Guru Wajib Tahu "Strategi Pelaksanaan Kurikulum"

Strategi Pelaksanaan Kurikulum adalah cara bagaimana melaksanakan kurikulum sebagai program belajar agar dapat memengaruhi siswa sehingga dapat mencapai tujuan kurikuler, dan lebih jauh lagi dapat mencapai tujuan pendidikan. Ini mengartikan bahwa strategi pelaksanaan kurikulum menyangkut opersionalisasi kurikulum di sekolah.


Ada empat komponen yang menunjang operasionalisasi kurikulum, yakni: kegiatan pembelajaran, kegiatan administrasi supervisi, kegiatan bimbingan, dan kegiatan penialaian. Berikut paparan lebih jelasnya.

a. Kegiatan pengajaran adalah pelaksanaan proses belajar mengajar, yaitu suatu proses menerjemahkan dan mentransformasikan nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum (program belajar) kepada para siswa melalui interaksi belajar mengajar di sekoah.

b. Kegiatan administrasi berkenaan dengan upaya mendayagunakan semua sumber, baik personal maupun material, secara efektif dan efesien guna menunjang tercapainya tujuan pendidikan. Tugas guru sehubungan dengan administrasi yang dilaksanakan di sekolah antara lain meliputi administrasi pengajaran, kesiswaan, keuangan, dan hubungan sekolah dengan masyarakat.

Supervisi berkenan dengan bantuan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih efektif. Supervisi lebih banyak menjadi tugas seorang supervisor (Kepala Sekolah, Pemilik/Pengawas dan pejabat pendidikan lainnya).

c. Bimbingan penyuluhan adalah upaya memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar agar para siswa dapat mengatasi kesulitan yang dihadapinya. Upaya ini dilakukan agar hasil belajar para siswa lebih optimal. Sebenarnya proses bantuan bukan hanya diberikan kepada siswa yang hanya mengalami kesulitan belajar saja, tetapi juga kepada siswa lainnya.

Misalnya upaya memberi bantuan dalam pemilihan jurusan, pemilihan pekerjaan, dan lain-lain. Upaya melaksanakan bimbingan di sekolah menjadi tugas guru, di samping sebagai pengajar dan sebagai administrator kelas. Di beberapa sekolah, khususnya di kota-kota besar, tenaga guru pembimbing (counsellor) adalah tersendiri, yakni guru-guru lulusan IKIP jurusan Bimbingan Penyuluhan.

d. Penilaian adalah upaya yang dilakukan untuk menentukan apakah tujuan pendidikan dan tujuan pengajaran telah tercapai atau tidak. Upaya ini ditempuh melalui proses membandingkan tingkah laku nyata dengan suatu standar tingkah laku yang diinginkan (diniatkan).

Jadi, tekanan penilaian pada dasarnya mengukur tercapai tidaknya tujuan pengajaran. Penilaian merupakan tugas dan tanggung jawab guru di sekolah, baik penilaian yang dilaksanakan pada waktu mengajar (formatif) maupun penilaian yang dilaksanakan pada akhir semester (sumatif).

Ketiga aspek kurikulum tersebut, yakni tujuan, isi/materi program, dan strategi pelaksanaan program tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Tujuan adalah arah yang harus dicapai. Isi adalah bahan yang digunakan untuk mencapai tujuan, dan strategi adalah cara bagaimana mencapai tujuan tersebut.

Baca juga: Guru dan Kurikulum “Satu Kesatuan yang Tidak Terpisahkan”

Lafran Pane Bukan kader HMI

Dengan yakin saya katakan bahwa Lafran Pane itu bukan kader HMI.
HMI saat itu belum ada, lalu Ia bentuk itu organisasi yang dinamakan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Sehingga adalah HMI pada tahun ketiga kemerdekaan dan sampai saat ini HMI itu masih ada. Dari itu barulah Lafran Pane merupakan Tokoh HMI sekaligus pendiri organisasi besar ini.


Lalu kita-kita ini yang sudah ber-HMI, sudah melalui proses perkaderan minimalnya LK-1, dimana dalam proses perkaderan tersebut kita diajarkan untuk paham terlebih dahulu hakikat perjuangan HMI, dan kita juga dilatih tentang ilmu kepemimpinan, organisasi dan lainnya. Maka merupakan hal yang patut untuk dipertanyakan bahwa yang telah kita berikan untuk bangsa ini adalah apa? yang sudah kita lakukan sebagai bukti bahwa HMI itu berjuang untuk keummatan dan kebangsaan itu mana?

Lebih dari belasan sumber sejarah yang saya baca mengenai HMI, semua sepakat bahwa HMI itu merupakan sebuah organisasi yang powernya tak diragukan lagi, bahkan 42 partai sekalipun tak mampu membubarkan HMI. Dan itu terjadi pada Tahun 1964-1965 yang mana HMI menyebut itu fase perjuangan.


Saya mulai berpikir bahwa harapan oknum-oknum yang tidak menyukai HMI, keinginan untuk membubarkan HMI itu memang sudah sirna. Dan setelah kegagalan mereka membubarkan HMI, visi mereka adalah memburamkan HMI atau membuat HMI itu mundur. Sehingga walaupun HMI itu tetap ada tidak akan berpengaruh bagi  mereka untuk mencapai target dan misi yang sudah lama disetting.

Saya terus mencari referensi lebih lanjut mengenai hal itu, ternyata benar bahwa HMI mengalami kemunduruan. Hal tersebut dibuktikan dengan munculnya sebuah buku “44 Indikator Kemunduran HMI”. Nah dalam indikator tersebut ada dua point yang menarik perhatian saya untuk mendalaminya lebih lanjut.

1.  Menurunnya jumlah mahasiswa baru yang masuk HMI
2.  Lemahnya manajemen organisasi HMI dan sudah ketinggalan zaman, tidak sesuai lagi dengan tuntutan kebutuhan kontemporer.

Tidak terlepas dari masalah internal dan external, hal itu merupakan problema bagi laju organisasi yang sudah berusia hampir 72 tahun ini.

Jadi, sekarang ini power yang dimiliki oleh HMI dipertanyakan, kader yang dimiliki HMI juga dipertanyakan. Apakah benar HMI kehilangan power? Apakah iya HMI mengalami kemunduran yang begitu drastis?


Guru dan Kurikulum “Satu Kesatuan yang Tidak Terpisahkan”

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa kurikulum adalah program belajar, atau hasil belajar yang diniatkan. Program tersebut disusun dan dibukukan dalam sebuah karya tulis yang disebut “buku kurikulum”. Ada buku kurikulum SD, SMP, SMA dan lain-lain. Dalam buku kurikulum tersebut terdapat tujuan yang ingin dicapai, isi program, pedoman dan pelaksanaannya.

Tujuan dan isi program disusun dalam suatu rancangan yang disebut Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP). Setiap bidang studi terdapat GBPP-nya. GBPP berisikan tujuan kurikuler, tujuan instruksional, pokok bahasan, sub pokok bahasan dan distribusi kelas dan semester.


GBPP dapat diartikan kurikul suatu bidang studi, sehingga GBPP IPS adalah kurikulum IPS, GBPP IPA tidak lain adalah kurikulum IPA, dan seterusnya. Adapun pedoman pengajaran, penilaian, bimbingan, semuanya disusun tersendiri. Isinya berupa petunjuk dan contoh-contoh bagaimana hal itu harus dikerjakan oleh guru di sekolah.

Buku kurikulum itu sudah tentu mempunyai kekuatan atau potensi dalam memengaruhi pribadi anak didik bila diterjemahkan dan ditransformasikan oleh guru kepada siswa. Namun, jika tidak ditransformsikan oleh guru, kurikulum tidak mempunyai kekuatan apa-apa, bahkan merupakan suatu benda mati yang tidak ada gunanya.

Oleh sebab itu, kurikulum dan guru harus merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan. Artinya, kurikulum harus ada dalam otak guru. Sehubungan dengan itu, maka guru harus memiliki kompetensi berikut.

1. Menguasai kurikulum, artinya guru harus mempelajari kurikulum. Guru harus menguasai tujuan kurikulum, isi program (pokok bahasan) dan sub pokok bahasan yang harus diberikan kepada siswa, pada kelas dan semester mana pokok bahasan itu diberikan, GBPP, dna bagaimana ia harus memberikannya.

2. Menguasai isi dari setiap pokok bahasan/sub pokok bahasan dengan cara mempelajari buku pelajaran (text book) yang berkenan dengan pokok bahasan tersebut.

3. Mampu menerjemahkan dan menjabarkan GBPP tersebut menjadi suatu program yang lebih operasional sehingga ia siap mentransformasikan kepada siswa. Penjabaran ini dilakukan melalui suatu penyusunan program pengajaran atau rencana pengajaran.

Di sinilah pentingnya guru mempunyai keterampilan menyusun perencanaan/persiapan pengajaran yang bersumber dari GBPP. Berdasarkan penelitian di beberapa sekolah, yang dilakukan oleh para siswa jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Bandung (sekarang UPI) pada waktu menulis skripsi, ternyata masih banyak guru yang tidak pernah mempelajari GBPP, dan tidak menggunakannya pada waktu menyusun satuan pelajaran (perencanaan mengajar).

Jika hal tersebut benar, maka apa yang diberikan guru kepada siswa tidak bersumber pada GBPP. Ini berarti bahwa pengajaran yang dilakukan guru di sekolah sudah menyimpang dari kurikulum yang sudah ditentukan.

Baca juga:
Memahami Secara Jelas Pengertian Kurikulum
Memahami Tujuan Program dalam Pembelajaran
Strategi Pelaksanaan Kurikulum
Materi atau Isi Porgram dalam Pembelajaran

Guru tidak berwenang membuat kurikulum sendiri sebab kurikulum sudah ada. Tugas guru hanya pelaksanaan kurikulum dan Pembina kurikulum. Memperkaya dibolehkan, sepanjang syarat minimal yang telah ditetapkan dipenuhi terlebih dahulu. Kesenjangan antara kurikulum yang telah ditetapkan dengan apa yang dilaksanakan guru bukan saja dinilai menyimpang, tetapi juga berarti mengurangi hasil pendidikan di sekolah. Ini bisa dicegah apabila guru selalu mengunakan GBPP sebagai pedoman mengajar di sekolah.

Materi atau Isi Porgram dalam Pembelajaran

Isi atau materi program tidak lain ialah bidang studi atau mata pelajaran yang telah terpilih berdasarkan kriteria keilmuan dan kegunaannya, yang dapat menunjang tercapainya tujuan konstitusional. Mata pelajaran pada dasarnya adalah pengetahuan dan pengalaman manusia pada masa lampau yang di susun secara logis, sistematik, melalui prosedur dan metode keilmuan. Sementara itu bidang studi ialah kumpulan atau penggabungan dari sejumlah mata pelajaran serumpun.


Bidang studi adalah terjemahan dari broadfield. Misalnya bidang studi IPA terdiri dari gabungan mata pelajaran Fisika, biologi, astronomi, kimia, dan lainnya. Bidang studi IPS, gabungan dari mata pelajaran Sejarah, Ilmu Bumi, Sosiologi, Antropolgi, Ekonomi, dan lainnya.

Untuk setiap tingkat pendidikan, mata pelajaran yang tergabung dalam suatu bidang studi tidaklah sama. Misalnya di SMP yang termasuk bidang studi IPS adalah mata pelajaran Sejarah, Geografi, Kependudukan, Ekonomi Koperasi, dan tata buku/hitung dagang. Setiap bidang studi atau mata pelajaran kemudian ditetapkan ruang lingkup (scope) dan urutan penyajiannya berdasarkan kelas/semester (sequences).

Ada dua aspek penting dalam menentukan ruang lingkup bahan, yakni tingkat kedalaman bahan dan keluasan bahan. Jadi, sekalipun mata pelajarannya sama, misalnay sejarah, tetapi tingkat kedalaman dan keluasan bahan Sejarah di SMP berbeda dengan Sejarah di SMA.

Itulah sebabnya penyusunan kurikulum untuk beberapa bidang studi/mata pelajaran menganut teori spiral kurikulum.

Dalam kurikulum, penentuan ruang lingkup bahan hanya terbatas kepada penetapan pokok bahasan/sub pokok bahasan. Sementara itu isi dari setiap pokok bahasan/sub pokok bahasan disusun dan diurutkan lagi dalam buku pelajaran. Oleh sebab itu, penulisan buku pelajaran harus mengacu kepada kurikulum.

Mengenai urutan penyampaian bahan, yakni pendistrubusian pokok bahasan berdasarkan kelas/semester, menggunakan alur keilmuan yang ada dalam bidang studi/mata pelajaran tersebut. Biasanya berlaku aturan dari yang mudah menuju kepada yang sulit, dari yang sederhana menuju kepada yang kompleks, dari yang sifatnya mendasar menuju kepada yang lebih khusus, dan dari yang factual menuju kepada konseptual.

Oleh sebab itu, harus tercermin adanya bahan yang tingkat kedalaman dan keluasannya berbeda antara kelas I dengan kelas II di SMP atau di SMA. Bahan di kelas II relative lebih luas, lebih dalam dari bahan yang diberikan di kelas I, bukan sebaliknya.

Baca juga: Memahami Tujuan Program dalam Pembelajaran

Memahami Tujuan Program dalam Pembelajaran

Tujuan program dinyatakan dalam suatu rumusan mengenai tingkah laku yang diharapkan dimiliki siswa setelah menerima program tersebut. Secara hierarkis, tujuan program dibedakan menjadi beberapa kategori, mulai dari tujuan yang bersifat umum sampai tujuan yang bersifat khusus.

Kategori pertama adalah tujuan lembaga pendidikan atau tujuan institusional. Misalnya, ada tujuan Sekolah Dasar, SMP, SMA, SPG, dan lain-lain. Tujuan lembaga (tujuan institusional) tidak lain adalah rumusan tingkah laku yang diharapkan dimiliki siswa setelah Ia menyelesaikan program pendidikan di lembaga pendidikan tersebut.



Tujuan ini sudah tentu umum sebab merupakan tujuan jangka panjang (6 tahun untuk SD atau tiga tahun untuk SMP), yakni lamanya pendidikan di lembaga pendidikan tertentu.

Sebagai contoh tujuan institusional diantaranya adalah tujuan SMP, yakni agar para lulusan:


a. menjadi warga Negara yang baik sebagai manusia yang utuh, sehat, dan kuat lahir batin.
b. menguasai hasil pendidikan umum yang merupakan kelanjutan dari pendidikan di SD dan
c. memiliki bekal untuk melanjutkan pelajarannya ke sekolah lanjutan tingkat atas, dan untuk terjun ke masyarakat.


Tujuan umum di atas kemudian dijabarkan menjadi tujuan yang lebih khusus. Tujuan khusus tersebut dibagi ke dalam tiga bidang tujuan, yakni bidang pengetahuan, bidang keterampilan serta bidang nilai dan sikap.


Kategori kedua adalah tujuan kurikuler atau tujuan kurikulum, yakni tujuan dari setiap bidang studi atau mata pelajaran yang diberikan atau diprogramkan di setiap lembaga pendidikan tersebut. Seperti halnya tujuan institusional, tujuan kurikulum berisikan rumusan tingkah laku yang diharapkan dikuasai siswa.


Rumusan tingkah laku tersebut diharapkan dapat dikuasai oleh siswa setelah ia menyelesaikan bidang studi yang dipelajarinya. Dengan kata lain, tujuan kurikuler lebih khusus daripada tujuan institusional, atau merupakan penjabaran dari tujuan institusional.


Contoh tujuan kurikuler adalah tujuan IPA, IPS, PMP, dan bidang studi lainnya. Oleh sebab itu, untuk satu tujuan institusional dapat dijabarkan menjadi beberapa tujuan kurikuler. Dapat pula diartikan bahwa tujuan konstitusional tercapai apabila seluruh tujuan kurikuler dikuasai oleh semua siswa.


Kategori ketiga adalah tujuan intruksional (tujuan pengajaran). Bila tujuan kurikuler adalah bidang studi, maka tujuan instruksional adalah tujuan dari setiap bahan yang dijabarkan dari setiap bidang studi. Kita ketahui bahwa setiap bidang studi mempunyai ruang lingkup bahan yang terdiri dari beberapa pecahan/bagian, yang kita kenal dengan istilah pokok bahasan dan sub pokok bahasan.


Baca juga: Materi atau Isi Porgram dalam Pembelajaran

Bila guru mengajar satu pokok bahasan dari suatu bidang studi, berarti guru tersebut mengajarkan sebagian bahan dari bidang studi tersebut. Jika guru selesai mengajarkan semua pokok bahasan yang terdapat dalam bidang studi tertentu, misalnya IPS, dapat dikatakan selesailah bidang studi IPS. Oleh sebab itu, dapat dirumuskan bahwa tujuan instruksional adalah rumusan kemampuan atau tingkah laku yang diharapkan dikuasai oleh siswa setelah ia menyelesaikan suatu program pengajaran.


Tujuan pengajaran dapat dibedakan menjadi tujuan pengajaran umum dan tujuan pengajaran khusus.


Dalam setiap rumusan tujuan yang telah dikemukakan di atas, terdapat istilah tingkah laku atau kemampuan. Maksud kata tingkah laku dalam rumusan tujuan mengandung tiga aspek, yakni aspek pengetahuan, nilai dan sikap, serta keterampilan. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tida dapat terpisahkan.


Tingkah laku ini (pengetahuan, nilai dan sikap, serta keterampilan) pada hakikatnya adalah hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa.


Baca juga: Memahami Secara Jelas Pengertian Kurikulum

Memahami Secara Jelas Pengertian Kurikulum

Ada tiga variabel utama yang saling berkaitan dalam strategi pelaksanaan pendidikan di sekolah. Ketiga variabel tersebut adalah kurikulum, guru, dan pengajaran atau proses belajar dan mengajar.

Guru menduduki kedudukan sentral sebab peranananya sangat menentukan. Ia harus mampu menerjemahkan dan menjabarkan nilai-nilai tersebut kepada siswa melalui proses pengajaran di sekolah. Guru tidak membuat/menyusun kurikulum, tetapi ia menggunakan kurikulum, menjabarkannya, serta melaknsanakannya melalui suatu proses pengajaran.

Kurikulum diperuntukkan bagi siswa, melalui guru yang secara nyata memberikan pengaruh kepada siswa pada saat terjadinya proses pengajaran.


Proses sampainya kurikulum ke siswa.

Diagram diatas menjelaskan bahwa sebelum kurikulum sampai kepada siswa, kurikulum itu, menempuh suatu proses, yakni penjabaran kurikulum dalam bentuk proses pengajaran. Ini berarti proses pengajaran pada hakikatnya adalah pelaksanaan kurikulum oleh guru dalam ruang lingkup yang lebih khusus dan terbatas.

Pengertian Kurikulum
Kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata curir yang berarti pelari. Kata curere artinya tempat berpacu. Curriculum diartikan jarak yang ditempuh oleh seorang pelari.

Pada saat itu, kurikulum diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa/murid untuk mencapai ijazah.

Rumusan kurikulum tersebut mengandung makna bahwa isi kurikulum tidak lain adalah sejumlah mata pelajaran (subject matter) yang harus dikuasai oleh siswa untuk dapat memperoleh ijazah. Itulah mengapa kurikulum sering dipandang sebagai rencana pelajaran untuk siswa.

Ilmu pengetahuan selalu berubah dan berkembang, demikian juga dengan bidang pendidikan. Perubahan dalam bidang pendidikan membawa pengaruh terhadap perubahan pandangan mengenai kurikulum. Kurikulum yang semula dipandang sebagai sejumlah mata pelajaran, kemudian beralih makna menjadi semua kegiatan atau semua pengalaman belajar, yang diberikan kepada siswa di bawah tanggung jawab sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan.

Konsep ini mengandung makna, bahwa isi kurikulum bukan hanya sejumlah mata pelajaran, tetapi juga semua kegiatan dan pengalaman belajar siswa di sekolah yang mempengaruhi pribadi siswa sepanjang menjadi tanggung jawab sekolah.

Itulah sebabnya tidak ada pemisahan antara kegiatan intrakurikuler dengan kegiatan ekstrakurikuler, keduanya tarmasuk kurikulum.

Baca juga: Memahami Tujuan Program dalam Pembelajaran

Pengertian kurikulum di atas menunjukkan pengertian/makna yang lebih luas sebab kurikulum tidak terbatas pada mata pelajaran saja, tetapi semua aspek yang mempengaruhi pribadi siswa. Dalam pengertian ini, menunjukkan adanya fungsi kurikulum sebagai alat mengubah pribadi siswa. Dengan kata lain, kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Walaupun demikian, kurikulum dalam pengerian ini pun masih belum memberikan arah secara operasional, serta belum ada batasan yang jelas mengenai apa yang dimaksud “semua kegiatan”, apa isinya dan bagaimana bentuknya.

Oleh sebab itu akhirnya disepakati bahwa kurikulum dipandang atau diartikan sebagai program belajar bagi siswa (plan for learning) yang disusun secara sistematik, dan diberikan oleh lembaga pendidikan tertentu untuk mencapai tujuan pendidikan.

Baca juga: Strategi Pelaksanaan Kurikulum

Sebagai program, kurikulum adalah niat atau harapan. Atas dasar itu, ada pandangan yang menyatakan bahwa kurikulum tidak lain adalah hasil belajar yang diniati/diharapkan atau intended learning out come.

Dikatakan hasil belajar yang diniati sebab program belajar itu baru merupakan rencana, patokan, gagasan, itikad, rambu-rambu, yang nantinya harus dicapai atau dimiliki oleh para siswa melalui proses pengajaran. Program belajar belum tentu dapat mempengaruhi siswa jika tidak dilaksanakan. Itulah sebabnya, kurikulum sebagai program belajar tidak dapat dipisahkan dengan pengajaran.

Kurikulum adalah niat, pedoman, rencana, sedangkan pengajaran adalah pelaksanaan untuk mecapai niat atau rencana tersebut. Menurut Beauchamp, kurikulum adalah dokumen yang disusun untuk digunakan sebagai dasar dalam merencanakan pengajaran.

Dari rumusan diatas juga dapat kita simpulkan bahwa kurikulum adalah program belajar atau document yang berisikan hasil belajar yang diniati (diharapkan dimiliki siswa) di bawah tanggung jawab sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan. Program belajar masih bersifat umum yang memerlukan penjabaran lebih lanjut oleh guru sebelum diberikan kepada siswa melalui proses pengajaran.

Kurikulum sebagai program belajar bagi siswa harus memiliki tujuan program yang ingin dicapai, isi program yang harus diberikan. Dan stretegi/cara bagaimana melaksanakan program tersebut.

Baca juga:
Wajib Tahu! Ini 8 Kiat Memotivasi Anak Supaya Rajin Belajar
Perbedaan Kecerdasan dan Ragam Gaya Belajar

Wajib Tahu! Ini 8 Kiat Memotivasi Anak Supaya Rajin Belajar


Namanya juga anak-anak, dalam mendidiknya pastilah ada beberapa hal yang terbilang sulit dan  menguji kesabaran. Misalnya dalam hal belajar. Anak-anak di usia dini memang terkadang agak sulit jika untuk disuruh belajar. Hal itu memang sering terjadi karena mereka belum mengetahui dan memahami apa sebenarnya tujuan dan manfaat dari belajar itu sendiri.

Akan tetapi, jika kesulitan tersebut terjadi pada anak-anak yang seharusnya memang sudah mengerti manfaat dari belajar, maka di sinilah orang tua sangat berperan.

Orang tua mesti mempunyai berbagai cara agar dapat meningkatkan semangat belajar dalam diri anak.

Anak-anak yang sebelumnya sulit untuk mau belajar bisa berubah kalau orang tua dapat mendidiknya atau memotivasinya dengan baik dan benar.

Dibawah ini kami paparkan 8 kiat memotivasi anak supaya rajin belajar.

1. Berikan Anak Waktu dengan Hobinya
Memang, belajar sangatlah penting, namun melakukan suatu hal yang disukai juga tak kalah pentingnya. Sekolah, les, bimbel, dan PR memang menimbulkan tekanan dalam diri anak.

Jika kita terus-terusan memaksa anak untuk belajar dan belajar setiap harinya maka mereka bisa mengalami stres. Hal tersebut tentu sangat disayangkan karena usianya dia masih muda.

Jadi, salah satu upaya untuk memotivasi anak agar rajin belajar adalah dengan memberikan dia waktu untuk melakukan hobinya karena dengan adanya keseimbangan antara hobi dan studi dapat membuat keefektifan belajar semakin meningkat dan membawa dampak positif dalam dunia belajarnya.

Baca juga: Memahami Karakter Anak yang Tidak Patuh dan Suka Membantah

2. Buatlah Struktur Belajar
Anda juga dapat memberlakukan pola displin agar anak juga termotivasi dengan kedisiplinan tersebut. Misalnya dengan membuat jadwal belajar. Seperti yang kita ketahui bersama, untuk memulai kebiasaan baru yang baik kuncinya adalah disiplin.

Disaat memasuki waktu belajar Anda mesti membuat suatu kebiasaan bahwa tidak ada kegiatan lain selain belajar. Sebagai contoh, ketika jam belajar, Anda juga jangan bermain Handphone saja. Hal ini tentu membuat anak Anda akan semakin sulit termotivasi untuk belajar.

3. Berikan Pujian pada Anak
Pujian memiliki pengaruh positif bagi anak, maka agar anak Anda semakin semangat untuk belajar berilah mereka pujian atau suatu hadiah saat mereka meraih prestasi. Jangan sering memberikan hadiah pada anak tanpa adanya usaha untuk rajin dalam belajar. Karena dapat menjadikan anak Anda manja dan gampang merengek.

Anak yang mendapat penghargaan ketika berprestasi pasti akan lebih termotivasi dan akan lebih giat belajar ke depannya. Ketika belajar sudah menjadi kebiasaan tanpa disuruh, lambat laun dia juga akan menemukan apa arti dan manfaat belajar itu sendiri.

4. Tidak Ada Salahnya Untuk Melakukanlah Terapi
Pernah dengar yang namanya terapi hypnosleep? Hypnosleep mampu menghipnotis anak melalui kata-kata yang kita ucapkan ketika anak tidur. Kata-kata tersebut bisa saja berupa do'a, kata-kata bijak yang dapat memotivasi, atau pujian Anda terhadap anak Anda.

Untuk melakukan terapi hypnosleep ini, pastikan dulu anak Anda telah berada di fase tidur nyenyak. Alam bawah sadarnya akan menangkap kata-kata yang keluar dari mulut Anda.

Meskipun terapi ini masih diperdebatkan, tetapi tidak ada salahnya untuk mencobanya, bukan?

5. Jangan Fokus ke Nilai
Setiap anak itu memiliki keunikan dan perbedaan masing-masing. Mereka mempunyai kemampuan dan kecerdasan di bidang yang berbeda-beda pula. Oleh karena itu, jangan langsung memarahi atau menghakimi anak ketika nilai matematikanya buruk.

Mungkin saja dia memang memiliki kesulitan dalam berhitung tapi kecerdasannya tinggi di bidang ilmu sosial atau ilmu lainnya. Misalnya, dia lebih menyukai bahasa, geografi, IPA, ataupun ekonomi.

Baca juga: 3 Kiat Ampuh Untuk Mencerdaskan Anak

Jika Anda memarahi anak hanya dikarenakan salah satu mata pelajarannya bernilai buruk, maka hal ini dapat menjadikan anak merasa putus asa. Alih-alih, Anda sebagai orang tua harus turun tangan. Bantulah anak ketika dia memiliki kesulitan matematika dan pantaulah terus bagaimana perkembangannya.

Intinya, supaya memotivasi anak agar rajin belajar, jangan fokus pada nilai yang tinggi. Namun, fokuslah pada bagaimana perkembangan cara belajar anak Anda.

6. Masuklah  pada Kehidupannya
Ada beragam alasan kenapa anak Anda menjadi malas untuk belajar, bisa jadi mereka mengalami kesulitan dalam menerima pelajaran. Maka, jangan langsung memarahi anak ketika dia merasa malas belajar.

Anda selaku orang tua harus bisa masuk ke dalam kehidupannya. Cari tahu apa penyebab dia tidak suka pelajaran A, B, dan C. Apakah ada masalah dengan gurunya atau karena adanya kesulitan tertentu? Jika ya, maka Anda dapat mencari solusinya agar masalah tersebut dapat teratasi dengan baik dan tepat.

7. Berikan Dukungan Pada Anak
Dukungan mungkin adalah merupakan hal yang sederhana. Walaupun demikian, dukungan memiliki pengaruh besar terhadap pola pikir dan perkembangan anak. Oleh karena itu, berilah dukungan terhadap apapun yang dilakukan anak dalam meraih cita-citanya.

Jika Anda memberikan dukungan yang penuh pada anak, maka secara alamiah anak akan dengan sendirinya termotivasi untuk belajar atau mendalami hobinya dengan rajin dan terampil.


Mau baca artikel tentang kecantikan???

Selain itu, juga akan lahir rasa tanggung jawab dalam diri anak sehingga tanpa perlu Anda suruh pun dia akan belajar dengan sendirinya.

8. Jelaskan Manfaat Belajar Pada Anak
Jika anak Anda masih mengalami malas belajar, maka selaku orang tua Anda bisa menyampaikan kepada anak apa sebenarnya manfaat atau nilai positif dari belajar. Sampaikanlah dengan lembut, penuh pengertian, dan santai, jangan dengan bentakan.

Berbincang ringan bersama mengenai manfaat belajar dan fungsinya untuk masa depan juga bisa membuka pikiran anak Anda untuk lebih cemerlang dan kreatif. Informasikanlah bahwa dengan rajin belajar kita bisa meraih dan mendapatkan apa yang dicita-citakan.

Baca juga:
Memahami Secara Jelas Pengertian Kurikulum

Benarkah Simbol Dajjal di Sulawesi Penyebab Tsunami?

Sumber foto by Google
Beberapa waktu lalu, setelah gempa hebat melanda Palu, Sulawesi Tengah yang juga disusul oleh terjangan tsunami yang teramat dahsyat, perbincangan mengenai Sulawesi semakin hangat dibicarakan.

Termasuk salah satu yang menarik perhatian adalah tentang isu adanya Simbol Mata Dajjal di Sulawesi, tepatnya di Sulawesi Barat, yaitu Mamuju, pantai Manakkara.

Hal ini benar-benar mengejutkan, entah lambang/simbol tersebut hanya kebetulan saja atau memang sebuah ritual illuminati.

Silakan Anda cek sendiri di google map, icon pantai Manakkara jelas-jelas terlihat seperti mata satu, yang mana mata satu sangat dipercaya sebagai simbol mata Dajjal.

Kabarnya, gempa dan tsunami yang melanda palu juga dikait-kaitkan dengan Dajjal dan adanya simbol tersebut.

Pendapat lain juga mengatakan bahwa, foto itu tak ada hubungannya dengan Palu. Anjungan tersebut berada di Pantai Manakarra, Mamuju, Sulawesi Barat. Sedangkan Palu, Donggala, Sigi, dan sekitarnya yang terkena bencana berada di Sulawesi Tengah. Anjungan Pantai Manakarra itu baik-baik saja saat terjadi gempa dan tsunami di Sulteng.

Baca juga: Penyebab Bencana Menurut Al-Qur'an dan Hadist

Penyebab Bencana Menurut Al-Qur'an dan Hadist

Dari Abu Hurairah ra berkata; bersabda Rasulullah saw

“Apabila kekuasaan dianggap keuntungan, amanat dianggap ghanimah (rampasan), membayar zakat dianggap merugikan, beiajar bukan karena agama (untuk meraih tujuan duniawi semata), suami tunduk pada istrinya, durhaka terhadap ibu, menaati kawan yang menyimpang dari kebenaran, membenci ayah, bersuara keras (menjerit jerit) di masjid, orang fasig menjadi pemimpin suatu bangsa, pemimpin diangkat dari golongan yang rendah akhiaknya, orang dihormati karena takut pada kejahatannya, para biduan dan musik (hiburan berbau maksiat) banyak digemari, minum keras/narkoba semakin meluas, umat akhir zaman ini sewenang-wenang mengutuk generasi pertama kaum Muslimin (termasuk para sahabat Nabi saw, tabi’in dan para imam muktabar). Maka hendaklah mereka waspada karena pada saat itu akan terjadi hawa panas, gempa,longsor dan kemusnahan. Kemudian diikuti oleh tanda-tanda (kiamat) yang lain seperti untaian permata yang berjatuhan karena terputus talinya (semua tanda kiamat terjadi).”(HR. Tirmidzi)

pict from: tvmu.tv
Ketika terjadi bencana alam, paling tidak ada tiga analisa yang sering diajukan untuk mencari penyebab terjadinya bencana tersebut. Pertama, azab dari Allah karena banyak dosa yang dilakukan. Kedua, sebagai ujian dari Tuhan. Ketiga, Sunnatullahdalamartigejalaalamatauhukum alam yang biasaterjadi. Untuk kasus Indonesia ketiga analisa tersebut semuanya mempunyai kemungkinan yang sama besarnya.

Jika bencana dikaitkan dengan dosa-dosa bangsa ini bisa saja benar, sebab kemaksiatan sudah menjadi kebanggaan baik di tingkat pemimpin (struktural maupun kultural) maupun sebagian rakyatnya, perintah atau ajaran agama banyak yang tidak diindahkan, orang-orang miskin diterlantarkan. Maka ingatlah firman Allah:

 “Jika Kami menghendaki menghancurkan suatu negeri, Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah (berkedudukan untuk taat kepada Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan daiam negeri tersebut, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya,” (Al-Isra'[17]: 16).

Apabila dikaitkan dengan ujian, bisa jadi sebagai ujian kepada bangsa ini, khususnya kaum Muslimin agar semakin kuat dan teguh keimanannya dan berani untuk menampakkan identitasnya. Sebagaimana firman Allah:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan: Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diujilagi?”( Al-Ankabut [29:2).

Akan tetapi, jika dikaitkan dengan gejala alam pun besar kemungkinannya, karena  bumi Nusantara memang berada di bagian  bumi yang rawan bencana seperti gempa, tsunami dan letusan gunung. Bahkan, secara keseluruhan bumi yang ditempati manusia ini rawan akan terjadinya bencana, sebab hukum alam yang telah ditetapkan Allah SwT atas bumi ini dengan ber bagai hikmah yang terkandung di dalamnya. Seperti pergerakan gunung dengan  berbagai konsekuensinya.

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal gunung-gunung itu bergerak sebagaimana awanbergerak.(Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh segala sesuatu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.( QS. Al-Naml [27]: 88).

Di samping harus tetap bersikap optimis dan berupaya mengenali hukum-hukum Allah yang telah ditetapkan atas alam ini, adalah bijak untuk terus melakukan introspeksi terhadap keseriusan kita dalam menaati perintah-perintah Allah SwT dan menghitung-hitung kedurhakaan kita kepada-Nya.Sabda Rasulullah saw yang diriwayat kan Imam Tirmidzi di atas patut menjadi renungan bagi bangsa ini atas berbagai bencana yang menimpa secara bertubi tubi.

Jika kita cermati hampir semua penyebab bencana yang disebut Rasulullah saw dalam Hadits tersebut tengah melanda bangsa ini. Pertama, masalah kepemimpinan, amanah dan penguasa. Jika suatu bangsa memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat, baik (shalih), cakap/cerdas dan kompeten (gawiy) dan amanah (amin), maka kebangkrutan dan kehancuran sebuah  bangsa tinggal menunggu waktu saja. Se bab, pemimpin seperti itu menganggap kekuasaan bukan sebagai amanah untuk menciptakan kesejahteraan dan ketentraman bagirakyatnya, tetapi sebagal sarana dan kesempatan untuk memperkaya diri dan  bersenang-senang.

Akibatnya, perilaku korupsi merajalela, penindasan dan pemiskinan menjadi pemandangan yang lumrah, dan kebangkrutan moral menjadi hal yang sangat sulit untuk dihindari. Oleh karena itu, memilih pemimpin atau pejabat harus hatihati dan selektif, sebab mereka akan memanggul amanah yang sangat berat.

Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Jika amanat disia-siakan, maka tunggulah saatnya (kehancuran). Abu Hurairah bertanya; “Bagaimana amanat itu disia-siakan wahai Rasulullah?, Beliau menjawab,”Jika suatu urusan diserahkan pada orang yang bukan ahlinya (tidak memenuhi syarat)”. ( H R. Bukhari).

Kedua, orang kaya tidak menunaikan kewajibannya. Zakat adalah kewajiban minimal bagi orang kaya untuk peduli kepada orang miskin. Jika kewajiban minimal ini tidak ditunaikan, maka kegoncangan social tdak bisa ditawar-tawarlagi, karena tindakan orang miskin yang terampas haknya tidak bisa dipersalahkan. Sehingga azab Allah menjadi keharusan (Al-Isra': 16). Demikian intisari istinbathAmirul Mu’minin Umar bin Khathab ra yang didukung Ibnu Hazm rahimallahu ta’ala.

Ketiga, hilangnya ketulusan dan kebijakan para ulama dan cendekiawan. Kerusakan yang ditimbulkan oleh penguasa dan pengusaha (orang kaya) itu akan menjadi-jadi jika ulama/cendekiawan sebagai pilar penting suatu bangsa yang bertugas untuk memberi peringatan dan beroposisi secara loyal terseret ke dalam kepentingan pragmatis para penguasa dan pengusaha tersebut.

Aktualisasinya bisa berwujud pada terbitnya fatwa-fatwa pesanan yang tidak memihak orang-orang lemah dan tertindas serta opini yang menyesatkan dan membingungkan umat sebagai akibat terialu banyak menerima pemberian yang tidak jelas dan sering mengemis pada musuh-musuh Islam dan bangsa pada umumnya. Karena ketulusan telah hilang, para ulama pun menjadi orang yang membuat gaduh di masjid dengan perdebatan dan berbantahan mengenai hal yang sudah diputuskan dengan jelas oleh Allah dan Rasul-Nya.

Pada akhirnya, bukan hanya perintah Allah dan Rasul-Nya yang tidak diperhatikan dan disia-siakan. Akan tetapi para sahabat Rasul dan generasi mereka sesudahnya (ulama dari kalangan tabi’in dantabi’tabi’in)sebagaigenerasiterbaik umat Muhammad saw menjadi bahan olok-olok dan ejekan dalam perbincangan mereka dengan merendahkan dan mencampakkan kezuhudan dan hasil ijtihad mereka yang cemerlang.

Jika ketiga pilar bangsa penguasa, pengusaha dan ulama atau cendekiawan sudah tidak menjalankan fungsi yang semestinya, maka kebangkrutan moral yang lain seperti durhaka pada orangtua, suami yang manut pada hawa nafsu istrinya, mewabahnya khamr (narkoba) dan kesenangan pada hiburan yang memancing keliaran syahwat menjadi pemandangan yang biasa. Pada saatitu”kemarahan” Tuhan dipastikan tidak bias dihalang-halangi untuk menghancurkan bangsa yang durhaka. [sumber: muhammadiyah.or.id]

Wajib Tahu! Ini 5 Jenis Rencong Aceh

Indonesia memang kaya akan budaya dan adat istiadatnya menurut daerah masing-masing. Berbagai daerah pastinya memiliki senjata khas masing-masing misalnya Maluku yang memiliki parang salawaku sebagai senjata tajamnya, Jawa memiliki Keris dan Begitu juga dengan Aceh yang memilik Rencong (senjata mematikan yang membuat Belanda terheran-heran).

Berikut 5 jenis Rencong yang paling dikenal di kalangan masyarakat Aceh yang dibedakan atas bentuk dan kalangan yang menggunakannya.

1. Rencong Meucugek (Meucungkek)


Disebut meucugek karena pada gagang rencong terdapat suatu bentuk panahan dan perekat yang dalam istilah Aceh disebut cugek atau meucugek. Cugek ini diperlukan untuk mudah dipegang dan tidak mudah lepas waktu menikam ke badan lawan atau musuh.

2. Rencong Meupucok


senjata  ini memiliki pucuk di atas gagangnya yang terbuat dari ukiran logam yang pada umumnya dari emas. Gagangnya meupucok ini kelihatan agak kecil, yakni pada pegangan bagian bawah. Namun, semakin ke ujung gagang ini semakin membesar. Jenis semacam ini digunakan untuk hiasan atau sebagai alat perhiasan. Biasanya, ini dipakai pada upacara-upacara resmi yang berhubungan dengan masaalah adat dan kesenian.

3. Rencong Pudoi


Jenis ini gagangnya lebih pendek dan berbentuk lurus, tidak seperti pada umumnya. Terkesan, belum sempurna sehingga dikatakan pudoi. Istilah pudoi dalam masyarakat Aceh adalah sesuatu yang diangap masih kekurangan atau masih ada yang belum sempurna.

4. Rencong Meukuree


Perbedaan meukuree dengan jenis rencong lain adalah pada matanya. Mata jenis ini diberi hiasan tertentu seperti gambar ular, lipan, bunga, dan sebagainya. Gambar-gambar tersebut oleh pandai besi ditafsirkan dengan beragam macam kelebihan dan keistimewaan. Senjata ini disimpan lama, pada mulanya akan terbentuk sejenis aritan atau bentuk yang disebut kuree. Semakin lama atau semakin tua usia senjata ini, semakin banyak pula kuree yang terdapat pada mata senjata tersebut. Kuree ini dianggap mempunyai kekuatan magis.

5. Rencong Dandan



Merupakan jenis rencong dari suku Gayo yang saat ini termasuk sulit ditemukan namun masih banyak disebut diberbagai artikel tentang Rencong. Senjata tradisional ini termasuk Rencong dengan ukuran besar dan berwibawa tinggi di antara  yang lainnya. Konon gagangnya dibuat dari gading singa laut. Ujung gagang mirip dengan Rencong Meucugek tetapi tidak 90º dan mengecil keujungnya.

Material pembuatannya berbeda tingkatan tergantung siapa pemilik senjata itu. Sarungnya milik raja atau sultan terbuat dari gading, dan mata pisaunya terbuat dari emas. Pada badan rencong terukir ayat suci Alquran. Sedangkan untuk sarung rencong kebanyakan terbuat dari tanduk kerbau atau kayu, sedangkan badan terbuat dari kuningan atau besi putih yang kini kita kenal sebagai Stainless Steel.

Baca juga: Menakjubkan! Desain Rencong Aceh Terinspirasi dari Bismillah.

Referensi: asyraafahmadi.com