Wajib Tahu! Ini 8 Kiat Memotivasi Anak Supaya Rajin Belajar


Namanya juga anak-anak, dalam mendidiknya pastilah ada beberapa hal yang terbilang sulit dan  menguji kesabaran. Misalnya dalam hal belajar. Anak-anak di usia dini memang terkadang agak sulit jika untuk disuruh belajar. Hal itu memang sering terjadi karena mereka belum mengetahui dan memahami apa sebenarnya tujuan dan manfaat dari belajar itu sendiri.

Akan tetapi, jika kesulitan tersebut terjadi pada anak-anak yang seharusnya memang sudah mengerti manfaat dari belajar, maka di sinilah orang tua sangat berperan.

Orang tua mesti mempunyai berbagai cara agar dapat meningkatkan semangat belajar dalam diri anak.

Anak-anak yang sebelumnya sulit untuk mau belajar bisa berubah kalau orang tua dapat mendidiknya atau memotivasinya dengan baik dan benar.

Dibawah ini kami paparkan 8 kiat memotivasi anak supaya rajin belajar.

1. Berikan Anak Waktu dengan Hobinya
Memang, belajar sangatlah penting, namun melakukan suatu hal yang disukai juga tak kalah pentingnya. Sekolah, les, bimbel, dan PR memang menimbulkan tekanan dalam diri anak.

Jika kita terus-terusan memaksa anak untuk belajar dan belajar setiap harinya maka mereka bisa mengalami stres. Hal tersebut tentu sangat disayangkan karena usianya dia masih muda.

Jadi, salah satu upaya untuk memotivasi anak agar rajin belajar adalah dengan memberikan dia waktu untuk melakukan hobinya karena dengan adanya keseimbangan antara hobi dan studi dapat membuat keefektifan belajar semakin meningkat dan membawa dampak positif dalam dunia belajarnya.

Baca juga: Memahami Karakter Anak yang Tidak Patuh dan Suka Membantah

2. Buatlah Struktur Belajar
Anda juga dapat memberlakukan pola displin agar anak juga termotivasi dengan kedisiplinan tersebut. Misalnya dengan membuat jadwal belajar. Seperti yang kita ketahui bersama, untuk memulai kebiasaan baru yang baik kuncinya adalah disiplin.

Disaat memasuki waktu belajar Anda mesti membuat suatu kebiasaan bahwa tidak ada kegiatan lain selain belajar. Sebagai contoh, ketika jam belajar, Anda juga jangan bermain Handphone saja. Hal ini tentu membuat anak Anda akan semakin sulit termotivasi untuk belajar.

3. Berikan Pujian pada Anak
Pujian memiliki pengaruh positif bagi anak, maka agar anak Anda semakin semangat untuk belajar berilah mereka pujian atau suatu hadiah saat mereka meraih prestasi. Jangan sering memberikan hadiah pada anak tanpa adanya usaha untuk rajin dalam belajar. Karena dapat menjadikan anak Anda manja dan gampang merengek.

Anak yang mendapat penghargaan ketika berprestasi pasti akan lebih termotivasi dan akan lebih giat belajar ke depannya. Ketika belajar sudah menjadi kebiasaan tanpa disuruh, lambat laun dia juga akan menemukan apa arti dan manfaat belajar itu sendiri.

4. Tidak Ada Salahnya Untuk Melakukanlah Terapi
Pernah dengar yang namanya terapi hypnosleep? Hypnosleep mampu menghipnotis anak melalui kata-kata yang kita ucapkan ketika anak tidur. Kata-kata tersebut bisa saja berupa do'a, kata-kata bijak yang dapat memotivasi, atau pujian Anda terhadap anak Anda.

Untuk melakukan terapi hypnosleep ini, pastikan dulu anak Anda telah berada di fase tidur nyenyak. Alam bawah sadarnya akan menangkap kata-kata yang keluar dari mulut Anda.

Meskipun terapi ini masih diperdebatkan, tetapi tidak ada salahnya untuk mencobanya, bukan?

5. Jangan Fokus ke Nilai
Setiap anak itu memiliki keunikan dan perbedaan masing-masing. Mereka mempunyai kemampuan dan kecerdasan di bidang yang berbeda-beda pula. Oleh karena itu, jangan langsung memarahi atau menghakimi anak ketika nilai matematikanya buruk.

Mungkin saja dia memang memiliki kesulitan dalam berhitung tapi kecerdasannya tinggi di bidang ilmu sosial atau ilmu lainnya. Misalnya, dia lebih menyukai bahasa, geografi, IPA, ataupun ekonomi.

Baca juga: 3 Kiat Ampuh Untuk Mencerdaskan Anak

Jika Anda memarahi anak hanya dikarenakan salah satu mata pelajarannya bernilai buruk, maka hal ini dapat menjadikan anak merasa putus asa. Alih-alih, Anda sebagai orang tua harus turun tangan. Bantulah anak ketika dia memiliki kesulitan matematika dan pantaulah terus bagaimana perkembangannya.

Intinya, supaya memotivasi anak agar rajin belajar, jangan fokus pada nilai yang tinggi. Namun, fokuslah pada bagaimana perkembangan cara belajar anak Anda.

6. Masuklah  pada Kehidupannya
Ada beragam alasan kenapa anak Anda menjadi malas untuk belajar, bisa jadi mereka mengalami kesulitan dalam menerima pelajaran. Maka, jangan langsung memarahi anak ketika dia merasa malas belajar.

Anda selaku orang tua harus bisa masuk ke dalam kehidupannya. Cari tahu apa penyebab dia tidak suka pelajaran A, B, dan C. Apakah ada masalah dengan gurunya atau karena adanya kesulitan tertentu? Jika ya, maka Anda dapat mencari solusinya agar masalah tersebut dapat teratasi dengan baik dan tepat.

7. Berikan Dukungan Pada Anak
Dukungan mungkin adalah merupakan hal yang sederhana. Walaupun demikian, dukungan memiliki pengaruh besar terhadap pola pikir dan perkembangan anak. Oleh karena itu, berilah dukungan terhadap apapun yang dilakukan anak dalam meraih cita-citanya.

Jika Anda memberikan dukungan yang penuh pada anak, maka secara alamiah anak akan dengan sendirinya termotivasi untuk belajar atau mendalami hobinya dengan rajin dan terampil.

Mau baca artikel tentang kecantikan???

Selain itu, juga akan lahir rasa tanggung jawab dalam diri anak sehingga tanpa perlu Anda suruh pun dia akan belajar dengan sendirinya.

8. Jelaskan Manfaat Belajar Pada Anak
Jika anak Anda masih mengalami malas belajar, maka selaku orang tua Anda bisa menyampaikan kepada anak apa sebenarnya manfaat atau nilai positif dari belajar. Sampaikanlah dengan lembut, penuh pengertian, dan santai, jangan dengan bentakan.

Berbincang ringan bersama mengenai manfaat belajar dan fungsinya untuk masa depan juga bisa membuka pikiran anak Anda untuk lebih cemerlang dan kreatif. Informasikanlah bahwa dengan rajin belajar kita bisa meraih dan mendapatkan apa yang dicita-citakan.

Benarkah Simbol Dajjal di Sulawesi Penyebab Tsunami?

Sumber foto by Google
Beberapa waktu lalu, setelah gempa hebat melanda Palu, Sulawesi Tengah yang juga disusul oleh terjangan tsunami yang teramat dahsyat, perbincangan mengenai Sulawesi semakin hangat dibicarakan.

Termasuk salah satu yang menarik perhatian adalah tentang isu adanya Simbol Mata Dajjal di Sulawesi, tepatnya di Sulawesi Barat, yaitu Mamuju, pantai Manakkara.

Hal ini benar-benar mengejutkan, entah lambang/simbol tersebut hanya kebetulan saja atau memang sebuah ritual illuminati.

Silakan Anda cek sendiri di google map, icon pantai Manakkara jelas-jelas terlihat seperti mata satu, yang mana mata satu sangat dipercaya sebagai simbol mata Dajjal.

Kabarnya, gempa dan tsunami yang melanda palu juga dikait-kaitkan dengan Dajjal dan adanya simbol tersebut.

Pendapat lain juga mengatakan bahwa, foto itu tak ada hubungannya dengan Palu. Anjungan tersebut berada di Pantai Manakarra, Mamuju, Sulawesi Barat. Sedangkan Palu, Donggala, Sigi, dan sekitarnya yang terkena bencana berada di Sulawesi Tengah. Anjungan Pantai Manakarra itu baik-baik saja saat terjadi gempa dan tsunami di Sulteng.

Baca juga: Penyebab Bencana Menurut Al-Qur'an dan Hadist

Penyebab Bencana Menurut Al-Qur'an dan Hadist

Dari Abu Hurairah ra berkata; bersabda Rasulullah saw

“Apabila kekuasaan dianggap keuntungan, amanat dianggap ghanimah (rampasan), membayar zakat dianggap merugikan, beiajar bukan karena agama (untuk meraih tujuan duniawi semata), suami tunduk pada istrinya, durhaka terhadap ibu, menaati kawan yang menyimpang dari kebenaran, membenci ayah, bersuara keras (menjerit jerit) di masjid, orang fasig menjadi pemimpin suatu bangsa, pemimpin diangkat dari golongan yang rendah akhiaknya, orang dihormati karena takut pada kejahatannya, para biduan dan musik (hiburan berbau maksiat) banyak digemari, minum keras/narkoba semakin meluas, umat akhir zaman ini sewenang-wenang mengutuk generasi pertama kaum Muslimin (termasuk para sahabat Nabi saw, tabi’in dan para imam muktabar). Maka hendaklah mereka waspada karena pada saat itu akan terjadi hawa panas, gempa,longsor dan kemusnahan. Kemudian diikuti oleh tanda-tanda (kiamat) yang lain seperti untaian permata yang berjatuhan karena terputus talinya (semua tanda kiamat terjadi).”(HR. Tirmidzi)

pict from: tvmu.tv
Ketika terjadi bencana alam, paling tidak ada tiga analisa yang sering diajukan untuk mencari penyebab terjadinya bencana tersebut. Pertama, azab dari Allah karena banyak dosa yang dilakukan. Kedua, sebagai ujian dari Tuhan. Ketiga, Sunnatullahdalamartigejalaalamatauhukum alam yang biasaterjadi. Untuk kasus Indonesia ketiga analisa tersebut semuanya mempunyai kemungkinan yang sama besarnya.

Jika bencana dikaitkan dengan dosa-dosa bangsa ini bisa saja benar, sebab kemaksiatan sudah menjadi kebanggaan baik di tingkat pemimpin (struktural maupun kultural) maupun sebagian rakyatnya, perintah atau ajaran agama banyak yang tidak diindahkan, orang-orang miskin diterlantarkan. Maka ingatlah firman Allah:

 “Jika Kami menghendaki menghancurkan suatu negeri, Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah (berkedudukan untuk taat kepada Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan daiam negeri tersebut, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya,” (Al-Isra'[17]: 16).

Apabila dikaitkan dengan ujian, bisa jadi sebagai ujian kepada bangsa ini, khususnya kaum Muslimin agar semakin kuat dan teguh keimanannya dan berani untuk menampakkan identitasnya. Sebagaimana firman Allah:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan: Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diujilagi?”( Al-Ankabut [29:2).

Akan tetapi, jika dikaitkan dengan gejala alam pun besar kemungkinannya, karena  bumi Nusantara memang berada di bagian  bumi yang rawan bencana seperti gempa, tsunami dan letusan gunung. Bahkan, secara keseluruhan bumi yang ditempati manusia ini rawan akan terjadinya bencana, sebab hukum alam yang telah ditetapkan Allah SwT atas bumi ini dengan ber bagai hikmah yang terkandung di dalamnya. Seperti pergerakan gunung dengan  berbagai konsekuensinya.

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal gunung-gunung itu bergerak sebagaimana awanbergerak.(Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh segala sesuatu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.( QS. Al-Naml [27]: 88).

Di samping harus tetap bersikap optimis dan berupaya mengenali hukum-hukum Allah yang telah ditetapkan atas alam ini, adalah bijak untuk terus melakukan introspeksi terhadap keseriusan kita dalam menaati perintah-perintah Allah SwT dan menghitung-hitung kedurhakaan kita kepada-Nya.Sabda Rasulullah saw yang diriwayat kan Imam Tirmidzi di atas patut menjadi renungan bagi bangsa ini atas berbagai bencana yang menimpa secara bertubi tubi.

Jika kita cermati hampir semua penyebab bencana yang disebut Rasulullah saw dalam Hadits tersebut tengah melanda bangsa ini. Pertama, masalah kepemimpinan, amanah dan penguasa. Jika suatu bangsa memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat, baik (shalih), cakap/cerdas dan kompeten (gawiy) dan amanah (amin), maka kebangkrutan dan kehancuran sebuah  bangsa tinggal menunggu waktu saja. Se bab, pemimpin seperti itu menganggap kekuasaan bukan sebagai amanah untuk menciptakan kesejahteraan dan ketentraman bagirakyatnya, tetapi sebagal sarana dan kesempatan untuk memperkaya diri dan  bersenang-senang.

Akibatnya, perilaku korupsi merajalela, penindasan dan pemiskinan menjadi pemandangan yang lumrah, dan kebangkrutan moral menjadi hal yang sangat sulit untuk dihindari. Oleh karena itu, memilih pemimpin atau pejabat harus hatihati dan selektif, sebab mereka akan memanggul amanah yang sangat berat.

Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Jika amanat disia-siakan, maka tunggulah saatnya (kehancuran). Abu Hurairah bertanya; “Bagaimana amanat itu disia-siakan wahai Rasulullah?, Beliau menjawab,”Jika suatu urusan diserahkan pada orang yang bukan ahlinya (tidak memenuhi syarat)”. ( H R. Bukhari).

Kedua, orang kaya tidak menunaikan kewajibannya. Zakat adalah kewajiban minimal bagi orang kaya untuk peduli kepada orang miskin. Jika kewajiban minimal ini tidak ditunaikan, maka kegoncangan social tdak bisa ditawar-tawarlagi, karena tindakan orang miskin yang terampas haknya tidak bisa dipersalahkan. Sehingga azab Allah menjadi keharusan (Al-Isra': 16). Demikian intisari istinbathAmirul Mu’minin Umar bin Khathab ra yang didukung Ibnu Hazm rahimallahu ta’ala.

Ketiga, hilangnya ketulusan dan kebijakan para ulama dan cendekiawan. Kerusakan yang ditimbulkan oleh penguasa dan pengusaha (orang kaya) itu akan menjadi-jadi jika ulama/cendekiawan sebagai pilar penting suatu bangsa yang bertugas untuk memberi peringatan dan beroposisi secara loyal terseret ke dalam kepentingan pragmatis para penguasa dan pengusaha tersebut.

Aktualisasinya bisa berwujud pada terbitnya fatwa-fatwa pesanan yang tidak memihak orang-orang lemah dan tertindas serta opini yang menyesatkan dan membingungkan umat sebagai akibat terialu banyak menerima pemberian yang tidak jelas dan sering mengemis pada musuh-musuh Islam dan bangsa pada umumnya. Karena ketulusan telah hilang, para ulama pun menjadi orang yang membuat gaduh di masjid dengan perdebatan dan berbantahan mengenai hal yang sudah diputuskan dengan jelas oleh Allah dan Rasul-Nya.

Pada akhirnya, bukan hanya perintah Allah dan Rasul-Nya yang tidak diperhatikan dan disia-siakan. Akan tetapi para sahabat Rasul dan generasi mereka sesudahnya (ulama dari kalangan tabi’in dantabi’tabi’in)sebagaigenerasiterbaik umat Muhammad saw menjadi bahan olok-olok dan ejekan dalam perbincangan mereka dengan merendahkan dan mencampakkan kezuhudan dan hasil ijtihad mereka yang cemerlang.

Jika ketiga pilar bangsa penguasa, pengusaha dan ulama atau cendekiawan sudah tidak menjalankan fungsi yang semestinya, maka kebangkrutan moral yang lain seperti durhaka pada orangtua, suami yang manut pada hawa nafsu istrinya, mewabahnya khamr (narkoba) dan kesenangan pada hiburan yang memancing keliaran syahwat menjadi pemandangan yang biasa. Pada saatitu”kemarahan” Tuhan dipastikan tidak bias dihalang-halangi untuk menghancurkan bangsa yang durhaka. [sumber: muhammadiyah.or.id]

Wajib Tahu! Ini 5 Jenis Rencong Aceh

Indonesia memang kaya akan budaya dan adat istiadatnya menurut daerah masing-masing. Berbagai daerah pastinya memiliki senjata khas masing-masing misalnya Maluku yang memiliki parang salawaku sebagai senjata tajamnya, Jawa memiliki Keris dan Begitu juga dengan Aceh yang memilik Rencong (senjata mematikan yang membuat Belanda terheran-heran).

Berikut 5 jenis Rencong yang paling dikenal di kalangan masyarakat Aceh yang dibedakan atas bentuk dan kalangan yang menggunakannya.

1. Rencong Meucugek (Meucungkek)


Disebut meucugek karena pada gagang rencong terdapat suatu bentuk panahan dan perekat yang dalam istilah Aceh disebut cugek atau meucugek. Cugek ini diperlukan untuk mudah dipegang dan tidak mudah lepas waktu menikam ke badan lawan atau musuh.

2. Rencong Meupucok


senjata  ini memiliki pucuk di atas gagangnya yang terbuat dari ukiran logam yang pada umumnya dari emas. Gagangnya meupucok ini kelihatan agak kecil, yakni pada pegangan bagian bawah. Namun, semakin ke ujung gagang ini semakin membesar. Jenis semacam ini digunakan untuk hiasan atau sebagai alat perhiasan. Biasanya, ini dipakai pada upacara-upacara resmi yang berhubungan dengan masaalah adat dan kesenian.

3. Rencong Pudoi


Jenis ini gagangnya lebih pendek dan berbentuk lurus, tidak seperti pada umumnya. Terkesan, belum sempurna sehingga dikatakan pudoi. Istilah pudoi dalam masyarakat Aceh adalah sesuatu yang diangap masih kekurangan atau masih ada yang belum sempurna.

4. Rencong Meukuree


Perbedaan meukuree dengan jenis rencong lain adalah pada matanya. Mata jenis ini diberi hiasan tertentu seperti gambar ular, lipan, bunga, dan sebagainya. Gambar-gambar tersebut oleh pandai besi ditafsirkan dengan beragam macam kelebihan dan keistimewaan. Senjata ini disimpan lama, pada mulanya akan terbentuk sejenis aritan atau bentuk yang disebut kuree. Semakin lama atau semakin tua usia senjata ini, semakin banyak pula kuree yang terdapat pada mata senjata tersebut. Kuree ini dianggap mempunyai kekuatan magis.

5. Rencong Dandan



Merupakan jenis rencong dari suku Gayo yang saat ini termasuk sulit ditemukan namun masih banyak disebut diberbagai artikel tentang Rencong. Senjata tradisional ini termasuk Rencong dengan ukuran besar dan berwibawa tinggi di antara  yang lainnya. Konon gagangnya dibuat dari gading singa laut. Ujung gagang mirip dengan Rencong Meucugek tetapi tidak 90º dan mengecil keujungnya.

Material pembuatannya berbeda tingkatan tergantung siapa pemilik senjata itu. Sarungnya milik raja atau sultan terbuat dari gading, dan mata pisaunya terbuat dari emas. Pada badan rencong terukir ayat suci Alquran. Sedangkan untuk sarung rencong kebanyakan terbuat dari tanduk kerbau atau kayu, sedangkan badan terbuat dari kuningan atau besi putih yang kini kita kenal sebagai Stainless Steel.

Baca juga: Menakjubkan! Desain Rencong Aceh Terinspirasi dari Bismillah.

Referensi: asyraafahmadi.com

Mengenal Rencong “Senjata Mematikan Khas Aceh”


Beberapa sumber ada yang mengatakan senjata ini dikenal sejak Sultan Ali Muqhayat Syah pada kurun 1514-1528 untuk mengusir Portugis disaat itu dan masih dipergunakan hingga saat ini. Sedang hikayat-nya masih banyak menyimpan misteri.

Bagian-bagian pada rencong

1. Hulu
Hulu disebut juga gagang, yaitu tempat untuk menggenggam senjata tersebut. Dalam bahasa Aceh, hulu disebut goo. Bagian ini sangat diperhatikan oleh pengguna, terutama pada keindahan dan kekuatannya, sehingga bahan yang kuat pun diperlukan untuk membuat hulunya, misalnya tanduk atau gading. Hulu biasanya terbuat dari gading dan tanduk kerbau atau sapi yang sudah cukup tua.

Meskipun kuat, kayu tidak pernah dipakai untuk membuat hulu senjata ini karena justru akan menurunkan kredibilitas pemiliknya. Kalau menggunakan hulu dari kayu, maka senjata ini tidak berbeda dengan senjata tajam biasa.

Tingkatan masyarakat atas (kaum bangsawan) umumnya memakai rencong meupucok, yakni yang dibungkus dengan perhiasan emas pada gagangnya. Pada zaman dahulu, kaum bangsawan Aceh sering menggunakan rencong meucugeek. Senjata ini gagangnya terbuat dari gading gajah dan kadang-kadang dihiasi dengan perhiasan pada sumbunya. Sedangkan masyarakat umum menggunakan gagangnya dibuat dari tanduk yang sudah diulas licin, sehingga mutunya tidak kalah dengan rencong yang sumbunya terbuat dari gading atau bergagang pucok.

2. Ukiran
Hulu dan batang umumnya diukir dengan bentuk-bentuk hiasan tertentu, namun tidak ada syarat tertentu pada macam jenis ukiran. Pemilik bebas memilih bentuk ukiran yang mereka sukai karena ukiran-ukiran ini tidak mempunyai makna tertentu. Beberapa bentuk ukiran di antaranya adalah kalimat syahadat, bentuk daun, bunga, bintang, bulan, atau matahari. Bentuk-bentuk ini hanya menonjolkan estetika semata dan tidak mengandung unsur magis.


3. Perut
Perut adalah bagian rencong yang terdapat di bagian tengah mata. Perut merupakan bagian mata rencong yang lebih lebar dibanding ujung dan pangkalnya. Fungsi perut senjata ini adalah untuk membelah. Lengkungnya ini memberi batas tertentu yang berfungsi sebagai pengendali gagang atau sebagai alat untuk menekan.

Bagian perut  yang digunakan dalam perang akan digosok dengan racun. Selain bagian perut, bagian lain yang digosok dengan racun adalah bagian mata atau ujung senjata ini.

4. Ujung
Ujung merupakan bagian rencong yang tajam. Bagian ini menentukan keampuhan sebuah rencong: senjata ini akan semakin ampuh kalau ujungnya semakin tajam. Bagian ujungnya bukan hanya bagian ujung senjata ini saja, namun termasuk juga bagian pangkal perutnya.

5. Batang
Batang (bak rincong) adalah mata rencong yang pertama setelah tenggorokan atau leher senjata ini. Batangnya merupakan tumpuan kekuatan. Bagian ini lebih tebal dan kuat dibandingkan dengan perut dan ujungnya karena ini adalah senjata tikam. Jika dibandingkan dengan jenis senjata tikam lain, misalnya keris Jawa, maka akan terdapat beberapa perbedaan. Misalnya, bentuk keris Jawa berkelok-kelok dan membentuk lekukan-lekukan dengan jumlah tertentu, sedangkan rencong mempunyai bentuk tertentu yang kombinasi bentuk tersebut dapat dibayangkan membentuk kalimat basmalah.Hal tersebut tampaknya sesuai dengan budaya masyarakat Aceh yang kental dengan nuansa Islam.

Baca juga: Menakjubkan! Desain Rencong Aceh Terinspirasi dari Bismillah.

Referensi: asyraafahmadi.com

Menakjubkan! Desain Rencong Aceh Terinspirasi dari Bismillah.


Berbicara tentang Aceh atau Nanggroe Aceh Darussalam, selain dikenal dengan gelar Serambi Mekkah-nya, Rencong juga merupakan sesuatu yang sangat lekat jika kita membahas mengenai Aceh, itulah sebabnya Aceh juga disebut sebagai Tanoh Rencong, di samping hasil alamnya yang juga melimpah ruah.

Rencong adalah senjata khas Aceh yang juga dianut menjadi simbol dan lambang Aceh. Pada masa silam, para pejuang Aceh menggunakan Rencong sebagai senjata untuk melawan dan mengusir penjajah yang ingin menguasai Negeri Seribu Sultan tersebut. Rencong tidak saja digunakan oleh para pejuang melainkan juga dipakai oleh Raja-raja Aceh dan para bangsawan. Rencong diselipkan di sisi pinggan bagian depan yang memaknai kesiapan untuk bertempur sampai titik darah penghabisan.


Dalam catatan sejarah Aceh, mengenai asal usul rencong senjata mematikan khas Aceh ini tidak tertulis secara pasti, tetapi jika ditelusuri lebih jauh, terdapat suatu legenda yang mengisahkan bahwa dahulu di Aceh ada burung sejenis elang, pada masa itu orang-orang menyebutnya "geureuda" jika diartikan ke bahasa Indonesia adalah "rakus". Burung ini dikatakan rakus karena selalu meneror kehidupan masyarakat serta melahap tanaman, buah-buahan, serta ternak yang menjadi sumber kehidupan saat itu. Kendati sudah dicoba untuk menangkap burung tersebut dengan berbagai upaya, tetap saja tidak berhasil dan burung itu semakin leluasa dan gencar melakukan aksi terornya.

Histori Aceh, Asal Usul Rencong Senjata Mematikan Khas Aceh
Raja juga mengambil aksi dengan memerintahkan seorang pandai besi yang memiliki pengetahuan maqfirat besi untuk membuat senjata ampuh dan mematikan yang dapat membunuh burung geureuda tersebut. Sesudah melakukan puasa, shalat sunat, dan berdo'a kehadhirat Allah SWT. agar diberi petunjuk tentang jenis besi serta logam mana yang diambil dan senjata apa yang akan Ia buat nantinya.

Pada akhirnya sang pandai besi itu membuat sebilah rencong yang mirip tulisan bismillah dalam aksara Arab. Jika dilihat, memang rencong tersebut sangat mirip dengan bentuk lafadz bismillah yang mana gagangnya menyerupai “ba” awal pada kalimat bismillah, bentuk lancip yang menurun kebawah pada pangkal besi dekat dengan gagangnya merupakan aksara “Mim“, lajur besi dari pangkal gagang hingga dekat ujungnya merupakan aksara “Lam“, ujung yang meruncing dengan dataran sebelah atas mendatar dan bagian bawah yang sedikit keatas merupakan aksara “Ha“.

Atas dasar itulah rencong hanya digunakan untuk jihat fisabilillah dalam memerangi penjajah serta kezaliman di negeri ini.

Tingkatan-tingkatan Rencong
1. Rencong yang dipakai oleh raja atau sultan.
Rencong ini pada umumnya terbuat dari gading (sarung rencong) serta emas murni (sisi belatinya).

2.Rencong yang sarungnya umum terbuat dari tanduk kerbau atau kayu, sedang belatinya dari kuningan atau besi putih. 
Dalam catatan histori Aceh, seorang pejuang Aceh pernah menewaskan segerombolan serdadu Belanda yang bersenjata lengkap hanya dengan sebilah rencong. Peristiwa inilah yang membuat penjajah Belanda sangatlah terpukul bahkan juga stress memikirkan peristiwa yang aneh tersebut. Hal itu juga yang menyebabkan Belanda menyebut orang Aceh dengan sebutan “Aceh Pungo” yang jika diartikan ke bahasa Indonesia adalah “Aceh Gila. Itu pula yang menjadikan rencong sebagai senjata mematikan khas Aceh yang menyisakan ribuan kuburan Belanda di Aceh.

Baca juga: Mengenal Rencong “Senjata Mematikan Khas Aceh”

Referensi:
duniapusakagallerykeris.blogspot.com
asyraafahmadi.com

Bersihkan Sastra Indonesia dari Politik Caci Maki


PERBEDAAN pendapat adalah rahmat. Tapi ungkapan itu tidak sepenuhnya benar, sebab tidak terjadi di ranah kesusastraan Indonesia modern hari ini di mana internet menjadi salah satu medium penyampai pesan.

Perbedaan pendapat di era media sosial khususnya Facebook dan Whatsapp yang dilakoni akun-akun segelintir sastrawan Indonesia, telah dikotori ketidakdewasaan berpikir, bersikap dan berkata-kata. Bertolak belakang dengan keahlian yang ditekuni; menulis karya sastra.

Sejatinya, sastrawan sebagai ahli sastra, yang terlatih mengolah kata yang bukan bahasa sehari-sehari—bukan bahasa pasaran tanpa saringan—adalah anutan yang patut diteladani. Teladan, bukan saja merujuk pada keindahan tutur gaya bahasa yang ditulisnya, mutu karya itu, tetapi juga pada kesantunan dalam menimbang setiap persoalan yang tengah terjadi.

Kasus teranyar dapat merujuk polemik puisi esai Denny Januar Ali (DJA) yang dianggap oleh sebagian sastrawan telah menodai kemurnian sastra Indonesia, khususnya puisi. Di luar pengadilan, DJA divonis telah mengotori kesusastraan Indonesia, melakukan pembodohan publik serta telah bertindak menggelapkan sejarah.

Petisi-petisi penolakan pun muncul meski DJA tidak selangkah mundur. Setidaknya petisi datang dari sekelompok penyair muda di berbagai kota, juga dari Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Se-Indonesia (IMABSII), dari Penyair-Penyair Jawa Barat, ditambah Majelis Sastra Riau dan lainnya. Petisi-petisi itu satu suara menolak puisi esai dan segala hal yang berhubungan dengan penerbitan buku-buku puisi esai yang digagas DJA.

Panggung caci maki pun merobek-robek media sosial. DJA menjadi pusat tumpahan amarah. Tidak saja DJA, tapi juga penyair-penyair yang memilih jalan kreatif menulis puisi bercatatan kaki itu atas kesadaran mereka, dianggap lawan yang wajib dimusuhi dan diperangi. Status-status dan komentar-komentar sarkas bernada ujaran kebencian membanjiri beranda media sosial setiap hari. Saling serang, yang sesungguhnya menguatkan eksistensi keakuan, agar sama-sama diakui sebagai sastrawan, profesi yang konon paling agung itu.

Kelompok yang kontra puisi esai begitu mudah melontarkan kata-kata makian yang kasar di status dan komentar-komentar mereka. Kata-kata bodoh, monyet, jancuk, babi, idiot, cecunguk, taik dan segala sumpah serapah yang tak senonoh lainnya meluncur deras di mulut beranda media sosial yang dapat dibaca oleh siapa saja, bahkan jika tidak berteman sekalipun.

Lihatlah bagaimana mudahnya seorang Sunlie Thomas Alexander memaki-maki di Facebook terhadap personal penyair-penyair yang berseberangan dengan dia dan kelompoknya. Ketika Muhammad De Putra, penyair muda Riau yang memutuskan mundur dari proyek penulisan puisi esai akibat tekanan di sana-sini lalu De Putra membuat surat permintaan maaf secara terbuka di media sosial, Sunlie menyalin tempel surat permintaan maaf De Putra itu kemudian membubuhkan status sarkas di dinding Facebook-nya: “Inilah contoh penulis muda miskin yang rela menjual harga diri pada Denny JA! Cengeng lagi!”

Bukannya memberi apresiasi dan simpatik terhadap keputusan De Putra yang mundur dari proyek penulisan puisi esai itu, Sunlie malah menghina De Putra sebagai penulis miskin, menjual harga diri dan cengeng.

Bagaimana jika status kebencian Sunlie itu dibaca oleh orang tua De Putra, guru-gurunya di sekolah dan kawan-kawannya yang lain, sementara mereka tidak mengerti asal muasal persoalan? Adakah seorang Sunlie Thomas Alexander yang mengaku sastrawan itu menimbang perasaan De Putra dan keluarganya?

Bukankah Sunlie dan kawan-kawannya menginginkan penyair-penyair yang menulis puisi esai mundur dan meminta maaf (kata maaf di sini ambigu, aneh, lucu, kepada siapa pula harus meminta maaf dan salah apa harus meminta maaf? Setiap orang punya hak dan pilihan masing-masing tanpa boleh diintervensi pihak mana pun—pen.), lalu setelah permintaan maaf mereka lakukan meski di bawah tekanan kenapa mereka masih juga diintimidasi dan dihina? Siapa sebenarnya yang tidak punya nurani dan tidak menghargai nilai-nilai kemanusiaan?

Mampirlah ke beranda Facebook Sunlie Thomas Alexander. Segala yang berbau puisi esai dan DJA serta penyair-penyair yang berseberangan dengan dia dicaci maki habis. Bahkan di statusnya yang lain, dia juga mencaci maki seorang penyair perempuan Riau yang membela De Putra dengan kalimat lebih sadis: “…lonte idiot yang bikin najis Sastra Indonesia!”

Beginikah cara sastrawan yang hebat karyanya itu bersikap dalam perbedaan pendapat? Publik sastra dapat menilainya sendiri.

Kebenaran patut dicari dan diperjuangkan. Tapi jika membawa ajaran kebenaran dengan cara-cara yang tidak benar, hasilnya akan bertolak belakang. Kayu akan menjadi api.

Membaca gaya Sunlie dan beberapa kawannya yang suka mencaci maki di media sosial, ada upaya sistematis yang terus bergerak membangun opini publik bahwa sumpah serapah dan makian itu wajar, sebab kata-kata tersebut tertulis di dalam kamus. Lumrah menurut mereka.

Namun, pembelaan mereka tidak sepenuhnya dapat diterima, kecuali bagi orang yang terbiasa mengucapkan kata-kata tidak senonoh itu di lingkungan keluarga dan pertemanan yang memang rusak secara etika dan moral. Dalam ilmu Patologi Sosial, ada sekelompok orang yang disebut memiliki penyakit jiwa yang memang kesukaannya berkata-kata kotor dan melakukan perbuatan-perbuatan kotor.

Nalar mereka yang mengagungkan kata-kata kotor di muka umum yang dianggap biasa, enteng, dan tidak merasa bersalah dapat diuji oleh sebuah perumpamaan: Jika ada sepasang suami istri, sah status perkawinannya, kemudian keduanya pergi ke tengah pasar melakukan adegan mesum layaknya di atas ranjang, apa reaksi orang-orang? Pasar buncah. Semua orang marah terhadap kelakukan suami istri itu karena perbuatan mereka memalukan.

Kenapa orang murka kepada suami istri itu? Bukankah mereka pasangan yang sah? Mereka saling mencintai. Di saat berbuat mesum itu mereka juga membawa surat nikah di saku masing-masing. Kok dianggap salah?

Salah karena tidak beretika, tidak tahu adab, tidak mafhum mana ruang publik mana ruang privat. Tidak tahu mana bilik kecil mana bilik besar.

Apa tidak wajar yang dilakukan suami istri itu? Sangat wajar jika dikerjakan pada tempatnya; ruang privat. Lakukanlah itu. Tidak seorang pun boleh melarang, sebab itu hak mereka sebagai pasangan yang sah.

Begitulah kata-kata, tidak asal lompat dari mulut, apalagi mulut itu mulut sastrawan yang dianggap sebagai orang yang pandai mengolah kata-kata—kini ujung jari yang menjadi mulut itu, dan tak berlidah, lebih tajam dari mulut yang berbibir, bergigi dan berlidah. Walau kata-kata makian itu tersurat di KBBI—Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sastrawan harus memberikan edukasi dan preseden baik kepada publik pembacanya. Apalagi media sosial, yang membaca status, komentar, tulisan itu bukan saja dari kalangan mereka sesama sastrawan, tapi ada pembaca lain di luar lingkungan mereka. Jika terjadi perbedaan pendapat, selayaknya disampaikan secara beretika pula.

Saut Situmorang, tokoh di balik gerakan penolak puisi esai DJA, pada 2015 silam berurusan dengan aparat hukum karena melakukan tindak pidana pencemaran nama baik di media sosial kepada Penyair Fatin Hamama. Saut dijemput polisi ke kediamannya di Jogja. Selain Saut, sastrawan Sutan Iwan Soekri Munaf juga terseret kasus yang sama. Peristiwa yang seharusnya tidak perlu terjadi di ranah intelektual jika etika debat dapat saling dijaga dan dihormati, tanpa menyerang dan menyinggung pribadi seseorang.

Kasus Saut dan Iwan mengingatkan publik sastra pada kasus serupa yang menimpa HB Jassin. Jassin dimejahijaukan karena menerbitkan cerpen “Langit Makin Mendung” karya penulis dengan nama pena Kipandjikusmin pada Agustus 1968 di Majalah Sastra. Cerpen itu dianggap menghina keyakinan umat Muslim sehingga terjadi unjuk rasa dan penyerangan di kantor majalah Sastra di Medan dan Jakarta. Bedanya, pengadilan mengadili cerita pendek yang dibela Jassin sebagai produk imajinasi, sedangkan Saut dan Iwan dijerat hukum karena menyinggung personal pribadi (Fatin Hamama) dengan perkataan (tulisan/komentar) yang tidak patut dan menyinggung nama baik.

Di ranah kewartawan dikenal Kode Etik Jurnalistik (KEJ) yang di salah satu bagiannya menyebut bahwa wartawan Indonesia tidak membuat fitnah dan sadis. Fitnah berarti tuduhan tanpa dasar yang dilakukan secara sengaja dengan niat buruk, sedangkan sadis berarti kejam dan tidak mengenal belas kasihan.

Prinsip KEJ ini selayaknya juga dimiliki kaum sastrawan yang terhormat itu agar berimbang menyampaikan informasi kepada publik, tidak berkata-kata kotor dan tidak menyebarkan fitnah secara sadis tanpa menimbang perasaan orang lain. Jika menghargai intelektual, ilmu pengetahuan hendaknya disampaikan dengan cara-cara intelek dan santun.

Jangan jadi sungai yang di kedalaman airnya kotor, sebab di muara ia akan menampung sampah.
Atau kata Raja Ali Haji: Barang siapa suka mencela orang/ itu tanda dirinya kurang// barang siapa suka berkata kotor/ mulutnya itu seperti ketor(tempat membuang ludah makan sirih)// Bila hendak melihat orang berbangsa/ lihatlah kepada budi dan bahasa//. (Gurindam Dua Belas).

Jika kelompok-kelompok yang kontra puisi esai membikin petisi yang konon telah mencapai angka 2000 penandatangan itu, publik sastra (sastrawan, kritikus, pembaca—pelajar, mahasiswa, guru, dosen dan masyarakat umum lainnya) yang netral memandang persoalan dan masih peduli terhadap kesucian bahasa dan sastra Indonesia, selayaknya membuat petisi tandingan. Petisi bisa memakai judul esai ini: “Bersihkan Sastra Indonesia dari Politik Caci Maki”. Petisi bukan untuk membela puisi esai atau DJA, tapi untuk menjaga muruah bahasa dan sastra Indonesia.

Masyarakat jenuh melihat perilaku oknum politisi di pentas politik Tanah Air yang beragam tingkah polahnya. Masyarakat memilih jalan sastra untuk mencari kedamaian di sela-sela kesibukan. Tapi nyatanya jalan damai yang diharap itu tidak didapat, sebab sastra pun ikut tercemar, dikumuhi luapan bahasa senonoh yang lebih tak beretika dibanding para politisi yang berdebat di media massa.

Di bangku-bangku sekolah, sastra diajarkan sebagai pelajaran yang menumbuhkan nilai-nilai karakter dan budi pekerti luhur, tetapi di alam nyata bertolak belakang dengan perilaku pelaku-pelaku sastra (sastrawan) yang menghasilkan karya sastra itu.

Penulis perempuan asal Aceh, Ida Fitri, di sebuah status di Facebookmenulis: “Apa yang terjadi, jika di masa depan, anak-anak kita menjadikan puisi esai ala Togog sebagai rujukan puisi Indonesia?”

Pertanyaan Ida ini menarik dan dapat dikutip dengan kalimat serupa: “Apa yang terjadi, jika di masa depan, anak-anak kita menjadikan bahasa-bahasa kotor ala sastrawan-sastrawan yang berpikir kotor itu sebagai rujukan perilaku sehari-hari mereka?”

Menafsir Buku Lawan Buku
Nuruddin Asyhadie dan Umar Fauzi Ballah, mempertanyakan pendapat saya di kolom komentar Facebook Esha Tegar Putra tentang logika buku lawan buku, karya lawan karya yang saya tawarkan pada catatan saya sebelumnya menyikapi polemik puisi-esai (lihat: Jika Saya Berbeda Jalan Apa Kita Masih Berkawan?). Sementara di beranda Facebook-nya, Malkan Junaidi menganalogikan jika ada produk makanan diduga mengandung zat berbahaya beredar di pasaran, tindakan apa yang dilakukan pertama kali? Malkan menyebut bahwa langkah pertama adalah menyelidiki benar-tidak dugaan itu, lalu mengambil sampel dan membawa produk makanan itu ke Dinas Kesehatan untuk diperiksa. Jika terbukti berbahaya, lalu diumumkan, agar masyarakat tahu, kemudian ditarik dari pasaran.

Analogi Malkan yang mengambil sampel makanan dapat saya terima. Sesuai nalar. Masuk akal jika kasusnya murni membahas produk makanan.

Tapi analogi itu belum cukup matang. Tidak bisa menyamakan makanan dengan produk karya tulis, taruhlah di sini puisi esai—atau apa pun jenis karya lain. Produk makanan yang mengandung zat berbahaya, jika tidak segera dilaporkan ke pihak berwenang, Dinas Kesehatan—lebih tepatnya Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI—maka pemakan (konsumen) akan keracunan dan terancam jiwanya. Perlu segera dilaporkan jika ada masyarakat yang mengetahui, tidak boleh dibiarkan. Ada lembaga berwenang yang mengurus soal makanan dan minuman jika kadaluarsa atau mengandung zat berbahaya.

Tapi harus diingat, karya tulis bukan makanan. Orang yang membaca karya tulis tidak keracunan, apalagi sampai terenggut nyawanya walau seberbahaya apa pun buku di tangannya. Tidak ada lembaga berwenang yang melarang sebuah buku selama konten buku tidak terlarang oleh aturan hukum negara. Malah sangat aneh dan lucu jika ada penyair yang melarang penyair lain berkarya.

Sebagai analogi perbandingan, saya muslim, mengimani Alquran sebagai kitab suci agama saya, Islam. Di rumah saya ada Kitab Injil, saya baca Injil. Apakah sertamerta saya murtad lalu meninggalkan agama saya karena membaca Injil? Tidak, saya tetap beriman kepada Alquran dan berusaha mengamalkan isinya. Dengan membaca Injil, juga kitab-kitab agama lain, misalnya, saya mendapat tambahan ilmu pengetahuan, terutama perbandingan agama—bagaimana agama-agama lain mengajarkan nilai-nilai kebaikan kepada umatnya.

Apalah itu puisi esai. Bukan produk agama, bukan kitab suci. Tidak berpahala dan tidak berdosa orang menulis dan membacanya. Berlebihan jika ‘ditakuti dan dicemaskan’ jika ada orang menulis lalu mengumpulkannya menjadi sebuah buku.

Oh, DJA membikin puisi esai agar dia menjadi tokoh sastra paling berpengaruh, dia memainkan kuasa uang untuk mengajak penyair-penyair lain menulis puisi esai.

Saya tidak terlalu percaya DJA akan menjadi tokoh penting di jagat sastra Tanah Air jika dia tidak terus berkarya. Karyanya nanti yang akan bicara sekuat apa ketokohan dan mutu tulisan yang dibuatnya.

Pembaca hari ini cerdas, tidak mudah terpengaruh dan dipengaruhi. Karya-karya DJA yang akan membela dirinya sebagai tokoh—jika ketokohan itu memang tujuannya. Saya tetap meyakini bahwa pembacalah hakim. Jika karya itu bagus, maka akan melekat di ingatan banyak orang sebagai karya bagus; diulang baca, dikaji dan dibahas di ruang-ruang kelas, dicetak berkali-kali. Tapi, jika karya itu buruk, tidak bermutu, sifatnya akan seperti angin, datang dan pergi tidak perlu diundang, apalagi dipaksakan datang. Musiman. Dan musim selalu berganti.

Buku lawan buku, karya lawan karya, bermakna sederhana. Jika kelompok kontra puisi esai tidak menyukai kerja kreativitas DJA dan gerakannya, sebaiknya bermainlah dengan cara-cara fair. Cara-cara cerdas tanpa perlu memfitnah dan mencaci maki. Agungkanlah puisi-puisi yang bukan puisi esai yang diyakini itu sebagai kebenaran yang mutlak—atau disakralkan. Tulis sebanyak-banyaknya puisi itu, kemudian gagas penerbitan-penerbitan yang lebih besar jangkauannya dari apa yang dilakukan DJA. Terus lakukan kampanye dengan cara-cara positif tanpa membunuh karakter orang lain—tanpa status dan komentar-komentar sarkas di media sosial. Jika ingin jadi kritikus, tulis kritik-kritik yang cerdas dan berimbang, tidak menghakimi sepihak atau atas dasar kepentingan diri dan kelompoknya saja. Nanti vonis kembali di tangan pembaca, siapa yang terus berkarya akan abadi di ingatan orang, dan yang tidak berkarya hilang dikubur zaman.

Tidak perlu membangun kecemasan seperti Esha Tegar Putra bahwa dugaannya ada agensi-agensi yang melanggengkan ketokohan DJA lewat puisi esai (lihat: Sastra, Arena, Kuasa, Surat Terbuka untuk Publik Sastra, Padang Ekspres, Minggu, 21 Januari 2018). Jika dugaan itu pun ada, kelompok yang kontra DJA bangun pula agensi-agensi yang lebih baik dan kuat untuk karya-karya yang lebih baik dari puisi esai—sekali lagi dengan cara-cara fair tanpa caci maki. Hargai kreativitas.

Penyair Soni Farid Maulana membikin puisi jenis Sonian (merujuk nama Soni Farid Maulana), kemudian diklaim pengikutnya sebagai genre puisi baru. Kita hargai ‘ijtihad’ Soni itu. Jika berkembang, puisi Indonesia semakin berwarna. Gubernur Sumatra Barat, Irwan Prayitno, bikin pantun-pantun spontan dengan tema kekinian dan ia bacakan setiap kali berpidato, kita hargai itu. Pantun spontan Irwan mencapai 18 ribuan lalu dicatat MURI sebagai pantun terbanyak di dunia, layak kita beri apresiasi. Irwan membangkitkan tradisi berpantun yang nyaris punah.

Jauh sebelum itu, mengutip Maman S Mahayana, Muhammad Yamin menawarkan Soneta untuk menolak syair dan pantun. Sutan Takdir Alisjahbana dan para penyair Pujangga Baru membawa konsep Puisi Baru—meski mereka berhasil meneguhkan isi dan bentuk baru dalam puisinya, jejak pantun dan syair masih sangat kentara.

Saya kira begitu juga puisi esai, hanya salah satu bentuk kreativitas terhadap kegelisahan seorang penyair yang menginginkan sesuatu yang berbeda dari keumuman yang ada. Sebagai pribadi saya menghormati jalan ‘ijtihad’ DJA.

Kebebasan mencipta, kata HB Jassin, adalah soal yang penting dipikirkan dan disadari oleh para seniman, terutama seniman muda. Dan ini perlu dibicarakan dalam tingkat yang lebih tinggi dan iklim yang jernih, lepas dari emosi yang berkobar-kobar dan meluap-luap. Socrates telah dipaksa minum racun karena ia dianggap berbahaya mengajarkan cara berpikir yang logis dealektis kepada para pemuda dalam mencari kebenaran. Ia dihukum oleh orang-orang yang takut akan kebenaran. Tapi kebenaran tidak turut binasa bersamanya. (*)

*)Muhammad Subhan, pegiat literasi dan pembaca buku-buku sastra, berdomisili di Padangpanjang. Email: rinaikabutsinggalang@gmail.com

Puisi-Puisi Zahraton Nawra


Zahraton Nawra, anak pertama dari tiga bersaudara ini lahir di Banda Aceh, 27 Mei 1994. Ia juga salah satu pegiat FLP Banda Aceh 2013 lalu. Perempuan bernama pena Bunga Cahaya merupakan lulusan S1 Pendidikan Bahasa Inggris UIN Ar-Raniry tahun 2016, pernah menjadi amirah di UKM Qur’an Aplikasi Forum (QAF) tahun 2015-2016, penyair muda Laskar Syu’ara 227, penikmat hujan, penyayang kucing dan pemburu buku diskon.

Belasan karyanya sudah dibukukan dan termuat dalam berbagai antologi: Surat “Teruntuk Calon Imamku” (Asrifa,2013), puisi “Bundaku Sayang” (Asrifa, 2013), puisi “Mei Berpuisi” (Goresan Pena Publishing, 2014), Antologi Puisi Anak Islami (Asrifa, 2014), cerpen “Cinta Tak Pernah Salah Memilih” (Penerbit Indie, 2014), puisi “Duka di Negeri Pejuang” (Pena Indie, 2015), puisi “Belajar Pada Semut” (KaKaYa Publishing, 2015) dan beberapa antologi lainnya.

Saat ini perempuan penyuka warna biru ini mengajar dan menetap di Madrasah Ulumul Quran, Tapaktuan, Aceh Selatan Oktober 2017 sebagai guru tahfiz dan ibu asrama.

Motto hidupnya adalah “Man yazra’ yahshud” siapa yang menanam, dialah yang menuai.
Jika ingin lebih kenal dengan penulis, bisa dihubungi melalui email : zahratonnawra27@gmail.com atau atau akun facebooknya Zahraton Nawra Binti Syam.

Beberapa puisi Zahraton Nawra

Sajak Sebatang Pena

Ini adalah sajak sebatang pena 
Lajumu terawangi peluh kertas 
Gelitik ujung kuku dengan lihai 

Pasti... 
Semua kira kau pujangga... 
Sajakmu lebih lena dari tegukan tuak 
Pipi rona bercahaya 

Sungguh... 
Sajakmu memikat. 
Memabukkan.
Melayang terbang. 

Ini adalah sajak sebatang pena

Tetesmu adalah sejarah 
Balada yang tak cukup dieja pada lipatan dasawarsa 

Karnamu...
Patah ruah mantra penakluk 
Lentikmu pun memukau sang dewa 

Karna itu... 
Aku tak takut menggadai cinta di punggungmu 
Berharap kenang enggan kikis haluan lalu.

Aceh, Oktober 16


Sajak Terbuang

Aku hanyalah sajak terbuang
Dikutip dari darah buncah
Hati konyak 
Dan raga pasi 

Tak ada yang mau 
Pada sajak lusuh sepertiku 

Aku hanyalah sajak terbuang 
Tidurku adalah kelam gigil dan asing 
Jauh di dasar lubuk dendam 
Bergantung pada petipeti buram hawa nafsu 

Mereka menganggap aku sampah 
Sajak tanpa hikmah 
Berceloteh ria tentang gundah 
Tak peduli mereka... 
Sebabku si sajak terbuang

Tapaktuan, 26 Juni 2018


Pamit

Kemana harus kulangkah 
Sebagian tapak sudah berdebu 
Tersapu oleh renjana yang menyusut. 

Kemana harus kulangkah 
Sebagian tubuh sudah retak, berserak tersapu laju kenangan
Lalu hancur, lebur tertimbun di bilik malam 

Kemana harus kulangkah
Sedang masa lalu yang pecah, takkan sama lagi bentuk semula. 

Kemana harus kulangkah... 
Waktu berpindah kilat 
Menumpuk ingin buncah 
Tapi hilang pada kasat. 

Kemanakah harus kulangkah... 
Panggilan kafan menepuk gendang, 
Menanti tanah merah rekah. 

Duh aduh... 
Siapakah yang sudi 
Tutup nyeri, jemput jasad pendosa ini. 

Banda Aceh, 10 Okt 2016

Berikut ini adalah daftar antologi puisi yang pernah dikirim dan dibukukan sebagai kontributor oleh Zahraton Nawra, dihitung sejak bergabung dengan FLP Aceh Februari lalu (2013-2016).

1. Sepotong Episode_Genre Fiksi _ Naskah lolos dan dibukukan oleh Penerbit Asrifa_2013.

2. Antologi Puisi Renungan Ziarah Bathin_Sesalku_Genre Fiksi_Naskah lolos dan dibukukan oleh Penerbit Java Media Publicer_2013.

3. Antologi Puisi Menuju Jalan Cahaya_Di Persimpangan_Genre Fiksi_Naskah lolos dan dibukukan oleh Penerbit Java Media Publicer-2013.

4. Antologi Puisi Anak Islami__Genre Fiksi_Perjalanan Nanti_Naskah lolos dan dibukukan oleh Penerbit Asrifa- 21 February 2014.

5. Antologi Puisi Aksara warna_ Sebuah Penantian _Genre Fiksi_Naskah lolos dan dibukukan oleh Penerbit Asrifa_2014.

6. Re: SDA_PUISI _Bukan Puisi Cinta_Genre Fiksi_Naskah lolos dan dibukukan_ Asrifa Publicer_12 Mei_2014.

7. SDA_SURAT _Masihkah Aku Sahabatmu???_Genre Fiksi_Naskah lolos dan dibukukan_ Asrifa Publicer_12 Mei_2014.

8. Sajak-sajak-Mei_Antologi-Puisi_Genre_Fiksi_lolos_ event.goresan.pena@gmail.com_10 Mei 2014.

9. Cinta! Bawa Aku Pada Nya_Cerpen_Genre Fiksi_Lolos_ perjalanancinta110@gmail.com _10 Mei 2014.

10. BPS_ Kecil Tubuhku Tak Sekecil Otakmu_Zahraton Nawra_Lolos_Keke Publishing_2015.

11. Puisi_Bunga Cahaya_Duka di Negri Pejuang!_Lolos_Pena Indies_2015.

12. Event Kece_Zahraton Nawra_Hanya Rindu_GPSP_Lolos_2015.

13. Dream Media Publisher_Zahraton Nawra_Naskah Lolos_Cerpen_Ssstttt, Aku Cinta Kamu!_2015.

14. Titik Balik Hidup_Kamo Publishing House_Cerpen_Naskah Lolos_belum naik cetak.

15. Pertemuan Kita_Mafaza Media Publisher_Nobita Vs Noraemon_Cerpen_2014_Lolos.

16. Undeclared Love_ Event Leutika_Cinta Dalam Diam_Puisi_28 November 2013.

17. Undeclared Love_ Event Leutika_Yang Terdalam_Puisi_28 November 2013.

18. Surat Puisi _Sepucuk Surat Semesta_poetryquiz@yahoo.com_28 mei 2013.

19. Antologi Puisi_Seuntai Aksara Untuk Ayahanda_Genre Fiksi_ gema.cipta@gmail.com_12 Desember 2013.

20. PCL_Sajak Untuk Calon Imam_Genre Fiksi_(azzahra.house834@gmail.com)_, masuk nominasi_Surat Puisi_28 November 2013.

21. Event Menulis Senandung cinta Ibunda_Aksara Cinta di perantauan- Puisi_maftuhah as-sa’diyah_Genre Fiksi_ Cerpen_22 desember 2013.

22. Gadis misterius_cerpen_ Kisah Inspiratif_Genre Fiksi_Inspiratif.co.id_Naskah gagal_15 november-2013.

23. Sajadah Biru _Cerpen_Genre_ Cerpen_proses_pi_muslimah@yahoo.com _ 9 Mei 2014.

24. Horor_Memori malam Jum'at_Genre Fiksi_16 juni 2013.

25. Juara satu lomba baca puisi tingkat kabupaten Aceh Selatan .

26. Masuk 10 besar lomba baca puisi se-kota Banda Aceh.

27. Ebook cerpen Jejak, ebook Rindu Halaqah, ebook Ai Ren (Q-Writing Consulting, 2016).