat-zat berukuran kecil ini terdiri dari beberapa macam vitamin dan mineral. Karena sedemikian kuatnya zat-zat tersebut maka kita hanya membutuhkan mereka dalam kuantitas yang kecil.
Tanpa adanya zat-zat tersebut, maka semua jenis protein, lemak, dan zat gula, tidak akan mungkin mampu mencapai otak.

Salah satu contohnya adalah vitamin B1 yang dengannya zat gula menjadi dapat digunakan. Berarti, ketiadaan vitamin B1 akan menyebabkan ketiadaan pasokan zat gula ke dalam otak.

Apa yang Harus Dilakukan?
Kita hasrus berusaha mengatur pola makan secara seimbang. Setiap hari hendaknya kita dapat mengonsumsi semua zat gizi yang telah disebutkan tadi. Ingat! Diet berlebihan yang menyebabkan tubuh tidak dapat menerima pasokan beberapa zat gizi (selain lemak, zat gula, atau protein) sangat berbahaya bagi otak.

Masakan Membuat Seseorang Menjadi Cerdas
Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mampu memasak makanan sendiri. Sebagian ilmuan berpendapat bahwa masakan bisa membuat volume otak kita menjadi lebih besar.
Secara faktual, memang ada beberapa zat gizi yang “tertahan” di dalam makanan mentah (baik di dalam serat tumbuhan, maupun di dalam “kepompong” protein) dan proses memasak telah melepaskan zat-zat tersebut.

Baca juga : Konsumsilah Gingko Biloba, Ini Manfaatnya

Seiring dengan berhasil ditemukannya api, otak manusia juga mendapatkan pasokan beberapa zat istimewa semisal lycopene yang terdapat di dalam buah tomat, atau protein telur yang ternyata lebih mudah diserap oleh tubuh jika dimasak terlebih dahulu.

Namun, ada juga beberapa macam jenis vitamin yang akan menghilang ketika makanan tersebut dimasak, khususnya vitamin C yang sangat berguna untuk pembentukan kalori.

Pengaruh Usia Terhadap Tingkat Kecerdasan Otak


Para ilmuwan pernah menghasilkan sebuah kesimpulan yang rancu karena beberapa penelitian yang gagal dan tidak diinterpretasikan secara benar. Deduksi itu berbunyi : setiap kali usia kita bertambah, maka kemampuan berpikir kita juga semakin menurun. Padahal secara faktual , yang terjadi justru sebaliknya dan lebih baik dari sekadar kesimpulan itu.

Cara penggunaan sel-sel saraf sebenarnya terus berganti dan berubah. Sampai usia antara 30-40 tahun, “kecerdasan elastis” setiap orang terus menguasai permukaan otak. Hasilnya, mereka bisa lebih cepat menangkap pelajaran, lebih mudah menghafal, lebih cermat bahkan sigap dalam memecahkan berbagai permasalahan hidup.

Itulah keunggulan mendasar yang dimiliki kecerdasan jenis ini : kemampuan untuk memecahkan berbagai masalah baru.

Artikel terkait : Benarkah Kecerdasan Adalah Faktor Keturunan?

Hebatnya, berbagai lapangan kerja yang menggunakan kecerdasan jenis ini selalu melahirkan “jenius-jenius baru” dari kalangan muda. Sebagaimana kita ketahui, banyak pakar matematika dan fisika telah menorehkan hasil temuan terbesar mereka sebelum usia mereka mencapai empat puluh tahun.

Ketika memasuki pertengahan usia tiga puluhan, “kecerdasan elastis” ini pun mulai berkurang sedikit-demi sedikit untuk kemudian digantikan oleh kecerdasan lain yang disebut “kecerdasan yang mengkristal” (crystallized ability). Kecerdasan jenis inilah yang kemudian sering disebut oleh para ahli dengan nama “pengalaman” atau “kebijaksanaan”.

Jadi, “kecerdasan yang mengkristal” adalah anak kandung dari “kecerdasan elastis” dan buah pengetahuan yang telah didapat. “Kecerdasan yang mengkristal” tumbuh sedikit demi sedikit dan akan berkurang dalam tempo yang sangat lambat.

Pada gilirannya, semua pengalaman terhadap “norma-norma baru” akan menjadi aspek utama dalam implementasi pengetahuan dasar ini, dan akan mengubah segalanya.

Kami sepakat dengan pendapat yang menyatakan bahwa orang lanjut usia lebih lambat dalam menjawab kecerdasan cara cepat. Akan tetapi jumlah rata-rata kosakata yang mereka miliki ternyata bisa mencapai 6000 kata. Sementara itu, seorang pelajar atau mahasiswa biasanya hanya mampu mengingat 2000 kosakata saja.

Kami juga sepakat dengan pendapat yang menyatakan bahwa kemampuan orang-orang lanjut usia dalam menjaga kesadaran dan konsentrasi lebih sedikti daripada orang muda. Contoh : orang lanjut usia tidak dapat menghafal sesuatu yang berkaitan dengan musik sebaik hafalan mereka ketika masih muda. Akan tetapi, mereka ternyata lebih komprehensif dan lebih teliti dalam memecahkan suatu masalah daripada kalangan muda.

Kecerdasan yang muncul setelah seseorang berusia 40 tahun sebenarnya berbeda dari kecerdasan biasa. Jenis kecerdasan seperti ini selalu membutuhkan bidang kerja yang bermacam-macam. Kecerdasan ini biasanya sangat dapat diterapkan dalam masalah politik, filsafat, atau beberapa jenis kreativitas intelektual lainnya.

Baca juga : Mengenal Bagian-Bagian Terpenting Otak
                   Kenapa Kita Harus Jadi Orang Kreatif?

Hanya saja umumnya orang berusia lanjut tidak pernah memerhatikan hal itu. Mereka justru mengeluarkan berbagai macam gangguan yang sebenarnya hanya menyerang “kecerdasan elastis” saja. Padahal, “kecerdasan elastis” bersifat implementatif dan cepat. Daripada bersusah hati karena kemampuan yang terus menerus menghilang itu, jauh lebih baik jika setiap orang mengembangkan berbagai “sel pengganti” yang diberikan oleh otak mereka masing-masing.

Mengenal Bagian-Bagian Terpenting Otak


Setiap orang memiliki beberapa bagian otak yang berpadu menjadi satu. Organ yang sangat menakjubkan ini terdiri dari beberapa “tingkatan” yang tumbuh seiring dengan laju pertumbuhan seseorang. Salah satu bagian organ inilah yang secara sembunyi-sembunyi melaksanakan tugas paling utama dan sangat mendasar. Bagian itu terletak di bawah permukaan otak dan biasa disebut dengan nama “hipotalamus” (hypothalamus).

Hipotalamus bekerja di bagian otak paling dalam yang terletak di antara otak kanan dan otak kiri. Bagian otak inilah yang kemudian mendapat julukan “otak reptile”. Selain itu, otak ini bertanggung jawab atas keberlangSungan hidup umat manusia.

Hipotamulus dilingkupi oleh beberapa organ pelapis bernama “limbik” (limbique) yang berfungsi melakukan tugas-tugas, yang paling pesat perkembangannya semisal memori, pembelajaran, rasa, emosi, dan sebagainya.

Bagian terluar otak yang disebut” korteks” (cortex) adalah bagian paling terakhir terbetnuk dalam struktur otak manusia. Bagian inilah yang menjadi “penghias” otak. Padanya bertumpu kemampuan berpikir, berbicara, pemikiran abstrak, dan beberapa gerak nonrefleks lainnya. Lapisan luar otak ini bagaikan kelompok elit di dalam masyarakat!

Yang Tersembunyi di Dalam Kepala Kita

Otak, yang memiliki kedudukan sangat penting bagi kehidupan manusia, tidak pernah beristirahat sedetikpun atau melakukan proses dengan mogok kerja. Otak terus bekerja siang dan malam tanpa henti, bahkan pada saat seseorang sedang tidur.

Otak terdiri dari 100 miliar sel yang disebut “sel saraf” atau “neuron” (jumlah ini melebihi bilangan bintang dalam gugusan galaksi kita). Seluruh sel itulah yang mengelola sinyal saraf untuk kemudian mengirimkannya kembali kepada organ di sekujur tubuh.

Di sekitar sel saraf terdapat sel-sel lekat bernama sel “gila”, jumlahnya lebih dari lima hingga sepuluh kali lipat jumlah sel saraf otak. Sel gila inilah yang memasok kebutuhan nutrisi bagi sel saraf dalam bentuk kolesterol. Jadi, fungsi sel gila mirip dengan rumah makan.

Sekadar informasi, jumlah sel saraf di dalam otak Albert Einstein sama seperti manusia lainnya. Akan tetapi, jumlah sel gila yang dia miliki jauh melebihi jumlah normal. Setiap kali otak bekerja maka pada saat itulah perangkat saraf juga ikut bekerja, dan pada saat itu pula tubuh kita akan menambah produksi sel gila. Hal itu menunjukkan bahwa sebenarnya setiap orang berpotensi untuk menjadi secerdas Albert Einstein, yang sangat dibutuhkan hanyalah sebuah tekad.

Sel-sel saraf dapat berhubungan satu sama lain disebabkan adanya sesuatu yang disebut “akson” (axon) dan “dendrit” (dendrites) yang bentuknya mirip serabut panjang. Pada saat sel-sel saraf sedang berada dalam kondisi sehat, pada saat itulah ia akan memproduksi lebih banyak dendrit. Satu sel saraf (neuron) dapat memiliki jaring-jaring yang terbentuk dari 100.000 serabut. Adapun sel-sel saraf yang berukuran lebih kecil biasanya tidak terlalu memiliki banyak cabang.

Di antara sel-sel saraf terdapat ruang renik yang dikenal dengan nama “sinapsis”. Celah ini sebenarnya tidak benar-benar kosong, karena ia menjadi titik pertemuan antar-dendrit. Jumlah celah ini sangat banyak hingga dapat mencapai 100 miliar. Celah-celah inilah yang menjadi tempat lalu-lalang informasi menuju masing-masing sel saraf yang sesuai.

Dan pada tahap selanjutnya, segala hal yang berkaitan dengan eksistensi pikiran, kecerdasan, memori, dan pembelajaran, semuanya kembali pada celah-celah renik tersebut. Sebab, semua informasi bergerak melalui celah-celah itu lewat sinyal-sinyal listrik yang ketika bergerak akan menghasilkan sesuatu, yang disebut sebagai “neurotransmitter”.

Neurotransmitter adalah sejenis bahan kimia yang bertugas memasukkan informasi ke dalam sel-sel saraf dengan meletakkan diri pada bagian tertentu dari sel saraf. Sebab, setiap sel saraf (neuron) memiliki bagian khusus yang tidak dapat dilekati oleh sesuatu selain pasangannya. Proses ini layaknya anakan kunci yang berpasangan dengan gemboknya.

Neurotransmitter bekerja layaknya hormon di dalam otak dan menjadi salah satu elemen yang paling penting. Sebab, ketiadaan neurotransmitter dapat menyebabkan hilangnya kemampuan berpikir, sekalipun elemen-elemen otak yang lain (seperti sel saraf, informasi, dan sebagainya) masih tetap ada.

Dari semua ini dapat diketahui bahwa sel saraf sangat bergantung pada pasokan gizi. Para ilmuan juga berkeyakinan bahwa gangguan seperti apapun yang terjadi sebenarnya sangat jarang menyerang otak itu sendiri. Masalah sebenarnya justru ada pada proses transmisi informasi yang harus ditemukan dan diobati.

Pemikiran seperti itu membangkitkan harapan setiap orang. Dalam kondisi demikian, nutrisi yang memadai disertai terapi gizi (seperti asupan berbagai jenis vitamin dan mineral), bisa memberikan hasil maksimal yang efeknya dapat dilihat dengan jelas dalam tempo yang relatif cepat.

Bahkan sedemikian pentingya peran neurotransmitter, sampai-sampai para ilmuan bersandar pada elemen otak ini dalam pembuatan sejenis peta psikobiologis. Dan pada kenyataannya, neurotransmitter memang sangat berpengaruh pada bentuk jasmani hingga watak dan tabiat seseorang membentuk kepribadian manusia menjadi tiga macam. Berikut perinciannya.

1. Individu-individu yang selalu mencari segala hal baru (munculnya kebutuhan untuk mengetahui berbagai perasaan baru akan menghadapkan setiap individu pada bahaya fisik dan mental dalam upaya mencapainya). Individu-individu dengan kepribadian seperti ini menghadapi masalah pada sistem dopaminnya.

2. Individu-individu yang selalu berusaha menghindari rasa sakit atau siksaan dengan segala cara (mereka selalu gundah, resah dan tak bergairah). Individu-individu dengan kepribadian seperti ini mengalami kekurangan serotonin.

3. Individu-individu yang selalu mengejar kecukupan (selalu membutuhkan kemapanan emosional dan sosial). Individu-individu dengan kepribadian seperti ini mengalami kekurangan noradrenalin.

Artikel serupa disarankan untuk Anda :
Semua kesimpulan ini telah dikuatkan oleh serangkaian studi yang dilakukan secara berkesinambungan dengan menggunakan berbagai teknologi visualisasi otak. Akan tetapi, kompleksitas manusia tidak dapat langsung diketahui begitu saja dengan beberapa klarifikasi umum seperti ini. Sebab, telah terbukti dengan jelas bahwa perbaikan terhadap suatu masalah pada neurotransmitter menyebabkan timbulnya masalah lain pada hal-hal yang masih berkaitan. Bahkan, sedemikian misteriusnya pola kerja neurotransmitter ini, seakan-akan ia dapat disamakan dengan sihir.

Mitokondria adalah tempat produksi berukuran renik yang mengubah asupan makanan menjadi energi. Tampat produksi berukuran renik ini bertebaran di setiap sel-sel saraf dalam tubuh manusia. Uniknya, mitokondria ini sepenuhnya kita warisi dari ibu kita masing masing tanpa ada peran ayah sama sekali.

Inilah elemen pokok yang terdapat di dalam otak manusia secara umum. Hanya saja, komposisi otak setiap orang tentu berbeda satu sama lain sesuai dengan pengalaman, cobaan, tingkat kecerdasan, pendidikan, keturunan, dan sebagainya.