Menumbuhkan Kemandirian Belajar


Kita tidak perlu merasa terkejut jika mendengar pengakuan seorang mahasiswa yang baru saja masuk kuliah pada perguruan tinggi negeri atau swasta, namun masih merasa ragu-ragu untuk menuntut ilmu. Cukup banyak contoh seperti itu di sekitar kita.

Kemandirian belajar agaknya belum dimiliki oleh banyak pelajar. Ada guru yang mengatakan bahwa pelajar sekarang banyak yang bersifat seperti paku. Mereka baru bergerak setelah dipukul dengan palu. Sebagian besar dari mereka juga pasif. Dalam membaca buku-buku pelajaran saja misalnya, jika tidak disuruh atau diperintah oleh guru, buku-buku tersebut akan tetap tidak tersentuh dan akan selalu baru karena tidak pernah dibaca.

Cukup banyak penulis yang hanya membebankan kegagalan pendidikan atau ketidakmandirian siswa dalam belajar kepada pundak sekolah. Mereka lupa melihat kondisi lingkungan rumah para siswa. Sebab, lingkungan rumah cukup dominan dalam menentukan kemandirian belajar. Faktor tingkat pendidikan orang tua yang cukup rendah dan sikap suka menyerahkan urusan pendidikan anak kepada sekolah semata merupakan dua dari sekian banyak penyebabnya.

Kealpaan orang tua dalam mendidik anak untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya telah menjadikan anak terbiasa berkeliaran tak menentu dan hidup tidak teratur sejak bangun tidur sampai kembali memejamkan mata.

Pelajar-pelajar yang gemar membolos pada jam pelajaran merupakan produk rumah, orang tua yang tidak mau tahu terhadap masalah pendidikan anak-anak mereka. Gambaran sekolah sekarang bukan lagi arena menuntut ilmu, dengan pelajar yang asyik menekuni aneka buku ilmu pengetahuan. Tetapi, citra sekolah sekarang adalah tempat berhuru-hara bersama kawan-kawan. Dari tiga aspek, yaitu kognitif, psikomotorik, dan efektif, yang dikembangkan dari diri pelajar melalui proses belajar mengajar dan kegiatan ekstrakurikuler, terlihat kurang berimbang. Dalam kegiatan ekstrakurikuler saja, kegiatan pengembangan efektif atau pembinaan sikap masih kurang, karena wadah-wadah penyaluran tidak ada. Sementara itu, sekolah lebih memerhatikan pengembangan aspek kognitif dan psikomotorik, yaitu berupa pemberian ilmu pengetahuan dan pelaksanaan latihan keterampilan serta olahraga.

Kerap kali, siswa telah belajar di tingkat SMA sekalipun, dalam mengambil asas manfaat, masih seperti anak kecil. Mereka sering bertanya kepada bapak dan ibu guru ketika proses belajar mengajar sedang berlangsung, tentang pelajaran yang ditulis pada papan tulis apakah untuk disalin di buku atau tidak. Padahal jika mereka memang merasa hal itu dibutuhkan, seharusnya mereka akan menyalinnya. Begitu pula dalam mengomentari keberadaan buku-buku pelajaran mereka yang jarang mereka sentuh. Mereka menjawab bahwa bila guru tidak menyuruh untuk mengerjakan tugas-tugas rumah atau untuk membacanya, buat apa buku-buku itu dibaca? Jika begitu, konsep belajar mereka adalah baru berbuat setelah mendapat perintah.

Cara belajar yang belum menunjukkan kemandirian dari kebanyakan para pelajar tersebut akan membawa pengaruh pada jenjang berikutnya. Andaikata mereka melanjutkan studi ke perguruan tinggi, mereka sering salah memilih jurusan, sehingga memendam rasa sesal kemudian. Sering mereka hanya mengambil jurusan hanya sekadar mode dan tidak mengukur kemampuan diri. Atau, mereka memilih jurusan karena adanya pengaruh atau setengah paksaan yang datang dari berbagai pihak. Bertambah membengkaklah angka drop out mahasiswa di perguruan tinggi.

Lebih dari itu, seandainya mereka tidak begitu mujur untuk malanjutkan studi ke perguruan tinggi, tentu akan menambah angka pengangguran yang telah gemuk juga. Pada akhirnya, mereka sering menjadi parasit dalam tubuh sosial masyarakat. Pergi merantau untuk mengayakan pengalaman hidup dan mengadu untung pun tak akan berani. Sebab, mereka akan menjadi beban bagi mertua mereka masing-masing. Kecuali jika mereka berani mengambil keputusan dan melakukan perubahan sikap untuk hidup secara total.

Sampai saat ini, banyak kritik tentang proses belajar mengajar di sekolah yang lebih cenderung bersifat instruction (mengajar) daripada sekolah yang bersifat education (mendidik). Bisa jadi, penyebabnya adalah guru hanya menguasai ilmu sebatas bidang studi mereka semata, itu pun tidak begitu mendalam. Di samping itu, pengabdian guru belum sepenuhnya tulus. Maksudnya, adakalanya pengabdian guru bersifat pamrih atau berdasarkan nilai ekonomis. Dengan kata lain, mereka baru sudi untuk berbuat jika ada imbalannya.

Ketidakmandirian pelajar, guru-guru, dan siapa saja dalam proses pematangan diri merupakan batu sandungan untuk mencapai kemantapan sumber daya manusia. Akan percuma kata-kata sumber daya manusia yang berkualitas tetap diserukan oleh pemerintah melalui berbagai media masa jika setiap individu tidak melakukan usaha sendiri dalam belajar demi menambah ilmu pengetahuan dan keterampilan-keterampilan lain.

Tidak ada kata tidak, kemandirian dalam belajar perlu ditingkatkan. Maka diperlukan introspeksi diri yang ditinjaklanjuti dengan perbuatan nyata, bukan hanya melakukan introspeksi kemudian berteori. Sebab, teori tanpa tindakan atau aplikasi akan tetap sia-sia hasilnya.

Kita boleh sedikit merasa lega, karena kini ads taman kanak-kanak yang telah mendorong anak didiknya untuk melakukan kemandirian dalam belajar. Dulu, TK lebih berfokus pada kegiatan menyanyi dan menari untuk kemudian dilupakan. Namun, TK masa kini telah memiliki kurikulum yang lebih dewasa dan tidak lagi hanya sekadar teori.

Kita patut merasa salut melihat dengan telah adanya sekolah yang mewajibkan peserta didiknya untuk berlangganan majalah dan berpesan kepada orang tuan di rumah untuk ikut serta membimbing anak. Usaha-usaha positif dan lebih serius sungguh kita harapkan untuk tingkat sekolah-sekolah yang lebih tinggi. Di samping menyediakan fasilitas balajar bagi anak-anak, juga ikut mengontrol pemanfaatan waktu yang baik. Kemandirian dalam belajar perlu ditingkatkan demi menyonsong masa depan.

Memahami Pengertian Intelegensi


Kata Intelegensi memang sudah cukup familiar di dunia pendidikan, tetapi untuk orang awam terkadang cukup membingungkan. Dalam bahasa sehari-hari, kalau anak berprestasi, belajarnya mendapat ranking di kelas, dikatakan sebagai anak pintar atau anak cerdas. Padahal ketika diukur intelegensinya ternyata belum tentu selaras dengan kepintaran akademik tersebut. Mengapa? Intelegensi memang wujudnya adalah potensial, artinya kemampuan seseorang yang masih “mentah”, tersimpan dalam diri seseorang, yang sebagian besar bersumber dari factor keturunan.


Bila intelegensi belum dioptimalkan aktualisasinya dalam proses pembelajaran, misalnya karena faktor pola asuhan atau proses pendidikan yang tidak tepat, maka kepintaran orang yang inteligensinya digolongkan tinggi, belum tentu terwujud dalam kepintaran akademik yang sepadan. Sebaliknya, anak yang “terlihat” cerdas dalam akademik, yang terbukti dengan data nilai-nilai yang diperoleh melalui proses pembelajaran, padahal intelegensinya tergolong “rendah”, besar kemungkinan disebabkan proses pembelajarannya atau pola asuhan yang cukup efektif. Jadi, kemampuan inteligensi memang terbukti dalam banyak penelitian sangat berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam belajar, tetapi bukan berarti satu-satunya faktor yang menentukan hasil pembelajarannya, karena masih banyak faktor lain yang menentukan.

Lalu apa dan bagaimana sebenarnya intelegensi itu?  Berikut penjelasannya.
Intelegensi adalah salah satu kemampuan mental, pikiran atau intelektual manusia. Intelegensi merupakan bagian dari-proses-proses kognitif pada urutan yang lebih tinggi (higher order cognition). Secara umum intelegensi sering disebut kecerdasan, sehingga orang yang memiliki intelegensi yang tinggi disebut orang yang cerdas atau jenius.

Para ahli belum ada kesatuan pendapat tentang defenisi intelegensi. Menurut Solso (988), Intelegensi adalah kemampuan memperoleh dan menggali pengetahuan, menggunakan pengetahuan untuk memahami konsep-konsep konkrit dan abstrak, dan menghubungkan di antara objek-objek dan gagasan-gagasan, menggunakan pengetahuan dengan cara-cara yang lebih berguna (in ameaningful) atau efektif.

Berdasarkan pengertian intelegensi demkian, sangat kentara betapa eratnya hubungan kemampuan dengan potensi intelegensi yang dimiliki. Artinya, semakin cerdas seseorang, semakin mudah dia menerima pembelajaran, semakin cepat daya tangkapnya, dan semakin efektif dan efesien belajarnya.

Secara umum, pamahaman terhadap kecerdasan Intelegensi ini ada dua tingakatan yaitu : Kecerdasan sebagai suatu kemampuan dalam memahami informasi yang membentuk sebuah pengetahuan dan kesadaran. Kecerdasan sebagai kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan (problem solved) dan dengan demikian pengetahuan pun bertambah. Sehingga mudah bagi kita untuk memahami bahwa kecerdasan adalah pemandu bagi kita untuk mencapai sasaran-sasaran yang kita tuju secara efektif dan efesien.

Dengan kata lain, orang yang lebih cerdas, akan mampu memilih strategi pencapaian sasaran yang lebih baik dari orang yang kurang cerdas. Artinya orang yang memiliki kecerdasan seharusnya lebih sukses dari orang yang kurang cerdas. Yang sering membingungkan ialah kenyataan adanya orang yang kelihatan tidak cerdas (sedikitnya di sekolah) kemudian tampil sukses, bahkan lebih sukses dari rekan-rekannya yang lebih cerdas, dan sebaliknya.

Prestasi seseorang ditentukan juga oleh tingkat kecerdasannya (Intelegensi). Meskipun merek mempunyai dukungan yang tinggi agar dapat berprestasi dan orang tuanya pun memberikan kesempatan yang begitu luas untuk dapat meningkatkan prestasinya, akan tetapi kecerdasan mereka yang hanya terbatas tidak akan memungkinkannya untuk mencapai keunggulan tersebut. Tingkat kecerdasan (Intelegensi) bawaan ditentukan baik oleh bakat bawaan (berdasarkan gen yang diturunkan dari orang tuanya) mamupun oleh faktor lingkungan (termasuk semua pengalaman dan pendidikan yang pernah diperoleh seseorang, terutama tahun-tahun pertama dari kehidupan mempunyai dampak kuat terhadap kecerdasan seseorang).

Secara umum pengerteian dari Intelegensi dapat dirumuskan ke tiga rumusan yaitu sebagai berkiut :

1. Suatu kemampuan dalam berpikir secara abstrak
2. Untuk menangkap hubungan-hubungan dan untuk belajar
3. Kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi baru.

Pada  perumusan pertama memberikan definisi intelegensi sebagai kemampuan dalam berpikir. Pada poin kedua mengatakan Intelegensi sebagai suatu kemampuan untuk belajar dan perumusan ketiga mengatakan sebagai suatu kemampuan dalam menyesuaikan diri. Ketiga-tiga rumusan menunjukkan aspek yang berbeda dari intelegensi, namun ketiga aspek tersebut saling berkaitan.

Keberhasilan dalam menyesuaikan diri seseorang ditentukan dari kemampuannya dalam berpikir dan belajar. Sejauh mana seseorang tersebut mampu belajar dari pengalaman-pengalaman yang dimilikinya akan menentukan penyesuaian dirinya. Ungkapan-ungkapan pikiran, cara berbicara, dan cara mengajukan pertanyaan, kemampuan memecahkan masalah, dan sebagainya mencerminkan kecerdasan. Akan tetapi, diperlukan waktu lama untuk dapat menyimpulkan kecerdasan seseorang berdasarkan pengamatan perilakunya, dan cara demikian belum tentu tepat pula.

Sebab itu, para ahli telah menyusun berbagai macam tes intelegensi untuk memungkinkan atau mempermudah kita dalam waktu yang relative cepat dapat mengetahui tingkat kecerdasan yang dimiliki seseorang. Intelegensi seseorang biasanya dinyatakan dalam suatu angka intelegensi yaitu Intelligence Quotient (IQ).

Mengenal Manfaat Teori Belajar


Penerapan beberapa toeri belajar dapat memberikan banyak manfaat, baik itu bagi pendidik, bagi peserta didik dan bagi proses pembelajaran. Berikut manfaat teori belajar yang harus diketahui oleh para pendidik profesional.


1. Sebagai pedoman/landasan bagi pendidik untuk melaksanakan proses pembelajaran.
Pemanfaatan berbagai teori belajar bisa menjadi pedoman bagi pendidik untuk menentukan arah pembelajaran. Ini dilakukan untuk mengembangkan seluruh potensi peserta didik dan menjadi pedoman pendidik untuk melaksanakan pembelajaran sesuai dengan karakteristik peserta didiknya.

Mencari strategi pengajaran yang tepat serta memilih hal-hal yang bisa membantu mengembangkan proses pembelajaran.

2. Membantu pendidik memahami bagaimana peserta didik belajar.
Sebuah kelas terdiri dari beragam peserta didik, masing-masing peserta didik memiliki kemampuan dan motivasi yang berbeda sehingga mereka akan memiliki cara belajar yang berbeda pula. Pendidik dapat mengetahui dan membantu peserta didik belajar dengan memanfaatkan teori belajar. Pemanfaatan teori belajar ini akan memberi gambaran bagi pendidik untuk memilih teori belajar sesuai dengan keadaan perbedaan kemampuan peserta didik.

Toeri belajar akan membantu pendidik untuk memahami bagaimana anak belajar. Anak-anak belajar dengan penguatan, dengan pengalaman, melalui kondisi dan latihan, dan lain sebagainya. Dengan menguasai berbagai teori belajar akan membantu guru menentukan sikap/tindakan yang tepat untuk membantu peserta didik dalam belajar.

3. Membantu pendidik untuk mewujudkan pembelajaran yang lebih efektif dan efesien.
Perbedaan kemampuan, keadaan dan sikap peserta didik bisa saja menjadi masalah dalam belajar, namun sebaliknya semua itu harus mendapatkan penanganan yang baik dari pendidik, agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik.

Jika pendidik telah memahami bagaimana siswanya belajar, maka ia sudah bisa menentukan bimbingan apa yang bisa ia lakukan untuk siswanya, sehingga ini akan menambah kekreatifan proses pembelajaran. Tindakan pendidik yang tepat akan lebih menghemat waktu, sehingga siswa bisa belajar sesuai dengan tujuannya tanpa membuang waktu, tenaga dan biaya, sehingga terwujudnya pula proses pembelajaran yang efektif dan efesien.

4. Membantu pendidik untuk merancang dan  merencanakan proses pembelajaran.
Pemanfaatan teori belajar tidak saja membatu peserta didik belajar, namun juga akan membantu pendidik untuk merancang pembelajaran yang sesuai dengan perbedaan kemampuan dan keanekaragaman anak didiknya. Memilih metode, strategi, dan media yang tepat untuk menyampaikan informasi dalam proses belajar pada anak didiknya.

5. Menjadi panduan pendidik dalam mengelola kelas.
Pengelolaan kelas yang baik tergantung pada kemampuan pendidik profesional untuk mengarahkan peserta didik untuk mengikuti arahannya. Dengan memanfaatkan teori belajar sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik, ini bisa menjadi panduan pendidik dalam mengelola kelas, karena pendidik sudah mengetahui detail, bagaimana pribadi, sikap dan kemampuan siswa.

Pendidik juga akan bisa memilih tindakan yang cocok untuk membimbing siswa, sehingga mempermudah pendidik mengelola kelas.

6. Membantu pendidik mengevaluasi/menilai proses pembelajaran, sikap pendidik serta hasil belajar yang telah dicapai.
Setiap proses pembelajaran tidak pernah luput dari kekurangan. Pendidik profesional juga memiliki berbagai keterbatasan dalam melakukan proses pembelajaran, karena itu perlu diadakan evaluasi. Evaluasi ini dilakukan untuk melihat sejauh mana ketercapaian dan keberhasilan tujuan pembelajaran yang telah dicapai. Hasilnya dapat menjadi pedoman untuk pembelajaran yang berikutnya serta menjadi ajang perbaikan.

Tidak saja dari segi hasil belajar, pemanfaatan teori belajar juga membantu pendidik untuk menilai diri/introspeksi diri, tidandakan apa yang sudah dilakukan dengan baik, dan tidankan apa pula yang mungkin perlu diperbaiki pendidik di waktu yang akan datang.

7. Membantu pendidik memberikan dukungan dan bantuan pada peserta didik agar peserta didik dapat mencapai prestasi optimal dan kesuksesan belajar.
Perbedaan kemampuan dan kepribadian siswa tentu membutuhkan penanganan yang berbeda. Dengan pemanfaatan teori belajar, pendidik bisa menilai bagaimana siswanya belajar, sehingga ini mempermudah pendidik untuk memberikan arahan dan  bantuan serta masukan bagi peserta didiknya untuk terus mengembangkan potensi yang ada, mencapai prestasi yang diinginkan.

Pendidik tiada henti memberikan dukungan, semangat serta memotivasi peserta didik agar bisa mencapai kesuksesan belajarnya.

8. Membantu pendidik membangun karakter pada diri peserta didik.
Pada dasarnya setiap peserta didik adalah individu yang baik, namun lingkungan dan bagaimana cara ia menjalani kehidupan ikut serta memberikan pengaruh untuk pembentukan karakter seseorang. Dengan memanfaatkan teori belajar yang ada, ini dapat membantu pendidik untuk terus  menanam karakter diri yang baik bagi peserta didik.

Dengan membantu proses belajarnya, pendidik bisa menanamkan nilai-nilai, melalui reward, penguatan dan lain-lain.

Jadi, secara singkat dapat disimpulkan bahwa manfaat teori belajar bagi pendidik dalam mengelola pembelajaran  adalah :

1. Membantu pendidik untuk memahami bagaimana peserta didik belajar
2. Membimbing pendidik untuk merancang dan merencanakan proses pembelajaran
3. Membantu pendidik untuk mengelola kelas
4. Membantu pendidik untuk mengevaluasi proses, perilaku guru sendiri serta hasil belajar peserta didik yang telah dicapai.
5. Membantu proses belajar lebih efektif, efesien dan produktif
6. Membantu pendidik dalam memberikan dukungan dan bantuan kepada peserta didik sehingga dapat mencapai hasil prestasi yang maksimal.

Dengan mengetahui sekian banyak manfaat dari penerapan teori pbalajar, maka ini bisa menjadi solusi bagi pendidik dalam menghadapi setiap persoalan dalam pembelajaran. Dengan adanya teori belajar dan pembelajaran, guru bisa memanfaatkan hal tersebut untuk menjadi pendidik yang profesional dalam merumuskan tujuan pembelajaran yang tepat, pemilihan strategi yang sesuai, memberikan bimbingan atau konseling, memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik, menciptakan iklim belajar yang kondusif, berinteraksi dengan peserta didik secara tepat dan memberi penilaian secara adil terhadap hasil pembelajaran.

Mengenal 4 Fungsi dari Teori Belajar


Untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, terlebih dahulu pendidik harus paham dan mengerti tentang teori belajar. Teori belajar merupakan aspek terpenting dalam bidang pendidikan. Teori belajar membahas konsep psioklogis peserta didik, bagaimana perubahan perilaku dari peserta didik, apa itu sejatinya belajar, bagaimana seseorang dikatakan telah belajar. Teori belajar merupakan landasan yang mendasari profesi pendidik untuk dapat menjadi pendidik yang profesional.

                   3 Alasan Kenapa Siswa Malas Belajar

Teori belajar merupakan salah satu bentuk psikologi terapan yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, membahas aspek daslam proses belajar, yaitu memasukkan “pembelajaran, pemahaman, motivasi, pengembangan, kepribadian, dan lainnya” dalam pemahaman psikologi.

Dalam seluruh proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling poko. Ini berarti bahwa berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan pendidikan hanya bergantung pada bagaimana proses belajar yang dialami oleh peserta didik.

Belajar merupakan suatu proses yang ditandai dengan terjadinya perubahan tingkah laku pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubahnya pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kemampuan, daya reaksi, daya penerima, dan lainnya yang ada pada peserta didik.

Sebagai pendidik yang profesional, mengapa harus mengkaji proses belajar, hal ini dikarenakan setelah pengetahuan kita (pendidik) tentang proses belajar semakin bertambah, maka praktik pendidikan pun akan semakin efesien dan efektif.

Sebagai seorang pendidik, untuk dapat membelajarkan peserta didik, maka pendidik yang profesional mengimplementasikan prinsip-prinsip teori belajar pada proses pembelajaran. Teori dalam  belajar merupakan cara-cara yang diaplikasikan untuk memahami tingkah laku yang terjadi pada individu yang relative menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan.

Sejalan dengan hal itu, perlulah untuk diketahui beberapa fungsi dari teori belajar yaitu sebagai berikut :

1. Teori belajar membuat penemuan-penemuan menjadi sistematis
Suatu teori dapat digunakan untuk membuat penemuan penelitian menjadi sistematis dan memberi arti pada peristiwa-peristiwa yang kelihatannya saling tidak ada hubungannya. Teori ini bukan hanya menyederhanakan sehingga membantu pemahaman, melainkan juga dengan adanya teori ini dapat diatur sejumlah besar fenomena menjadi suatu skema yang koheren.


2. Membuat pendeteksi
Suatu teori yang baik dapat menghemat usaha-usaha yang tidak berguna dengan menunjukkan letak segi keuntungan bila dilakukan suatu penelitian.

3. Membuat prediksi
Suatu teori dapat digunakan untuk melakukan prediksi, suatu teori bukan hanya membawa ilmuan pada pengajuan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan berguna, melainkan juga teori itu dapat memperlihatkan apa yang dapat diharapkan untuk ditemukan bila ia telah melakukan eksperimen atau pengamatan.

4. Memberi penjelasan
Suatu teori dapat digunakan untuk menjelaskan. Jadi, fungsi teori dalam hal ini ialah untuk menjawab pertanyaan “mengapa” yaitu mengapa terjadi peristiwa-peristiwa tertentu dan mengapa manipulasi suatu variabel menghasilkan perubahan pada variabel yang lain. Banyak kejadian di alam ditentukan atau disebabkan oleh faktor-faktor yang tidak diketahui atau hanya diketahui tidak sempurna.

Jadi kejadian-kejadian semacam itu harus dilakukan secara teoritis. Fungsi menjelaskan pada suatu teori sangatlah luas dan kerap kali disalah gunakan. Setiap kejadian dapat dijelaskan oleh suatu teori selama penjelasan itu masuk akal, dan paling sedikit melibatkan kejadian yang diamati.

Keempat teori belajar tersebut dapat digunakan oleh pendidik sebagai pedoman dalam merancang bahan pembelajaran, pemilihan media yang tepat, pelaksanaan proses pembelajaran, dan mengevaluasi hasil belajar. Tujuan utama teori belajar adalah untuk memberikan pendidik beberapa pemahaman dari berbagai pilihan yang ada untuk konseptualisasi proses pembelajaran dan untuk merencanakan pengalaman pendidikan yang lebih rinci.

Dalam proses pembelajaran peserta didik tentu akan suka melihat pelaksanaan contoh yang konkrit.

Teori belajar diharapkan akan memberikan dasar yang sistematis untuk merencanakan dan melakukan pengalaman pendidikan. Sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Snelbecker bahwa “pendidik membutuhkan cara mengajar yang dapat menciptakan keyakinan siswa untuk menempatkan penekanan lebih besar pada pengembangan dasar pemikirannya, dan aktivitas mengajar bukanlah mengindoktinasikan peserta didik untuk setiap langkah-langkah yang mereka ambil di dalam kelas”.


Dengan teori belajar, pendidik memiliki acuan dalam menetapkan cara mengajar yang tepat untuk dapat menciptakan pemahaman belajar, dan peserta didik dapat mengkonstruksikan pemahamannya sendiri dari apa yang telah ia pelajari.

Teori Belajar Behaviorisme Menurut Edward Tolman


Seperti yang kita ketahui, dalam proses perkembangan ilmu pengetahuan tentang tatacara belajar, telah muncul berbagai teori yang berusaha untuk membuat belajar semakin berarti dan bermakna serta berkembang.  Akan tetapi, meskipun banyaknya teori belajar yang muncul saat ini, selalu saja besumber dari salah satu teori dasar dari enam besar teori dalam belajar, yaitu :

1. Teori Behaviorisme
2. Teori Kognitivisme
3. Teori Humanisme
4. Teori Gestalt
5. Teori Sibernetik
6. Teori Konstruktivisme

Dalam teori-teori yang ada tersebut banyak pula berbagai pendapat dari para ahli yang berbeda. Misalnya seperti Teori Belajar behaviorisme. Tidak sedikit para peneliti yang mengemukakan pendapat mereka yang bervariasi antara satu sama lain tentang toeri belajar behaviorisme tersebut. Hal itu menunjukkan bahwa teori belajar teus berkembang dan beragam seiring kian majunya zaman. Seperti pendapat salah seorang ahli tentang teori belajar behaviorisme, yaitu pendapat Edward Tolman.

Edward Tolman adalah salah seorang tokoh Behavioris kognitif yang mana dia meyakini bahwa hewan mempunyai kemampuan untuk belajar hal-hal yang dapat mereka gunakan dalam berbagai cara. Sudut pandang ini adalah bertentangan dengan gagasan yang menyatakan bahwa pembelajaran terjadi sebagai suatu respon otomatis terhadap rangsangan lingkungan.

Tolman sangat dikenal dengan teorinya yaitu belajar Belajar Laten, yang mana teori tersebut menyatakan bahwa belajar bisa terjadi bahkan jika tidak ada imbalan atau hadiah. Dia menunjukkan hal tersebut dalam suatu percobaan yang dia lakukan pada sebuah tikus, dimana tikus berjalan di labirin tanpa memberikan hadiah. Kemduain setelah beberapa hari barulah hadiah diperkenalkan sebagai imbalan.

Sehari kemudian sesudah hadiah atau imbalan tersebut diperkenalkan, tikus tersebut mulai berlari di labirin dengan lebih cepat dari sebelumnya. Hal itu menunjukkan bahwa tikus tersebut mengembangkan peta mental labirin ketika mereka akan melaluinya tanpa hadiah. Setelah hadiah diperkenalkan, tikus itu menunjukkan pembelajaran mereka dengan mampu menjalankan labirin dengan lebih cepat untuk mendapatkan hadiah.

Jika hal tersebut dianalogikan dalam kehidupan manusia, orang bisa pergi ke supermarket setiap minggu dan melewati toko bahan makanan di lorong tanpa harus membeli satupun barang dari toko tersebut. Ini tidaklah berarti bahwa orang tersebut tidak belajar di mana barang-barang itu berada. Jika suatu waktu orang tersebut membutuhkan tepung, ia akan pergi ke lorong tersebut karena ia sudah tahu di mana tepung itu berada.

Teori belajar Tolman merupakan satu teori belajar dalam psikologi yang populer saat ini. Tolman melalui teori belajarnya dari Gestalt yang menyatakan bahwa belajar pada dasarnya adalah proses menemukan hal-hal baru atau hal-hal tertentu dalam lingkungan. Teorinya menjelaskan perilaku seseorang secara kognitif, sehingga teori belajar Tolman termasuk ke dalam jenis teori belajar kognitif.

Tolman berusaha menjelaskan perilaku yang diarahkan untuk mendapat tujuan sehingga disebut behaviorisme purposive (purposive behaviorism). Tolman berpendapat bahwa melalui perilaku bertujuan, proses belajar bukanlah sesuatu situasi yagn dapat diamati semuanya, tetapi proses nyata dari belajar terdiri dari operasi kognitif terpusat.

Adapun hal-hal yang dibahas dalam teori belajar Tolman ini adalah mengenai aspek sebagai berikut :

1. Perilaku moral untuk melawan kaum behavioristik dengan analisa ini dia berpendapat bahwa separuh pola perilaku memiliki makna yang akan hilang jika diteliti dari sudut pandang elementistik.

2. Konsep penguatan tidak penting untuk menjelaskan perilaku. Dia lebih mementingkan confirmation of expectancy (konfirmasi harapan)) dalam peta kognitif adalah sama dengan gagasan penguatan seperti pada teori behavioristik.

3. Tindakan vicarious trial and error (tindakan uji coba) dalam tingkah laku.

4. Belajar laten, adalah belajar yang tidak diterjemahkan ke dalam peforma atau kinerja.

Keempat pembahasan Tolman tersebut sangat penting artinya dalam perubahan tingkah laku belajar anak didik. Jika dilihat secara sekilas, teori belajar Tolman memang mengabaikan teori penguatan (reinforcement) oleh teori behavioristik. Hal tersebut karena teori belajar Tolman merupakan salah satu dari kelompok dari teori belajar kognitif.

Itulah teori belajar behaviorisme menurut Edward Tolman yang perlu untuk diketahui. Semoga tulisan ini bermanfaat,  terima kasih telah berkunjung di wahana belajar.

Baca juga : Teori-Teori Dalam Mengajar yang Wajib Dipahami
                   10 Prinsip-Prinsip Mengajar yang Wajib Dipahami

Kenali 6 Masalah Kesehatan yang Sering Muncul Saat Berpuasa


Bagi kaum muslim, berpuasa merupakan kewajiban yang harus ditunaikan dalam kehidupan ini. tidak ada alasan untuk tidak berpusa kecuali memang sedang mengalami sakit yang serius, itupun harus mengganti puasa tersebut di hari berikutnya yaitu di bulan lain ketika ramadhan usai. Ada banyak hikmah yang didapat dari berpuasa, dan beragam manfaat yang juga ditemui dalam puasa.

Seperti yang kita ketahui, berpuasa memang dipercaya memiliki berbagai manfaat terhadap kesehatan, akan tetapi masih tidak sedikit orang yang merasa gundah tentang konsekuensi yang mungkin bisa terjadi saat berpuasa. Namun para ahli medis telah mengatakan bahwa tidak yang perlu merasa gundah atau khawatir akan dampak yang akan terjadi saat melakukan puasa.

Para ahli diet dan ahli gizi telah menemukan cara untuk mengintegrasikan aktivitas puasa dengan praktek yang mereka lakukan agar memiliki manfaat terhadap orang lain.

Setelah berpuasa selama 10 jam lebih, tubuh akan bekerja mengubah jaringan lemak untuk diubah menjadi energi. Sehingga, hal sedemikian merupakan langkah baik bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan.

Kendatipun telah begitu banyak artikel, atau pun berita-berita yang membahas tentang manfaat berpuasa bagi kesehatan, pastinya tetap masih ada orang-orang yang merasa khawatir terhadap akibat yang akan ditimbulkan dari puasa.

Nah, untuk itu berikut beberapa ulasan tentang masalah kesehatan yang sering muncul saat sedang melakukan puasa. Serta bagaimana cara mengatasinya.

1. Sakit Maag
Saat menjalani ibadah puasa, perut mengalami penurunan pada jumlah asam yang berfungsi mengolah makanan dan membunuh bakteri. Akan tetapi, walau bagaimanapun otak tetap akan memberi sinyal kepada perut untuk melakukan produksi asam ketika kita berpikiran tentang makanan atau hanya mencium bau makanan saja, yang justru menjadi penyebab timbulnya sakit maag.

Cara agar sakit maag teratasi, janganlah mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak minyak, goreng-gorengan dan makan makanan pedas yang berlebihan, atau lebih baik jangan mengkonsumsinya sama sekali. Berhenti merokok juga akan membantu untuk mengatasi sakit maag.

3. Sakit Kepala
Banyak hal yang menyebabkan terjadinya sakit kepala. Akan tetapi, sakit kepala saat berpuasa dapa terjadi karena terjadinya dehidrasi pada tubuh, rasa lapar, dan kekurangan istirahat. Melakukan diet yang terkontrol akan tetapi tidak melewatkan makan sahur, mengkonsumsi cairan yang cukup, akan mampu mencegah atau mengurangi risiko sakit kepala.

4. Terjadinya Dehidrasi
Saat melakukan aktivitas berpuasa selama berjam-jam, tubuh akan selalu mengalami dehidrasi karena apda saat tersebut utbuh akan kehilangan air dan garam secara terus menerus melalui proses bernafas, berkeringat, dan saat buang air kecil. Risiko akan terjadinya dehidrasi tersebut akan meningkat jika Anda tidak minum air putih dengan cukup sebelum melakukan puasa. Pada orang tua risiko ini akan sangat tinggi, dan juga bagi mereka yang sedang mengkonsumsi obat-obat tertentu.

5. Susah BAB (Buang Air Besar)
Agar menjaga usus beraktivitas secara teratur selama melakukan aktivitas puasa, minumlah air secara teratur, dan makan makanan sehat selama tidak berpuasa (sebelum memasuki bulan puasa). Konsumsilah buah-buahan segar dan sayuran sehat agar membantu meningkatkan jumlah serat pada makanan Anda sehingga hal tersebut mampu membantu Anda dalam pencegahan susah BAB atau yang biasa disebut konstipasi.

Jika hal tersebut masih saja terjadi, ada baiknya juga Anda untuk mengkonsumsi obat pencahar agar membantu melakukan penyembuhan masalah susah BAB yang Anda alami.

6. Stres
Stres bisa saja terjadi pada saat sedang melakukan aktivitas puasa selama seharian, hal itu disebabkan terbatasnya asupan air dan makanan yang masuk ke tubuh selama berpuasa, serta terjadinya perubahan rutinitas dan semakin pendeknya durasi tidur. Jika hal tersebut Anda alami, penting bagi Anda untuk menghadapi sumber yang menyebabkan stress dengan baik agar terhindar dari timbulnya efek negatif yang akan merugikan kesehtan atau terjadi akibat fatal lainnya.


Dalam hal upaya untuk mengurangi stress dapat juga dilakuakn dengan mengendalikan amarah serta tidak melakukan pekerjaan berat yang melebihi kesanggupan tubuh. Misalnya mengangkat beban yang terlalu berat, atau pekerjaan lainnya yanag memaksa otot untuk bekerja lebih ekstra.

10 Prinsip-Prinsip Mengajar yang Wajib Dipahami


Mengajar memang bukanlah hal yang ringan bagi seorang guru. Dalam mengajar guru berhadapan dengan sekelompok siswa, mereka adalah makhluk hidup yang memerlukan bimbingan, dan pembinaan untuk menuju kedewasaan. Siswa setelah mengalami proses pendidikan dan pengajaran diharapkan tela menjadi dewasa yang sadar akan tanggung jawab terhadap diri sendiri, pandai berwiraswasta, memiliki kepribadian dan bermoral.


Mengingat tugas yang berat tersebut, guru yang mengajar di depan kelas harus mempunyai prinsip-prinsip dalam mengajar, dan harus dilaksanakan seefektif mungkin, agar guru tidak asal-asalan dalam mengajar.

Berikut prinsip-prinsip mengajar yang wajib dipahami oelh guru selaku pendidik atau pembimbing.

1.Perhatian
Di dalam proses mengajar guru harus bisa membangkitkan perhatian siswa kepada pelajaran yang sedang diberikan atau diajarkan oleh seorang guru tersebut. Perhatian tersebut akan lebih besar apabila siswa memiliki minat dan bakat terhadap pelajaran yang diajarkan. Bakat telah dibawa sejak lahir, namun dapat berkembang karena pengaruh pendidikan dan lingkungan.

Perhatian dapat timbul secara langsung, karena pada siswa yang sudah ada kesadaran akan tujuan dan kegunaan mata pelajaran yang akan diperolehnya. Perhatian tidak langsung baru akan timbul bila dirangsang oleh guru dengan adanya penyampaian pelajaran yang menarik, juga dengan menggunakan media yang dapat merangsang siswa untuk berpikir, ataupun menghubungkan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh siswa.

Bila perhatian kepada pelajaran itu telah ada pada siswa, maka pelajaran yang akan diterimanya akan dihayati, diolah di dalam pikirannya, sehingga lahirlah sebuah pengertian dari pelajaran yang diajarkan oleh guru.

Usaha ini mengakibatkan siswa dapat membanding-bandingkan, membedakan, dan menyimpulkan pengetahuan atau pelajaran yang diterimanya.

2. Aktivitas
Dalam proses belajar mengajar, guru perlu menimbulkan aktivitas dalam berpikir maupun dalam berbuat.

Jika penerimaan pelajaran dilakukan dengan aktivitas siswa itu sendiri, maka akan tercipta kesan yang tidak akan berlalu begitu saja, akan tetapi dipikirkan, diolah yang kemudian dikeluarkan dalam bentuk yang berbeda. Atau siswa akan bertanya, mengajukan sebuah pendapat, dan menimbulkan diskusi dengan guru.

Dalam berbuat siswa akan dapat menjalankan perintah, melaksanakan tugas, membuat garafik, diagram, maupun inti sari dari pelajaran yang disajikan oleh guru. Bila siswa menjadi partisipasi yang aktif, maka ia akan memiliki ilmu/pengetahuan tersebut dengan baik.

3. Appersepsi
Setiap guru dalam mengajar perlu menghubungkan pelajaran yang akan diberikan kepada siswa dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sebelumnya,  maupun dengan pengalaman yang pernah mereka alami. Dengan demikian siswa akan memperoleh hubungan antara pengetahuan yang telah dimilikinya dengan pelajaran yang akan diterimanya.


Hal ini akan lebih melancarkan jelannya proses mengajar bagi guru, dan akan membuat siswa mau memperhatikan pelajaran dengan lebih baik.

4. Peragaan
Ketika guru mengajar di depan kelas, haruslah berusaha menujukkan benda-benda yang asli. Bila mengalami kesukaran dalam hal tersdebut, boleh menunjukkan model, gambar, benda tiruan, atau denga nmenggunakan media lainnya seperti radio, tape, TV, komputer dan lain sebagainya.

Dengan pemilihan media yang tepat akan dapat membantu guru dalam menjelaskan pelajaran yang sedang ia berikan. Hal tersebut juga akan membantu siswa untuk mendapat sebuah pengertian yang akan disimpan dalam jiwanya.

Di samping itu mengajar dengan menggunakan bermacam-macam media akan lebih menarik perhatian siswa, lebih merangsang siswa untuk berpikir. Guru diharapkan dapat membina dan membuat alat-alat media yang sederhana, praktis den ekonomis bersama siswa, namun efektif untuk digunakan dalam pelajaran.

5. Repetisi
Bila guru menjelaskan suatu unit pelajaran, itu perlu diulang-ulang. Ingatan siswa itu tiadaklah setia, maka perlu dibantu dengan mengulangi pelajaran yang sedang dijelaskan. Pelajaran yang diulang akan memberikan tanggapan yang jelas, dan tidak mudah untuk dilupakan. Dimana pengertian tersebut semakin lama dan sering diulang akan semakin diingat dan semakin jelas, sehingga dapat digunakan oleh siswa untuk memecah masalah.

Ulangan dapat diberikan secara teratur, pada waktu-waktu tertentu atau setelah tiap unit pelajaran diberikan, maupun secara insidentil di mana dianggap perlu.

6. Korelasi
Dalam hal mengajar guru wajib untuk memperhatikan serta memikirkan hubungan antar setiap mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. Begitu juga dalam kenyataan hidup semua ilmu/pengetahuan itu saling berkaitan.

Akan tetapi, hubungan tersebut tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi dengan terus dipikrikan sebab-akibatnya. Ada hubungan secara korelasi, hubungan itu dapat diterima akal, dapat dimengerti, sehingga memperluas pengetahuan siswa itu sendiri.

7. Konsesntrasi
Hunbungan antar pelajaran dapat diperluas, mungkin juga dapat dipusatkan kepada salah satu pusat minat siswa, sehingga siswa akan memperoleh pengetahuan secara luas dan mendalam. Siswa melihat pula hubungan pelajaran satu dengan pelajaran lainnya.

Perencanaan bersama guru dan siswa akan membangkitkan minat siswa untuk belajar. Dalam hal konsentrasi pelajaran banyak mengandung situasi yang problematik, sehingga dengan metode pemecahan soal siswa akan terlatih menyelesaikan soal dengan sendiri.

Pelajaran yang saling berhubungan juga menyebabkan siswa memperoleh kesatuan pelajaran yang bulat, tidak terpisah-pisah lagi. Pertubuhan siswa dapat berkembang dengan baik, siswa tidak dipaksa untuk belajar membaca, berhitung dan sebagainya. Usaha konsentrasi pelajaran menyebabkan siswa memperoleh pengalaman langsung, mengamati sendiri, meneliti sendiri, untuk menyusun dan menyimpulkan pengetahuan itu sendiri.

8. Sosialisasi
Dalam perkembangannya siswa perlu bergaul dengan teman lainnya. Siswa disamping sebagai individu juga mempunyai segi sosial yang mesti dikembangkan.

Ketika siswa berada di kelas, ataupun di luar kelas, dan menerima pelajaran bersama, alangkah bagusnya jika diberikan kesempatan untuk melaksanakan kegiatan secara bersama-sama. Mereka akan dapat bekerjasama, saling bergotong-royong, dan saling tolong-menolong. Kadang-kadang banyak masalah yang tidak dapat dipecahkan sendiri, maka perlu bantuan orang lain.

Bekerja di dalam kelompok dapat juga meningkatkan cara berpikir mereka sehingga dapat memecahkan masalah dengan lebih baik dan lancar.

9. Individualisasi
Siswa merupakan makhluk individu yang unik. Di mana masing-masing mereka mempunyai perbedaan khas dan karakter berbeda, seperti perbedaan inteligensi, minat bakat, hobi, tingkah laku, watak maupun sikap yang mereka miliki. Mereka juga berbeda dalam hal latar belakang kebudayaan, sosial ekonomi, serta keadaan orang tua masing-masing.

Agar dapat melayani pendidikan yang sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa, penting bagi guru untuk menyelidiki dan memahami perbedaan siswa (secara individu),. Untuk kepentingan perbedaan individual, guru perlu mengadakan perencanaan untuk siswa secara klasikal maupun perencanaan program individual.

Dalam hal ini tanggung ajwab guru tentunya akan bertambah berat, maka harus mencari teknik penyajian atau sistem pengajaran yang dapat melayani kelas, mamupun siswa secara individual. Masing-masing siswa juga memiliki tempo perkembangan sendiri-sendiri, maka guru dalam memberi pelajaran juga melayani waktu yang diperlukan oleh masing-masing siswa atau menggunakan sistem belajar tuntas.

10. Evaluasi
Semua kegiatan belajar mengajar memang penting untuk dievaluasi. Evaluasi juga dapat memberi motivasi bagi guru maupun siswa, mereka akan lebih giat belajar, meningkatkan proses berpikirnya. Guru harus memiliki pengertian evaluasi ini, mendalami tujuan, kegunaan dan macam-macam bentuk evaluasi. Mengenal fungsi dari evaluasi, macam-macam teknik dan prosedur penilaian.

Guru dapat melaksanakan penilaian yang efektif, dan menggunakan hasil penilaian untuk perbaikan mengajar dan belajar. Dengan adanya evaluasi guru juga dapat mengetahui prestasi dan kemajuan yang dialami siswa, sehingga dengan demikian dapat melakukan tindakan yang tepat bila siswa mengalami kesulitan dalam belajar.


Evaluasi juga dapat digambarkan dengan kemajuan siswa, dan prestasi yang diraihnya, pencapaian nilasi rata-ratanya, namun tetap juga dapat menjadi bahan umpan balik bagi guru itu sendiri. Dengan adanya umpan balik atau feetback, guru akan dapat meneliti dirinya sendiri, kemudian berusaha memperbaiki dalam hal perencanaan maupun teknik penyajiannya.

Teori-Teori Dalam Mengajar yang Wajib Dipahami


Seharusnya setiap guru mampu mengajar di depan kelas. Bahkan mengajar itu dapat pula dilakukan pada sekelompok siswa di luar kelas atau dimana saja. Mengajar adalah merupakan salah satu komponen dari kompetisi-kompetisi guru. Dan setiap guru harus menguasainya serta terampil dalam pelaksanaan mengajar tersebut.

Sejak dahulu sampai sekarang, masalah mengajar sudah menjadi perbincangan di kalangan para ahli. Pengertian mengajar mengalami perkembangan kian waktu, bahkan hingga saat ini belum ada definisi yang benar-benar tepat bagi semua pihak mengenai mengajar itu sendiri. Bermacam teori-teori pun muncul untuk mendefinisikan apa itu mengajar.

Baca juga : 7 Jenis Belajar yang Wajib Dipahami
                   2 Tipe Belajar Siswa, Guru Harus Paham!

Apa saja teori-teori yang telah dilontarkan oleh para ahli tersebut? Berikut ulasannya.

1. Definisi yang Lama
Menurut definisi yang lama. Mengajar adalah proses penyerahan kebudayaan berupa pengalaman-pengalaman dan kecakapan kepada anak didik kita. Atau usaha mewariskan kebudayaan masyarakat kepada generasi berikutnya yang berperan sebagai penerus.

Dalam hal ini bisa diamati dengan teliti, terlihat dengan jelas bahwa aktivitas tersebut terlatak pada sang guru. Siswa hanya mendengarkan dan menerima saja apa yang diberikan oleh guru. Dan siswa yang dianggap baik adalah siswa yang duduk, diam, dan mendengarkan ceramah guru saja, tanpa bertanya dan tidak mengemukakan pendapat. Semua bahan pelajaran yang diberikan oleh guru ditelan mentah-mentah.

Siswa percaya begitu saja akan apa yang disampaikan oleh guru, menganggap bahwa semua yang diterangkan oleh guru sudah benar, tidak kritis. Siswa tidak ikut aktif menetapkan apa yang mesti diterimanya dari sebuah pelajaran.

2. Definisi dari DeQueliy dan Gazali
Mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada seseorang dengan cara paling singkat dan cepat. Dalam hal ini pengertian waktu singkat sangat penting. Guru kurang memperhatikan bahwa diantara siswa ada yang memiliki perbedaan individual, sehingga memerlukan pelayanan yang berbeda-beda. Bila kemampuan semua siswa dianggap sama, maka bahan pelajaran yang diberikan pun akan sama pula. Hal itu sangat bertentangan dengan kenyataan yang ada.

3. Definisi Modern
Definisi ini biasanya diaplikasikan di negara-negara maju. “Teaching is the guidance of learning. Mengajar adalah bimbingan kepada siswa dalam proses belajar”. Definisi ini menunjukkan dengan jelas bahwa yang aktif adalah siswa, mereka yang mengalami proses belajar. Sedangkan guru hanya berperan sebagai pembimbing, menunjukkan jalan dengan menghitung kepribadian siswa yang beragam. Kesempatan untuk berbuat dan aktif berpikir lebih banyak diberikan kepada siswa, daripada teori-teori yang lain.

4.Definisi Kilpatrik
Definisi ini menunjukkan pengertian belajar yang tegas, dengan dasar pemikiran pada gambaran perjuangan hidup umat manusia. Definisi Klipatrik yaitu dengan menggunakan metode “problem solving” anak atau siswa dapat mengatasi kesulitan-kesulitan yang terjadi di dalam hidupnya. Pada kenyataannya, dalam hidup ini manusa memang menghadapi banyak sekali persoalan, yang selalu muncul serta tidak ada habisnya.

Setiap persoalan tentunya harus dipecahkan, sehingga seluruh kehidupan manusia itu merupakan tuntutan pemecahan persoalan secara terus menerus.

Metode mengajar “problem solving” juga digunakan pada negara-negara yang sudah maju. Hasilnya, pada siswa ditanamkan beberapa tingkatan berpikir sebagai berikut :

a. Melihat adanya beberapa problem.
b. Mencari kemungkinan atau alternatif-alternatif.
c. Mempertimbangkan alternatif-alternatif.
d. Menentukan salah satu alternatif yang baik.
e. Melaksanakan alternatif yang sudah ditentukan.

Maka sesudah siswa selesai sekolah mereka menjadi terampil dalam menghadapi masalah serta berupaya untuk memecahkannya, dan memiliki pengetahuan fungsional yang berguna bagi kehidupan siswa itu sendiri.

5. Definisi Menurut Alvin W. Howard
Pada definisi ini memberi pengertian yang lebih lengkap. “ Mengajar adalah suatu aktivitas untuk mencoba, menolong, membimbing seseorang untuk mendapatkan, mengubah atau mengembangkan skill, attitude, ideals (cita-cita), appreciations (penghargaan) dan knowledge.

Baca juga : 6 Macam Metode Pembelajaran, Guru Wajib Tahu!

Definisi ini menjelaskan bahwa guru harus berusaha membawa perubahan tingkah laku yang  baik atau kecenderungan langsung untuk mengubah tingkah laku siswanya. Itu menjadi suatu bukti bahwa guru harus memutuskan membuat atau memutuskan tujuan.

6. Definisi Menurut A. Morrison D. Mc Intyre
Mengajar adalah aktivitas personal yang unik. Dalam mengajar dapat membuat kesimpulan-kesimpulan umum yan tidak berguna, keberhasilam dan kejatuhannya samar-samar, dan sulit untuk diketahui juga berlangsungnya teknik belajar yang tidak tepat untuk dijelaskan. 

Kemungkinan lain yang dapat diamati adalah memberikan model teori dan teknik assesmen yang sesuai, dan tidak sedikit aspek mengajar yang dilakukan dengan cara yang dibimibing oleh hal-hal yang praktis, pribadi guru banyak berbicara.

7. Menurut R. Pancella
Mengajar dapat digambarkan sebagai membuat suatu keputusan (decision making) dalam interaksi, dan hal dari keputusan guru adalah jawaban siswa atau sekelompok siswa, kepada siapa guru melakukan interaksi.

Adapun tanggung jawab guru pada definisi ini adalah :

a. Memberikan bantuan kepada siswa dengan menceritakan sesuatu yang baik, yang dapat menjamin kehidupannya, itu adalah ide yang bagus.
b. Memberikan jawaban langsung pada pertanyaan yang diminta oleh siswa.
c. Memberikan siswa kesempatan untuk mengemukakan pendapat masing-masing.
d. Memberikan evaluasi.
e. Memberikan kesempatan pada siswa untuk  menghubungkan dengan pengalaman-pengalamannya sendiri.

7. Definisi Menurut Mursel
Mengajar digambarkan sebagai “mengorganisasikan belajar”, sehingga dapat mengorganisasikan siwa yang belajar tersebut, dan belajar pun menjadi berarti dan lebih bermakna. Dalam hal ini guru hanya menjadi seorang organisator.

9. Definisi Menurut Waini Rasyidin
Dalam mengajar yang dipentingkan adalah partisipasi dari sang guru dan siswa dengan satu sama lain. Guru berperan sebagai koordinator, yang mana melakukan aktivitas dalam interaksi sedemikian rupa, sehingga belajar menjadi seperti yang diharapkan. Guru hanya menyusun dan mengatur situasi belajar dan bukan menentukan proses belajar.

Baca juga : 3 Alasan Kenapa Siswa Malas Belajar
                   Semangat Belajar Siswa Menurun? Begini Cara Memotivasinya

Itulah teori-teori dalam mengajar yang harus dipahami oleh guru maupun calon guru/pembimbing. Anda dapat membanding-bandingkan antara teori satu dengan yang lain sehingga Anda dapat mengambil kesimpulan tentang teori mana yang harus diambil dan dipraktekkan dalam mengajar.

Pentingya Memiliki Kecerdasan Ganda Bagi Guru


Sekarang ini, kepedulian dari masyarakat terhadap pendidikan sudah semakin meningkat. Bisa kita lihat pada ratusan artikel yang sering dimuat pada surat kabar, majalah, atau pada artikel yang diposting di internet tentang bagaimana agar meningkatnya pendidikan.

Hal yang paling sering dibicarakan orang adalah tentang upaya melejitkan potensi diri dan menumbuhkembangkan pendidikan yang memiliki keseimbangan antara imtak dan imtek. Misalnya dengan tema mengembangkan kecerdasan ganda, IQ, EQ, maupun SQ.

Konsep-konsep tersebut selanjutnya diadobsi dalam lingkungan ranah pendidikan formal yaitu sekolah dan lingkungan keluarga. Akan tetapi, teori dan konsep tentang kecerdasan ganda lebih banyak terarah pada anak-anak dan para siswa yang ada di sekolah. Hal itu sengaja dirancang dengan berbagai program dan pelatihan yang disertai dengan segudang resep agar mereka dapat memiliki kecerdasan ganda.

Melakukan penerapan konsep kecerdasan ganda di sekolah memang dianggap sebagai langkah yang tepat. Akan tetapi, kebijakan tersebut akan bercuma jika guru-guru justru tidak memiliki kecerdasan ganda. Bagaimana guru bisa memosisikan perannya sebagai motivator, edukator, dan konselor jika kepandaian mereka justru  berada di bawah muridnya?

Di banyak sekolah, kebanyakan guru-guru hanyalah memiliki kecerdasan tunggal, itupun hanya menguasai pelajaran mereka alakadarnya. Sehingga di pandangan siswa bahwa guru seperti itu hanyalah guru yang biasa-biasa saja. Motivasi yang guru tersebut berikan kepada siswa pun hanya biasa-biasa saja.

Namun bila ada guru yang mempunyai beberapa kecerdasan lain selain dariapda menguasai mata pelajarannya, juga akan mendapat cap lain dari siswa, seperti  guru yang pintar berpidato, melek computer, memiliki kepribadian yang menyenangkan, ramah dan disiplin, guru yang sedemikian itu sudah tentu akan mendapat tempat yang spsesial di hati anak didiknya.

Guru dengan kecerdasan ganda sama labelnya dengan guru yang profesional atau guru yang berkualitas. Guru tersebut adalah guru yang mempunyai karakter cerdas, kognitif yang baik, efektif, maupun psikomotoriknya. Akan tetapi, populasi guru yang sedemikian tidaklah banyak.  Namun, jika setiap guru mempunyai motivasi, keinginan, dan usaha, tentu saja untuk memiliki kecerdasan ganda bukanlah suatu hal yang sulit.

Selaku seorang guru, sama halnya sebagaimana kaum remaja, juga ada yang terperangkap dalam budaya instan, budaya menginginkan hasil melimpah dan serba cepat akan tetapi pelaksanaan untuk mendapat hasil tersebut sangatlah minim. Budaya instan pastinya harus dijauhi. Pun demikian dengan floating thinking (pikiran mengambang), budaya yang senang melakukan rekayasa, serta berlomba-lomba pamer penampilan, senang mengambil barang kredit, menggosip, ABS (Asal Bapak Senang), otoriter, suka membentak-bentak serta hedonis.

Ternyata dunia pendidikan kita lebih banyak merefleksikan budaya-budaya di atas tadi.

Mestinya guru-guru punya paradigma untuk menjadi guru yang bermartabat dan profesional. Paradigm tersebut akan bsia diacapai jika para guru mengembangkan potensi diri. Misalnya dengan memiliki kecerdasan ganda. Agar guru bisa memiliki kecerdasan ganda maka perlu memiliki sense of art, serta mengembangkan kemampuan berbahasa, baik secara lisan maupun tulisan. Juga harus melibatkan diri dalam pergaulan, memiliki banyak teman, mengikuti organisasi, serta melaukan korespondensi.

Selain itu, guru juga penting untuk memahami prinsip “go back to the nature” , meimiliki kepedulian yang tinggi kepada alam dan lingkungan. Mereka juga harus melakukan rekreasi dan merasakan langsung betapa alam ciptaan Tuhan itu begitu indah dan menyegarkan serta membuat pikiran tenang.

Mempraktekkan konsep kecerdasan ganda sangatlah bermanfaat terhadap pegembangan diri. Oleh sebab itu, konsep tersebut haruslah dilaksanakan sejak dini, tidak usah menunggu hari esok. Terkait hal itu, ada beberapa resep yang diberikan oleh Agus Nggermanto. Ia mengatakan bahwa untuk memiliki kecerdasan ganda, maka setiap guru hasruslah menerapkan konsep multi-inteligensi. Yang mana konsep tersebut mencakup tiga unsur, intelligent quotient (kecerdasan otak), emotional quotient (kecerdasan emosi), dan spiritual quotient (kecerdasan spiritual).

Kecerdasan otak mencakup unsur logika (matematika) dan linguistic (verbal atau bahasa). Kecerdasan emosional meliputi unsur interpersonal dan intrapersonal. Kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk menghayati dan melakukan pengabdian diri kapada Sang Pencipta.

Jika guru telah memahami konsep kecerdasan ganda, maka haruslah mengembangkan karakter-karakter positif, seperti membiasakan untuk berpikir secara positif.